Indonesia
NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 3 — Terpaksa Menikah

Clara masih menatap Fedro dengan wajah tidak percaya.

Pria itu duduk dengan tenang di hadapannya, seolah-olah kedatangan mendadak ke kafe tersebut adalah sesuatu yang sangat biasa.

Sementara Clara justru merasa kepalanya semakin pusing.

“Kenapa kamu datang ke sini?” tanya Clara.

Fedro menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Aku ingin bicara denganmu.”

“Tidak bisa menunggu sampai makan malam?”

“Tidak.”

Jawaban singkat itu membuat Clara menghela napas.

“Kamu memang selalu seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Dingin.”

Fedro mengangkat alis.

“Menurutmu?”

“Menurutku begitu.”

Fedro tersenyum tipis.

“Dan menurutku, kamu terlalu banyak bicara.”

Clara langsung menatap tajam.

“Apa?”

Fedro tertawa kecil.

Untuk beberapa detik, suasana di antara mereka terasa berbeda.

Tidak setegang sebelumnya.

Namun senyum Fedro segera menghilang.

“Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang serius.”

Clara kembali memasang wajah serius.

“Pernikahan?”

Fedro mengangguk.

“Ya.”

Clara bersandar di kursinya.

“Aku sudah bilang aku tidak mau.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa masih dibicarakan?”

Fedro terdiam.

“Keluargaku memberikan tekanan besar kepadaku.”

Clara mengerutkan kening.

“Tekanan?”

“Perusahaan keluarga sedang menghadapi masalah.”

Clara terdiam.

“Masalah yang sama seperti keluargaku?”

Fedro mengangguk.

“Ya.”

Clara mulai memahami sesuatu.

Berarti bukan hanya keluarganya yang sedang terancam.

Keluarga Alexsander juga menghadapi masalah.

“Jadi pernikahan ini untuk menyatukan kedua keluarga?”

“Kurang lebih begitu.”

Clara menggeleng.

“Ini gila.”

Fedro menatapnya.

“Aku juga berpikir begitu.”

“Kalau begitu, batalkan.”

“Aku sudah mencoba.”

Clara terdiam.

“Dan?”

“Mereka tidak setuju.”

“Kenapa?”

Fedro menghela napas.

“Karena ada kesepakatan lama antara keluarga kami.”

Clara menatapnya penuh perhatian.

“Kesepakatan apa?”

“Aku belum bisa menjelaskannya.”

Clara langsung kesal.

“Kalau kamu tidak bisa menjelaskan, bagaimana aku bisa percaya?”

“Aku tidak meminta kamu percaya.”

“Lalu?”

“Aku hanya meminta kamu mendengarkan.”

Clara terdiam.

Fedro menatapnya cukup lama.

“Kalau kamu menolak pernikahan ini, keluargamu bisa kehilangan perusahaan.”

Clara membeku.

“Apa maksudmu?”

“Ada pihak yang sudah membeli sebagian besar saham perusahaan keluargamu.”

“Siapa?”

“Belum diketahui.”

Clara mengepalkan tangan.

“Papi tidak pernah mengatakan hal itu.”

“Karena dia tidak ingin kamu khawatir.”

Clara menunduk.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama Papi muncul di layar.

Clara segera mengangkatnya.

“Ya, Pi?”

Suara Papi terdengar serius.

“Clara, pulang sekarang.”

“Kenapa?”

“Kita perlu bicara.”

“Apa terjadi sesuatu?”

“Pulang dulu.”

Sambungan terputus.

Clara menatap layar ponselnya.

Perasaan tidak enak semakin kuat.

Fedro berdiri.

“Aku antar.”

“Tidak perlu.”

“Aku tidak bertanya.”

Clara mendengus.

“Memangnya aku tidak bisa pulang sendiri?”

“Kamu bisa.”

“Kalau begitu?”

“Aku tetap akan mengantarmu.”

Clara memandangnya dengan kesal.

Namun akhirnya ia berdiri.

“Baiklah.”

---

Sesampainya di rumah, Clara langsung melihat suasana yang berbeda.

Beberapa orang berpakaian formal berada di ruang tamu.

Ada Papi dan Mami.

Ada juga keluarga Alexsander.

Clara berhenti melangkah.

“Kenapa semuanya ada di sini?”

Papi menatap putrinya.

“Duduklah, Clara.”

Clara tidak langsung duduk.

“Apa yang terjadi?”

Papi berdiri.

“Perusahaan kita sedang dalam keadaan genting.”

Clara terdiam.

“Seberapa genting?”

Papi menghela napas.

“Jika dalam waktu dekat kita tidak mendapatkan investor baru, perusahaan bisa jatuh ke tangan orang lain.”

Clara mengepalkan tangan.

“Siapa yang melakukan ini?”

“Kami masih menyelidikinya.”

“Kenapa Papi tidak memberitahuku?”

“Karena kami ingin melindungimu.”

Clara tertawa pahit.

“Melindungiku dengan cara menyembunyikan semuanya?”

Mami menghampiri Clara.

“Maafkan kami.”

Clara memejamkan mata.

Ia tidak tahu harus marah atau sedih.

Selama ini ia memang tidak terlalu tertarik dengan bisnis keluarga.

Ia lebih menyukai kebebasan, motor, dan kehidupannya sendiri.

Namun perusahaan tersebut adalah hasil kerja keras orang tuanya.

Ia tidak ingin melihat semuanya hancur.

Ayah Fedro kemudian berkata,

“Keluarga kami bersedia membantu.”

Clara menatapnya.

“Dengan syarat aku menikah dengan Fedro?”

Pria itu terdiam.

Tidak ada yang menjawab.

Jawaban itu sudah cukup.

Clara menoleh kepada Fedro.

Pria itu tidak menghindari tatapannya.

“Aku tidak pernah meminta ini,” kata Fedro.

“Tapi kamu tetap menyetujuinya.”

“Aku menyetujuinya karena ingin membantu keluargamu.”

Clara tertawa kecil.

“Dan bagaimana dengan keluargamu?”

“Hal yang sama.”

Clara berjalan mendekati jendela.

Ia menatap halaman rumah yang luas.

Kepalanya dipenuhi banyak pikiran.

Menolak berarti mempertaruhkan perusahaan.

Menerima berarti menyerahkan sebagian besar kebebasannya.

Keduanya sama-sama tidak mudah.

Mami Clara mendekat.

“Sayang…”

Clara tidak menoleh.

“Berikan aku waktu.”

Papi mengangguk.

“Berapa lama?”

“Semalam.”

Semua orang terdiam.

“Aku butuh berpikir.”

---

Malam itu Clara berada di kamarnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi ponselnya.

Panggilan dari Inara masuk.

Clara langsung mengangkatnya.

“Clara, bagaimana?”

“Aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Kenapa?”

“Mereka ingin aku menikah dengan Fedro.”

Icha terdengar dari seberang.

“Serius?”

“Serius.”

“Terus kamu?”

Clara diam.

“Aku belum tahu.”

Inara berkata lembut,

“Kamu tidak harus mengambil keputusan karena tekanan.”

Clara menghela napas.

“Kalau aku menolak, perusahaan keluargaku bisa hancur.”

Hening.

Icha yang biasanya banyak bercanda pun tidak mengatakan apa-apa.

“Aku takut kehilangan semuanya,” lanjut Clara.

Inara berkata,

“Clara, apa kamu yakin pernikahan itu satu-satunya jalan?”

“Aku tidak tahu.”

“Kalau begitu jangan terburu-buru.”

Clara tersenyum tipis.

“Terima kasih.”

“Kami akan selalu mendukungmu.”

“Aku tahu.”

Setelah panggilan berakhir, Clara berjalan menuju balkon.

Udara malam terasa dingin.

Ia memejamkan mata.

Tiba-tiba suara langkah terdengar dari belakang.

Clara menoleh.

Fedro berdiri di dekat pintu balkon.

Clara terkejut.

“Kamu?”

“Aku ingin bicara.”

“Kenapa semua orang hari ini ingin bicara denganku?”

Fedro tidak menjawab.

Ia berdiri beberapa langkah darinya.

“Aku tahu kamu tidak ingin menikah denganku.”

Clara mengangguk.

“Benar.”

“Aku juga tidak pernah membayangkan menikah dengan orang yang baru kukenal.”

Clara menatapnya.

“Lalu kenapa kamu masih di sini?”

“Karena aku tidak ingin keluargamu kehilangan perusahaan.”

Clara terdiam.

Fedro kemudian berkata,

“Aku ingin memberikanmu pilihan.”

“Pilihan?”

“Kita menikah.”

Clara langsung mengernyit.

“Itu bukan pilihan.”

Fedro melanjutkan,

“Tapi pernikahan itu bisa memiliki aturan.”

Clara menatapnya.

“Aturan?”

“Kita tidak perlu berpura-pura saling mencintai.”

Clara diam.

“Kita tidak perlu mengganggu kehidupan masing-masing.”

Clara mulai memperhatikan.

“Dan?”

“Kamu tetap bebas melakukan hal yang kamu sukai.”

Clara mengangkat alis.

“Termasuk…”

“Balapan?”

Clara langsung menatapnya.

“Kamu tahu?”

Fedro mengangguk.

“Aku tahu.”

Clara mundur selangkah.

“Sejak kapan?”

“Aku melihatmu malam itu.”

Clara langsung teringat mobil hitam.

“Jadi kamu yang mengikutiku?”

Fedro tidak menyangkal.

“Aku ingin memastikan sesuatu.”

Clara mulai marah.

“Kamu mengawasiku?”

“Aku menyelidikimu.”

“Bedanya apa?”

“Bedanya, aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Clara menatapnya tajam.

“Aku tidak suka diawasi.”

“Aku mengerti.”

Fedro menatapnya dengan tenang.

“Karena itu, setelah menikah, kamu tetap boleh menjalani hidupmu.”

Clara terdiam.

“Dan apa yang kamu inginkan?”

Fedro menjawab,

“Aku hanya ingin kita menjalani kewajiban sebagai pasangan di depan keluarga.”

“Pura-pura?”

“Untuk sementara.”

Clara memikirkan perkataan itu.

Pernikahan tanpa cinta.

Tanpa campur tangan.

Tanpa harus kehilangan kebebasan.

Mungkin itu satu-satunya jalan.

Namun tetap saja, menikah dengan pria yang hampir tidak dikenalnya adalah keputusan besar.

“Aku perlu berpikir.”

Fedro mengangguk.

“Aku akan memberimu waktu sampai besok pagi.”

“Kenapa sampai besok?”

“Karena keluarga kita akan mengambil keputusan setelah itu.”

Clara menghela napas.

“Baik.”

Fedro hendak pergi.

Namun Clara memanggilnya.

“Fedro.”

Pria itu berhenti.

“Kalau aku menerima…”

“Hm?”

“Jangan pernah mengatur hidupku.”

Fedro menatapnya.

“Aku tidak akan.”

“Jangan melarangku bertemu Inara dan Icha.”

“Tidak akan.”

“Jangan menyentuh barang-barangku.”

“Baik.”

“Dan jangan berharap aku langsung menjadi istri yang sempurna.”

Fedro tersenyum tipis.

“Aku tidak pernah meminta itu.”

Clara sedikit terkejut.

“Lalu apa yang kamu minta?”

Fedro menatapnya dalam-dalam.

“Kejujuran.”

Clara terdiam.

“Aku tidak suka kebohongan.”

Setelah mengatakan itu, Fedro pergi.

Clara kembali sendirian di balkon.

Namun kali ini pikirannya sedikit lebih tenang.

---

Keesokan paginya, keluarga Clara kembali berkumpul.

Semua orang menunggu keputusan Clara.

Papi duduk dengan wajah serius.

Mami terus menggenggam tangan suaminya.

Keluarga Alexsander juga hadir.

Fedro duduk di sisi ruangan.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Clara berjalan masuk.

Semua mata tertuju kepadanya.

Papi berdiri.

“Clara.”

Clara menarik napas panjang.

“Aku sudah memikirkannya.”

Mami menatapnya penuh harap.

Clara memandang satu per satu orang yang ada di ruangan.

Kemudian matanya berhenti pada Fedro.

“Aku setuju.”

Ruangan langsung hening.

Papi terlihat terkejut.

“Clara, kamu yakin?”

Clara mengangguk.

“Aku yakin.”

Mami langsung memeluknya.

“Maafkan Mami.”

Clara membalas pelukan itu.

“Aku tidak apa-apa.”

Namun dalam hati, Clara tahu semuanya tidak akan pernah sama lagi.

Fedro berdiri.

Ia berjalan mendekati Clara.

“Terima kasih.”

Clara menatapnya.

“Jangan berterima kasih dulu.”

“Kenapa?”

“Karena aku belum tentu menjadi istri yang mudah diatur.”

Fedro tersenyum.

“Aku tidak mencari istri yang mudah diatur.”

Clara mengangkat alis.

“Lalu?”

“Aku mencari seseorang yang berani.”

Clara terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia merasa pria itu benar-benar memahami dirinya.

Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, ayah Fedro berkata,

“Kalau begitu, kita persiapkan semuanya.”

“Persiapkan apa?” tanya Clara.

“Pernikahan.”

Clara membeku.

“Secepat itu?”

Papi mengangguk.

“Pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi.”

“Apa?”

Clara hampir tidak percaya.

“Dua minggu?”

Fedro menatapnya.

“Kalau kamu ingin membatalkannya, katakan sekarang.”

Clara menatap Fedro.

Kemudian ia menggeleng.

“Tidak.”

Ia mengangkat dagu.

“Aku akan menikah.”

---

Beberapa jam kemudian, Clara menemui Inara dan Icha.

Begitu melihat wajah Clara, Inara langsung tahu sesuatu telah terjadi.

“Kamu sudah memutuskan?”

Clara mengangguk.

“Aku akan menikah.”

Icha membelalakkan mata.

“Dua minggu lagi?”

Clara mengangguk lagi.

“Gila.”

Inara memegang tangan Clara.

“Kamu benar-benar yakin?”

Clara tersenyum tipis.

“Tidak.”

“Clara!”

“Aku hanya bercanda.”

Namun sebenarnya, ada rasa takut yang tersimpan di balik senyumnya.

Ia tidak tahu bagaimana kehidupannya setelah menikah.

Ia tidak tahu apakah Fedro benar-benar bisa dipercaya.

Dan ia tidak tahu siapa orang yang selama ini mengincar keluarganya.

Yang Clara tahu hanya satu.

Dua minggu lagi, hidupnya akan berubah.

Gadis yang selama ini bebas mengendarai motor dan melakukan apa pun yang ia inginkan akan menjadi seorang istri.

Dan suaminya adalah Fedro Alexsander.

Pria dingin yang menyimpan terlalu banyak rahasia.

Sementara itu, jauh dari sana, seseorang menerima sebuah pesan.

“Clara sudah menyetujui pernikahan.”

Orang tersebut tersenyum.

“Bagus.”

“Lalu apa langkah berikutnya?”

Pria itu menatap sebuah foto Clara.

“Biarkan mereka menikah.”

“Kenapa?”

“Karena setelah Clara menjadi istri Fedro, kita akan lebih mudah menghancurkan keduanya sekaligus.”

Senyum dingin muncul di wajahnya.

“Permainan baru saja dimulai.”

Di tempat lain, Clara masih tertawa bersama Inara dan Icha tanpa mengetahui bahwa pernikahannya bukan hanya akan mengubah statusnya.

Pernikahan itu akan membuka pintu menuju sebuah rahasia besar.

Rahasia yang selama ini disembunyikan kedua keluarga.

Dan tanpa Clara sadari, orang yang paling berbahaya dalam hidupnya mungkin bukan Fedro.

Melainkan seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengan keluarganya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!