hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 21
Raja Draven menatap wajah putranya yang pucat dan lemas, napasnya tersengal lemah seakan nyawanya perlahan melayang menjauh. Hatinya perih teriris melihat darah dagingnya sendiri menderita demikian, namun tekadnya seketika membaja bagaikan batu karang yang tak tergoyahkan.
Dengan suara yang rendah namun penuh ketegasan dan janji suci yang tak akan pernah dipungkiri, ia berseru lantang kepada dirinya sendiri di hadapan langit istananya:
"Dia adalah ANAKKU! Dan AKU AKAN MENYELAMATKANNYA! Biarpun harus kupertaruhkan nyawaku sendiri... biarpun harus kuserahkan jiwaku sebagai gantinya... AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANNYA PERGI!"
Tanpa ragu sedetik pun, Draven duduk bersila di tepi tempat tidur lebar tempat Leon terbaring lemah. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas dada kecil Leon, lalu mulai mengerahkan seluruh tenaga dalam dan kekuatan sihir tertinggi yang dimilikinya.
Cahaya merah menyala bercampur keemasan seketika memancar dari seluruh tubuhnya, begitu terang dan hangat hingga memenuhi ruangan luas itu, menyelimuti tubuh Leon dengan lembut namun penuh kekuatan dahsyat.
Peluh deras mulai membasahi kening Rajanya, napasnya perlahan mulai tersengal berat, wajahnya perlahan kehilangan rona kemerahan dan berubah menjadi pucat pasi.
Setiap tetes tenaga yang ia salurkan ke tubuh putranya seakan menguras separuh nyawanya sendiri, namun tak sekalipun ia berniat berhenti. Matanya tetap menatap lekat wajah Leon, penuh kasih sayang sekaligus keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Ia terus mengalirkan kekuatan itu tanpa henti, membiarkan dirinya melemah demi memulihkan putranya, membiarkan tubuhnya terasa berat dan pandangannya mulai kabur asal saja nyawa Leon tetap terjaga di dunia ini.
Elizabeth berdiri tak jauh dari sana, menekan mulutnya menahan isak tangis yang hampir meledak. Matanya berkaca-kaca menyaksikan betapa besar pengorbanan yang dilakukan Draven—bahkan sebelum Leon sempat memanggilnya ayah sepenuhnya, pria itu sudah rela memberikan separuh nyawanya demi menyelamatkan putranya.
Dan perlahan-lahan, di tengah cahaya yang semakin redup namun tetap hangat itu, napas Leon yang tadinya tersengal lemah perlahan menjadi teratur dan kuat.
Wajah kelabunya perlahan kembali merona segar. Rasa sakit yang menyiksa tubuhnya surut perlahan bagaikan air surut di pantai.
Secara perlahan namun pasti, kelopak mata kecil Leon yang berat itu perlahan terangkat. Sepasang mata merah menyala yang persis sama dengan mata Rajanya itu terbuka perlahan, menatap lurus ke wajah ayahnya yang tampak pucat dan lemas namun tersenyum lega di hadapannya.
Bibir kecil Leon melengkung membentuk senyum yang begitu tulus, lembut, dan penuh kebahagiaan yang tak terlukiskan.
Dengan suara yang masih lemah namun jernih dan penuh kepastian, ia berbisik pelan namun menembus hingga ke lubuk hati terdalam Draven:
"Ayah... Kami... akhirnya menemukanmu..."
Draven menahan napas seketika mendengar panggilan itu. Melihat senyum di wajah putranya yang kini pulih kembali, rasa lelah dan berat yang menyelimuti tubuhnya seketika lenyap begitu saja. Ia tak lagi merasakan sakit atau kelelahan. Di hadapan senyum itu, pengorbanannya terasa sebanding dengan segala hal di dunia ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh kasih sayang, Draven mengusap lembut pipi putranya, lalu mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan pelan. Air mata kelegaan yang tak pernah ia tumpahkan seumur hidupnya kini menetes perlahan dari sudut matanya.
"Ya... Ayah di sini... Ayah tidak akan pernah pergi lagi..." bisiknya bergetar penuh haru. "Dan Ayah berjanji... tak akan ada yang berani menyakitimu lagi... selamanya..."