Indonesia
NovelToon NovelToon
Dijual Suamiku kepada Sang Don

Dijual Suamiku kepada Sang Don

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Dark Romance / Tamat
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: Dayane Castro

Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.

Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.

Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.

Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.

Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

POV Ravi

"Aku akan meminta Nyo... maksudku, kau—aku akan memintamu untuk mengenalku lebih baik sebelum menghakimiku. Aku memang mungkin bukan bagian dari mafia mana pun, tapi aku bisa mengurus diriku sendiri."

"Baiklah!" jawab Madre, lalu mulai makan. Aku tak tahu apakah jawabannya itu tanda persetujuan atau bukan. Lorena menatapku dengan bingung, sementara aku menghembuskan napas lega. Tinggal menunggu Lorena memberitahu ibuku bahwa aku membelinya dari mantan suaminya.

Kami memutuskan menginap semalam di rumah ini, karena hari sudah malam. Tapi masalah berbohong pada madre-ku adalah dia berpegang pada aturan-aturan lama.

"Lorena, kau tidur di kamar sebelah kanan, dan Ravi tidur di bekas kamarnya dulu."

"Madre, Lorena dan aku sudah pernah tidur bersama sebelumnya, tak perlu—"

"Di rumahku, hanya suami dan istri yang tidur bersama. Kau tahu bagaimana aturan berlaku di sini. Setelah kalian menikah, tak masalah; sebelum itu, tidak." Mia bella tertawa, tapi aku sama sekali tak melihat ada yang lucu. Aku sudah tak bisa lagi tidur tanpa aroma tubuhnya. Aku mendengus ketika ibuku mencengkeram lenganku, menyeretku ke kamarku, lalu menunjukkan kamar Lorena padanya.

"Madre, jangan kolot begitu."

"Aku memang kolot, dan percuma kau menyelinap ke sana malam-malam, atau kularang pernikahan ini. Sekarang pergi tidur, biar waktu berlalu lebih cepat." Dia menunggu kami masuk, tapi kututup pintuku sambil menatap Lorena, dan dia melakukan hal yang sama—dengan tatapan menggoda.

Setelah membereskan urusan malamku, aku berbaring di tempat tidur. Tapi aku tak bisa tidur, karena pikiranku tak berhenti memikirkan mia bella yang ada di kamar seberang seorang diri. Apa dia juga sedang memikirkanku? Aku bangkit dari tempat tidur, dan ketika kubuka pintu, ada seorang prajurit perempuan berdiri di depan pintu Lorena.

"Anda boleh saja mencoba masuk, Tuan, tapi saya terpaksa akan memanggil ibu Anda."

"Siapa bilang aku mau masuk? Aku mau ke dapur mengambil air minum." Kututup pintu kamarku dan mau tak mau melangkah menuju dapur. "Sial, untuk apa aku datang kemari. Seharusnya aku saja yang mengundang madre ke rumahku di Venesia. Di sana tak ada aturan bodoh macam ini."

Aku minum air dengan hati dongkol, lalu kembali ke kamarku di bawah tatapan prajurit itu. Aku memasang muka masam padanya sambil menutup pintu, menghembuskan napas, dan berbaring untuk tidur—karena memang tak ada jalan lain.

Keesokan paginya, aku membereskan urusan pagiku, dan ketika kubuka pintu kamarku, prajurit itu sudah tak lagi berkemah di depan pintu mia bella. Tapi begitu kubuka pintu kamarnya, sudah tak ada siapa pun di dalam. Lorena tak pernah bangun lebih dulu dariku; ada sesuatu yang mengatakan padaku bahwa ibuku sedang menyiksa istriku.

Aku keluar mencari mereka berdua, dan menemukan keduanya di ruang tamu. Lorena mengenakan gaun merah muda yang indah, yang cocok sempurna untuknya. Tak ada yang menyadari kehadiranku, jadi aku bersembunyi untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

"Aku tak akan memakai ini. Satu-satunya hal yang Ravi minta sebelum kami berangkat dari rumah adalah agar aku tidak mengenakan bikini."

"Kau harus belajar bahwa, meski sudah menikah, yang satu tak boleh mendikte yang lain seperti itu. Pakaian tak menunjukkan karakter. Aku pernah melihat perempuan bergaun panjang yang selingkuh, dan perempuan bergaun pendek yang setia. Kalau kau membiarkan Ravi mengontrol apa yang kau pakai, sebentar lagi dia akan menentukan seluruh hidupmu. Apa itu yang kau mau?"

"Agar sebuah pernikahan berhasil, salah satu pihak kadang harus mengalah. Aku tak akan melakukan apa pun yang membuatnya marah padaku, apalagi yang bisa jadi alasan kami bertengkar. Kalau memang harus pakai bikini, aku lebih memilih tinggal di rumah Anda saja dan tidak ke pantai." Sudah kubilang, kan, Lorena adalah perempuan yang ideal untukku? Aku tak pernah bosan mengatakannya.

Aku muncul, dan keduanya menoleh padaku. Aku berdiri di sisi Lorena, menatap bikini yang ada di tangan ibuku.

"Kau mau pakai potongan mini itu, Madre?"

"Bukan, itu untuk tunanganmu, tapi sepertinya dia tak suka memakai bikini, atau malu dengan tubuhnya."

"Aku tak malu. Aku menyukai tubuhku dan tak merasa malu dengannya. Sudah kujelaskan alasannya."

"Lorena gadis yang tahu sopan santun, Ma, dan aku yakin dia tak akan memakainya sekalipun aku tak memintanya."

"Baik, aku tak akan berkata apa-apa lagi. Ayo sarapan di kedai, lalu kita habiskan seharian di pantai." Ibuku memutar badan, dan aku berhadapan dengan mia bella.

"Aku mendengar percakapan kalian, dan aku senang kau menganggap serius permintaanku. Aku sangat bangga padamu."

"Kau baik padaku, Ravi, jadi aku tak punya alasan untuk membuatmu kesal. Tapi ketahuilah satu hal: aku juga cukup pendendam. Kalau aku melihat sesuatu yang salah darimu, aku akan membalasnya dengan gaya. Jadi awasi baik-baik perbuatanmu." Kutarik dia ke tubuhku dan kucium dia penuh rindu, karena malam tadi adalah malam terpanjang dalam hidupku.

Saat ciuman itu mulai memanas, kami disela oleh ibuku—dan itu kedua kalinya aku menyesal telah datang ke sini. Kami bertiga keluar dari rumah madre, dan berjalan kaki saja sampai ke kedai yang ada di seberang jalan, dekat pantai. Ibuku mulai menceritakan kisah waktu aku kecil, hari ketika aku tersesat di pantai karena kabur dari rumah diam-diam.

"Ravi?" Aku mendengar seorang perempuan memanggilku, dan ketika aku menoleh, ternyata Megan. Kami dibesarkan bersama, seperti sahabat karib. Dia memelukku saat aku masih duduk, dan mataku beralih ke Lorena, yang tak berkedip menatapnya. "Sudah lama sekali, kapan kau tiba?"

"Kemarin," jawabku sambil tetap menatap Lorena. Ibuku mencondongkan badan dan membisikkan sesuatu ke telinga mia bella. "Megan, ini Lorena, tunanganku." Megan menoleh ke Lorena dan mengulurkan tangan untuk menyapanya. Lorena menatap tangan itu dengan pandangan begitu jahat sampai aku bisa membaca isi pikirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!