Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Cahaya matahari perlahan menyusup melalui celah tirai ruang observasi. Alina yang semalaman tidak tidur akhirnya menyerah pada rasa kantuk. Kepalanya yang sejak tadi bersandar di tepi ranjang perlahan bergeser hingga pipinya menempel pada lengannya sendiri. Napasnya terdengar teratur. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah. Satu tangannya masih menggenggam ujung selimut Lorenzo. Entah sejak kapan, perempuan itu tertidur pulas.
Sementara Lorenzo sudah terjaga sejak beberapa menit lalu. Matanya terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur, tetapi suara aneh itu kembali terdengar.
Tubuh Alina bergerak mencari posisi yang nyaman.
“Aduh, masih ngantuk, tidur sebentar saja. Badanku rasanya remuk.”
Lorenzo menoleh ke arah Alina. Bibir perempuan itu tidak bergerak. Namun, suara tersebut terdengar jelas di kepalanya.
Lorenzo mengernyit. “Apa aku halusinasi lagi? Mungkin obat-obatan yang diberikan dokter memang membuat pikirannya kacau.”
Pria itu mencoba mengabaikannya, tetapi beberapa detik kemudian suara itu muncul kembali.
“Semoga setelah bangun nanti dia langsung sehat.”
Lorenzo mencubit tangannya sendiri dan terasa sakit. Itu artinya dia tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi.
“Benran itu suara Alina?!”
Seketika Lorenzo membeku. Dia tidak menyangka bisa mendengar isi pikiran Alina.
Lorenzo menarik napas pelan. Setidaknya kali ini terdengar seperti pikiran normal seorang istri.
Namun, suara berikutnya membuatnya kembali mengernyit.
“Kalau sudah sehat, biar cepat tanda tangan surat cerai dan aku bebas darinya.”
Lorenzo membeku. “Apa? Cerai!”
Lorenzo ingat kalau dirinya sudah mengajak cerai Alina. Pria itu menoleh lagi ke arah istrinya. Alina masih tertidur.
Lorenzo memejamkan mata. Belum sempat dia mencoba tidur lagi, terdengar suara ketukan di pintu.
Pintu terbuka. Seorang dokter masuk bersama seorang perawat.
“Selamat pagi, Tuan Lorenzo.”
Alina langsung terbangun. Kepalanya terangkat begitu cepat sampai rambutnya berantakan ke segala arah.
“Hah?”
Wanita itu mengusap mata beberapa kali. Kemudian menyadari ada dokter berdiri di samping ranjang.
“Dokter?” Alina buru-buru duduk tegak. “Bagaimana keadaan suami saya?”
Dokter tersenyum tipis. “Kondisinya stabil.”
“Syukurlah.”
Alina langsung mengembuskan napas lega. Tangannya refleks menyentuh dada. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang begitu nyata. Namun, di dalam kepalanya...
“Syukurlah dia masih hidup dan semoga cepat keluar dari rumah sakit ini.”
Lorenzo yang mendengarnya langsung menatap Alina.
“Dia benar-benar berpikir begitu?”
Dokter membuka catatan medis. “Namun, ada sesuatu yang perlu saya sampaikan.”
Alina langsung kembali tegang. “Apa, Dok?”
Dokter melirik Lorenzo dan pria itu membalas tatapan itu.
Beberapa saat sebelumnya, ketika dokter masuk, Lorenzo sudah lebih dulu memberi isyarat agar dokter mendekat. Dengan suara sangat pelan, dia sudah mengatakan sesuatu.
“Dok, tolong katakan saya mengalami gegar otak parah dan kehilangan ingatan.”
Dokter sempat terkejut. Namun, karena kondisi Lorenzo memang mengalami benturan kepala cukup berat, dokter akhirnya mengikuti permintaan pasien.
Sekarang, dokter kembali menatap Alina.
“Benturan di kepala cukup keras. Ada kemungkinan pasien mengalami gangguan ingatan sementara.”
Alina berkedip. “Gangguan ingatan?”
Dokter mengangguk. “Ya. Bisa berupa amnesia akibat trauma.”
Alina perlahan menoleh kepada Lorenzo. Pria itu berbaring diam dengan wajah pucat.
Dokter melanjutkan, “Untuk sementara, Tuan Lorenzo mungkin tidak mengingat beberapa kejadian. Termasuk orang-orang yang dekat dengannya.”
Alina membuka mulut. “Termasuk ... sa-ya?”
“Bisa saja.”
Alina membeku. Seluruh wajahnya perlahan kehilangan warna.
Lorenzo memperhatikan perubahan itu. Bagaimana reaksi istrinya? Dia menunggu. Apa Alina akan menangis? Atau mungkin dia akan sedih.
Namun, pikiran pertama yang terdengar justru ....
“Mampus.”
Lorenzo hampir membuka mata lebih lebar.
“Mampus, mampus, mampus! Kenapa harus amnesia sekarang?!”
Lorenzo menahan napas. “Apa?!”
Alina menatap dokter dengan wajah cemas. “Jadi, ingatannya bisa kembali?”
“Bisa. Tetapi tidak dapat dipastikan kapan.”
Alina mengangguk pelan. “Oh, begitu.”
Wajah Alina terlihat sangat sedih. Namun, di dalam kepalanya terjadi bencana nasional.
“Owaaaa ... liburanku hancur. Rencana hidupku hancur. Uang kompensasi perceraian yang sudah kubayangkan juga hancur. Aku bahkan sudah mulai membayangkan pergi ke Thailand mencari pria-pria tampan di sana.”
Lorenzo terdiam. “Uang kompensasi?”
Dia menatap Alina dengan penuh kebingungan. Selama ini, dia mengira Alina begitu tenang karena mencintainya. Ternyata perempuan ini justru sudah membuat rencana liburan setelah mereka bercerai.
Alina mengusap wajahnya.
“Kalau dia kehilangan ingatan, bagaimana dengan urusan perceraian kami, Dok?”
Dokter sedikit terkejut. “Perceraian?”
Alina tersenyum kaku.
“Ah, maksud saya apakah kondisi seperti ini akan memengaruhi proses hukum?”
Dokter mengangguk. “Untuk sementara, sebaiknya semua keputusan besar ditunda sampai kondisi kognitifnya stabil.”
Alina terdiam. Senyum di wajahnya menghilang.
“Ditunda?”
“Ya.”
Alina menelan ludah. “Berapa lama?”
“Kita belum bisa memastikan.”
Lorenzo hampir tersenyum. Namun, dia buru-buru menahan ekspresi.
Sementara itu, Alina menatap langit-langit. Wajahnya benar-benar seperti seseorang yang baru kehilangan harapan hidup.
“Tidak! Tidak mungkin. Aku sudah hampir bebas. Tinggal sedikit lagi. Kenapa semesta tega sekali kepadaku?“
Lorenzo menahan napas. “Jadi selama ini dia memang menunggu perceraian?”
Alina mengepalkan tangan di atas pahanya.
“Aku bahkan sudah punya daftar tempat yang mau ku kunjungi setelah cerai. Paris, Roma, Swiss, Maladewa, Turki, Thailand, dan China. Aku mau duduk di hotel mewah sambil makan stroberi dan tidak memikirkan manusia kaku bernama Lorenzo Romano!”
Lorenzo mengangkat alis.
“Lalu aku mau cari pria baru.”
Lorenzo langsung terdiam. ”Pria baru?"
Alina memejamkan mata.
“Pokoknya harus jauh lebih menarik daripada Lorenzo.”
Lorenzo menelan ludah. Alisnya mulai berkedut.
“Pria yang lebih tampan, lebih kaya, lebih tinggi, punya lengan berotot, dada yang bidang dan lebar, perutnya kotak-kotak.”
Rahang pria itu mengeras. Lorenzo menatap langit-langit.
"Perut kotak-kotak?”
Alina masih meneruskan khayalannya.
“Kalau bisa abs-nya ada delapan jangan enam.”
Lorenzo menarik napas panjang. Sejak sadar dari kecelakaan, dia merasa lebih kesal karena mendengar pikiran Alina daripada karena kepalanya sendiri yang sakit.
Dokter masih berbicara. “Untuk saat ini, pasien membutuhkan banyak istirahat dan jangan terlalu banyak diberi tekanan.”
Alina mengangguk. “Baik, Dok.”
Dokter kemudian memeriksa tekanan darah Lorenzo dan beberapa indikator lainnya. “Tuan Lorenzo, apakah Anda bisa mendengar suara saya?”
Lorenzo membuka mata perlahan. “Bisa.” Suaranya terdengar serak.
Alina langsung mendekat. “Lorenzo?”
Pria itu menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Alina tersenyum lembut. “Kamu mengenaliku?”
Lorenzo menatapnya beberapa detik. Kemudian dia menggeleng pelan.
“Tidak.”
Alina membeku. Wajahnya seketika berubah sedih. Dia menundukkan kepala. “Oh.”
Lorenzo hampir merasa bersalah. Namun, suara dari kepalanya kembali terdengar.
“Bagus. Jangan ingat aku.”
Lorenzo hampir tersedak.
“Eh, tapi kalau kamu lupa aku, berarti kamu juga lupa kalau mau cerai.”
Lorenzo memejamkan mata.
Alina meremas ujung bajunya sendiri.
“Astaga! Kenapa aku malah senang? Aku ini istri macam apa?”
Alina menatap Lorenzo lagi. “Tidak apa-apa. Kamu istirahat saja.”
Suara Alina terdengar begitu lembut. Lorenzo hampir tertipu oleh ekspresi itu. Karena suara dalam kepalanya langsung menyusul.
“Istirahatlah, suamiku tercinta.”
Lorenzo sedikit tersenyum.
“Supaya cepat sembuh dan cepat mengingat kalau kita tidak jadi cerai.”
Senyum Lorenzo langsung hilang. “Dia sengaja?”
Lorenzno menatap Alina penuh curiga.
Alina membalas tatapannya dengan wajah polos. “Kenapa melihatku seperti itu?”
Lorenzo tidak menjawab. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan. Kenapa aku bisa mendengar pikiran istrinya?
Dokter membereskan peralatan. “Untuk sementara, jangan terlalu banyak mengajaknya berbicara.”
Alina mengangguk. “Baik, Dok.”
Dokter dan perawat kemudian meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, suasana kembali sunyi. Lorenzo menatap langit-langit dan Alina kembali duduk di kursinya.
Beberapa detik berlalu. Kemudian, terdengar lagi ocehan Alina tentang pria-pria idamannya itu.
“Ya Tuhan, aku benar-benar tidak bisa cerai!”
Lorenzo memejamkan mata. Lalu, mengusap keningnya. Tiba-tiba dia ingin kembali pingsan. Bukan karena sakit, tetapi karena istrinya ternyata memiliki imajinasi yang jauh lebih berbahaya daripada kecelakaan mobil.
Alina menyandarkan tubuh ke kursi. Dia berbicara pelan.
“Sudahlah. Yang penting kamu selamat.”
Lorenzo menatapnya. Untuk sesaat, tidak ada ocehan di kepala Alina. Hanya keheningan.
Lorenzo langsung memejamkan mata.
”Tidak. Aku tidak salah dengar. Ini benar-benar nyata.”
Lorenzo membuka mata lagi dan menatap perempuan di sampingnya. Alina terlihat seperti istri yang begitu perhatian. Duduk dengan tenang. Menjaga suaminya. Namun, isi kepalanya diluar prediksi.
Lorenzo menghela napas panjang. Sepertinya kecelakaan itu bukan satu-satunya masalah yang harus dia hadapi. Masalah sebenarnya baru saja dimulai. Karena sekarang Lorenzo tahu satu hal. Istrinya sama sekali tidak seperti yang selama ini dia pikirkan.
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya