Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Foto Lama di Dalam Dompet

Di dalam laci meja kerja di sudut kamar tidur, tersimpan sebuah dompet kulit hitam yang sudah agak tua. Bukan dompet mahal, bukan dompet bermerek — hanya dompet sederhana yang terbuat dari kulit halus berwarna hitam legam, yang dijahit dengan tangan di bagian dalamnya ada inisial kecil: S.W. Dompet itu sudah bertahun-tahun tidak dibuka, tersimpan rapi di antara tumpukan surat-surat lama dan foto-foto yang tak pernah ditunjukkan kepada siapa pun. Su Wan membelinya sendiri, lima tahun lalu, saat ia masih bersama Yicheng — dan sejak hari ia pergi, dompet itu menjadi tempat persembunyian rahasia terbesarnya.

Pagi itu, saat Xiaoqi sedang asyik menyusun kepingan teka-teki lantai di ruang tengah, Su Wan melangkah perlahan ke kamar tidur, menutup pintu pelan-pelan, lalu berlutut di depan meja kerja. Tangannya gemetar sedikit saat ia menarik laci itu keluar — seolah ada sesuatu yang berat menarik hatinya ke bawah, seolah membuka laci ini sama saja dengan membuka kembali luka yang sudah lama ia coba sembuhkan.

Di paling bawah, di balik tumpukan kertas dan pita merah yang sudah pudar warnanya, dompet itu tergeletak — tenang, sunyi, seolah menunggu waktu untuk diangkat kembali ke permukaan. Su Wan meraihnya dengan kedua tangan, merasakan tekstur kulit yang sudah agak lembek karena usia, lalu duduk di tepi tempat tidur, menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya.

Di bagian paling depan, di dalam kantong bening yang dilindungi plastik tipis, tersimpan sebuah foto berukuran kecil yang sudah mulai menguning di pinggir-pinggirnya. Foto itu diambil lima tahun lalu, di taman bunga yang sama tempat mereka pertama kali mengaku cinta. Di sana, Su Wan berdiri di samping Lin Yicheng, tersenyum lebar dengan bunga melati di telinganya, sementara Yicheng — yang saat itu belum menjadi CEO yang sedingin es — tersenyum tipis, namun matanya memancarkan kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Tangan keduanya saling bertaut erat di belakang punggung, seakan takut terpisah bahkan di dalam foto.

Su Wan menyentuh permukaan foto itu dengan jari telunjuknya, pelan, seakan takut melukai gambar di atasnya. Air mata perlahan menetes ke pipinya, jatuh ke tangan yang memegang dompet itu.

"Kamu benar-benar pergi… tanpa tahu apa yang aku bawa," bisiknya pelan, suaranya pecah di keheningan kamar.

Di sela-sela foto itu, tersimpan selembar kertas kecil — hasil USG yang sudah dilipat berkali-kali, terlihat agak kusut namun tetap terjaga dengan baik. Di atasnya terlihat bayangan kecil yang samar, dan tanggal yang tertera di sudut bawah — tanggal yang sama dengan hari ia meninggalkan kota ini. Saat itu, ia baru saja tahu bahwa dirinya mengandung. Ia berniat memberitahu Yicheng, berniat memberinya kejutan, berniat membangun masa depan bersama — tapi takdir berkata lain. Tekanan keluarga, ancaman, dan kenyataan bahwa ia bukan siapa-siapa di mata dunia tempat Yicheng berdiri, semuanya datang bertubi-tubi, memaksanya memilih — pergi dan melindungi anak ini, atau tetap tinggal dan mungkin kehilangan keduanya.

Ia memilih pergi. Dan selama lima tahun, kedua benda ini — foto dan hasil USG — menjadi satu-satunya jembatan antara masa lalu dan masa depannya.

Su Wan menutup dompet itu perlahan, memeluknya di dada, merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu cepat. Ia tahu ia seharusnya melupakannya, seharusnya membuangnya, seharusnya memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu. Tapi ia tidak bisa. Bagaimana mungkin melupakan orang yang memberinya anak paling berharga di dunia?

 

Sementara itu, di lantai teratas gedung Grup Lin, Lin Yicheng duduk di kursi kerjanya, menatap jendela kaca luas di hadapannya. Di atas meja, di samping tumpukan dokumen tebal, tersimpan sebuah dompet kulit cokelat tua — dompet yang ia bawa ke mana pun ia pergi, dompet yang tidak pernah ia ganti meskipun orang-orang di sekelilingnya selalu menyarankan membeli yang lebih mewah. Dompet itu sederhana, dengan sedikit goresan di sudut-sudutnya, dan di bagian dalamnya, tersimpan satu hal yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Yicheng meraih dompet itu, membukanya perlahan, dan di kantong paling dalam — tempat yang tidak terlihat oleh orang lain — tersimpan selembar foto kecil yang sudah mulai pudar warnanya. Foto Su Wan. Diambil sore hari terakhir sebelum ia menghilang, saat mereka berjalan di sepanjang tepi danau di taman kota. Ia tersenyum ke arah kamera, rambutnya tertiup angin, dan di matanya terpancar kebahagiaan yang murni — kebahagiaan yang Yicheng tidak pernah bisa temukan lagi sejak ia pergi.

Setiap hari, setiap kali ia merasa lelah, kesepian, atau ragu dengan semua yang ia lakukan, ia membuka dompet ini, menatap foto itu, dan mengingat — ada satu orang yang pernah melihatnya bukan sebagai CEO, bukan sebagai pewaris Grup Lin, tapi hanya sebagai Yicheng. Hanya Yicheng.

"Di mana kamu, Su Wan?" bisiknya pelan, jari-jarinya menyentuh wajah wanita di foto itu dengan lembut, seakan takut ia akan menghilang jika menyentuhnya terlalu keras. "Mengapa kamu pergi tanpa pesan? Mengapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan?"

Ia menutup dompet itu kembali, meletakkannya di laci meja kerja, menguncinya rapat-rapat — seakan mengunci juga perasaannya di sana, agar tidak meluap dan menghancurkan segalanya. Orang-orang melihatnya sebagai pria yang tak tersentuh, yang tidak membutuhkan siapa pun, yang memiliki segalanya. Tapi tidak ada yang tahu — bahwa harta paling berharga yang pernah ia miliki, telah pergi tanpa pamit, dan ia tidak tahu cara mendapatkannya kembali.

 

Sore itu, saat matahari mulai turun ke arah barat, menyinari rumah mereka dengan cahaya keemasan yang hangat, Xiaoqi masuk ke kamar tidur ibunya untuk meminta bantuan membaca buku cerita yang baru dibelinya. Ia berjalan berjinjit, ingin memberi kejutan, tapi saat ia membuka pintu perlahan, ia melihat ibunya duduk di tepi tempat tidur, memegang sebuah dompet kulit hitam di tangan, menatap sebuah foto kecil dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Xiaoqi berhenti di ambang pintu, tidak masuk, tidak bersuara. Ia hanya berdiri diam, menatap ibunya, dan melihat foto yang sedang ditatap ibunya — foto seorang pria, dengan wajah tegas, rambut rapi, dan senyum yang jarang terlihat. Ia tahu wajah itu. Ia sudah melihatnya berkali-kali di ponsel ibunya, di dalam folder yang dikunci dengan kata sandi. Itu Ayah.

Xiaoqi melangkah pelan mendekat, lalu duduk di samping ibunya, menatap foto itu juga. "Itu Ayah, kan, Bu?"

Su Wan terkejut, buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum memaksakan diri. Ia tidak menyembunyikan foto itu — ia tahu, cepat atau lambat, Xiaoqi berhak melihatnya.

"Ya, Xiaoqi. Itu Ayah," jawab Su Wan pelan, lalu menyerahkan foto itu kepada anaknya. "Lihat baik-baik. Ini satu-satunya foto yang Ibu punya tentang dia."

Xiaoqi menerima foto itu dengan kedua tangan, menatapnya lama, mempelajari setiap detail wajah pria itu — matanya yang tajam, alisnya yang tebal, senyum tipis di bibirnya. Ia merasa bangga — ayahnya terlihat gagah, terlihat kuat, terlihat seperti pahlawan di buku cerita.

"Dia tampan," kata Xiaoqi tulus, tersenyum lebar. "Aku mirip dia, kan?"

Su Wan tertawa pelan, mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Sangat mirip. Bahkan Ibu kadang merasa melihat bayangan dirinya di dalam dirimu."

Xiaoqi tersenyum puas, lalu menatap foto itu lagi, bertanya dengan nada serius, "Bu, kenapa Ayah tidak membawa foto Ibu? Apakah dia sudah lupa pada kita?"

Pertanyaan itu menembus hati Su Wan lagi. Ia tidak tahu jawabannya. Ia ingin percaya bahwa Yicheng tidak melupakannya, bahwa ia juga mencari mereka, bahwa ia juga menunggunya. Tapi lima tahun sudah berlalu, dan tidak ada satu pun kabar, satu pun pesan. Bagaimana ia bisa yakin?

Su Wan menghela napas panjang, lalu memegang tangan kecil anaknya yang masih memegang foto itu. "Ibu tidak tahu, Xiaoqi. Ibu berharap dia tidak melupakan kita. Tapi kadang-kadang, orang dewasa terjebak di antara banyak hal — pekerjaan, tekanan, kesalahan yang tidak sempat diperbaiki. Mungkin dia juga menunggu kesempatan yang tepat, sama seperti Ibu."

"Kalau begitu, kita harus memberinya kesempatan itu," kata Xiaoqi tegas, matanya berbinar dengan tekad yang kuat. "Kita harus menemuinya, Bu. Kita harus menunjukkan foto ini padanya, dan memberitahunya bahwa aku ada. Supaya dia tidak melupakan kita lagi."

Su Wan terdiam. Ia ingin melarang, ingin mengatakan belum siap, ingin meminta lebih banyak waktu. Tapi melihat keteguhan di mata anaknya, melihat harapan yang begitu murni di wajah itu, kata-kata penolakan itu terasa berat sekali untuk diucapkan. Ia tahu Xiaoqi benar — mereka tidak bisa terus menunggu selamanya. Cepat atau lambat, pertemuan itu harus terjadi.

"Xiaoqi," ucap Su Wan lembut, "Ibu berjanji akan mengatur pertemuan itu. Tapi tolong beri Ibu sedikit waktu lagi, ya? Ibu harus siap dulu. Ibu harus tahu cara yang tepat untuk memberitahunya. Kalau kita terburu-buru, nanti semuanya bisa berantakan. Kita tidak mau itu terjadi, kan?"

Xiaoqi mengangguk pelan, meski sedikit kecewa. "Baiklah, Bu. Aku tunggu. Tapi janji ya? Tidak lama lagi?"

"Janji," jawab Su Wan lembut, lalu memeluk anaknya erat, menyandarkan dagunya di atas kepala anak itu. "Tidak lama lagi."

Xiaoqi kembali menatap foto ayahnya di tangannya, lalu berkata pelan, "Bu, boleh aku pinjam foto ini? Aku ingin menyimpannya di saku bajuku. Supaya setiap kali aku merindukan Ayah, aku bisa melihatnya."

Su Wan ragu sejenak — foto itu adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki. Tapi melihat mata anaknya yang penuh harap, ia tidak tega menolak. Ia mengangguk, lalu tersenyum.

"Boleh. Tapi hati-hati, ya? Jangan sampai hilang."

"Tidak akan hilang, Bu. Aku akan menjaganya seperti menjaga harta paling berharga," janji Xiaoqi tulus, lalu melipat foto itu dengan hati-hati, menyimpannya di saku bagian dalam jaketnya, menekan saku itu dengan telapak tangan untuk memastikan foto itu aman di sana.

 

Malam itu, setelah Xiaoqi tertidur, Su Wan duduk di tepi tempat tidur anaknya, menatap wajah damai putranya yang tersenyum dalam tidur — seakan ia sedang bermimpi indah tentang keluarga yang utuh. Di saku jaket yang tergantung di kursi, tersimpan foto itu — jembatan kecil yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.

Su Wan berdiri, berjalan ke jendela, membuka gordennya sedikit, menatap ke arah kejauhan — ke arah gedung tertinggi di kota ini, tempat pria yang pernah ia cintai bekerja. Cahaya lampu di lantai teratas masih menyala, menandakan bahwa ia masih bekerja, masih seperti dulu — tidak pernah berhenti, tidak pernah beristirahat.

"Yicheng," bisiknya pelan ke kegelapan malam, "kalau kamu tahu… kalau kamu tahu ada anak ini, apakah kamu akan datang? Atau kamu akan tetap memilih hidupmu seperti dulu?"

Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon di luar jendela. Tapi di dalam hatinya, Su Wan merasa sesuatu telah berubah. Keputusan itu sudah tidak bisa ditunda lagi. Xiaoqi berhak tahu. Xiaoqi berhak memiliki ayahnya. Dan ia — Su Wan — harus berani menghadapi masa lalu, untuk masa depan anaknya.

Sementara itu, di gedung Grup Lin, Yicheng baru saja selesai menandatangani dokumen terakhir. Ia menutup laptopnya, meraih dompetnya dari laci meja, dan saat ia memegang foto Su Wan di dalamnya, ia tiba-tiba merasakan sesuatu — perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, seakan ada sesuatu yang penting sedang mendekat, seakan takdir sedang bergerak di belakang punggungnya.

Ia tidak tahu bahwa di kota yang sama, di rumah kecil yang hangat, ada seorang anak laki-laki yang memegang foto dirinya di saku jaketnya, menunggunya, mencarinya, dan bertekad menyatukan keluarga yang terpisah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!