Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tahun Hari Jadi dan Hati yang Mulai Lelah
Setahun telah berlalu sejak hari di kafe dekat kampus itu. Status Valerie bukan lagi sekadar mahasiswi genit yang menumpang menginap di rumah Tiara demi mencari perhatian. Dia kini adalah kekasih resmi dari seorang Dean. Namun, jika ada yang bertanya apa perbedaan antara masa-masa mengejar dan masa-masa berpacaran, Valerie hanya akan tersenyum kecut. Baginya, perbedaan itu hanyalah selembar validasi verbal. Sisanya, tidak ada yang berubah.
Hari ini adalah hari jadi hubungan mereka yang pertama. Bagi gadis seusia Valerie, angka satu tahun adalah sebuah pencapaian besar yang patut dirayakan dengan makan malam romantis, bertukar kado, atau setidaknya foto bersama dengan senyum lebar yang dipamerkan di media sosial. Sejak satu minggu yang lalu, Valerie sudah memesan tempat di sebuah restoran bertema glasshouse di pusat kota—tempat yang sedang tren di kalangan anak muda dan membutuhkan reservasi jauh-jauh hari.
Valerie menatap pantulan dirinya di cermin kamar kosnya. Dia mengenakan gaun berwarna pastel yang lembut, riasan wajahnya dibuat senatural mungkin namun tetap memancarkan binar segar khas perempuan berumur dua puluh tahun. Dia sudah bersiap sejak pukul lima sore, meskipun reservasi tempat baru dijadwalkan pukul tujuh malam.
Pukul enam lewat lima belas menit, ponsel Valerie bergetar di atas meja rias. Nama 'Dean' tertera di layar. Jantung Valerie berdesir, senyumnya langsung terkembang saat dia menggeser tombol hijau.
"Halo, Kak Dean? Kakak sudah di jalan?" tanya Valerie dengan nada suara yang ceria dan ekspresif seperti biasanya.
"Valerie, saya baru saja menyelesaikan rapat darurat dengan dewan komisaris," suara Dean terdengar dari seberang telepon. Datar, tenang, dan tanpa intonasi yang menandakan rasa bersalah. "Ada masalah pada laporan keuangan kuartal ini. Saya tidak bisa menjemputmu ke kos. Kamu naik taksi online saja langsung ke restorannya. Saya akan menyusul setelah ini."
Senyum di wajah Valerie perlahan memudar. Bahunya merosot. "Oh... begitu ya, Kak? Tapi Kakak pasti datang, kan? Aku sudah bayar biaya deposit untuk mejanya."
"Ya, saya datang. Kirimkan saja alamatnya lagi," jawab Dean singkat. "Saya tutup dulu."
Klik. Sambungan terputus secara sepihak. Valerie menurunkan ponselnya dari telinga, menatap layar hitam itu dengan helaan napas panjang. Tidak ada ucapan "Selamat hari jadi, Sayang," atau sekadar kata "Maaf membuatmu menunggu." Logika Dean tampaknya telah menghapus semua kamus romantis dalam otaknya dan menggantinya dengan deretan angka serta efisiensi kerja.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit malam. Valerie duduk sendirian di meja bundar yang terletak di sudut restoran yang indah. Di sekelilingnya, lampu-lampu gantung berbentuk kristal memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Pasangan-pasangan lain di meja sebelah tampak saling mengobrol, tertawa, dan beberapa kali sang pria menggenggam tangan wanitanya dengan mesra. Sementara Valerie, dia hanya ditemani oleh segelas air putih yang esnya sudah mencair seluruhnya.
"Mbak, apakah pesanannya mau dikeluarkan sekarang?" tanya seorang pelayan dengan sopan untuk yang ketiga kalinya.
Valerie tersenyum canggung, menggeleng pelan. "Tunggu sebentar lagi ya, Mas. Pasangan saya sedang dalam perjalanan."
Baru pada pukul delapan kurang sepuluh menit, sosok yang ditunggu akhirnya muncul. Dean berjalan membelah restoran dengan langkahnya yang tegap dan berwibawa. Setelan jas abu-abu gelapnya masih melekat rapi, meskipun dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang tampan terlihat kaku dan lelah, tipikal ekspresi yang selalu dia bawa setiap kali pulang dari kantor.
"Maaf, jalanan macet," ucap Dean saat dia menarik kursi di hadapan Valerie dan duduk. Tidak ada kecupan di kening, tidak ada pelukan hangat. Pria itu langsung melambaikan tangan memanggil pelayan. "Pesan sekarang saja, saya ada pertemuan lagi besok pagi-pagi sekali."
Valerie menelan ludah, mencoba menekan gemuruh kecewa di dadanya. Dia memanggil pelayan dan memesan beberapa menu andalan restoran tersebut. Selama menunggu makanan datang, keheningan yang mencekam kembali merayap di antara mereka. Dean sibuk mengetik sesuatu di ponsel kerjanya, sesekali mengernyitkan kening dengan serius.
"Kak Dean," panggil Valerie pelan, mencoba memecah keheningan. "Kakak ingat hari ini hari apa?"
Dean mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Valerie dengan mata elangnya yang dingin. "Hari jadi kita yang pertama. Kamu sudah mengatakannya lewat pesan singkat tiga hari yang lalu, Valerie."
Valerie memaksakan sebuah senyuman. "Lalu... Kakak tidak berniat mengucapkan sesuatu untukku? Secara langsung?"
Dean meletakkan ponselnya di atas meja, menatap Valerie lurus-lurus. "Selamat hari jadi, Valerie. Terima kasih sudah bertahan selama satu tahun ini." Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat formal, seolah-olah dia sedang memberikan pidato penghargaan untuk karyawan teladan di perusahaannya, bukan untuk kekasihnya sendiri.
Mata Valerie mendadak terasa panas, namun dia menahannya kuat-kuat. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat muda yang dihiasi gambar ilustrasi wajah mereka berdua yang dia gambar sendiri. Di dalamnya terdapat surat sepanjang tiga halaman yang dia tulis tangan, menceritakan betapa bersyukurnya dia bisa menjadi pacar Dean selama setahun ini, lengkap dengan harapan-harapan kecilnya di masa depan.
"Ini untuk Kakak. Aku membuatnya sendiri," ujar Valerie, menyodorkan amplop itu dengan kedua tangannya.
Dean menerima amplop tersebut, menatap ilustrasinya sejenak tanpa perubahan ekspresi yang berarti. "Terima kasih. Saya akan membacanya di rumah nanti." Pria itu memasukkan amplop tersebut ke dalam tas kerjanya tanpa membukanya terlebih dahulu.
"Kak Dean... tidak membawa apa-apa untukku?" tanya Valerie, suaranya mulai bergetar. Dia tahu dia seharusnya tidak menuntut, mengingat watak Dean yang kaku. Namun ego wanitanya tetap menginginkan sebuah kejutan kecil, bahkan jika itu hanya setangkai bunga mawar yang dibeli di pinggir jalan.
Dean terdiam sejenak. "Saya tidak sempat membeli hadiah, Valerie. Jadwal saya sangat padat minggu ini. Tapi jika ada barang yang kamu inginkan, katakan saja sekarang. Besok saya akan menyuruh sekretaris kantor untuk membelikannya dan mengirimkannya ke kosmu. Atau kamu mau saya transfer uangnya sekarang?"
Sekretaris kantor. Transfer uang.
Kata-kata itu bagai belati yang menusuk tepat di ulu hati Valerie. Di mata Dean, apakah hubungan mereka bisa dinilai dengan nominal uang? Apakah ketulusan dan penantiannya selama setahun ini hanya dianggap sebagai sebuah kewajiban materi yang bisa didelegasikan kepada orang lain?
Makanan akhirnya datang, namun nafsu makan Valerie sudah hilang sepenuhnya. Dia memotong steak daging di piringnya dengan gerakan lambat, sementara Dean makan dengan tenang dan cepat, sesekali melirik jam tangan Rolex-nya.
"Kak Dean... kenapa Kakak tidak pernah berinisiatif?" tanya Valerie tiba-tiba, meletakkan pisau dan garpunya dengan denting pelan yang memutus kesunyian.
Dean menghentikan kunyahannya, menatap Valerie. "Maksudmu?"
"Selama setahun kita pacaran, selalu aku yang mengajak bertemu. Selalu aku yang menentukan tempat makan. Selalu aku yang mengirim pesan duluan di pagi hari. Kakak tidak pernah menolak, iya, aku tahu. Kakak selalu menjemput kalau aku minta, Kakak selalu datang kalau aku undang. Tapi Kakak melakukan semuanya seperti robot yang sedang menjalankan perintah kode pemrograman! Kakak tidak pernah melakukannya karena Kakak ingin, tapi karena Kakak harus," tumpah Valerie, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos membasahi pipinya.
Dean menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ekspresinya tidak berubah marah, melainkan tetap datar dan rasional. "Valerie, sejak awal di kafe itu, saya sudah mengatakannya padamu. Saya tidak bisa menjadi pria romantis. Dunia saya adalah dunia kerja dan logika. Saya memenuhi semua permintaanmu, saya tidak pernah menolak perlakuanmu, karena bagi saya, itulah cara saya menghargaimu sebagai kekasih saya. Jika saya harus berpura-pura menjadi pria manis yang penuh inisiatif, itu bukan saya."
"Tapi aku ini pacarmu, Dean! Bukan rekan bisnismu!" tangis Valerie pecah, meskipun dia berusaha mengecilkan suaranya agar tidak menarik perhatian pengunjung lain. "Aku juga punya rasa lelah. Di rumah, orang tuaku tidak pernah menganggapku ada karena mereka hanya peduli pada kakakku. Aku mengejarmu setahun karena aku mengira di sampingmu aku bisa merasa diinginkan, merasa dicintai dengan hangat. Tapi berada di sampingmu ternyata membuatku merasa semakin kesepian."
Dean menatap gadis yang menangis di depannya. Ada secercah kilat tidak nyaman di matanya, namun logikanya segera mengintervensi. Dia menganggap emosi Valerie malam ini hanyalah ledakan hormon anak muda yang terlalu sensitif dan mendramatisir keadaan.
Dean meraih selembar tisu, mengulurkannya ke tangan Valerie. "Hapus air matamu, Val. Ini tempat umum. Selesaikan makanmu, setelah ini saya antar kamu pulang. Kamu hanya sedang lelah karena tugas kuliahmu yang menumpuk belakangan ini."
Valerie menerima tisu itu, meremasnya kuat-kuat di dalam genggaman tangannya. Dia menatap Dean yang kembali melanjutkan makannya seolah tidak terjadi percakapan hebat barusan. Pada detik itulah, di bawah temaram lampu restoran glasshouse yang indah, sekeping hati Valerie yang dulunya begitu membara untuk Dean, mulai merasakan retakan-retakan kecil yang dingin. Rasa lelah yang selama ini dia sangkal mulai menumpuk di dasar hatinya, bersiap menjadi bom waktu yang tinggal menunggu pemantiknya datang.