Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Celana Pendek dan Sandal Jepit

Pesawat sudah terbang selama beberapa jam.

Adrian duduk santai di kursinya sambil memandang keluar jendela.

Sejak meninggalkan Indonesia, dia sudah beberapa kali membuka panel sistem untuk memastikan semua kemampuan yang diberikan kepadanya benar-benar berfungsi.

Mastery Senjata Api.

Survival Combat.

Keduanya sudah terintegrasi sepenuhnya.

Adrian tidak perlu mempelajarinya dari awal. Pengetahuan dan naluri yang berkaitan dengan kedua kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari dirinya.

Dia hanya perlu membiasakan diri dengan perubahan itu.

Adrian melirik pakaiannya.

Celana pendek.

Sandal jepit.

Jaket tipis.

Tas besar yang penuh makanan.

Dia tersenyum kecil.

“Kalau dipikir-pikir, penampilanku memang nggak cocok buat pekerjaan seperti ini.”

Namun dia tidak berniat mengganti semuanya.

Selama nyaman, itu sudah cukup.

Adrian kembali memandang ke luar jendela.

Beberapa jam lagi, dia akan tiba di Darsen.

Di sanalah kontrak pertamanya benar-benar dimulai.

 

Pesawat akhirnya mendarat.

Begitu Adrian keluar dari terminal bandara, udara panas langsung menyambutnya.

Udara di Darsen kering dan penuh debu.

Di kejauhan, terdengar suara ledakan.

BOOM!....

Adrian berhenti sebentar.

Beberapa penumpang lain hanya melirik sekilas sebelum kembali berjalan.

Sepertinya suara seperti itu bukan sesuatu yang mengejutkan bagi penduduk kota ini.

Adrian memandang sekeliling.

Bangunan-bangunan tua berdiri di sepanjang jalan.

Sebagian terlihat rusak.

Kendaraan melintas tanpa aturan yang jelas.

Beberapa orang bersenjata berdiri di sudut jalan.

Tidak ada suasana seperti kota yang baru dikunjungi wisatawan.

Adrian menarik napas.

“Tempat ini benar-benar kacau.”

Dia mengikuti petunjuk sistem menuju titik penjemputan.

Begitu keluar dari area bandara, Adrian melihat sekelompok orang berkumpul di sebuah lapangan.

Jumlahnya sekitar belasan.

Sebagian besar merupakan pria bertubuh besar dengan pakaian lapangan dan perlengkapan keamanan.

Mereka tampak seperti calon anggota baru.

Kemudian salah seorang dari mereka memperhatikan Adrian.

Tatapannya berhenti pada celana pendek dan sandal jepit yang dikenakan Adrian.

“Lihat itu.”

Pria di sebelahnya ikut menoleh.

“Dia serius datang ke sini seperti itu?”

Tawa kecil terdengar.

Beberapa orang mulai memperhatikan Adrian.

Namun Adrian tidak peduli.

Dia justru mengamati lingkungan sekitar.

Bangunan.

Kendaraan.

Jalan keluar.

Posisi orang-orang.

Semuanya secara otomatis menarik perhatiannya.

Kemampuan Survival Combat membuatnya jauh lebih peka terhadap lingkungan.

Adrian bahkan tanpa sadar sudah mengetahui beberapa tempat yang paling aman jika terjadi keadaan darurat.

“Lumayan.”

Dia baru saja selesai mengamati sekitar ketika suara mesin kendaraan terdengar.

Screeech!

Sebuah pikap tua berhenti mendadak di depan kelompok tersebut.

Bodinya penuh bekas benturan dan lubang peluru.

Tiga orang turun dari kendaraan.

Mereka mengenakan perlengkapan tempur.

Pria yang berjalan paling depan memiliki bekas luka panjang di wajahnya dan satu mata yang tertutup.

Dia memandang semua orang dengan tatapan dingin.

“Kalian peserta baru?”

Tidak ada yang menjawab.

Dia melanjutkan.

“Nama saya Raka. Saya pemimpin regu dari unit keamanan Black Fox.”

Raka menunjuk bagian belakang kendaraan.

“Naik. Kita berangkat sekarang.”

Dia memandang satu per satu peserta.

Sampai akhirnya matanya berhenti pada Adrian.

Raka mengernyit.

Tatapannya turun ke celana pendek.

Kemudian ke sandal jepit.

Lalu kembali ke wajah Adrian.

“Kau.”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Saya?”

“Ini bukan tempat liburan.”

“Saya tahu.”

“Lalu kenapa berpakaian seperti itu?”

Adrian melihat pakaiannya sendiri.

“Nyaman.”

Beberapa orang langsung tertawa.

Raka menghela napas panjang.

Entah tidak ingin berdebat atau memang tidak peduli, dia akhirnya mengibaskan tangan.

“Naik.”

“Siap.”

Adrian mengangkat tas besarnya.

Dia menaiki bagian belakang pikap.

Di sana sudah ada beberapa peserta lain.

Begitu Adrian duduk, seorang pria berkulit gelap dengan tato di lengannya memperhatikannya.

Tatapannya berpindah dari wajah Adrian ke sandal jepitnya.

“Kau datang dari mana?”

“Indonesia.”

Pria itu tertawa kecil.

“Pertama kali ke daerah seperti ini?”

“Iya.”

“Dan kau cuma membawa tas itu?”

Adrian menepuk tas besar di sampingnya.

“Ada makanan.”

“Makanan?”

“Iya.”

Beberapa orang tertawa.

Salah seorang pria menggeleng.

“Tempat seperti ini bisa saja jadi tempat terakhir dalam hidupmu, tapi kau malah memikirkan makanan.”

Adrian tersenyum santai.

“Kalau lapar, tetap saja lapar.”

Jawaban itu membuat beberapa orang kembali tertawa.

Mereka jelas menganggap Adrian hanya pemuda biasa yang tidak tahu apa-apa.

Adrian tidak berusaha menjelaskan.

Dia hanya duduk sambil memegang tasnya.

Raka menutup pintu belakang.

“Pegangan!”

Mesin kendaraan meraung.

Pikap itu langsung melaju meninggalkan bandara.

Adrian bersandar sambil memperhatikan pemandangan Kota Darsen.

Semakin jauh mereka pergi, semakin jelas kondisi kota tersebut.

Bangunan yang rusak.

Jalanan penuh debu.

Pos pemeriksaan bersenjata.

Dan sesekali suara tembakan dari kejauhan.

Adrian menyipitkan mata.

Kontrak pertamanya baru saja dimulai.

Namun melihat keadaan di sekelilingnya, dia merasa tiga hari ke depan mungkin tidak akan sesederhana yang tertulis di kontrak.

1
Was pray
Adrian naik level bukan karena kemampuan tapi karena sogokan uang, .agak kecewa
Was pray
inilah penghambat peningkatan keahlian dan berpikir karena berpendapat bahwa uang adalah penyelesaian segala urusan. apapun
Was pray
aku setuju Adrian tidak gila kekuasaan, tidak mengejar ketenaran, nyaman dengan hidup sederhana tetap berkelas dan tidak norak. hidup membumi bukan berarti gak mau peduli dengan lingkungan sekitar, yg penting gue happy orang lain mah terserah dan emang gue pikirin . hidup membumi itu hidup sederhana, tidak sombong dengan apa yg dia punya dan kuasai, bisa ngemong dan menghargai orang lain, punya empati dan simpati
Was pray
otak Adrian masih stagnan , eror nya malah tambah parah.... tanpa bantuan informasi dari sistem insting dan kepekaan Adrian dibawah rata rata. .
Was pray
hahaha... ditawari jabatan kolonel menolak karena gak mau kegiatan rutinitas bangun pagi, macet di jalan, tapi bangu pagi tiap hari dan macet macetan untuk kuliah itu gak jadi permasalahan... terus kuliah biar dapat ijasah agar dapat pekerjaan yg bagus tapi ditawari pekerjaan bagus yg belum tentu didapat oleh lulusan cumlaude ditolak .. dan 😄😄🤣🤣🤣🤣otak miring takaranbya kurang satu ons ya maklumlah. 😱
Was pray
udah banyak duit tapi masih berjiwa miskin
Junior Ian
KEREN Novelnya👍👍
Was pray
buat Adrian pinter dikit lah... kuat tapi kalau pikirannya lemot kayak siput jadi kurang menarik... konyol bolehlah.. tapi jangan o'on... jadi sistem gak salah pilih orang
Was pray: ku tunggu perubahan perubahan tingkat kecerdasan Adrian biar Plingan plongo lagi, serta cara berpakaian lebih manusiawi lagi. masak lulusan SLTA gak paham cara berpakaian yg pantas . punya uang banyak buat apa? kalau pelit buat diri sendiri..rangkaian nol banyak gak berfungsi kalau cuma jadi hiasan dibuku rekening
total 2 replies
Was pray
tidak imbang antara kekonyolan saat menghadapi lord abys dan kepanikan tingkat dewa hanya karena ketinggalan jadwal peawat
Was pray
kelamaan
Was pray
kamu sedang berbicara orang abnormal
Avivudin Ch
Padahal punya tempat penyimpanan... apa mau pamer kalau hartanya banyak
Was pray
ruang inventaris dibuat seperti cincin ruang kan lebih praktis gak ribet bawa bawa karung seperti pemulung rongsok ... lebih simpel bang othor ..
Was pray
apa gak bisa disimpan di inventaris sistem kah?
Was pray: penasaran... kalau tas warna pelangi itu pintu inventaris sistem seharusnya gak tambah penuh... karena itu berfungsi cuma sebagi pintu, tapi kok tasnya tambah menggelembung sampai Adrian agak kerepotan nembawanya
total 2 replies
Was pray
kerja keras tapi harus cerdas , kerja keras karena ambisi besar bisa buyar dan ambyar jika hanya mengandalkan okol/ otot tanpa akal
Was pray
hahahaha.... 🤣🤣🤣🤣 piala Oscar menunggumu Adrian...
Was pray
ntar Adrian dapat piala Oscar dengan gelar orang tersinting sedunia.... 🤣🤣🤣
Was pray
masalah paling besar yg akan dihadapi Adrian adalah tingkat konslet otak yg semakin parah.. 😄😄
Marhadi
apa maksud nya ada ruang penyimpanan kenapa karung tidak dimasukkan
Was pray
mau bilang Adrian waras tapi otaknya timbangannya kurang satu ons, mau dibilang gila tapi melek duit... jadi lebih tepatnya ya orang gila harta... 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!