Namanya Ares. Bos mafia Amerika yang paling ditakuti—dingin, kejam, dan tak percaya pada cinta. Mereka menjulukinya "Don Tanpa Hati", dan dia bangga akan gelar itu.
Demi memenuhi janji terakhir pada mendiang ayahnya, Ares memutuskan menikah. Bukan karena cinta—dia bahkan tak percaya kata itu—melainkan untuk mendapatkan seorang pewaris. Pilihannya jatuh pada Ingrid: gadis desa berusia sembilan belas tahun, polos, ceria, tumbuh di peternakan di antara hewan-hewan yang ia beri nama satu per satu. Ares merenggutnya dari keluarganya dengan ancaman, membawanya masuk ke dunia berdarah penuh senjata, pengawal, dan wanita-wanita simpanan yang haus akan takhta di sisinya.
Ingrid seharusnya hanya menjadi "istri di atas kertas". Tapi gadis yang tampak lugu ini menyimpan hati sekeras baja dan akal sehalus sutra. Alih-alih hancur, ia memilih bertahan—dan bertarung. Dengan senyum manis, lidah tajam, dan strategi yang membuat para saingannya bertekuk lutut, Ingrid perlahan menembus tembok es yang selama ini melindungi sang Don.
Namun mencintai seorang bos mafia berarti hidup di antara bayang-bayang: pengkhianatan, dendam, dan musuh yang mengincar titik terlemahnya—Ingrid sendiri. Mampukah cinta seorang gadis desa yang tulus benar-benar mencairkan hati pria yang bersumpah tak akan pernah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keesokan Harinya....
Keesokan Harinya
Jolie
Aku mengantar Ingrid ke dokter, semuanya lancar. Dokter meminta serangkaian pemeriksaan, tapi hanya pemeriksaan rutin saja.
Ingrid masih muda, dan dari pemeriksaan fisik, semuanya baik-baik saja.
Dr. Liziane sangat menyukai Ingrid, sampai-sampai dia lebih memilih memasangkan KB spiral. Dr. Liziane orang mafia dan tahu betul bagaimana Ares, dia khawatir Ingrid lupa minum pil dengan teratur, dan itu tentu bakal jadi masalah besar.
Jadi, kami membeli KB spiral dan langsung memasangnya, dilakukan USG, dan semuanya beres! Untungnya Ares sedang bepergian, jadi Ingrid punya waktu untuk melihat apakah tubuhnya cocok dengan metode ini.
Sekarang tinggal menunggu, dan kalau tubuh Ingrid menerimanya dengan baik, semua aman. Kalau mereka memutuskan ingin punya anak lebih cepat, tinggal dilepas saja, tanpa masalah.
Semakin lama bersama Ingrid, aku semakin menyukainya. Perhatian, lucu, cerdas, dan aku perlu memperingatkannya.
"Ingrid, ada yang mau kuberitahu. Soal ponselmu, aku hampir seratus persen yakin Ares menyuruh orang menyadapnya. Artinya, dia akan mendengar semua yang kaubicarakan lewat ponsel itu dan tahu dengan siapa serta kapan kau bicara," kata Jolie.
"Hmm, tidak masalah. Aku tak punya apa-apa untuk disembunyikan. Atau lebih tepatnya, kurasa aku cuma harus berhenti memanggilnya dengan julukan sayang seperti Si Menyebalkan, Si Iblis, Si Tukang Perintah, Si Tanpa Hati, dan seterusnya," kata Ingrid.
Jolie tertawa.
"Tepat sekali. Hati-hati, ya, Ares itu temperamental. Oh iya, kau suka dr. Liziane?" tanya Jolie.
"Suka sekali, dia dokter yang baik hati....."
Mereka terus mengobrol.
Jolie
Aku memberitahu Ingrid bahwa minggu depan aku akan mengajaknya berbelanja dan ke salon kecantikan.
Aku menyewa penata gaya terbaik di daerah kami. Dia bahkan penata gaya banyak selebriti! Aku ingin membuat temanku itu jatuh hati pada kecantikan Ingrid.
Ingrid memang cantik. Kalau sudah secantik ini padahal berpakaian seadanya, tanpa memadupadankan warna, bahan, dan model..... bayangkan seperti apa jadinya kalau dibantu seorang ahli.
Karena Ares bilang tak perlu mempermasalahkan uang, aku menyewa dia, yang biasa mendandani para selebriti!
Kita lihat saja Ingrid kita akan jadi seperti apa nanti. Aku yakin dia akan tampil memukau dan Ares pasti terpana! Itulah yang kuinginkan.
Edyth
Kulihat Ingrid pulang, secepat ini? Ada apa gerangan? Bukankah mereka seharusnya pergi berbelanja....
"Halo, Ingrid, Jolie tidak jadi mengajakmu belanja baju, sepatu.... pokoknya belanja?" tanya Edyth.
"Halo, Edyth. Dia akan mengajakku minggu depan. Soalnya dia menyewa seorang penata, aku lupa namanya, yang keren-keren itu! Yang biasa mendandani para wanita di televisi, majalah...." kata Ingrid.
"Iya, seorang penata gaya," ujar Edyth sambil tersenyum.
"Itu dia!!! Cuma dia baru bisa melayani kami minggu depan. Sebenarnya bagiku tak perlu-perlu amat, tapi kata Jolie itu penting, dan Ares sendiri yang menyuruhnya mengajakku belanja," kata Ingrid.
"Tuh, kan, Ares tidak seburuk itu, dia punya sisi baik. Aku sendiri terkejut dengan sikap-sikapnya belakangan ini," kata Edyth.
"Mungkin karena dia tak mau berjalan-jalan dengan istri yang berpakaian buruk," celetuk Ingrid.
Mereka pun terus mengobrol.
Ares
Sejak kami tiba, kami sibuk mengurus tempat persembunyian, persenjataan, meninjau ulang setiap detail, dan kami sudah menemukan sebagian target. Ini bagus sekali!
Ingrid
Sore harinya Edyth bilang aku boleh menelepon orang tua dan adik-adikku. Karena aku tahu mereka pergi ke sekolah, aku menunggu sampai malam untuk menelepon.
Aku bersikap waspada seperti pesan Joli, siapa tahu Ares sedang mendengarkan.... Aku harus memakai akal dan tak menyia-nyiakan satu pun kesempatan untuk menjinakkan si Don tanpa hati milikku.
Menelepon
Leopold
Ponselku berdering, dari nomor asing, dan lewat panggilan video pula???? .....meski begitu, kuputuskan mengangkatnya, dan itu keputusan terbaik yang pernah kubuat.
"Putriku!!!!" seru Leopold, sudah terharu melihat Ingrid.
"Halo, Papa!! Sayangku, aku rindu sekali pada Papa, aku baik-baik saja, Pa!" kata Ingrid sambil tersenyum.
Ares
Kami sedang minum kopi sambil mengawasi para target, kulihat Ingrid melakukan panggilan. Diam-diam, tanpa mau diketahui teman-temanku, aku menyimak apa yang akan dia katakan.
"Maafkan Papa, Ingrid, Papa tak bisa berbuat apa-apa," kata Leopold.
"Papa, Ares tidak seburuk yang orang-orang bilang. Dia bahkan mengizinkanku bicara dengan kalian lewat telepon, dan masih banyak hal lain yang dia izinkan untuk kulakukan."
Ares
Dia sedang membelaku? Atau hanya berusaha agar ayahnya tak khawatir? Sudah pasti dia tak mau membuat ayahnya cemas.
"Halo, putriku yang cantik!!!! Mama rindu sekali, sayang. Mama lihat kau baik-baik saja! Syukurlah, Nak, kau tak tahu betapa bahagianya hati Mama," kata Justine.
"Halo, Mama!!! Iya, aku baik-baik saja, Ma. Aku rindu sekali pada Mama," kata Ingrid.
"Maaf ya, Nak, tapi Mama perlu bertanya, bagaimana malam pertamamu? Apa dia menyakitimu?" tanya Justine.
"Tidak, Ares bersikap lembut padaku. Aku baik-baik saja, Ma, dan ada Edyth, nanti Mama akan berkenalan dengannya. Dia sangat baik dan merawatku," kata Ingrid.
"Mama senang sekali dan jadi lebih tenang, sayangku. Jauh lebih tenang," ujar Justine.
Ares
Aku masih menyimak, dan dia bilang aku bersikap lembut. Memang benar aku lembut, tapi dia bisa saja membuat keributan atau drama, mengatakan bahwa dia tak menginginkannya, dan hal-hal semacam itu..... Mari kita lihat apa lagi yang akan dia katakan.
"Lalu adik-adikku?" tanya Ingrid.
Ingrid
Adik-adikku muncul, aku mengobrol dengan mereka, lalu kembali bicara dengan orang tuaku. Kuceritakan bahwa Ares mengizinkanku meminta empat hal. Kuceritakan apa saja yang kuminta, dan kulihat senyum indah di wajah Mama, minggu depan kami akan bertemu!!!
Papa juga tampak lebih tenang, dan aku senang karenanya. Karena aku tahu Ares mungkin sedang mendengarkan, sengaja kulontarkan beberapa komentar.
"Papa, Ares tidak seburuk itu. Sebentar lagi kuyakin dia akan mengizinkanku menemui Papa dan adik-adik juga," kata Ingrid.
"Papa senang, Nak, kau tak tahu betapa senangnya! Seperti katamu, siapa tahu Don Ares tidak seperti yang orang-orang bilang. Pada Papa, mendiang kedua orang tuanya selalu sangat baik, dan Don Ares pun begitu, Papa tak bisa mengeluh. Satu-satunya yang tak Papa inginkan hanyalah dia membawamu pergi. Papa masih menyesal tak bisa berbuat apa-apa soal itu," kata Leopold.
"Tidak apa-apa, Pa, aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Sekarang aku tutup dulu ya. Beberapa hari lagi aku telepon lagi. Cium sayang, aku sayang kalian semua," kata Ingrid.
Ares
Yang mengejutkanku, Ingrid tidak menjelek-jelekkanku. Dia tidak mengeluh, tidak menangis, dan aku harus berkonsentrasi pada para target.... Sialan, Ingrid, apa dia memang harus sebaik itu?....
Sepekan Kemudian
Ingrid
Aku menunggu Mama!!! Aku tak sabar sekali ingin bertemu dengannya!! Sangat!
Justine
Mereka datang menjemputku untuk menemui Ingrid. Adik-adiknya membuat banyak sekali gambar untuk kakak mereka, dan aku tahu Ingrid pasti akan senang! Aku tak sabar dan rindu bukan main pada putriku.