Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Ternodainya Kehormatanku Oleh Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Konflik etika / Kehidupan Tentara / Menikahi tentara
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Malam yang mengerikan telah menimpa seorang gadis malang bernama Asri Devantara, kesuciannya di renggut oleh Angga Pratama dalam keadaan mabuk. Sejak malam itu Asri berusaha melarikan diri dari masalah sekaligus traumanya, namun takdir selalu punya cara mempertemukannya kembali dengan pria yang sudah merusak masa depannya. Ini bukan suatu kebetulan melainkan sebuah takdir kejam untuk keduanya, takdir yang ditulis semesta agar memang keduanya bersatu. Apa alasan semesta menyatukan keduanya dengan cara kejam dan waktu yang dipaksakan.
"Saya akan nikahi kamu Asri, meski saya tahu kamu masih trauma akan kejadian malam itu." Mayor Angga Pratama.
"Kasih aku waktu, Mas. Aku masih takut melayanimu." Asri Devantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Di sebuah Club malam.

Dentuman bas yang berdengung di telinga, beradu dengan riuhnya suara obrolan orang-orang dengan kepulan asap tipis di dalam club malam---asap itu berasal dari vape dan rokok, juga dari es batu minuman yang memabukkan.

Tak sekedar dentuman suara musik bas, cahaya lampu neon berwarna biru, merah, dan ungu berputar liar yang menyilaukan mata.

Cahaya warna-warni itu memantul sampai di atas permukaan meja bar yang basah oleh sisa-sisa minuman, di salah satu sudut bar seperti basah oleh minuman dan muntahan.

Di salah satu sudut bar, terlihat dua pria tampan bertubuh tegap---Angga dan Bima tengah duduk bersisian dengan raut wajah yang tampak begitu lelah dan sangat depresi.

Malam ini kedua Perwira berpangkat Mayor itu sedang tak dinas, keduanya nampak ingin hiburan semalam saja.

Angga mengenakan kaos lengan pendek polos warna hijau army, sementara, Bima mengenakan kaos warna coklat mahoni yang kasual---keduanya nampak duduk berdampingan.

Di hadapan mereka, gelas-gelas kaca berisi minuman yang memabukkan------whiskey.

Gelas-gelas itu sudah kosong setengah, rupanya tekanan dinas yang luar biasa berat benar-benar menguras kewarasan mereka.

Hal yang memaksa kedua perwira menengah---masih muda ini mencari pelarian instan, dengan di bawah gemerlap lampu malam kota, keduanya menemukan kewarasannya kembali.

Mayor Bima Adiyatna.

Pria itu menghela napas panjang dengan mata yang masih terjaga, sebelah tangannya nampak memijat pelipisnya yang mulai terasa berkunang-kunang akibat pengaruh minuman alkohol ini.

Rasa pening yang bercampur akibat pengaruh alkohol dan memikirkan pekerjaannya, sesekali menoleh ke arah sahabatnya yang sejak tadi lebih banyak diam dengan pandangan kosong ke arah gelasnya.

"Habis berapa kau?" tanya bima dengan suara yang berteriak agar terdengar di antara musik bas yang kencang.

"Dua gelas," jawab Angga dengan singkat, tak lupa dengan lamunannya.

Angga berusaha mengangkat wajahnya lagi, namun matanya sudah tampak merah dan sayu.

Bima mendengus lalu mencairkan suasana dengan bercanda pada sahabatnya.

"Ah, cemen kau! kalah sama aku yang habis tiga gelas, nih bentar lagi empat gelas!" ujar bima sambil kembali meraih gelasnya yang kosong dan mau tambah lagi---segelas pada bartender.

Angga hanya tersenyum tipis tanpa ada minat membalas ejekan sahabatnya, pikirannya masih tertinggal di markas saat dinas.

Bayangan wajah sang Jendral dan amarahnya masih terus berputar di kepalanya, segala dedikasinya malam-malam tanpa tidur yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan tugas taktisnya.

Kini seolah menguap begitu saja, hanya karena kesalahan kecil yang di luar kendalinya---tanpa di duga.

Dunia militer memang keras.

Bima kembali meneguk minumannya yang di gelas, gelas itu sudah kembali penuh karena sudah diisi oleh bartender.

Mulutnya masih meracau dengan nada jengkel yang tak bisa diucapkan, saat di markas.

"Kenapa sih yang kita lakukan...hik...serba salah...hik. Mau sekeras apapun kita berusaha kalo ada salah dikit langsung sapu bersih...hik," ucap Bima.

Lalu Bima muntah mengambil kantung plastik, "ueksss."

Angga yang melihat itu hanya terkekeh, dan tertawa puas.

"Lima gelas tapi modar kau," jawab Angga sambil meminum kembali whiskey di gelas kaca itu.

Bima setelah muntah, masih terus meracau---bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Angga.

"Giliran hasil kerja bagus, nanti jendral yang dapat pujian," racaunya, bahkan arah racauannya semakin tak jelas.

Angga hanya tertawa lalu terdiam, tangannya memutar-mutar gelasnya hingga es batu di dalamnya berdenting pelan kalah akan alunan musik bas.

Angga tahu Bima, tak sadar menyuarakan isi hati dan tekanannya di tempat umum, dalam kondisi yang setengah mabuk---ini hal yang beresiko.

Angga kembali meneguk sisa minumannya, rasa hangat seakan membakar tenggorokannya.

Seiring malam yang merangkak semakin larut akan kesadaran keduanya, Bima sudah tak sadarkan diri---bahkan sudah tertidur karena mabuk berat.

"Cuihh, katanya kuat. Ngatain aku cemen dia sendiri lebih banci," ejek Angga yang juga mabuk, apa yang mereka ucapkan juga tanpa di sadari keduanya.

Di belahan suasana lain, yang sangat kontras dengan club malam----di halaman hotel bintang lima yang megah.

Asri berjalan keluar, karena baru saja menyelesaikan pertemuan penting dengan perwakilan UNESCO----membahas soal program pelestarian dan pengenalan kebudayaan Papua ke tingkat internasional.

Sebuah proyek yang di dedikasikan demi sahabatnya Lena, dan Asri melakukan ini karena dirinya berusaha menepis isu rasisme pada saudara-saudara Indonesia di Papua.

Malam ini Asri mengenakan kemeja putih di padukan dengan celana formal, serta tas selempang warna hitam yang terselampir di bahunya.

Asri memutuskan untuk berjalan keluar menuju area luar taman hotel untuk menghirup udara segar sekaligus memeriksa ponselnya, seusai acara selesai.

Wanita itu juga berusaha mencari jaringan internet di ponselnya, karena aksesnya hilang dan sangat buruk.

Langkahnya menyusuri taman di jalan setapak berbatu, malam ini nampak sepi karena sudah tengah malam---suasana hanya di sinari lampu taman yang remang-remang di kelilingi pepohonan yang rindang.

"Sinyal pake acara kagak ada lagi, suwee banget!" gerutu Asri dengan kesal, sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke atas.

Berharap mendapatkan sinyal, namun hasilnya tetap nihil karena sinyal hanya mendapatkan dua----Asri langsung menambah ngedumel, karena dirinya ingin menghubungi Putri, agar di jemput sepupunya itu.

Tanpa di sadari oleh Asri dirinya tengah mendekat ke arah takdirnya.

Angga berjalan mendekati Asri, dan terpisah dari Bima.

Pria itu terlihat berjalan sempoyongan keluar dari area club malam---langkahnya tengah menyusuri jalan setapak, kepalanya juga sudah di penuhi halusinasi akibat minuman alkohol.

Angga tak sadar langkahnya menuju taman yang sepi, hanya ada dirinya dan Asri.

Asri masih mengangkat ponselnya ke atas untuk mencari sinyal, dan dirinya langsung melontarkan umpatan kesal saat sama sekali tak dapat sinyal.

"Ah, suwee! mending gua balik ke hotel aja, coba minta wifi deh siapa tahu dapet di kasih ama resepsionis," pikirnya.

Langkahnya mau berbalik dan ponselnya di simpan ke dalam tas miliknya yang terselampir di bahu, namun langkahnya terhenti saat seorang pria menahan tangannya.

"Loh Kamu siapa?! Kamu mau ngapain?!" tanya Asri yang wajahnya kaget.

*

*

*

*

1
Salmah Salmah
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!