Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Di Tangan Sahabat

Jodoh Di Tangan Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Bisa!

Reyna terdiam sejenak di atas bangku kayu gudang yang dingin, merapatkan ponsel retaknya ke telinga, mencoba mencerna ucapan sahabatnya.

^^^[Loh... Bagas sama keluarganya ke rumah kamu? Ada acara apa, Ni?] - Reyna^^^

​Di ujung telepon, terdengar helaan napas panjang Agnia, campuran antara rasa gugup, haru dan kebahagiaan yang membuncah.

​[Rey... Mas Bagas melamar aku secara resmi hari ini, kedua orang tuanya datang bawa seserahan dan membahas tanggal pernikahan kami!] - Agnia

​Mendengar kabar itu, rasa lelah yang menghimpit tubuh Reyna seolah menguap begitu saja dan senyum lebar terkembang di wajahnya yang kusam. Agnia dan Bagas memang sudah berjalan selama dua tahun, eski harus menjalani hubungan jarak jauh karena tugas Bagas yang berpindah-pindah, Agnia selalu setia menunggu.

^^^[​Agnia! Ini serius?] - Reyna^^^

Reyna menutupi mulutnya agar tak menjadi perhatian beberapa kuli panggul gudang yang melintas.

[Serius, Rey] - Agnia

^^^[Wah, selamat ya, Agnia! Aku seneng banget dengernya! Akhirnya setelah dua tahun penantian, kamu dan Bagas akan menikah] - Reyna^^^

​[Makasih banyak ya, Rey... Aku rasanya mau nangis dari tadi. Mas Bagas cuma dapet jatah libur sebentar, jadi prosesinya dipercepat. Dan Rey, aku nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus mendampingi aku nanti!] - Agnia

^^^​[Iya, pasti! Aku pasti itu, aku nggak sabar hadir di pernikahan kamu] - Reyna^^^

​Meskipun kehidupan Reyna dan Agnia sangat berbeda, di mana Agnia menikmati pendidikan di universitas ternama, meraih karier cemerlang di sebuah bank swasta terkemuka dan kini dipersunting seorang perwira, Reyna tidak pernah menyimpan sedikit pun rasa iri.

Bagi Reyna, Agnia adalah sosok sahabat yang selalu memperlakukannya dengan setara, tanpa pernah memandang status sosialnya, bahkan keluarga Agnia pun sangat baik pada Reyna.

...###...

Dua bulan telah berlalu sejak kabar lamaran Agnia yang membahagiakan itu. Selama delapan minggu terakhir, seluruh waktu dan tenaga Reyna terkuras habis di kantor. Namun, rasa lelah itu terbayar oleh antusiasmenya menyambut hari besar sang sahabat, hari pernikahan Agnia tinggal menghitung hari, tepatnya satu minggu lagi.

Pagi ini, sinar matahari merayap masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di kontrakan Reyna. Bau embun pagi bercampur aroma asap dari warung nasi goreng di gang depan menyapa pancainderanya, dering alarm dari ponsel retaknya berbunyi nyaring, Reyna terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibanding hari-hari biasanya.

​Reyna bangkit dari kasurnya dan melangkah menuju kalender dinding bergambar pemandangan yang tergantung di samping lemari, ia memberi lingkaran merah besar pada tanggal Sabtu mendatang. Hari itu adalah hari istimewa Agnia, dan Reyna sudah mempersiapkan segala hal untuk menemani sang sahabatnya.

​"Hari ini aku harus serahkan surat izin," gumam Reyna mantap sambil memandangi pantulan dirinya di cermin.

​Reyna sangat yakin jika izinnya akan disetujui, karena selama lebih dari satu tahun bekerja tanpa henti di bawah tekanan Bu Sandra, ia sama sekali belum pernah mengambil jatah hak izin maupun cuti tahunannya.

Bahkan saat Reyna demam tinggi beberapa bulan lalu, ia tetap memaksakan diri masuk kerja karena takut membebankan pekerjaan pada orang lain. Dengan rekor kehadiran yang sempurna dan tanpa izin itu, tidak ada alasan bagi perusahaan, bahkan bagi atasan setegas Bu Sandra sekalipun untuk menolak permohonannya yang hanya mengajukan izin dua hari.

Setelah menyeduh teh hangat dan merapikan kemejanya, Reyna mengambil sebuah amplop putih bersih yang tersimpan di dalam tasnya. Di dalamnya bertuliskan surat permohonan izin resmi, ia tersenyum tipis dan membayangkan betapa bahagianya Agnia saat tahu dirinya bisa mendampingi dari awal prosesi akad hingga resepsi berakhir.

​Mesin motor matic tua milik Reyna menyala mulus pagi ini, seolah ikut mendukung semangatnya. Ia melaju menembus dinginnya udara kota Bandung menuju kantor, membawa harapan besar untuk merayakan kebahagiaan sahabat terbaiknya.

Suasana di kantor masih sepi saat Reyna tiba, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sedang menyapu koridor. Reyna memanfaatkan kesempatan ini untuk merapikan seluruh pekerjaannya lebih awal, meminimalisasi kesalahan agar Bu Sandra tidak memiliki alasan untuk marah.

​Tepat pukul 08.00 pagi, langkah kaki bernada tegas dan berisik dari sepatu hak tinggi Bu Sandra terdengar dari arah tangga. Wanita itu berjalan dengan angkuh seperti biasa, membawa tas kulit sintetis berwarna merah menyala dan segelas kopi di tangannya.

​Reyna menarik napas panjang dan merapikan amplop putih di tangannya, lalu berdiri dari meja kerja. Ia berjalan mendekati pintu ruangan Bu Sandra, mengetuknya pelan tiga kali.

​"Masuk," terdengar sahutan dari dalam.

​Reyna mendorong pintu kaca dan melangkah masuk dengan senyum ramah, "Selamat pagi, Bu Sandra," sapa Reyna dengan sopan.

​Bu Sandra meliriknya dingin dari balik kacamata, meletakkan cangkir kopinya di atas meja. "Ada apa pagi-pagi sudah ke ruangan saya, Reyna? Laporan penjualan mingguan sudah selesai?" tanyanya.

​"Sudah saya letakkan di meja staf pemasaran tadi jam setengah delapan, Bu," jawab Reyna sopan, ia menyodorkan amplop putih tersebut ke atas meja kerja atasannya.

"Jadi, maksud kedatangan saya pagi ini adalah untuk menyerahkan surat permohonan izin untuk minggu depan, Bu. Tepatnya hari Jumat dan Sabtu," ucap Reyna.

​Bu Sandra menghentikan jemarinya yang hendak membuka laptop. Matanya menatap amplop putih itu, lalu berpindah menatap Reyna dengan alis terangkat tinggi. Ia mengambil amplop tersebut tanpa minat dan membukanya perlahan, lalu membacanya sekilas.

​"Urusan keluarga? Memang urusannya apa?" tanya Bu Sandra dengan nada suara penuh ejekan yang sangat kentara.

​"Kerabat saya ada yang menikah, Bu. Acaranya diadakan Sabtu minggu depan, tapi di hari Jumat saya bermaksud mengajukan izin untuk membantu persiapannya," jelas Reyna penuh harap.

"Selama satu tahun lebih bekerja di sini, saya belum pernah mengambil cuti atau izin sama sekali, Bu. Jadi saya berharap...,"

​Belum sempat Reyna menyelesaikan kalimatnya, Bu Sandra melempar surat permohonan izin itu kembali ke atas meja hingga lembarannya berhamburan.

​"Tidak bisa!" tegas Bu Sandra cepat tanpa keraguan sedikit pun.

​Reyna tertegun, dadanya seperti dihantam benda tumpul. "Ma-maaf, Bu? Kenapa tidak bisa? Saya sudah menyelesaikan semua rekapitulasi data sampai akhir bulan dan...,"

​"Kamu lupa atau gimana, Reyna?" potong Bu Sandra seraya bersandarku di kursinya dan melipat tangan di dada.

"Minggu depan itu kita ada audit tahunan dari kantor pusat! Semua data inventaris gudang, stok kain impor, berkas transaksi harus siap dan diverifikasi ulang. Kamu itu staf administrasi utama yang pegang kunci arsip manual!" jawab Bu Sandra.

​"Tapi Bu, proses verifikasi data bisa saya selesaikan dari sekarang sampai hari Kamis malam. Saya bersedia lembur setiap hari minggu ini sampai malam agar tugas saya selesai sebelum hari Jumat," pangkas Reyna memohon, matanya menatap Bu Sandra dengan cemas.

​"Saya bilang tidak! Ya tidak!" bentak Bu Sandra, mengetuk mejanya keras.

"Audit pusat tidak bisa ditawar! Kalau ada data yang selip saat pemeriksaan Jumat dan Sabtu, siapa yang mau tanggung jawab? Kamu? Gaji kamu yang seuprit itu tidak akan sanggup bayar ganti rugi kalau kita kena penalti dari pusat!"

.

.

.

Bersambung.....

1
Evi Rachmawati
kasian reyna di jodoh"in.. smoga dikta tdk terpaksa menerima reyna.. dan smoga dikta mmg ada rasa sm reyna..
smoga berjodoh..
😎
falea sezi
Agnia maksa amat 😕 kasian Reyna kesannya kayak. dagangan aja di. tawar tawarin kayak. gk. laku gt😒
Aidil Kenzie Zie
ayo gaskan Nia jadi Mak Comblang 🤭🤭🤭🤭
lia juliati
kaga kebayang gimana perasaan Reyna klo denger obrolan meraka..... rasanya mau kabur aja..... kesannya Reyna butuh pasangan bgt.... mentang2 Agnia udah berstatus.... puas2 in nikmatin hidupmu rey
lia juliati
klo kata dikta terserah Reyna mau d deketin orng lain..... gppp sih......
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
Rizky Manik
tanyak langsung aja sama orangnya dik, masak nanyak sama Agnia sih🤭
Rizky Manik
bener kata agnia, Dikta kurang gercep jadi kurang greget deh
Felycia Fernandez
gue lagi nggak pengen pacaran katanya...mungkin langsung nikah kali ya 🤣🤣🤣
Felycia Fernandez
Keisengan belaka ya bagusnya
lia juliati
ayo anton pepet terooooosssss,
falea sezi
lagian krja kantoran masak sepatu pesta satu aja kaga punya 🤣🤣 bloon
falea sezi
bodoh resain lah
Rizky Manik
bagus Anton dekatin aja Reyna,aku liat reaksi Dikta kekmana🤭🤭🤭
lanjut thor
Rizky Manik
meleleh adk pak dokter🤭🤭🤭
Sastri Dalila
🤣🤣
Felycia Fernandez
duuuuh Dikta...kamu bisa bisa buat Reyna baper ...katanya nggak mau pacaran
Felycia Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
😘😘😘
Syifa Fauziah
so sweet dikta😍
Aidil Kenzie Zie
kok jawabnya terserah sich Dikta biar nggak ada yang curiga ya kalo ternyata ente emang udah ada rasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!