H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Suara gemerincing kunci terdengar saat Mahika mendorong pintu depan rumah orang tuanya. Udara hangat khas rumah masa kecilnya langsung menyapa, berpadu dengan aroma minyak kayu putih dan wewangian terapi ruangan yang biasa disukai ibunya.
Di ruang tamu yang tak terlalu luas itu, tampak Pak Bambang sang Ayah sedang duduk di sofa kulit sintetis berwarna cokelat tua sembari membaca koran sore. Di sebelahnya, Bu Maya terlihat sibuk membalik-balik lembaran brosur katering pernikahan bersampul glossy dengan kacamata baca membingkai matanya.
"Assalamu’alaikum, Bu, Pak," sapa Mahika lembut seraya melepaskan sepatu ketsnya dan merapikannya di rak.
"Wa’alaikumsalam," jawab Pak Bambang dan Bu Maya hampir bersamaan.
Mahika melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk menyalimi kedua orang tuanya secara bergantian. "Reno tadinya mau mampir, Bu, tapi dadakan ada urusan stok bahan di gudang pusat yang harus dicek sore ini. Jadi dia langsung jalan lagi."
Bu Maya hanya mengangguk tipis, matanya bahkan tak beralih dari brosur di tangannya. "Ya sudah, enggak apa-apa. Lagipula urusan menu katering ini kan sebentar lagi selesai."
Mahika mendudukkan diri di sofa tunggal di samping ibunya. Ia merapikan letak hijabnya sebentar sebelum meraih satu brosur paket katering lain yang tergeletak di atas meja.
"Ooh, soal paket yang Buffet B ini ya, Bu? Tadi siang Mahika sudah sempat telepon marketing kateringnya kok," kata Mahika antusias. "Mahika minta ditambah menu olahan daging sapi lada hitam sama es krim zupa soup buat gubuk hidangan pencuci mulutnya. Kan semua biayanya sudah Mahika bayar DP-nya minggu lalu pakai uang bonus desain."
Namun, bukannya senyuman lega yang didapat, Bu Maya justru menghela napas panjang dan meletakkan brosur itu kembali ke meja dengan dentupan halus.
"Jangan diputuskan dulu, Mahika," potong Bu Maya dengan suara datar.
Mahika mengernyit heran. "Lho? Kenapa, Bu? Kan tinggal pilih mau variasi es krim atau puding buat dessert-nya. Lagipula tempat kateringnya bilang batas konfirmasi penambahan menu cuma sampai lusa."
"Kita tunggu Gisel pulang dulu," sahut Bu Maya tenang, seolah kalimat itu adalah hal yang sangat wajar. "Ibu mau Kakakmu yang memilihkan menu mana yang paling pas."
Kerutan di dahi Mahika semakin dalam. Rasa asing dan ganjil mendadak merayap pelan di dalam dadanya. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya, lalu beralih menatap ayahnya yang sejak tadi pura-pura sibuk membaca koran.
"Tunggu... Kak Gisel?" tannya Mahika, suaranya sedikit tertahan. "Tapi, Bu... yang mau menikah kan Mahika sama Reno. Yang bayar seluruh paket katering ini juga murni uang Mahika sendiri. Kenapa harus nunggu persetujuan Kak Gisel?"
"Mahika," tegur Bu Maya, nadanya beruba tegas dan sedikit dingin. "Kamu jangan egois begitu dong."
"Egois?" Mahika mengulang kata itu dengan nada lirih, terhenyak. "Mahika egois dari mana, Bu? Ini acara pernikahan Mahika. Selama tiga bulan ini Mahika yang pontang-panting ngurus dokumen, cari vendor, nyisihin gaji, sampai lembur tiap malam buat bayar semuanya. Kenapa untuk hal sekecil menu makanan di acara pernikahan Mahika sendiri, keputusan akhirnya harus ada di tangan Kak Gisel?"
Pak Bambang akhirnya menurunkan korannya, menghembuskan napas berat. "Mahika, dengarkan Ibumu dulu. Maksud Ibumu bukan mau mengesampingkan kamu."
"Lalu apa, Pak?" sahut Mahika menatap ayahnya, mencari dukungan yang sayangnya tak ia temukan di raut wajah pria paruh baya itu. "Dari dulu, apa pun yang mau Mahika beli atau kerjakan, selalu harus nunggu kata Kak Gisel. Dan sekarang, di momen paling penting dalam hidup Mahika..."
"Kamu harus ngerti posisi Kakakmu, Mahika!" potong Bu Maya dengan suara sedikit meninggi, memotong kalimat anak sekundernya itu tanpa ragu. "Gisel itu Kakak kandung kamu. Dia anak tertua di keluarga ini! Secara adat dan norma, harusnya dia yang nikah duluan, bukan kamu!"
Kata-kata itu terlempar bagai kerikil tajam yang menghantam dada Mahika. Rasa sesak merayap naik ke tenggorokannya.
"Tapi Kak Gisel sendiri yang sampai sekarang belum punya pasangan yang serius, Bu," bisik Mahika pelan, berjuang menahan getaran di suaranya. "Mahika sama Reno sudah pacaran dan menjalin hubungan delapan tahun dari SMA. Masa Mahika harus nunda pernikahan cuma gara-gara Kak Gisel belum mau nikah?"
"Makanya!" seru Bu Maya menatap Mahika tajam. "Mau bagaimanapun, kamu itu melangkahi Kakakmu! Kakakmu itu sampai sekarang masih sensitif gara-gara kamu mau nikah duluan. Perasaannya terluka, Mahika! Dia merasa dilangkahi, merasa tertinggal."
"Ibu..."
"Cuma gara-gara urusan menu katering aja kamu mau meributkan hal ini?" lanjut Bu Maya tak mau kalah. "Gisel itu lagi keluar sebentar buat cari udara segar karena pikiran dia lagi berat. Jadi begitu dia pulang, Ibu mau dia merasa dihargai di rumah ini! Biarkan Kakakmu yang milih menu kateringnya. Biar dia merasa dilibatkan, biar perasaannya agak terobati setelah mau kamu langkahi."
Mahika tertegun. Matanya memanas, dilapisi selaput bening yang siap menetes kapan saja.
Lagi-lagi rasa dilangkahi. Sejak enam bulan lalu ketika Reno datang melamar secara resmi, kata dilangkahi seolah menjadi senjata ampuh bagi ibu dan kakaknya untuk menekan Mahika.
Saat Mahika membeli pelakor gaun akad yang cantik, ibunya meminta gaun itu disimpan rapat-rapat agar Gisel tidak iri. Saat Mahika mendapat bonus besar dari kantornya, ibunya menyuruh Mahika membelikan Gisel tas merek terkenal dengan alasan 'penawar rasa sedih karena dilangkahi'. Dan kini, bahkan hak memilih menu di pesta pernikahannya sendiri harus dikorbankan demi menjaga ego dan perasaan sang kakak.
"Kenapa Mahika yang selalu disuruh ngertiin perasaan Kak Gisel, Bu?" tanya Mahika, air mata pertamanya menetes membasahi pipi. "Pernah enggak sekali aja Ibu atau Kak Gisel mikirin perasaan Mahika? Mahika kerja keras siang malam, Bu. Mahika tabung tiap rupiah dari hasil keringat Mahika sendiri tanpa pernah merepotkan Bapak sama Ibu sepeser pun."
"Mahika, sudah..." bisik Pak Bambang menengahi dengan nada serak, mencoba meredakan ketegangan. "Ibumu cuma mau rumah tangga kalian nanti harmonis, enggak ada ganjalan sama Kakak sendiri."
"Harmonis bagaimana, Pak?" suara Mahika bergetar hebat. "Kalau dari awal acara ini, hak Mahika terus-menerus dirampas cuma buat menyenangkan Kak Gisel?"
"Kamu ini kok jadi pembangkang ya sekarang?" sahut Bu Maya, tatapannya menyiratkan kekecewaan yang dibuat-buat. "Gara-gara kamu punya uang sendiri, kamu merasa bisa ngatur semuanya di rumah ini? Ibu cuma minta kamu mengalah sedikit untuk Kakakmu! Cuma soal menu katering! Apa sesulit itu mengalah buat orang yang melahirkan dari rahim yang sama dengan kamu?"
Kalimat mengalah buat Kakakmu adalah mantra lama yang sudah didengar Mahika sejak ia berusia lima tahun.
Mengalahlah, Kakakmu mau mainan itu.
Mengalahlah, Kakakmu mau kamar yang ada AC-nya.
Mengalahlah, Kakakmu mau baju baru buat pesta.
Dan sekarang, setelah ia dewasa, berjuang sendirian hingga mampu membeli rumah impian dan membiayai pernikahannya sendiri, mantra itu tetap gaung di telinganya.
Mahika memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya bergemuruh hebat antara rasa marah, kecewa, dan kelelahan mental yang amat sangat. Di kepalanya terbayang wajah Reno pria yang baru saja memberinya kejutan berupa sertifikat rumah atas namanya. Pria yang selalu memvalidasi kerja kerasnya.
"Satu bulan lagi, Mahika. Cuma tiga puluh hari lagi kamu akan keluar dari rumah ini dan hidup bahagia bersama Reno", bisik Mahika dalam hatinya, berusaha menguatkan diri.
Mahika menghembuskan napas panjang. Ia menyapu air mata di pipinya menggunakan ujung pasmina kremnya dengan gerakan perlahan.
Kemarahannya yang tadinya memuncak perlahan padam, berganti menjadi kepasrahan yang dingin.
Ia tidak mau merusak momen kebahagiaannya hanya gara-gara perdebatan soal katering. Baginya, satu bulan lagi semuanya akan berakhir. Ia akan memiliki keluarganya sendiri bersama Reno, jauh dari bayang-bayang tuntutan untuk selalu mengalah.
"Ya sudah," ucap Mahika pelan. Suaranya kini terdengar sangat datar, tanpa emosi. "Kalau memang harus tunggu Kak Gisel, terserah Ibu saja."
Bu Maya tampak menghela napas lega, raut wajah kerasnya sedikit melunak walau tak ada ucapan terima kasih atau permintaan maaf yang keluar dari bibirnya. "Nah, gitu dong. Kamu kan anak penurut. Ibu cuma mau Kakakmu enggak merasa dibuang."
Mahika tak menjawab lagi. Ia berdiri dari sofa, merapikan tas tangannya.
"Mahika mau tunggu di kamar," pamit Mahika tanpa menatap wajah ibunya. "Nanti kalau Kak Gisel sudah pulang dan selesai pilih menunya, panggil Mahika aja. Mahika mau istirahat."
"Iya, sana istirahat. Jangan cemberut terus, enggak baik calon pengantin cemberut," balas Bu Maya santai, kembali membalik-balik brosur katering seolah perdebatan hebat tadi tak pernah terjadi.
Pak Bambang menatap punggung anak sekundernya dengan pandangan penuh rasa bersalah yang teramat sangat. "Mahika... kalau capek, nanti malam biar Bapak yang belikan mi rebus favoritmu ya?"
Mahika menghentikan langkahnya sejenak di depan lorong kamar, namun tidak menoleh. "Enggak usah, Pak. Mahika enggak lapar."
Tanpa menunggu balasan ayahnya, Mahika melangkah masuk ke dalam kamarnya yang berukuran kecil di sudut belakang rumah. Ia menutup pintu kayu itu pelan, lalu memutar kuncinya dari dalam.
Klik.
Suara hening kamar masa kecilnya langsung mengepung. Mahika berjalan layu menuju tempat tidur berseprai merah muda pudar miliknya. Ia melepaskan tasnya, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa amat lelah di atas kasur.
Mahika menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Air matanya kembali menetes perlahan, mengalir menyusuri pelipis dan meresap ke dalam bantal.
Di dalam kesendirian kamar itu, Mahika merogoh ponsel pintar dari tasnya. Ia membuka galeri foto, melihat-lihat kembali jepretan foto rumah baru mereka yang ia ambil tadi sore bersama Reno. Dapur sage green, sofa light grey, dan sertifikat tanah atas namanya.
Semua gambar itu menjadi penawar dahaga bagi hatinya yang terluka.
"Sabar, Mahika," bisiknya pada diri sendiri seraya mengusap dadanya yang masih terasa sesak. "Cuma satu bulan lagi. Setelah ini, kamu punya rumah sendiri, suami yang mencintai kamu, dan hidup kamu sendiri. Cuma tinggal tiga puluh hari lagi."
Di luar kamar, suara pintu depan rumah mendadak terdengar terbuka, disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan nada bicara Bu Maya yang menyambut hangat kedatangan Gisella.
Mahika memejamkan mata rapat-rapat, memeluk bantalnya erat-erat, membiarkan riuh suara keluarga yang tak pernah benar-benar memihaknya itu menguap di luar pintu kamarnya yang terkunci.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂