Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 — Ajakan Souma
Besoknya tepat jam tujuh malam, bel apartemen Kaito bunyi tiga kali beruntun, tandanya cuma satu orang yang mungkin ngelakuin itu.
"Buka, gue bawa berat nih!" teriak Souma dari luar pintu.
Kaito buka pintu dan bener aja, Souma berdiri di sana bawa tas ransel gede di punggung sama satu koper keras yang keliatannya berat banget, sampe dia agak ngos-ngosan naik tangga ke lantai tiga.
"Lo pindahan apa mau ngapain sih bawa segini banyak," kata Kaito, minggir biar Souma bisa masuk.
"Ini namanya niat, bro." Souma nurunin koper itu di tengah ruang tamu Kaito yang sempit, terus ngelap keringet di dahinya. "Gue nggak mau lo nolak cuma gara-gara alesan 'gue nggak punya alatnya.' Jadi gue bawain punya gue."
Kaito natap koper itu dengan curiga. "Itu... apaan?"
"Dive rig portable." Souma jongkok, buka kunci koper itu satu-satu dan di dalamnya ada semacam headset besar berbentuk setengah lingkaran, beberapa kabel tipis yang keliatan fleksibel dan bantalan empuk yang biasanya dipake buat sandaran leher. "Bukan yang capsule penuh kayak yang di iklan-iklan gede itu, ya. Ini versi portable, biasanya dipake orang yang suka nge-dive di rumah temen atau lagi di luar kota. Tapi fungsinya sama persis."
"Lo beli ini?"
"Sewa. Mahal banget kalo beli," Souma ketawa, "tapi worth it kalo emang niat main. Nah, kursi lo yang di sana," dia nunjuk sofa Kaito yang emang bisa direbahin, "udah lumayan pas buat dipake. Kita tinggal pasang aja."
Kaito duduk di lantai, natap semua peralatan itu dengan ekspresi setengah penasaran setengah waswas. "Ini aman kan? Gue denger-denger ada berita orang error gara-gara nge-dive kelamaan."
"Itu kasus lama, dari generasi alat yang jauh lebih primitif. Sekarang udah beda total. Aeon Requiem pake sistem neural-link generasi baru, ada failsafe otomatis kalo detak jantung atau gelombang otak lo nunjukin sesuatu yang aneh, langsung logout paksa. Gue udah main dua bulan, baik-baik aja kan?" Souma nunjuk dirinya sendiri, nyengir lebar.
"Ya kalo lo emang normal dari awal susah dibedain sih," ledek Kaito.
"Sialan lo," Souma ngelempar bantalan kecil ke muka Kaito, ketawa.
Mereka berdua duduk sambil ngerapiin kabel-kabel itu dan di sela-sela kerjaan, Souma mulai cerita soal Aeon Requiem dengan mata yang keliatan beneran berbinar bukan cuma antusias basa-basi, tapi antusias yang tulus, tipe yang cuma keluar kalo seseorang beneran suka sama sesuatu.
"Jadi gini," kata Souma, "game ini rilis setahun setengah lalu, tapi baru bener-bener meledak enam bulan terakhir. Alasannya karena sistemnya beda dari VRMMO lain. Biasanya kan game-game VR itu, ya dunia virtual doang, keliatan bagus tapi berasa kosong, kayak lo lagi jalan di studio film gitu. Aeon Requiem enggak. Dunia di dalemnya tuh kerasa hidup. NPC punya jadwal harian sendiri, cuaca berubah berdasarkan pola yang kompleks, bahkan katanya ada AI yang ngatur ekonomi seluruh server biar nggak ada yang bisa gampang dimonopoli."
"Serem juga," gumam Kaito, mulai lumayan penasaran.
"Terus soal kesulitannya," Souma lanjut, "ini yang bikin nama Aeon Requiem beda dari game laen. Monster-monsternya nggak cuma soal angka HP gede-gedean. Ada logika di balik pola serangannya, ada elemen yang kalo lo salah baca situasi, ya lo bisa mati cepet beneran biarpun level lo tinggi. Makanya top player di game ini beneran dianggep kayak selebritas. Ada yang udah punya sponsor, ada yang livestream-nya ditonton jutaan orang tiap hari."
Kaito ngangkat alis. "Emang segitu gedenya?"
"Gede banget. Lo tau nggak, minggu lalu ada dungeon baru dibuka dan cuma ada satu guild di seluruh server global yang berhasil clear di minggu pertama. Nama guild-nya sampe trending di berita." Souma berhenti sebentar, senyumnya melembut dikit. "Tapi buat gue pribadi sih, bukan soal jadi terkenal atau apa. Gue main ini karena... entah kenapa, di sana gue ngerasa kayak semua usaha gue keliatan hasilnya. Lo grinding, lo dapet level, lo dapet skill baru. Jelas. Nggak kayak kerjaan kantor yang kadang lo udah usaha maksimal tapi hasilnya nggak sesuai."
"Terus katanya ada semacam sistem stat juga kan? Kayak RPG jaman dulu?" tanya Kaito, mulai sedikit kebawa suasana.
"Ho'oh, standar sih kalo dari luar. STR, AGI, VIT, INT, DEX. Yang bikin unik itu di gimana masing-masing stat itu punya efek yang lebih rumit dari yang keliatan. Contohnya DEX, itu bukan cuma soal akurasi doang, tapi juga ngaruh ke stabilitas skill lo pas dipake di kondisi tertentu. Gue sendiri baru sadar itu setelah main dua minggu, gara-gara ngobrol sama orang di forum."
"Ribet juga."
"Awalnya iya. Tapi enaknya, semua orang punya cara main sendiri-sendiri. Nggak ada satu build yang paling bener. Ada yang all-in ke damage, ada yang defense tank, macem-macem. Malah katanya ada satu stat yang hampir semua orang skip abis-abisan karena dianggep nggak berguna."
"Stat apaan?"
"LUK. Luck. Katanya cuma ngaruh ke drop rate item sama peluang critical dikit doang, jadi kebanyakan orang mikir mending taro semua ke stat combat aktif. Wiki komunitas bahkan nulis literally 'skip stat ini kalo lo main serius.'" Souma ketawa kecil, "lucu juga sih, padahal siapa tau ada yang belom nemu cara makenya."
Kaito ngangguk-ngangguk, nggak terlalu mikirin detail itu lebih jauh, toh buat dia yang belom pernah nyentuh game beginian, semua istilah itu masih terdengar kayak bahasa asing.
Kaito diem sebentar, nyerap kalimat terakhir itu lebih dalam dari yang Souma mungkin sadarin.
"Makanya," Souma nerusin, nada suaranya jadi lebih pelan, lebih personal, "gue kepikiran lo terus, Kaito. Gue tau lo capek. Bukan cuma capek fisik doang. Gue liat lo dari kuliah dan gue liat pola yang sama terus, lo udah usaha, tapi dunia kayak nggak pernah ngasih lo kesempatan yang adil. Gue nggak bisa ngubah dunia nyata lo. Tapi mungkin, di sana, semua bisa keitung ulang dari nol."
"...Lo tiba-tiba jadi bijak amat," kata Kaito, coba nutupin rasa hangat kecil yang tiba-tiba nyempil di dadanya dengan nada bercanda.
"Gue emang selalu bijak, cuma lo aja yang nggak peka," Souma nyengir lagi, balik ke mood ringan. "Nah udah, kita pasang aja yuk. Kabel ini nyambung ke sini, terus headset-nya lo pake kayak gini..."
Mereka ngabisin sekitar setengah jam berikutnya masang alat itu, dengan Souma jelasin fungsi tiap bagian sambil sesekali ngetawain Kaito yang salah masang kabel kebalik. Setelah semuanya siap, Souma nunjukin posisi duduk yang bener di sofa dengan setengah rebahan, kepala disender ke bantalan khusus, headset dipasang nutupin mata dan sebagian dahi.
"Oke, jadi nanti pas lo pencet tombol start di headset-nya, bakal ada fase transisi sekitar sepuluh detik. Rasanya kayak mau ketiduran, terus tiba-tiba lo udah 'bangun' di ruang tutorial. Nggak sakit, nggak pusing, tenang aja."
Kaito megang headset itu, ngerasain bobotnya di tangan, ringan banget buat sesuatu yang katanya bisa mindahin kesadaran ke dunia lain.
"Kalo misal alatnya error gara-gara gue?" tanya Kaito, setengah bercanda setengah beneran khawatir.
Souma ketawa keras. "Serius lo mikirin itu?"
"Gue serius Souma. Track record gue sama barang elektronik itu jelek banget. HP gue tiga kali ganti layar taun ini doang dan bukan gara-gara gue jatohin. Kadang cuma taro di meja terus tiba-tiba retak sendiri."
"Ya udah, kalo emang rusak, gue tanggung sewaannya," kata Souma, masih ketawa, tapi kali ini dia nepuk pundak Kaito sekali, pelan. "Serius deh, coba aja dulu. Kalo emang setelah ini lo masih ngerasa hidup lo sial mulu, minimal lo udah nyoba sesuatu yang beda. Nggak ada ruginya."
Kaito natap headset di tangannya sebentar. Ada bagian dari dirinya yang udah otomatis nyiapin ekspektasi paling rendah, bagian yang udah kebentuk bertahun-tahun dari pola yang sama berulang-ulang. Tapi ada juga bagian kecil yang mungkin belum sepenuhnya mati, yang penasaran gimana rasanya kalo buat sekali aja, dia bisa berada di tempat yang aturannya nggak ngikutin nasib sialnya di dunia nyata.
"Oke," katanya akhirnya, lebih ke diri sendiri, "sekali doang ya. Kalo emang jelek, gue keluar lagi."
"Itu baru semangat!" Souma berdiri, ngasih jarak biar Kaito bisa rebahan penuh di sofa. "Gue duduk di sini nemenin, kali aja lo butuh dibangunin paksa."
Kaito rebahan ngatur posisi kepala di bantalan, terus pasang headset itu pelan-pelan nutupin pandangannya sama kegelapan yang lembut. Dia bisa denger suara Souma di sampingnya, samar, "Tenang aja, gue di sini," terus semuanya kerasa lebih senyap.
Layar kecil muncul di dalam pandangannya, satu tombol biru bertuliskan START, berkedip pelan kayak nunggu dia beneran siap.
Tangannya, entah kenapa gemetar dikit pas ngangkat jari buat nekennya. Bukan karena takut sama dunia barunya. Lebih ke rasa was-was yang udah jadi refleks otomatis, was-was kalo ini juga bakal berakhir kayak biasanya, alat mendadak error, koneksi putus di tengah jalan, atau hal absurd lain yang entah gimana caranya selalu nemuin dia.
Tapi malem ini, buat pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia mutusin buat nekannya juga. Jarinya nyentuh tombol itu dan dunia di sekitarnya perlahan mulai gelap.