Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 : Perisai dan Pelukan
Keesokan paginya, suasana rumah terasa begitu dingin dan lenggang. Kiara melangkah turun dari tangga atas dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi. Sepanjang malam kemarin ia memilih mengurung diri di dalam kamar, mengunci pintu rapat-rapat tanpa menyentuh makanannya sedikit pun.
Di meja makan, kursi utama tempat Papa biasa duduk sudah kosong. Mobilnya pun tidak ada di garasi. Entah, mungkin Papa sudah berangkat dinas ke luar kota lagi, atau memang sengaja menghindar. Bagi Kiara, ia sudah tidak peduli lagi. Batinnya sudah terlanjur mati rasa oleh sikap menghakimi yang kemarin ia terima.
Mama yang sedang menyeduh teh hangat mendongak. Matanya tampak sembab dan lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya—menandakan beliau tidak tidur semalaman.
"Kia... duduk dulu, Nak. Minum teh hangatnya ya," panggil Mama lembut, menuntun Kiara untuk duduk.
Kiara menurut, menyandarkan jemarinya pada gelas hangat itu tanpa berniat meminumnya. "Papa udah berangkat, Ma?"
Mama menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Subuh tadi Papa udah berangkat ke luar kota lagi. Kia... Mama mau minta maaf ya atas sikap Papa kemarin sore. Papa kamu cuma... dia kaget dan kepancing emosi karena dengar laporan sepihak dari sekolah."
"Tapi Papa nggak pernah mau dengerin Kia, Ma," potong Kiara lirih, menatap lurus ke dalam cangkir tehnya. "Papa selalu mikir Kia yang bikin ulah. Papa cuma takut nama baiknya tercoreng, bukan takut anak perempuan satu-satunya kenapa-napa."
"Nggak gitu, Nak... Papa cuma salah paham," bisik Mama, merengkuh tangan Kiara yang dingin. "Maafin Mama juga ya, sayang. Mama nyesel banget... Mama ngerasa gagal jadi pelindung kamu."
Kiara mendongak, menatap wajah Mamanya yang penuh rasa bersalah. Hatinya yang tadinya membeku perlahan melunak.
"Nggak, Ma. Mama nggak gagal kok," tutur Kiara tulus. Ia memegang kembali tangan Mamanya. "Justru Kia yang ada salah sama Mama. Kemarin Mama sampai ikut disalahin sama Papa. Ma... kalau Mama mau balik sibuk kerja lagi di kantor kayak biasanya, nggak apa-apa kok. Udah seminggu ini Mama cuma WFH terus gara-gara nemenin Kia yang abis sakit."
Mama menggeleng cepat, matanya kembali berkaca-kaca. "Nggak akan, Kia. Masalah kerjaan bisa Mama atur. Tapi nemenin dan jagain kamu itu nggak bisa digantiin sama apa pun. Mama nggak mau kehilangan momen sama kamu lagi. Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, cerita sama Mama ya?"
Kiara tersenyum tipis, mengangguk pelan. Rasa hangat yang sempat hilang kini kembali menyelimuti dada mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di area parkir sekolah, Mama Kiara berpapasan dengan Bunda Neona yang baru saja turun dari mobilnya.
"Mamanya Kiara, ya?" sapa Bunda Neona ramah seraya mendekat.
Mama Kiara ikut mendekat dan menyapa. "Iya, betul. Berarti ini dengan Bundanya Neona?"
Bundanya Neona mengangguk, mereka memang sudah saling menghubungi lewat pesan saat surat panggilan sampai ke rumah.
"Bun, ya ampun... maafin saya dan Kia, ya," ucap Mama Kiara merasa enak hati. "Gara-gara masalah kemarin, Neona jadi ikut kena imbasnya dan dipanggil ke BK hari ini."
Bunda Neona langsung melambaikan tangan, menggeleng tegas. "Aduh, Mama Kiara jangan ngomong gitu! Nggak ada yang perlu dimintain maaf. Justru saya malah bangga sama Neona. Kalau saya ada di posisi Neoana kemarin, saya juga pasti bakal pasang badan ngebela sahabat saya sendiri dari cewek-cewek perundung kayak begitu!"
Belum selesai mereka berbicara, sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di samping mereka. Pintu terbuka dan keluar sosok wanita dengan gaya anggun namun elegan—Mama Khafi.
"Mbak Riana!" sapa Mama Khafi dengan raut wajah cerah sekaligus cemas. Beliau langsung berjalan cepat dan melebarkan tangan, merengkuh Mama Kiara ke dalam pelukan hangat.
"Aduh, maaf ya, Mbak. maaf banget saya baru dapet cerita detailnya semalem dari Khafi!" tutur Mama Khafi setelah melepas pelukannya.
Mama Kiara yang kini sedang memegang lengan Mama Khafi menggeleng tegas seraya berkata. "Nggak ada yang salah kok di antara kita di sini, yang salah tetap anak yang merundung Kia itu,"
Mama Khafi lalu berkenalan singkat dengan Mama Neona sebelum kembali menatap Mama Kiara serius. "Mbak, tenang aja ya, hari ini saya ikut masuk ke ruang BK. Anak saya yang bikin ulah sampai cewek gila itu nyerang Ara, jadi saya yang bakal maju paling depan di dalam nanti!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suasana di dalam ruang BK langsung berubah mencekam begitu mediasi dimulai. Di satu sisi sofa, duduk Mama Selly dengan tas branded di pangkuannya dan dagu terangkat tinggi, menatap sinis ke arah para orang tua yang hadir.
"Saya nggak terima ya, Bu Beyin!" semprot Mama Selly sembari menggebrak meja dengan kipas di tangannya. "Lihat anak saya, Selly! Psikologisnya terguncang, fisiknya memar gara-gara dikeroyok dan dipermalukan dua anak ini di kantin! Ini tindakan kriminal! Pihak sekolah harus keluarkan mereka bertiga, atau saya bawa kasus ini ke jalur hukum!"
"Mohon tenang dulu, Ibu," potong Bu Beyin mencoba menengahi. "Berdasarkan bukti rekaman CCTV yang kami terima—"
"CCTV apa?!" potong Mama Selly tajam. "Anak saya itu cuma bercanda dan nggak sengaja nyenggol jus! Tapi anak-anak ini balasan fisiknya keras banget! Anak-anak tidak berpendidikan!"
CLAK!
Mama Khafi meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan ketukan tegas, lalu menyilangkan kakinya seraya menatap Mama Selly dari atas ke bawah dengan senyum dingin.
"Permisi ya, Bu..." suara Mama Khafi terdengar santai namun sangat menusuk. "Tolong mulutnya disaring kalau ngomong. Yang nggak berpendidikan itu siapa? Anak Ibu yang cegat anak orang di tangga, ngancam, dan nyiram jus duluan, atau anak-anak ini yang ngebela diri?!"
"Siapa kamu ikut campur?! Kamu bukan ibunya Kiara!" bentak Mama Selly murka.
"Saya ibunya Khafi Mahendra!" tegas Mama Khafi, tatapannya mendadak menajam. "Anak anda itu obsesi berlebihan sama anak saya sampai berani ngelakuin aksi bullying dan pengancaman ke Kiara! Kalau anda mau bawa ke jalur hukum, ayo! Hari ini juga saya panggilkan tim pengacara keluarga saya buat usut tuntas kasus bullying anak anda lakukan dari kemarin-kemarin. Kita buka sekalian di depan media. Gimana? Berani?"
Mama Selly seketika bungkam. Wajahnya yang tadi merah padam mendadak pucat pasrah. Ia tahu betul siapa keluarga Mahendra dan kekuatannya. Bu Beyin hanya bisa menghela napas lega melihat skakmat sempurna dari Mama Khafi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di kelas XI IPS 2, suasana sedikit canggung. Khafi melangkah mendekati meja Kiara yang sedang duduk menyendiri sambil menopang dagu.
"Kuntil..." panggil Ghibran pelan, menarik kursi di depan Kiara lalu duduk menghadapnya.
Kiara mendongak datar. "Apa?"
"Badan sama muka lo ada yang sakit? Kemarin sempet kena benturan nggak?" tanya Khafi dengan mata menatap lekat setiap inci wajah Kiara.
Kiara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memasang wajah sok kuat andalannya. "Aman. Gue nggak apa-apa ya, Khafi. Muka gue masih utuh, nggak usah berlebihan deh."
Khafi mendengus pelan, menatap gemas sekaligus prihatin pada cewek di depannya. "Nggak usah sok kuat di depan gue. Mata lo sembab gitu bilang nggak apa-apa. Nyokap gue lagi di bawah sama nyokap lo, dia bakal beresin si Selly sama emaknya."
Kiara menghela napas pelan. "Ngapain coba nyokap lo pakai ikut-ikutan ke BK segala... Padahal kan yang dipanggil cuma nyokap gue sama nyokap Neona."
Khafi menatap mata Kiara dalam-dalam, suaranya melunak. "Biar nyokap lo nggak nanggung beban sendiri. Dan biar lo tahu... ada banyak orang yang berdiri di pihak lo sekarang."
Kiara termenung, lidahnya mendadak kelu mendengar ucapan cowok itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat jam istirahat tiba dan urusan BK selesai dengan kemenangan mutlak di pihak mereka. Kiara, Neona, dan Khafi menghampiri ibu mereka yang sedang berjalan menuju area parkir.
Mama Khafi yang baru keluar dari koridor langsung melebarkan tangannya begitu melihat Kiara berjalan mendekat. "Ara, sayang..."
Tanpa ragu, Kiara mendekat dan dalam sekejap tubuh mungilnya tenggelam dalam pelukan hangat Mama Khafi. Usapan lembut di punggungnya terasa begitu tulus dan menenangkan—sebuah pelukan hangat yang sangat dibutuhkan Kiara untuk mengobati rasa sakit hatinya pada Papanya kemarin.
"Maafin Khafi ya, Nak... Gara-gara anak Tante yang kegantengan tapi agak sembrono ini, kamu jadi harus kena masalah begini," bisik Mama Khafi terkekeh pelan di telinga Kiara.
Kiara tersenyum tulus di balik pelukan itu, membalas pelukan Mama Khafi dengan erat. "Nggak apa-apa, Tante... Makasih banyak ya udah ngebela Ara dan Mama di dalam tadi."
Di sisi lain, Khafi berjalan menghampiri Mama Kiara. Cowok tinggi itu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan wanita di depannya.
"Tante Riana... saya minta maaf yang sebesar-besarnya," tutur Khafi tulus, suaranya terdengar penuh rasa bersalah. "Gara-gara saya dan masalah di sekitar saya, Ara jadi harus nanggung beban dan kena perlakuan nggak enak kayak gini. Saya janji bakal jagain Ara lebih ketat lagi setelah ini."
Mama Kiara menatap Khafi hangat, lalu mengulas senyum lembut sambil menepuk lengan cowok itu pelan. "Nggak apa-apa, Khafi. Tante tahu kamu anak baik dan kamu udah berusaha lindungin Kia. Makasih ya udah selalu ada buat Kia."