Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

"Lakukan operasinya dokter, tolong selamatkan istri saya."

"Baiklah kami akan berusaha sebaik mungkin." Dokter itu segera meninggalkan Farhan dan orang tua serta mertuanya untuk melakukan persiapan operasi.

Ustadz Jamal datang menghampiri Farhan.

"Nak Farhan setelah operasi ini Karisa bukan lagi wanita yang sempurna, jika kamu merasa keberatan tolong kembalikan dia kepada saya secara baik-baik. Saya tidak akan menyalahkan kamu. Tapi saya tidak akan bisa terima jika karena hal ini kamu menyakitinya.

"Ayah bicara apa? Saya tidak akan meninggalkan Karisa dalam keadaan apapun.

Tolong jangan bicara seperti itu lagi, sekarang yang terpenting kita doakan agar operasinya berjalan lancar dan Karisa bisa segera sehat."

"Hemmm..." Ustadz Jamal hanya mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu rumah sakit.

Operasi pengangkatan rahim Karisa telah selesai dilakukan, Alhamdulillah berjalan lancar dan sesuai harapan. Walaupun Karisa harus kehilangan rahimnya namun nyawanya tidak lagi terancam oleh penyakit mematikan itu.

Setelah beberapa jam tertidur oleh pengaruh obat bius, Karisa akhirnya sadar. Ia perlahan membuka matanya, di lihatnya suaminya Farhan sedang duduk di samping ranjang rawatnya dengan wajah cemas.

"Mas ini di mana?" Karisa bertanya dengan suara pelan dan serak. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi kenapa dia harus di rawat dan di infus. Seingatnya dia hanya merasa pusing dan sakit perut tapi kenapa harus rawat inap segala.

Karisa sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah tidak memiliki rahim lagi.

"Ini di rumah sakit, apa kamu tidak ingat pagi tadi kamu sakit dan aku bawa kamu ke rumah sakit?" Farhan menatap lekat wajah Karisa yang terlihat bingung.

"Aku ingat, tapi kan aku cuma sedikit tidak enak badan tidak perlu harus rawat inap segala, ayo kita pulang saja."

Karisa berusaha untuk duduk dan ingin melepaskan jarum infus dari tangannya. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya seolah-olah baru saja tersayat sesuatu.

"Awww....." Karisa meringis merasakan sakit di perutnya. Farhan dengan sigap memegangi tubuh Karisa dan membantunya untuk berbaring kembali.

"Perutku, kenapa perutku sakit sekali, mas sebenarnya apa yang terjadi?" Karisa menjadi panik takut kalau telah terjadi sesuatu yang buruk.

"Karisa tenangkan dirimu, kamu baru saja selesai menjalani operasi."

"Apaaaa.... Operasi?"

"Karisa kamu harus tenang, kamu baru saja menjalani operasi karena kamu terkena usus buntu, tapi sekarang semua sudah baik-baik saja kamu hanya perlu istirahat untuk memulihkan diri." Farhan memilih untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya dari Karisa. Melihat reaksi Karisa yang berlebihan membuat Farhan Khawatir Karisa akan semakin panik kalau Karisa tau hal yang sebenarnya.

"Jam berapa sekarang mas?

"Jam 4 sore. Istirahat saja lagi, Abi dan umi juga ayah saat ini sedang di mushola untuk sholat ashar sebentar lagi mereka akan ke sini." Farhan merapikan selimut Karisa agar ia lebih nyaman.

"Jam 4 sore ?" Karisa mengulang ucapan Farhan.

"Lalu bagaimana dengan seminar kamu mas?" Meskipun suaminya tidak terlalu tertarik dengan seminar ini tapi, tapi Karisa tetap merasa bersalah. Ia merasa telah menghambat pekerjaan suaminya.

"Terjadi cuaca buruk di kota B, jadi seminarnya di tunda sampai Minggu depan. Istirahatlah agar cepat pulih tidak perlu memikirkan yang lain nya." Farhan mengusap lembut kepala Karisa.

"Karisa bagaimana perasaanmu sayang, apakah sudah lebih baik?" Humaira datang menghampiri Karisa diikuti oleh kiyai Usman dan ustadz Jamal.

Humaira langsung menangis begitu menatap wajah Karisa, di raihnya tangan Karisa dan di usapnya dengan pelan.

"Kamu harus ikhlas menerima ini semua, mama yakin semua pasti akan baik-baik saja."

Karisa sedikit heran melihat reaksi Mertuanya itu. Ia kan hanya terkena usus buntu tapi kenapa reaksi Mertuanya itu seperti ia terkena penyakit yang sangat parah.

Dipandangnya wajah kiyai Usman dan ustadz Jamal bergantian terlihat sama sedihnya seperti Humaira.

"Mas apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Dengan wajah bingung Karisa menatap Farhan.

"Tidak, tentu saja tidak. Sudah lah jangan berpikir yang tidak-tidak, ayo cepat istirahat."

Farhan tersenyum lembut kepada Karisa, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang agar Karisa tidak curiga.

"Abi, umi, Ayah sebaiknya kalian pulang biar aku yang menjaga, kalian pasti sudah lelah sejak pagi berada di sini." Farhan belum sempat menjelaskan kepada orang tua dan mertuanya kalau dia belum memberi tahu yang sebenarnya kepada Karisa dari pada mereka salah bicara dan membuat Karisa sedih lebih baik mereka pulang saja. Begitulah yang di pikirkan Farhan saat ini.

Ustadz Jamal yang mengerti dengan situasinya langsung mengiyakan ucapan Farhan.

"Baiklah kalau begitu ayah pulang dulu, Karisa kamu istirahatlah dengan baik. Farhan ayah titip Karisa ya."

"Iya ayah jangan khawatir."

Ketiga orang tua itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Karisa, Humaira terlihat masih enggan untuk beranjak dari sana namun karena kiyai Usman sudah mengajaknya untuk pulang mau tidak mau dia akhirnya ikut juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!