Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERI ES DARI BENUA UTARA

​Di tengah rontokan abu yang menyerupai salju hitam di atas kepalanya, Mo Xie berdiri membeku.

​Angin malam kehancuran menderu kencang, menyapu sisa-sisa debu Utusan Celah yang baru saja ia bantai. Pedang hitam kdi genggamannya masih berdengung rendah, seolah haus akan lebih banyak darah dan esensi kehidupan untuk dihisap.

​Namun, kesunyian setelah pertempuran itu tidak bertahan lama.

​KRAAAAK!

​Suara petir tanpa kilat menyambar tepat di atas bukit yang telah rata itu.

​Udara di sekeliling Mo Xie mendadak berputar hebat, menjadi sangat dingin hingga sisa-sisa bara api di tanah langsung padam membeku menjadi kristal es.

​Dari dalam pusaran angin es itu, seseorang melangkah keluar dari retakan tersebut.

​Langkah kakinya terdengar begitu ringan, hampir tanpa suara, namun setiap kali pijakannya menyentuh tanah, lingkaran hukum es berwarna biru pucat merekah di bawah sepatunya.

​Sosok itu adalah seorang wanita dengan gaun ringan berwarna perak kebiruan yang memeluk tubuhnya dengan anggun. Rambutnya yang panjang seputih salju berkibar ditiup angin, kontras dengan kulitnya yang pucat dan sepasang mata biru sedingin gletser.

​Di tangan kanannya, ia menggenggam sebilah pedang tipis yang terbuat dari kristal es abadi yang tidak pernah meleleh. Tatapannya tertuju lurus pada Mo Xie, lalu beralih ke arah abu hitam bekas Utusan Celah yang baru saja musnah.

​"Menghabisi seorang utusan Celah hanya dengan satu tebasan di ranah Mortal..." suara wanita itu terdengar jernih namun sangat dingin, bergema di antara gemuruh kehancuran seolah badai itu sendiri tunduk pada kehadirannya.

​"Kau memiliki potensi yang berbahaya, Junior."

​Ia mengangkat pedang kristalnya, mengarahkannya tepat ke tenggorokan Mo Xie dari jarak beberapa meter.

​Tekanan Hukum es yang luar biasa kuat langsung mengunci pergerakan udara di sekitar Mo Xie, mencoba membekukan aliran darahnya secara instan, membuat Mo Xie menelan ludah di hadapannya.

​"Siapa kau?" ucap Mo Xie.

​"Aku adalah Xue Qingyue, utusan Sekte Es Abadi," ucapnya datar, matanya tidak memancarkan emosi apa pun selain kewaspadaan yang mematikan.

​"Sekte Es Abadi... Kau dari benua utara," ucap Mo Xie datar.

​Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ujung pedang kristal tajam yang kini berjarak hanya beberapa inci dari tenggorokannya.

​Hawa dingin yang mematikan dari pedang Xue Qingyue mulai membekukan butiran abu di sekitar Mo Xie, namun Mo Xie tidak menunjukkan tanda-tanda terintimidasi. Matanya yang kosong justru menatap lurus ke dalam manik es wanita itu dengan ketenangan yang mengerikan.

​Xue Qingyue sedikit menyipitkan matanya, terkejut mendengar pemuda di hadapannya masih bisa mengenali asal-usulnya di tengah kekacauan ini.

​"Benar. Namun benua utara yang kau kenal kini telah membeku dalam keabadian yang sunyi—dan hanya kami Sekte Es Abadi yang tersisa."

​Mo Xie menyipitkan matanya.

​Ia tidak menurunkan pedang hitamnya yang masih berdesis, membiarkan Qi kegelapan dari lengannya bergesekan langsung dengan aura es yang menekan udara.

​"Dibersihkan..." bisik Mo Xie, suaranya perlahan meninggi bersama dengan keputusasaan yang kembali membakar dadanya.

​"Kalian menyebut pembantaian dan kehancuran ini sebagai pembersihan? Di mana sekte kalian saat langit di atas bukit ini pecah?! Di mana para Dewa yang selalu kalian agungkan saat Yurou... saat dia memudar menjadi abu?!"

​Dengan satu gerakan sentakan yang kasar, Mo Xie mengibaskan pedang hitamnya ke samping, menciptakan tebasan Qi gelap yang langsung menghantam pedang kristalnya.

​"Aku tidak peduli dengan takdir atau sektemu, Xue Qingyue," Mo Xie melangkah maju satu langkah.

​"Jika kau di sini untuk menghalangiku menuntut balas pada para Dewa, maka kau dan Sekte Es Abadi atau siapa pun akan kulawan!"

​Xue Qingyue tidak membalas kemarahan Mo Xie dengan emosi yang sama. Ia hanya mendengus dingin, seolah luapan dendam dan keputusasaan pemuda di hadapannya hanyalah riak kecil di atas samudra es yang beku.

​Perlahan, ia menurunkan sedikit ujung pedang kristalnya, namun tekanan Qi di sekitar mereka sama sekali tidak mengendur.

​"Oh... omongan yang cukup besar," ucap Xue Qingyue.

​WUUUSH!

​Tekanan ranah Awakened milik Xue Qingyue mendadak meledak menekan Mo Xie. Gelombang hawa keberadaan itu menghantam dada Mo Xie hingga membuatnya terdorong mundur beberapa langkah.

​Dia sangat kuat... batin Mo Xie, menggertakkan giginya.

​"Sebaiknya kau ikut denganku," ujar Xue Qingyue datar.

​Suaranya tidak terdengar seperti sebuah tawaran hangat, melainkan perintah mutlak yang tidak menerima bantahan. Di balik tatapan sedingin gletser itu, ada kilat kalkulasi yang sharp.

​Ia tahu betul bahwa membiarkan manusia dengan kekuatan seliar Mo Xie berkeliaran akan membawa kehancuran yang lebih parah.

​"Cih, kau pikir kau siapa mengaturku?" ucap Mo Xie, meski tekanan dari Xue Qingyue terasa sangat masif.

​Xue Qingyue hanya tersenyum dingin.

​"Menuntut balas pada para Dewa dengan pedang yang baru saja kau bangkitkan?" Xue Qingyue melirik pedang hitam di tangan Mo Xie dengan sudut matanya yang tajam.

​"Kau bahkan belum memahami asal-usul kegelapan yang merayap di lenganmu itu, Anak Manusia. Menyerbu gerbang langit sekarang sama saja dengan melemparkan dirimu ke dalam api penyucian tanpa hasil."

​Ia membalikkan badannya setengah putaran, membiarkan gaun peraknya berkibar pelan menantang badai abu, seolah sengaja membuka celah di pertahanannya untuk menguji reaksi Mo Xie.

​"Pilih keberadaanmu sekarang, Mo Xie," lanjut Xue Qingyue tanpa menoleh kembali.

​"Mati konyol di bukit yang runtuh ini sebagai debu yang terlupakan, atau ikut denganku ke Sekte Es Abadi di utara untuk mempelajari cara mengarahkan kekuatan milikmu itu dengan benar."

​Mo Xie terdiam di tempatnya berdiri. Hawa dingin dari hukum es Xue Qingyue perlahan meresap ke dalam, menusuk ke balik kulit, namun rasa dingin dan tekanan ranah di atasnya itu masih tak sebanding dengan kekosongan hampa di dalam dadanya.

​Ia melirik ke bawah, menatap telapak tangannya yang kini sepenuhnya terbalut urat-urat hitam bermotif aneh—kekuatan asing yang bangkit bersamaan dengan hancurnya jiwa Yurou. Pedang hitamnya masih bergetar pelan, seolah mendesak sang pemilik untuk segera menyerahkan jiwanya.

​Mo Xie tahu Xue Qingyue benar dalam satu hal: mengamuk tanpa arah hanya akan membuatnya tewas konyol sebelum sempat menyentuh takhta para Dewa.

​"Sekte Es Abadi..." bisik Mo Xie dengan nada serak.

​Tanpa menghilangkan kewaspadaannya, Xue Qingyue menarik kembali tekanan ranah Awakened-nya.

​Mo Xie seketika merasa terbebas dari tekanan yang mencekiknya. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia tahu betul tidak ada gunanya melawan wanita ini sekarang.

​"Tunjukkan jalannya, Xue Qingyue," ucap Mo Xie dingin, melangkah menyusuri jejak es yang ditinggalkan wanita itu. "Tapi ingat satu hal. Jika sektemu terbukti berdiri di sisi para Dewa yang menghancurkan dunia ini... tempat itu akan menjadi kuburanmu berikutnya."

​Xue Qingyue hanya tersenyum tipis.

​"Maka kau harus lebih kuat dariku," ucapnya pelan.

​Ia mengangkat tangannya, memicu lingkar formasi biru di bawah kaki mereka. Dalam sekejap, pusaran es membungkus tubuh mereka berdua, menghancurkan sisa-sisa bukit Lembah Yunlan dan membawa mereka melintasi dimensi yang kian runtuh.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!