Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:758.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Budi benar-benar tidak menyangka akan mengalami kejutan seperti ini. Rasa penasarannya tentang acara apa ini, akhirnya terjawab. Ia diminta pura-pura menjadi calon suami Jena.

Bu Asri yang baru saja keluar, langsung memperhatikan Budi dengan seksama. Wanita itu tersenyum, Budi terlihat sopan, baik, dan...tampan.

“Mah, kenalin. Ini Budi.”

Budi tersenyum kaku. Ia hanya menurut saat Jena menggamit lengannya ke arah sang Mama.

"Malam Tante." Budi mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan Bu Asri.

Bu Asri menyambut tangan Budi, bahkan tersenyum saat laki-laki itu salim padanya. "Saya Asri, Mamanya Jena. Ayo masuk!" Nada suaranya ramah, sesuai dengan wajahnya.

Budi mengangguk sambil tersenyum kaku.

Bu Asri masuk lebih dulu, lalu disusul Jena dan Budi di belakangnya.

“Jen, apa-apaan ini?” bisik Budi, panik.

Jena tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

“Udah, kamu ikutin alur yang kubuat aja.”

“Tapi—”

“Bayarannya gede.”

Budi menghela nafas berat. Kalimat itu berhasil membuatnya menelan semua protes yang sudah hampir keluar dari mulut. Bukan soal bayaran, tapi soal kenyataan, jika saat ini, dia hanya sedang bermain peran, bukan benar-benar menjadi calon suami Jena.

“Mah, Budi bawa sesuatu buat Mama.” Ujar Jena saat mereka sudah tiba di ruang tamu.

“Oh, ya?” Bu Asri menatap Budi penuh perhatian.

Budi ikut menatap wanita itu dengan wajah bingung. Sesuatu? Apa? Ia bahkan tidak tahu kalau dirinya harus membawa sesuatu.

Budi melirik Jena, wanita itu malah terlihat menahan tawa.

“Roti bakarnya,” bisik Jena.

Budi langsung tersadar. “Oh!” Ia buru-buru mengangkat kantong yang sejak tadi dibawanya. “Oh, ini, Tante. Saya... bawakan roti bakar. Semoga Tante suka.”

Bu Asri tersenyum, menerima kantong yang disodorkan Budi. “Wah, terima kasih.” Aroma dari dalam tercium samar-samar. "Kayaknya enak."

"Enak banget Mah, pokoknya pasti Mama suka," ujar Jena. "Eh, duduk Sayang."

Budi kaget beberapa detik karena panggilan sayang itu, tapi untungnya ia segera bisa menguasai dirinya. Ia duduk, meski gerakannya agak canggung. Sementara Jena, duduk tepat di sebelahnya.

"Santai aja Budi." Bu Asri hampir tak bisa menahan tawa melihat kegugupan Budi. "Tante baru tahu loh, kalau ternyata Jena punya pacar."

Jena dan Budi saling tatap.

"Sebenarnya gak pacaran sih Mah, cuma deket. Lalu pas aku cerita ke Budi kalau Papa mau jodohin aku, dia langsung nyatain cinta dan bilang mau melamar aku."

Budi menelan ludah susah payah, perannya kali ini ternyata lebih susah daripada yang kemarin, meski mungkin orang yang dihadapi lebih sedikit.

"Wah, Tante suka sama laki-laki seperti itu, bukan banyak janji manis, tapi langsung ngasih bukti, berani ngajak serius."

Untuk beberapa saat, semuanya berjalan lancar. Mereka mengobrol santai, tapi lebih banyak Jena yang menjawab daripada Budi. Sampai suara langkah kaki terdengar dari arah dalam.

Seorang pria paruh baya dengan penampilan berwibawa memasuki ruang tamu. Pak Andika.

Begitu melihat pria itu, keberanian Budi yang tadi mulai terkumpul mendadak menghilang lagi.

“Budi,” panggil Jena. “Itu Papa aku.”

Budi langsung berdiri, tersenyum kaku sambil sedikit membungkuk sopan.

“Pah, kenalin ini Budi."

Pak Andika mendekati sofa, bersalaman dengan Budi, lalu duduk di samping istrinya.

Tatapannya langsung tertuju kepada Budi. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Hanya tatapan seorang ayah yang sedang menilai pria yang tiba-tiba datang ke rumahnya sebagai calon suami putrinya.

“Jadi, kamu pacarnya Jena?”

Budi yang sudah kembali duduk, mengangguk meski agak ragu. “Iya, Pak.”

“Kerja apa?”

Pertanyaan sederhana itu mendadak terasa seperti ujian nasional. Budi melirik Jena. Jena hanya mengangkat alis, seolah berkata, jawab sendiri.

Budi menelan ludah. “Saya...”

Ia berhenti. Sial! Jena tidak pernah memberinya briefing. Tidak ada nama pekerjaan palsu. Tidak ada perusahaan fiktif. Tidak ada cerita keluarga 3 lembar seperti waktu itu. Bahkan ia baru tahu kalau dirinya akan diperkenalkan sebagai calon suami beberapa menit lalu.

“Kerja apa, Budi?” ulang Pak Andika, terlihat sangat penasaran.

Budi semakin gugup. “Saya...”

“Dia jualan roti bakar, Pah." Jena akhirnya yang menjawab.

Pak Andika dan Bu Asri langsung saling pandang. Bu Asri tampak sedikit terkejut, tetapi ia berusaha tetap tersenyum.

“Oh... punya kafe ya?” tebak Bu Asri.

Budi kembali membeku. Ia menatap Jena dengan wajah meminta pertolongan.

Jena menghela napas kecil. “Bukan, Mah.” Ia kemudian menatap papa dan Mamanya bergantian. “Dia jualan roti bakar di pinggir jalan.”

Suasana ruang tamu mendadak hening. Budi ingin menghilang saat itu juga. Ia bingung dengan skenario Jena. Ia disuruh mengikuti alur yang dibuat, tapi seperti apa alur itu, ia tak tahu.

Budi melirik wanita di sampingnya. Tapi Jena justru sedang menatap papanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Seolah ia sengaja membawa Budi ke hadapan orang tuanya hanya untuk melihat satu hal. Seperti apa ekspresi Pak Andika ketika mengetahui pria yang disebutnya calon suami itu hanyalah seorang penjual roti bakar pinggir jalan?

Pak Andika masih diam. Tatapannya berpindah dari Jena kepada Budi. Lalu kembali kepada Jena.

“Roti bakar?”

“Iya, Pah.” Jawab Jena mantap.

“Jualan di pinggir jalan?” Pak Andika seperti sedang memastikan sekali lagi, takut salah dengar.

“Iya.” Kali ini, jawaban Jena lebih santai.

Budi semakin salah tingkah. Apa Jena sudah gila,. memperkenalkan seorang penjual roti bakar pada kedua orang tuanya sebagai calon suami? Sebenarnya apa rencana Jena, apa yang diinginkan gadis itu?

"Jen, kamu gak sedang bercanda, kan?" Bu Asri coba mencairkan suasana yang terasa mulai tegang.

"Enggak, Mah." Jena meraih tangan Budi, menggenggamnya. "Budi memang cuma seorang penjualan roti bakar di pinggir jalan, tapi Jena mencintainya."

Pak Andika mendengkus, lalu bangkit dari duduknya. “Sepertinya obrolan ini tidak perlu dilanjutkan.”

Budi langsung menegakkan tubuh, gelisah.

Pak Andika menatapnya dingin. “Kamu boleh pulang.”

Budi terdiam. Ia melirik Jena, berharap wanita itu segera mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa semuanya hanya sandiwara dan ia bisa pergi.

Namun Jena justru berdiri. “Kenapa nggak dilanjutkan, Pah?”

Pak Andika mengernyit. “Jena.”

“Kenapa nggak langsung membahas soal pernikahan?”

Budi langsung menoleh. Pernikahan? Ia nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Jena.

Jena tetap berdiri dengan wajah tenang. “Kami berdua sudah sama-sama siap menikah. Mau nunggu apalagi?”

“Jena...” Bu Asri mencoba memperingatkan.

“Papa sama Mama ingin aku cepat menikah, kan? Mama khawatir aku gak segera nikah, dan Papa pengen segera punya cucu laki-laki. Lalu mau menunggu apalagi?"

Pak Andika menatap putrinya tidak percaya. “Jena, Papa tidak sedang ingin bercanda."

“Jena juga tidak sedang bercanda, Pah."

“Laki-laki ini...” Pak Andika menunjuk Budi. “Kamu serius mau menikah dengannya?”

“Iya.”

Pak Andika tertawa pendek, tetapi sama sekali tidak terdengar lucu. “Dia tidak pantas untuk kamu.”

Budi semakin salah tingkah. Ia ingin membela diri, tetapi merasa tidak punya hak untuk ikut campur. Bagaimanapun, dirinya memang hanya penjual roti bakar yang sedang berpura-pura menjadi calon suami Jena.

Jena justru menatap ayahnya santai. “Lalu seperti apa yang pantas?”

Pak Andika terdiam.

“Harus kaya?” Jena melangkah mendekati Papanya. “Harus punya perusahaan?”

“Jena, cukup!"

“Harus punya jabatan tinggi supaya kelihatan pantas berdiri di sampingku? Atau...harus punya hubungan darah dengan pelakor?"

“Jena!”

Jena tertawa sinis. “Kenapa aku gak pantas menikah dengan penjual roti bakar, kalau Papa saja, menikah dengan LC."

Ruangan seketika membeku. Bu Asri membelalakkan mata. Budi bahkan hampir lupa bernapas.

“Jena!” bentak Pak Andika, kedua telapak tangannya terkepal. "Jangan kurang ajar!”

“Kenapa? Apa orang yang mencari nafkah secara halal, bekerja keras setiap hari, tidak lebih baik daripada—”

“Jena!”

Plak!

1
aisyah
tapi aku nggak kasihan, gimana dong 🤭🤣
Oma Gavin
akhirnya juwita sudah memanen karma nya tinggal tunggu waktu mati saja sayang nya belum tobat habis ini pasti naura diajak ikut andhika bikin jena marah dan ngga mau lagi ketemu ayah nya
Putusri Martini
ceritanys menarik 👍👍
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!