Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Genta menghela napas panjang, mendadak merasa sangat lelah harus meladeni sandiwara orang-orang kaya yang munafik ini.
"Kalau begitu urusannya sudah jelas, lalu di mana aku akan tidur malam ini?" tanya Genta dengan nada santai yang dibuat-buat.
Kiara langsung menoleh ke arah seorang pelayan wanita tua yang sedari tadi berdiri gemetar di sudut ruangan.
"Bi Darmi, bawa parasit ini ke paviliun gudang rongsokan di halaman paling belakang."
"Jangan pernah beri dia selimut baru atau makanan enak, cukup berikan saja makanan sisa dari anjing penjaga."
Bi Darmi mengangguk dengan cepat karena ketakutan.
"B-baik, Nona Kiara, laksanakan."
"Dan besok pagi-pagi buta, pastikan dia segera lapor ke perusahaanku untuk mulai bekerja membersihkan toilet lantai dasar," tambah Kiara dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak akan pernah sudi memberi makan parasit secara gratis di rumahku."
Setelah memberikan vonis kejamnya, Kiara berbalik dan pergi melangkah elegan meninggalkan ruangan, diikuti ibunya yang terus mendengus kesal.
Genta ditinggalkan sendirian di ruangan dingin itu bersama pelayan tua tersebut.
Tanpa banyak bicara, Genta perlahan membungkuk dan memungut kembali gumpalan surat gurunya yang sudah lecek.
Dia berusaha mengusap kotoran di atas kertas itu dengan hati-hati dan menyimpannya erat-erat di saku dalam jaketnya.
"Maafkan aku, Guru, sepertinya aku harus menetap di sarang ular berbisa ini lebih lama dari dugaanku," batin Genta memendam kepedihan.
"Mari Nak, silakan ikuti langkah saya," ucap Bi Darmi dengan suara lirih yang penuh rasa kasihan.
Genta melemparkan senyum tulus pada pelayan tua itu, sebuah keramahan yang sangat kontras jika dibandingkan perlakuan keluarga Prameswari tadi.
"Terima kasih Bi, mari kita pergi dari ruangan sesak ini."
Mereka berdua berjalan menembus hujan deras di malam buta, melintasi taman yang luas menuju bagian paling ujung dari kompleks rumah mewah itu.
Gudang tua yang ditunjuk Kiara benar-benar tidak layak huni, atapnya bocor di banyak titik, dan bau debu bercampur jamur langsung menusuk hidung.
Hanya ada sebuah ranjang kayu reyot tanpa kasur di sudut ruangan dan lampu bohlam kuning yang berkedip-kedip redup.
"Hanya tempat ini yang tersisa, Nak Genta, maafkan Bibi sungguh tidak berani menentang perintah Nona," ucap Bi Darmi menundukkan kepala.
"Ini sudah sangat nyaman buatku Bi, terima kasih banyak sudah mengantarku," balas Genta mencoba menghibur pelayan itu.
Setelah Bi Darmi berpamitan dan pergi, Genta menutup pintu kayu rapuh yang berderit nyaring itu.
Dia melepaskan jaket basahnya, memeras airnya, dan duduk bersila di atas bilah ranjang kayu yang keras.
Udara malam yang menusuk tulang membuat bibirnya membiru, perutnya terus berontak meminta makanan, dan hatinya diliputi kesunyian yang amat dalam.
Semua penolakan, rasa jijik, dan kehinaan yang dia terima bertubi-tubi malam ini terlintas kembali di pikirannya.
Tatapan merendahkan dari sang ibu mertua dan kata-kata berbisa dari istri di atas kertasnya, semua terekam abadi di kepalanya.
"Mereka semua benar-benar mengira aku hanyalah udik bodoh yang hanya bisa menjadi beban hidup."
"Mereka sama sekali tidak tahu siapa identitas asli Guruku dan pusaka mengerikan apa yang dia tanamkan di tubuhku."
Seketika, pandangan mata Genta mendadak menjadi gelap total.
Suara mendenging yang luar biasa nyaring dan tajam meledak tepat di dalam tengkorak kepalanya.
[Sistem sedang memuat data Master...]
[Mendeteksi gelombang otak kehidupan Master...]
[Menganalisis lingkungan medis di sekitar Master...]
Genta tersentak hebat, napasnya memburu saat dia membuka matanya lebar-lebar.
Dia melihat deretan teks bercahaya biru neon transparan melayang pelan tepat di depan retina matanya.
"Benda ajaib apa ini?" gumam Genta terkejut, dia reflek mencoba menyentuh tulisan melayang tersebut.
Namun jari-jarinya hanya menembus udara kosong, tidak menyentuh benda fisik apa pun.
[Inisialisasi Sistem Pewaris Tabib Sakti tertunda karena kurangnya energi kehidupan.]
[Syarat mutlak aktivasi penuh: Master harus melakukan kontak fisik dengan pasien yang berada dalam kondisi kritis mematikan untuk pertama kalinya.]
[Status Sistem saat ini: Mode Hibernasi.]
Tulisan biru berpendar itu perlahan memudar ke udara dan akhirnya menghilang sepenuhnya dari pandangan Genta.
Genta mematung mematung selama beberapa menit di atas ranjang, mencoba menyatukan kembali kepingan akal sehatnya.
Gurunya memang pernah sering mendongeng tentang sebuah warisan medis kuno yang diturunkan secara gaib melampaui logika sains.
Genta selama ini berpikir cerita kakek tua itu murni bualan belaka hasil dari terlalu banyak minum tuak di gunung.
Kenyataannya, artefak legendaris itu benar-benar ada dan kini tertidur pulas di dalam sistem sarafnya sendiri.
Senyum tipis misterius yang memancarkan aura dominasi mutlak perlahan mengembang di sudut bibir Genta.
"Kiara Prameswari, CEO sombong yang agung," batin Genta matanya menembus dinding gudang menatap lurus ke arah bangunan utama.
"Kau berencana memanfaatkanku dan menjadikanku anjing suruhan dalam pertempuran keluargamu?"
"Kita akan lihat bersama nanti, siapa yang akan bersujud mengemis di kaki siapa saat roda nasib ini mulai berputar berbalik."
Genta merebahkan tubuhnya yang lelah di atas susunan kayu keras tanpa mempedulikan gigitan udara dingin.
Meskipun perutnya lapar dan tubuhnya menggigil hebat, bara api di dadanya menyala dengan tekad yang mengerikan.
Besok adalah hari pertamanya melangkah di dunia metropolitan yang penuh dengan orang-orang congkak bermuka dua.
Besok adalah hari di mana Genta akan memulai langkah pertamanya untuk menunjukkan taring Sang Pewaris Tabib Sakti.
Brak!
Suara petir menyambar dengan dahsyat di langit Jakarta malam itu, seakan langit ikut menyambut kebangkitan sang legenda medis yang selama ini tertidur lelap.