Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 — Rahasia di Balik Pintu

Su Yi berdiri diam di depan meja samping tempat tidur, tangannya masih menyentuh kelopak bunga matahari yang segar dan cerah itu. Aroma bunga yang lembut tercium di udara, bercampur dengan aroma kayu cendana yang samar — aroma yang membuatnya merasa tenang, seakan ia berada di tempat yang seharusnya ia tuju sejak lama. Cahaya lampu kuning lembut menyinari wajahnya, menyoroti kerutan halus di antara alisnya yang menunjukkan betapa bingung dan bercampur aduk perasaannya saat ini. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut kamar, wajahnya masih tampak bingung namun ada senyum tipis yang tak sengaja terukir di bibirnya — senyum yang muncul tanpa izin dari hatinya sendiri.

"Mo Han..." Ia membisikkan nama itu pelan, merasakan getaran aneh di dadanya, getaran yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Siapa sebenarnya kau? Dan mengapa setiap kali kau menatapku... aku merasa seakan kau melihat jiwaku, bukan sekadar wajahku?"

Ia berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke taman, menarik tirai tipis itu sedikit ke samping dan menatap ke bawah. Di taman yang remang-remang itu, lampu-lampu taman yang tersembunyi di antara pepohonan menciptakan bintik-bintik cahaya keemasan yang indah dan damai. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga melati yang harum dan lembut, aroma yang mengingatkannya pada masa kecilnya — masa yang mulai kabur dan samar, namun terasa begitu hangat di ingatannya.

Di seberang koridor, di dalam kamar yang luas dan remang-remang itu, Mo Han berdiri diam di dekat jendela besar yang menghadap ke arah yang sama. Cahaya bulan purnama yang terang benderang menembus celah awan, menyinari separuh wajahnya yang tampak lebih lelah dan lebih rapuh dibandingkan saat ia berada di depan orang lain. Topeng dingin dan tak tersentuh itu perlahan runtuh, menyisakan seorang pria yang sedang menahan beban yang begitu berat di pundaknya — beban yang bahkan ia sendiri belum yakin sanggup memikulnya hingga akhir.

Tangan kanannya meremas bingkai jendela hingga buku-buku jarinya memutih, seakan sedang menahan sesuatu yang ingin meledak keluar dari dadanya. Napasnya berat dan tidak teratur, seakan setiap tarikan napas terasa menyakitkan. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba menenangkan diri, namun bayangan wajah Su Yi terus muncul di benaknya — wajah yang sama persis dengan wajah gadis kecil yang pernah menjadi seluruh dunianya sepuluh tahun yang lalu.

"Maafkan aku, Yi." Ia berbisik pada keheningan malam, suaranya penuh dengan rasa sakit yang dalam dan penyesalan yang tak terhingga. "Maafkan aku karena menyembunyikan semuanya. Maafkan aku karena harus menjadi orang yang paling kau benci di mata orang lain. Beri aku waktu... beri aku waktu sedikit lagi. Saat semuanya selesai, saat bahaya itu sudah pergi... aku akan menceritakan semuanya padamu. Semuanya. Dan saat itu tiba... kau boleh membenci aku, boleh pergi meninggalkanku, boleh melakukan apa pun yang kau inginkan. Tapi sampai hari itu datang... biarkan aku menjagamu. Biarkan aku melindungimu, walau hanya sebagai suami yang kau paksakan, walau hanya dalam diam."

Ia berbalik perlahan dan berjalan menuju lemari besi yang tersembunyi di balik lukisan pemandangan di dinding. Jari-jarinya yang gemetar pelan memutar kunci kombinasi — angka-angka itu adalah tanggal yang tak akan pernah ia lupakan, tanggal pertemuan mereka untuk pertama kalinya sepuluh tahun lalu. Pintu lemari terbuka, dan di dalamnya bukanlah tumpukan uang kertas berharga atau perhiasan mahal — melainkan tumpukan surat-surat yang tak pernah dikirim, foto-foto lama yang sudah mulai menguning, dan sebuah kotak kayu kecil yang terletak paling di tengah, seakan itu adalah harta paling berharga yang ia miliki.

Mo Han mengambil kotak itu dengan kedua tangannya, seakan memegang benda yang paling rapuh dan paling suci di dunia ini. Ia membukanya perlahan, dan di dalamnya terdapat sebuah foto kecil yang sudah mulai memudar — foto dua anak kecil yang berdiri di bawah pohon bunga matahari yang tinggi dan rimbun. Anak perempuan itu berusia sekitar tujuh atau delapan tahun, memegang bunga matahari besar di tangannya dan tertawa lepas hingga matanya menyipit indah. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tua, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, menatap gadis kecil itu dengan tatapan yang begitu lembut dan begitu tulus — tatapan seakan seluruh dunianya ada di sana, di depan matanya, dan ia tak akan pernah membiarkannya hilang.

"Kau lupa..." Mo Han menyentuh foto itu perlahan dengan jari telunjuknya yang gemetar, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kau lupa pada hari itu, pada tempat itu, pada janji yang kita ucapkan bersama. Tapi aku tidak pernah lupa. Tidak satu hari pun dalam sepuluh tahun ini aku melupakan wajahmu, suara tawamu, dan janji yang kita buat di bawah pohon bunga matahari itu. Setiap malam sebelum tidur, setiap pagi saat bangun... aku selalu berjanji pada diriku sendiri — jika aku bisa menemukanmu lagi, jika aku bisa berdiri di sampingmu lagi... aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu. Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi orang yang paling kau takuti, bahkan jika itu berarti kau akan membenciku... aku rela. Asalkan kau aman di sisiku."

Ia menutup kotak itu perlahan, menyimpannya kembali dengan hati-hati di tempatnya, lalu mengambil tumpukan surat-surat itu — surat-surat yang ditulisnya selama bertahun-tahun, berisi segala rindu, segala harap, segala ketakutan yang tak pernah bisa ia ucapkan kepada siapa pun. Surat-surat itu tak pernah dikirim, karena ia tahu belum waktunya. Ia harus menunggu. Ia harus bersabar. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun... akhirnya ia bisa berdiri di sampingnya. Bukan sebagai teman lama yang ia rindukan, melainkan sebagai suami yang dipaksakan — peran yang berat dan menyakitkan, tapi peran yang ia rela jalani demi bisa melindunginya.

Mo Han menyimpan kembali semuanya ke dalam lemari besi, menguncinya dengan rapat, lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang menyegarkan, menatap pantulan dirinya di cermin besar di sana. Wajahnya masih tampan dan tegas, namun matanya menyembunyikan kelelahan yang luar biasa — kelelahan karena menunggu, karena menyembunyikan, karena mencintai dalam diam tanpa pernah berani mengatakannya. Ia membasuh wajah sekali lagi, berusaha menata kembali ekspresinya, menyembunyikan segala kerinduannya kembali ke dalam, hingga wajahnya kembali tenang dan dingin seperti biasanya. Ia harus kuat. Karena di luar sana, bahaya sedang bergerak mendekat, dan ia harus siap melindunginya dari segalanya.

Sementara itu, di dalam kamar Su Yi, gadis itu baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian tidur yang lembut dan nyaman — kainnya begitu halus dan aromanya harum samar, persis seperti aroma sabun yang biasa ia gunakan di rumah. Ia berjalan kembali ke ruangan utama, kakinya yang telanjang menyentuh karpet lembut berwarna krem yang menutupi sebagian lantai kayu. Ia berjalan ke lemari besar di sudut ruangan, membukanya perlahan, dan matanya melebar tak percaya — di dalamnya tersusun rapi pakaian-pakaian yang persis ukurannya, persis gaya yang biasa ia pakai, bahkan warna-warna favoritnya mendominasi deretan pakaian itu. Semuanya baru, semuanya berkualitas tinggi, dan seakan-akan seseorang telah mempelajari seleranya selama bertahun-tahun untuk menyiapkan semuanya dengan begitu sempurna.

"Bagaimana mungkin..." Su Yi membisikkan pelan, tangannya menyentuh gaun berwarna biru muda yang tergantung di sana — gaun yang persis sama dengan gaun yang pernah ia pakai saat berlibur ke desa kakeknya sepuluh tahun lalu. Gaun itu sederhana, bermotif bunga-bunga kecil, dan ia sangat menyukainya saat itu. Tapi bagaimana mungkin Mo Han tahu? Bagaimana mungkin ia bisa menyiapkan gaun yang persis seperti itu?

Ia mundur selangkah, perasaannya semakin bercampur aduk — bingung, takut, namun ada sesuatu yang hangat dan berharap di sudut hatinya. Semua hal ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Tidak mungkin seseorang bisa tahu bunga favoritnya, warna favoritnya, makanan favoritnya, bahkan gaun yang pernah ia pakai sepuluh tahun lalu — tanpa pernah bertemu sebelumnya. Itu bukan kebetulan. Itu berarti... seseorang telah memperhatikannya. Seseorang telah mengetahuinya. Seseorang telah menyimpannya di dalam hatinya sejak lama sekali.

Su Yi berjalan kembali ke tempat tidur, duduk perlahan di tepinya, dan menatap bunga matahari di meja samping tempat tidur itu lagi. Ia memejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat — apakah ia pernah bertemu pria bernama Mo Han di masa lalu? Apakah ada seorang anak laki-laki yang pernah menjadi temannya di desa kakeknya? Ingatannya tentang masa itu kabur dan samar — ia ingat ada seorang anak laki-laki yang sering bermain dengannya di bawah pohon bunga matahari, anak laki-laki yang pendiam namun baik hati, yang selalu melindunginya dari anak-anak lain yang jahat. Tapi ia tidak pernah tahu namanya. Dan ia tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah ia pulang ke kota.

"Apakah itu kau?" Su Yi membisikkan pelan, air mata perlahan menetes di pipinya. "Apakah kau anak laki-laki itu? Apakah kau yang selalu menjagaku dari jauh selama sepuluh tahun ini?"

Ia menarik selimut lembut itu hingga ke dada, berbaring perlahan di atas kasur yang empuk dan nyaman. Sebelum memejamkan matanya, ia melihat ke arah pintu — pintu yang memisahkan kamarnya dari kamar Mo Han di seberang koridor. Ia ingin sekali pergi ke sana, mengetuk pintunya, dan bertanya langsung. Tapi ia takut. Takut mendengar jawaban yang tidak siap ia terima. Takut jika ternyata ia salah, dan semua ini hanyalah kebetulan belaka.

"Tidurlah dulu, Su Yi." Ia berbisik pada dirinya sendiri, memejamkan matanya perlahan. "Besok pagi. Besok pagi aku akan bertanya. Aku akan menuntut jawaban yang sebenarnya."

Dan dengan pikiran itu, perlahan-lahan, kelelahan mengambil alih kesadarannya, dan ia terlelap — tidur yang tenang dan damai, sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan, seakan-akan kehadiran Mo Han di sebelah sana, di balik pintu itu, memberikan rasa aman yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

 

Keesokan paginya, cahaya matahari pagi yang hangat dan keemasan masuk melalui celah tirai jendela, menyinari wajah Su Yi yang perlahan membuka matanya. Ia terbangun dengan perasaan yang berbeda — lebih ringan, lebih tenang, lebih siap menghadapi hari yang baru. Udara di dalam kamar terasa segar dan harum, dan di meja samping tempat tidur... sudah tersedia nampan berisi sarapan sederhana namun lengkap — susu hangat, roti panggang yang masih terlihat hangat, dan buah-buahan segar yang dikupas dengan rapi. Di sampingnya terdapat secarik kertas bertuliskan satu kalimat dengan tulisan tangan yang rapi, tegas, namun indah:

"Makanlah selagi hangat. Jangan pergi keluar rumah sendirian hari ini. Aku ada urusan sebentar, akan segera kembali. — Mo Han"

Su Yi memegang kertas itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari ujung jarinya hingga ke seluruh tubuhnya. Ia tidak tahu kapan pria itu datang ke kamarnya, kapan ia meletakkan sarapan ini, kapan ia menulis pesan ini. Tapi ia tahu satu hal — pria itu meluangkan waktunya, melakukannya dengan hati, dan memastikan ia bangun dengan sarapan yang siap tersaji. Itu bukan perlakuan suami yang tidak peduli. Itu adalah perlakuan seseorang yang menyayangi dalam diam.

Ia segera bersiap, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang ia temukan di lemari — persis warna favoritnya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi, lalu berjalan turun ke ruang makan di lantai bawah. Saat ia tiba di sana, aroma makanan yang lezat dan kopi yang harum tercium hingga ke tangga. Dan di meja makan yang panjang itu, Mo Han sudah duduk di ujungnya, mengenakan kemeja putih bersih yang menonjolkan wajahnya yang tampan dan tegap, sedang membaca dokumen di tangannya. Cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela besar di sampingnya menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak begitu bersinar dan begitu sempurna, seakan lukisan yang hidup.

Saat mendengar langkah kaki di tangga, ia mendongak perlahan, dan untuk sesaat, matanya berbinar terang — binar kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan — sebelum kembali tenang dan tenang. Ia menutup dokumennya perlahan, meletakkannya di meja, dan memberi isyarat ke kursi di seberangnya.

"Kau bangun. Silakan duduk. Makanlah selagi hangat."

Su Yi berjalan mendekat, duduk perlahan di kursi yang ditunjuknya, dan menatap makanan di depannya — semuanya adalah makanan favoritnya, dimasak persis seperti yang ia sukai. Ia mengangkat kepalanya, menatap pria di hadapannya dengan tatapan yang tenang namun penuh pertanyaan, lalu menarik napas panjang dan berkata dengan suara yang jelas dan tegas, tanpa ragu sedikit pun.

"Mo Han... bagaimana kau tahu bunga matahari adalah bunga favoritku? Bagaimana kau tahu warna biru muda adalah warna favoritku? Bagaimana kau tahu makanan apa yang kusukai, bahkan gaun yang pernah kupakai sepuluh tahun lalu? Kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi semuanya... semuanya terlihat seakan kau mengenalku seumur hidup."

Mo Han berhenti bergerak. Tangan kanannya yang memegang cangkir kopi berhenti di udara, tepat di bibirnya. Ia diam beberapa detik, keheningan di ruangan itu terasa berat dan penuh ketegangan. Perlahan, ia meletakkan cangkir itu kembali ke meja dengan gerakan yang pelan dan hati-hati, seakan sedang menata kata-kata di dalam kepalanya agar tidak salah diucapkan. Lalu, ia menatap Su Yi lurus ke mata, tatapannya begitu dalam, begitu tulus, dan begitu penuh perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Karena aku memang mengenalmu, Su Yi." Kata-katanya keluar pelan namun jelas, setiap kata terasa berat dan bermakna. "Lebih lama dari yang kau ingat. Lebih lama dari yang kau bayangkan."

Su Yi menatapnya lebar-lebar, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. "Apa maksudmu?"

Mo Han membuka mulutnya untuk menjawab, namun tepat saat itu, suara bel pintu utama berbunyi nyaring di seluruh ruangan — suara yang tajam dan mendesak, memotong momen itu seketika. Wajah Mo Han berubah seketika — tatapan lembut itu lenyap, digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh kewaspadaan. Ia berdiri perlahan, menatap ke arah pintu depan, lalu menoleh kembali ke Su Yi dengan suara yang rendah namun penuh peringatan.

"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Sekarang... tetap di sini. Jangan ke mana-mana. Biarkan aku yang menghadapinya."

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!