Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Lain di Hatinya.
Aku duduk di taman belakang rumah, menikmati udara sejuk dari pepohonan yang rindang. Pemandangan di sini sangat indah. Dari tempatku duduk, aku bisa langsung melihat perbukitan yang hijau serta deretan kos-kosan yang berjajar rapi dengan gaya minimalis dan modern.
Sepintas berita yang kutangkap, sebagian pemilik kos-kosan itu adalah Bude Rumi, dan sebagian lagi milik Bu Rahayu. Bisnis keluarga Kak Revan memang tidak main-main. Pantas saja Bude Rumi sering merendahkan orang lain, toh dia merasa dirinya orang berada.
Tapi jangan dicontoh, ya....
Selain menjadi dokter, Kak Revan juga sedang mengembangkan bisnisnya. Sekilas kudengar, ia sedang menjalankan bisnis logistik bersama almarhum Pak Rahman. Namun, sekarang Kak Revan yang menjalankannya sendiri karena, setahun yang lalu, Pak Rahman telah berpulang.
Aku menghela napas ringan. Perkataan dari Bude Rumi masih sangat membekas di hati. Memang ada benarnya juga. Aku harus bisa meposisikan diri untuk bersanding dengan Kak Revan.
Tapi posisiku yang hanya seorang guru honorer, apakah bisa setara dengan Kak Revan?
Cuit... cuit... cit... cit... cuit....
Kawanan burung terbang di atas, menghiasi indahnya langit biru yang dihiasi awan putih bagai lukisan di atas kanvas.
Sangat indah....
Semilir angin menyapu lembut wajahku, menggerakkan rambutku dengan pelan. Seolah sedang menyapa kehadiran orang baru di sini.
Semoga lingkungan ini menjadi tempat terbaikku untuk bernaung, bersama orang baru dalam hidupku.
Kak Revan Aditya.
Semoga rumah tangga kami berjalan sesuai dengan harapan.
Aku kembali menatap layar laptop yang berada dalam pangkuanku. Di sana terpampang beberapa portofolio dan curriculum vitae. Atas rekomendasi dari temanku yang tinggal di kota ini, ia menyarankan beberapa lembaga pendidikan untuk aku lamar sebagai guru honorer.
Mencoba peluang, siapa takut, pikirku.
Kembali meniti karier yang sempat terputus karena harus menikah.
Semoga aku diberi kelancaran dan kemudahan dalam segala urusan ini, agar tidak ada lagi hinaan yang kuterima ketika bersanding dengan Kak Revan.
“Alya... sedang apa di sini, Nak?”
Aku menoleh ke arah sumber suara. Bu Rahayu berjalan menghampiriku dengan senyuman lembut, lalu duduk di sebelahku.
Aku membalas senyuman hangatnya.
“Bu, aku lagi mencoba beberapa peluang kerja. Menjadi tenaga pengajar di beberapa lembaga pendidikan.”
Bu Rahayu tampak melirik sekilas ke arah laptop yang berada dalam pangkuanku. Kemudian, matanya berbinar. Guratan halus pada wajahnya kini mulai terlihat. Bu Rahayu memang tidak muda lagi, tetapi kecantikannya tetap terpancar indah dari wajahnya.
“Bagus, Ibu setuju. Biar ilmu yang kamu dapatkan bisa dimanfaatkan juga.”
“Iya, Bu. Biar bisa setara juga sama Kak Revan....” ucapku dengan tawa getir di akhir kalimat.
“Kenapa berbicara seperti itu, Al? Revan tidak masalah kok soal itu. Yakin deh. Dan ucapan dari Bude Rumi tidak usah kamu dengarkan. Jangan dimasukkan ke hati, anggap saja angin lalu.”
Aku hanya mengangguk samar. Karena ini masih sebagian kecil dari keluarga Kak Revan. Bagaimana jika nanti keluarga besarnya berkumpul dan beberapa orang yang menjadi tim Bude Rumi ikut datang?
Apa aku akan kuat menerima lontaran hinaan dan cemoohan hanya karena aku seorang gadis dari desa yang tidak bisa apa-apa?
“Al....”
Bu Rahayu mengusap punggung tanganku pelan. Dari sorot matanya, beliau seperti ingin mengungkapkan sesuatu kepadaku.
“Iya, Bu. Kenapa?”
🌻🌻🌻
Siang harinya, aku duduk bersantai di atas sofa kamar sambil membaca novel. Berharap mendapat inspirasi untuk melanjutkan beberapa karyaku yang sempat tertunda karena aku sudah merasa buntu dengan jalan ceritanya.
Klek.
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria dingin yang kini telah menjadi suamiku.
Aku baru mengetahuinya sekarang, alasan mengapa Kak Revan tiba-tiba melamarku dan mengajakku menikah.
Tadi siang....
“Al... Ibu mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya Revan menikahimu itu karena Ibu yang memintanya. Karena Ibu hanya percaya sama kamu, Al. Ibu yakin kamu bisa menjaganya dan mengurus Revan dengan baik.”
“Ibu sudah tua, Nak. Ibu takut jika kesempatan hidup di dunia ini semakin menipis dan Revan belum juga menikah. Akhirnya Ibu meminta Revan menikah dengan kamu, Al. Revan sebenarnya anak yang baik, hanya saja ia terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai sering mengabaikan dirinya sendiri.”
“Kenapa Ibu sangat percaya kepada Alya untuk menjadi istri Kak Revan?”
“Sejak pertama melihat kamu sering berkunjung untuk menjenguk ayahmu, entah mengapa Ibu sudah jatuh hati pada parasmu yang ayu ini. Pada tutur bahasamu yang sopan, dengan sikapmu yang memang berbeda dengan kebanyakan wanita di kota ini.”
“Bu, Alya tidak sebaik seperti yang Ibu ungkapkan. Tapi Alya terima dan semoga ini menjadi doa.”
Bu Rahayu tersenyum samar, dari tutur katanya begitu halus dan lembut.
“Kamu tolong bersabar, ya, dengan sikap Revan yang teramat dingin. Tapi percayalah, Revan itu sangat baik.... Teramat baik.”
“Ibu percaya, kamu bisa menaklukkan hatinya....”
Aku teringat dengan ucapan Bu Rahayu. Alasan mengapa kak Revan menikahiku, bukan karena sebuah rasa cinta. Melainkan bentuk patuh pada sang ibu yang sangat ia sayangi.
Apa aku sakit hati?
Sedikit, sih. Karena aku masih memiliki peluang dan harapan untuk bisa meluluhkan hati Kak Revan.
Jadi aku tahu, Kak Revan menikahiku memang benar bukan atas dasar cinta.
Ya, dokter mana yang akan melirik seorang wanita yang berasal dari desa dan hanya seorang guru honorer seperti ini?
Aku harusnya sadar diri dari awal.
Tapi semua sudah terlanjur. Akad sudah terucap.
Dan satu hal yang membuat ku semakin berat, aku dan ayah memiliki hutang Budi yang begitu besar pada Bu Rahayu. Karena beliaulah yang menanggung semua biaya pengobatan ayah dirumah sakit.
Apa aku harus menyerah begitu saja?
Itu bukan prinsipku.
“Kak... sudah pulang?” tanyaku sekadar basa-basi yang terdengar canggung.
Kak Revan tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya mengangguk samar, kemudian masuk ke dalam kamar.
Aku mengikuti langkahnya menuju lemari besar.
“Kak....”
“Al... kamu ngapain sih ngikutin aku?” ucap pria itu dengan alis yang tampak sedikit berkerut.
“Kak... aku sudah tahu semuanya. Ibu sudah cerita alasan kamu mau menikahiku.”
Kini kami saling berhadapan, dengan netra mata yang saling beradu pandang. Terdengar helaan napas gusar dari pria tinggi tegap itu.
“Bagus jika kamu sudah tahu. Mari kita jalani pernikahan ini dengan hidup masing-masing. Kamu dengan kehidupanmu dan aku dengan kehidupanku. Aku memberi kebebasan untukmu, Alya....”
Aku masih terdiam membeku, dengan kelopak mata yang melebar.
“Tapi statusku tetap istrimu, Kak....”
“Hanya status, karena hatiku sudah dimiliki oleh seorang wanita yang belum bisa kumiliki seutuhnya.”
Deg.
Benar.
Kak Revan ternyata selama ini memiliki seorang kekasih.
Tapi mengapa ia tidak memutuskan untuk menikah dengannya?
Ada sedikit perih yang mengalir di dalam rongga dada ini. Pria yang selama ini aku kagumi dan kini telah menjadi suamiku, ternyata hatinya sudah terisi oleh nama wanita lain.
Aku hanya bisa tersenyum samar kepadanya, mengangguk sekilas sambil menyembunyikan rasa sakit yang kini bersemayam di dalam hati.
“Mau dibuatkan kopi, Kak?”
Kak Revan yang sedang memilih pakaian ganti sontak menoleh kembali ke arahku.
“Hanya membuatkan kamu kopi, bukan untuk menarik perhatianmu. Apalagi berniat membuatmu jatuh hati.”
Aku melihat anggukan sekilas dari kepalanya, kemudian pamit menuju lantai bawah.
Bersambung...