Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Topeng yang Terbuka

Langkah kaki Dirga tertahan di ambang pintu kafe. Udara dingin dari pendingin ruangan serasa menusuk hingga ke tulang, namun rasa panas di dadanya jauh lebih membakar. Ia menatap dua punggung manusia yang berjalan mendahuluinya menuju pelataran parkir. Keheningan di antara ketegangan itu pecah ketika Dirga mempercepat langkahnya, menyusul langkah Eri dan Leon sebelum mereka menyentuh gagang pintu mobil mewah yang terparkir tepat di depan bangunan.

"Eri! Berhenti! Tatap mataku dan jelaskan semuanya!" panggil Dirga dengan suara yang parau, menyiratkan kehancuran yang tak lagi sanggup ia sembunyikan.

Langkah Eri terhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyilangkan kedua tangan di dada dengan gaya anggun yang terasa begitu asing dan dingin di mata Dirga. Leon, yang berdiri di sampingnya, hanya menyunggingkan senyum sinis seraya memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana jas mewahnya.

"Apalagi yang harus dijelaskan, Dirga?" sahut Eri dingin, tanpa ada sedikit pun raut penyesalan di wajahnya. "Apakah kamu masih belum paham juga dengan situasi ini?"

"Aku butuh kejujuranmu, Eri!" tegak Dirga, dadanya naik turun menahan gumpalan amarah dan rasa perih yang meluap. "Siapa pria ini sebenarnya? Kenapa kamu begitu mudah mengakhiri hubungan yang sudah kita bangun selama tiga tahun hanya gara-gara warna sebuah tas?"

Eri tertawa pelan, sebuah tawa ringkih yang menusuk gendang telinga Dirga. "Tiga tahun? Kamu masih memperhitungkan masa tiga tahun itu? Dirga, tatap dirimu di cermin. Kamu itu cuma seorang petugas kebersihan di kantor investasi! Apakah kamu berpikir wanita sepertiku sungguh-sungguh ingin menghabiskan masa depan bersama pria yang gajinya bahkan tidak cukup untuk membeli sepasang sepatu yang kupakai ini?"

Kata-kata itu menghantam Dirga bagaikan pukulan telak. "Jadi... selama ini hubungan kita hanya kebohongan?"

"Tentu saja!" aku Eri tanpa ragu, suaranya tajam dan mantap. "Aku dan Leon sudah menjalin hubungan selama enam bulan terakhir. Dia adalah pria sejati yang sanggup memenuhi seluruh gaya hidupku, bukan sekadar janji-janji manis tanpa kepastian seperti yang selalu kamu ucapkan."

"Lalu kenapa kamu tetap memintaku membelikan tas ini?!" pekik Dirga, menunjuk kotak emas yang masih berada di dalam dekapan tangannya. "Kenapa kamu terus menuntut uang dariku, menguras sisa tabunganku, bahkan memaksaku berutang pada kantorku sendiri?!"

Eri mengibaskan tangannya dengan gestur tidak peduli. "Kenapa? Ya karena kamu cukup bodoh untuk membayarnya, Dirga! Bagi Leon, memberi uang lima puluh juta rupiah itu perkara mudah. Tapi melihat kamu merangkak dan bersusah payah mencari uang demi menuruti keinginanku... itu memberikan kepuasan tersendiri. Kamu itu cuma tempat pemerasan uang cadangan sewaktu Leon sedang sibuk dengan urusan bisnisnya."

Setiap kalimat yang keluar dari bibir Eri memotong sisa-sisa penghormatan yang dimiliki Dirga terhadap wanita itu. Wajah Dirga memucat, tatapannya membeku pada sosok wanita yang selama ini ia puja dan bela mati-matian, bahkan melebihi kesejahteraan dirinya sendiri.

Leon melangkah satu pijakan ke depan, mengikis jarak antara dirinya dan Dirga. Postur tubuhnya yang tegap dan pakaian mewahnya makin mempertegas ketimpangan status sosial di antara mereka.

"Sudah dengar sendiri, bukan?" panggil Leon dengan nada meremehkan yang sangat kental. "Kamu hanya sarana hiburan kecil bagi kami, Anak Muda. Kamu membuang-buang energi untuk sesuatu yang sama sekali tidak berada di kelasmu."

"Ini bukan soal kelas!" potong Dirga, matanya menyalang menatap Leon dengan keberanian yang tersisa dari harga dirinya yang hancur. "Ini soal harga diri dan ketulusan yang kalian injak-injak tanpa perasaan!"

"Harga diri?" Leon terkekeh berhak. "Harga diri macam apa yang dimiliki seorang petugas kebersihan yang harus meminjam uang kasbon hanya untuk membelikan barang yang bahkan tidak diinginkan oleh wanita di hadapannya? Kamu tidak punya harga diri di tempat ini, Dirga."

Leon kemudian merogoh saku dalam jas mewahnya, mengeluarkan dompet kulit berkualitas tinggi, dan menarik beberapa lembar uang kertas pecahan seratus ribu rupiah. Tanpa ragu, Leon mengibaskan lembaran uang itu dan melemparkannya tepat ke dada Dirga.

Plak! Uang kertas itu mengenai kemeja lusuh Dirga sebelum akhirnya melayang jatuh dan berserakan di atas lantai kramik kafe.

"Ambil uang itu," ujar Leon dingin, tatapannya dipenuhi keangkuhan yang memuakkan. "Anggap saja itu ongkos pulang untukmu. Naiklah angkutan umum atau ojek. Jangan sampai kamu berjalan kaki sambil menangisi nasibmu yang malang."

Eri yang menyaksikan hal tersebut bukannya merasa iba atau malu, ia justru menutupi mulutnya dan tertawa terbahak-bahak. Tawa yang sangat renyah, seolah-olah penindasan yang dialami Dirga adalah pertunjukan komedi paling lucu yang pernah ia saksikan.

"Lihat dirimu, Dirga!" seru Eri di sela tawanya yang riuh. "Kamu kelihatan sangat kasihan. Mengumpulkan uang receh demi receh hanya untuk dilemparkan uang kertas seperti itu oleh pria berkelas seperti Leon. Tolong ambil uang itu, lumayan untuk menyambung hidupmu minggu ini!"

Dirga berdiri kaku. Matanya menatap lembaran uang yang berserakan di sekitar sepatu ketsnya yang aus. Tangan kanan Dirga terkepal sangat erat, hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, menimbulkan rasa sakit fisik yang tak sebanding dengan luka di dalam jiwanya. Ia ingin melayangkan pukulan ke wajah Leon, ingin meremukkan keangkuhan pria itu, namun pikiran warasnya masih mendominasi emosinya. Jika ia masuk penjara karena tindakan kriminal, hidupnya semakin hancur.

"Aku tidak butuh uang harammu," bisik Dirga, suaranya dalam dan berat, sarat akan ikrar dendam yang membara secara perlahan dari dalam persembunyian jiwanya.

"Jual saja kesombonganmu itu pada orang lain, Dirga," balas Leon acuh tak acuh. Ia merangkulkan tangannya kembali ke pinggang Eri, memutar tubuh wanita itu untuk menyusuri langkah keluar dari area kafe. "Ayo, Sayang. Kita buang-buang waktu melayani orang kelas bawah seperti dia."

"Dadaah, Dirga! Semoga kehidupan kelesuanmu menyenangkan!" panggil Eri seraya melambaikan tangannya dengan tawa yang masih menyisa, bergandengan mesra bersama Leon menuju mobil sport mewah yang telah menyalakan lampu utamanya.

Suara raungan mesin mobil mewah itu terdengar menggelegar, membelah keheningan sore sebelum akhirnya melesat cepat meninggalkan pelataran kafe, menyisakan debu dan kepulan asap tipis yang menerpa wajah Dirga.

Dirga masih berdiri di tempatnya, mematung di bawah pendar lampu kafe yang mulai menyala terang. Namun penderitaannya belum berakhir. Riuh rendah bisik-bisik dari pengunjung kafe yang sejak tadi menyaksikan pertengkaran tersebut mulai merambat naik.

"Lihat itu, kasihan sekali ya..."

"Makanya, kalau tidak punya uang jangan sok-sokan pacaran sama cewek sosialita."

"Eh, rekam tidak tadi? Lucu banget pas uangnya dilempar ke dadanya!"

Dirga berpaling pelan. Di sekelilingnya, puluhan pengunjung kafe, anak-anak muda berkemeja rapi, wanita-wanita berparas cantik, hingga para pekerja kantoran, tengah mengarahkan kamera ponsel pintar mereka ke arah Dirga. Lampu kilat kamera menyala bergantian, memotret dan merekam sosoknya yang berdiri meratapi nasib di tengah lembaran uang yang berserakan di lantai. Mereka menjadikannya sebagai objek cemoohan, sebuah konten hiburan singkat yang siap diunggah ke media sosial demi mendapatkan perhatian publik.

Rasa malu yang teramat sangat menusuk hingga ke sanubari Dirga. Ia merasa telanjang di hadapan orang-orang yang tidak dikenalnya, menjadi tontonan hina tanpa ada satu pun jiwa yang memiliki belas kasihan.

Dengan perlahan dan penuh rasa perih, Dirga berlutut di atas lantai dingin kafe tersebut. Jarinya yang gemetar mulai memungut lembaran-lembaran uang ratusan ribu yang dilemparkan Leon satu per satu. Bukan karena ia menerima hinaan pria itu, melainkan karena ia sadar, lima ratus ribu rupiah yang berserakan di lantai ini adalah uang yang ia butuhkan untuk menyambung hidup dan melunasi sebagian utang kasbon yang baru saja ia tanda tangani.

Setiap kali jarinya menyentuh lembaran uang itu, sorakan halus dan gelak tawa penonton di sekitarnya kembali terdengar. Kamera-kamera ponsel terus menyorot gerakan tubuhnya yang tertekuk, merekam detik demi detik saat seorang pria memungut sisa-sisa kehormatannya yang telah dihancurkan hingga tak berbentuk.

Dirga menggenggam erat lembaran uang itu dalam genggamannya, lalu bangkit berdiri secara perlahan. Ia tidak menundukkan kepala lagi. Meski matanya memerah menahan air mata yang menolak untuk jatuh, tatapannya kini berubah menjadi sangat tajam dan dingin. Ia menatap satu per satu wajah pengunjung kafe yang sedang merekamnya, menyimpan setiap cemoohan, setiap tawa, dan setiap penderitaan sore ini ke dalam relung hatinya yang paling dalam.

Di dalam hati Dirga yang porak-poranda, sebuah tekad baru lahir dari puing-puing kehancuran. Pengorbanannya, keringatnya, dan harga dirinya tidak boleh mati secara sia-sia di tempat ini. Suatu hari nanti, dunia akan menyaksikan bagaimana seorang petugas kebersihan yang dipijak-pijak ini berdiri tegak di puncak tertinggi.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!