Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Pukul lima lewat tiga puluh pagi, alarm di ponsel Alana bahkan belum sempat berdering ketika suara ketukan pelan dan cekikikan tertahan terdengar dari balik pintu kamar tamunya. Alana, yang semalaman hampir tidak tidur karena lambungnya yang terus bergejolak dan air mata yang habis tanpa sisa, langsung membuka mata.

​Dia menarik napas dalam-dalam, membuangnya perlahan, lalu memaksakan seulas senyum terbaiknya sebelum memutar kenop pintu.

​Begitu pintu terbuka, sesosok anak kecil berpiyama kelinci langsung menyembul dengan wajah ceria. "Bunda! Selamat pagi!" sapa Tania riang, langsung menghambur memeluk lutut Alana.

​"Selamat pagi juga, kesayangan Bunda," bisik Alana lembut, berlutut untuk menyamakan tinggi mereka dan mengecup kedua pipi mulus anak itu. Tidak ada jejak lelah atau kesedihan semalam di wajah Alana; dia sudah kembali memasang topeng kesempurnaannya.

​Tania mendongak, menatap Alana dengan mata bulatnya yang berbinar penuh binar antusiasme. "Bunda, mandiin Tania ya? Terus pasangin seragam SD Tania. Kan Tania udah kelas satu SD, harus rapi dan cantik!"

​Alana tertawa halus, hatinya meleleh mendengar celotehan manis itu. Tangan lembutnya mengusap kepala Tania penuh kasih sayang. "Siap, Putri Cantik. Yuk, Bunda mandikan sekarang biar wangi."

​Dengan telaten, Alana memandikan Tania menggunakan air hangat. Dia menyabuni tubuh kecil itu, membilasnya hingga bersih, lalu mengeringkannya dengan handuk lembut. Di depan cermin rias, Alana menyisir rambut halus Tania yang hitam legam, menyematkan sebuah jepit rambut berbentuk pita merah di sebelah kiri.

​Setelah itu, dengan penuh kehati-hatian, Alana memakaikan seragam putih-merah lengkap dengan dasi dan kaus kaki putih. Tania yang kini sudah resmi menjadi murid kelas satu Sekolah Dasar tampak begitu menggemaskan dalam balutan seragam tersebut. Momen-momen sederhana seperti inilah merawat dan melihat Tania tumbuh yang selalu menjadi obat penawar paling ampuh bagi segala luka batin yang Alana simpan sendirian.

​"Bunda, Tania udah cantik kan?" tanya Tania sambil berputar kecil di depan Alana, memamerkan rok merah lipitnya.

​"Sangat cantik, Anak Bunda yang paling pintar," puji Alana tulus, lalu mengecup kening Tania lama.

​Setelah memastikan semua perlengkapan sekolah Tania siap, mereka bergandengan tangan menaiki anak tangga menuju ruang makan utama di lantai atas. Di sana, suasana pagi sudah tersaji rapi. Aroma kopi hitam pekat yang tajam bercampur dengan wangi mentega panggang dan roti bakar memenuhi udara. Bi Sastro, asisten rumah tangga yang setia, tengah menata piring-piring keramik di atas meja makan panjang beraksen kayu jati.

​Namun, perhatian Alana seketika terikat pada sosok pria yang sudah duduk anggun di kursi utama.

​Gema. Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja formal berwarna abu-abu gelap yang terikat rapi dengan dasi. Wajahnya yang tegas terlihat sangat tampan, namun dingin tak terjangkau. Di sudut ruang makan, sebuah koper pakaian ukuran sedang berbahan kulit hitam sudah berdiri tegap sebuah penanda jelas bahwa pria itu akan langsung berangkat dinas luar kota nanti siang setelah menyelesaikan beberapa urusan di kantornya.

​Melihat koper itu, Alana menghela napas halus. Pria itu bahkan tidak memberitahunya secara langsung pagi ini; semua informasi perjalanan dinas selalu disampaikan secara formal seolah Alana hanyalah seorang sekretaris yang wajib tahu jadwal, bukan seorang istri yang diajak berdiskusi.

​Namun, begitu langkah kaki kecil Tania menginjak lantai ruang makan, aura di sekitar Gema yang tadinya kaku dan membeku mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Wajah tegas dan garis bibir Gema yang mengeras seketika melunak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman paling hangat senyuman yang tidak pernah sekalipun diberikan kepada Alana selama enam tahun pernikahan mereka.

​"Pagi, Putri Cantik Ayah. Wah, rapi sekali seragam kelas satunya hari ini," sapa Gema dengan suara bariton yang begitu lembut dan penuh kehangatan. Pria itu merendahkan tubuhnya saat Tania berlari kecil menghampirinya.

​Tania langsung memeluk leher Gema, mencium pipi ayahnya dengan gemas hingga menimbulkan suara letupan kecil. "Iya dong, kan dimandiin sama dipasangin seragam sama Bunda! Kata Bunda, anak kelas satu SD harus rapi!"

​Gema tertawa kecil sebuah tawa renyah yang sangat indah, tawa yang hanya ditunjukkan khusus untuk Tania. Gema merapikan kerah baju seragam Tania dengan penuh kehati-hatian, menepuk bahu kecil anaknya bangga, lalu menarik kursi kayu di sebelah kanannya agar Tania bisa duduk dengan nyaman.

Tangannya yang kokoh dan terampil mulai mengoleskan mentega dan selai stroberi di atas selembar roti tawar, lalu memotongnya menjadi kotak-kotak kecil agar mudah ditelan oleh putrinya.

​Alana berdiri mematung di ambang pintu dapur, memandangi interaksi ayah dan anak itu dalam diam. Ada desir ngilu yang kembali menyengat ulu hatinya.

​Enam tahun. Angka itu bukan sekadar penanda usia Tania yang kini duduk di bangku kelas satu SD, melainkan juga durasi pernikahan hukumnya bersama Gema. Selama enam tahun itu pula, Alana menyaksikan bagaimana Gema menjelma menjadi sosok ayah yang sempurna tanpa cela penyayang, siaga dan luar biasa protektif. Gema melingkungi Tania dengan seluruh kasih sayang yang dia miliki, seolah ingin membayar tuntas ketiadaan ibu kandung bagi anak tersebut.

​Namun, seluruh kasih sayang itu dibatasi oleh tembok benteng yang amat tebal. Bagi Gema, dunia cintanya telah mati bersama almarhumah istrinya, dan sisa kehangatannya hanya diberikan untuk Tania. Sementara Alana? Alana hanyalah sosok bayangan yang kebetulan tinggal di rumah yang sama, memegang status hukum sebagai istri, tetapi dianggap asing di dalam hati suaminya sendiri.

"Setidaknya, Gema tidak pernah melampiaskan rasa sakitnya pada Tania," batin Alana menghibur dirinya sendiri, menelan saliva yang terasa pahit di tenggorokan. "Dia ayah yang luar biasa. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu bertahan, Alana."

​"Bunda, ayo duduk! Jangan berdiri terus di situ!" panggil Tania menyadarkan Alana dari lamunan panjangnya. Anak itu menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah kirinya.

​Alana mengerjap, mencoba mengusir kabut duka di matanya, lalu mengulas senyum tipis. "Iya, Sayang, Bunda duduk di sini."

​Alana melangkah mendekat, menarik kursi di sebelah Tania, lalu duduk dengan gerakan anggun. Namun, tepat saat Alana mendarat di kursinya, atmosfer di meja makan itu mendadak mendingin beberapa derajat. Wajah Gema yang tadinya dipenuhi senyum manis pada Tania, seketika kembali kaku bagaikan pahatan batu es begitu pandangannya bergeser sekilas ke arah Alana.

​Pria itu tidak menyapa. Tidak ada ucapan "Selamat pagi", tidak ada senyuman sapaan, bahkan tidak ada lirikan hangat selayaknya seorang suami. Gema kembali fokus menyodorkan piring roti milik Tania, mengacuhkan keberadaan Alana seolah wanita itu hanyalah udara hampa.

​Bi Sastro datang membawa cangkir teh hijau hangat dan mangkuk bubur gandum, meletakkannya di depan Alana. "Silakan sarapannya, Nyonya."

​"Terima kasih ya, Bi," balas Alana pelan.

​"Ayah, nanti siang kan Ayah mau berangkat dinas ke luar kota," ujar Tania di sela-sela mengunyah rotinya. Mata bulatnya menatap Gema penuh harap. "Pagi ini Ayah antarin Tania ke sekolah, kan?"

​Wajah Gema seketika melembut menatap putrinya. "Pasti, Sayang. Ayah yang akan antar Tania sampai masuk ke depan pintu kelas."

​Tania mendongak menatap Alana, lalu dengan jemari kecilnya, dia menggenggam erat tangan Alana yang berada di atas meja. "Tapi Bunda ikut ya, Yah? Tania mau diantar Ayah sama Bunda berdua ke sekolah. Teman-teman Tania di kelas satu kalau pagi selalu diantar sama ayah dan bundanya bergandengan tangan..."

​Permintaan polos yang meluncur dari bibir mungil anak SD itu seketika membuat keheningan menyapu ruang makan tersebut. Suasana mendadak menjadi begitu canggung dan berat.

​Gerakan tangan Gema yang hendak menyesap kopi hitamnya terhenti di udara. Pria itu menoleh perlahan, mengarahkan pandangannya langsung ke arah Alana. Sorot matanya tajam, dingin dan menelisik seolah menuduh bahwa Alana-lah yang telah memengaruhi atau mengajari Tania untuk mengucapkan permintaan tersebut.

​Alana yang merasa tidak nyaman dengan tatapan intimidatif suaminya, langsung mengelus lembut jemari Tania, mencoba menetralisir keadaan. "Tania, Sayang... Bunda kan harus langsung buka toko kue pagi ini. Pekerjaan Bunda di toko lagi banyak banget"

​"Bunda ikut," potong Gema tiba-tiba. Suaranya terdengar dingin, tegas, dan singkat, memutus kalimat Alana begitu saja. Pria itu bahkan tidak menatap mata Alana saat mengucapkannya. "Cuma sampai gerbang sekolah. Setelah antar Tania, kamu bisa berangkat ke toko."

​Alana tertegun sejenak. Dia menatap samping wajah suaminya yang keras. Alana tahu betul, Gema menyetujui hal ini bukan karena peduli padanya atau ingin terlihat harmonis, melainkan murni hanya demi menuruti keinginan Tania sebelum pria itu pergi meninggalkan rumah selama beberapa hari untuk urusan bisnis.

​"Horeee! Asyik! Tania diantar Ayah sama Bunda berdua!" sorak Tania kegirangan, bertepuk tangan kecil tanpa menyadari jurang pemisah yang begitu lebar dan menyakitkan di antara kedua orang tuanya.

​Alana menunduk, menyembunyikan senyum pahit yang terukir di bibirnya. Dia mengambil cangkir teh hangatnya, menyesapnya perlahan untuk meredakan rasa perih di lambungnya yang kembali bergejolak akibat stres. Hari ini, sekali lagi, Alana harus berpura-pura memerankan sosok istri dan ibu dari sebuah keluarga yang bahagia di hadapan publik hanya untuk kembali menjadi sesosok hantu tak terlihat begitu pintu mobil terpisah dan mereka kembali ke realita masing-masing.

1
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
Sri Widiyarti
menjadi asing ditengah keramaian Allah nyesek banget Alana semoga kak author kasih pasangan hidup yg memuliakan Alana ..
Sri Widiyarti
dah tinggalin aja Alana kamu berhak bahagia...
Agunk Setyawan
othor love you♥️🥰🥰 novelnya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!