"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: AMBANG AMBISI DAN BENTENG SUCI
Srak... Srak...
Salju di benua utara turun semakin lebat, menimbun jalur setapak yang mereka lalui dengan timbunan es putih yang kian meninggi. Badai di wilayah perbatasan ini seolah tidak mengenal lelah, terus menghantam jubah hitam Mo Xie yang koyak-koyak hingga menyisakan lapisan embun beku tipis di pundaknya.
Namun, baik Mo Xie maupun Xue Qingyue tetap melangkah tanpa henti, membelah dinginnya malam yang kian pekat.
Di tengah deru angin yang menusuk tulang, Xue Qingyue tiba-tiba memecah kesunyian malam yang mencekam.
"Dan... soal wanita bernama Yurou itu," ucap Xue Qingyue pelan, matanya tetap memandang lurus ke depan, namun nada suaranya menyiratkan kehati-hatian yang mendalam.
"Kau sempat menyebut namanya saat kau tidak sadarkan diri setelah pertempuran pertama. Siapa dia sebenarnya?"
Mo Xie seketika terdiam di posisinya. Langkah kakinya terasa berat, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena beban tak kasat mata yang mendadak menghantam dadanya mendengar nama itu terucap dari bibir orang lain.
Mata kanannya yang hitam pekat meredup, menatap kosong ke arah butiran salju yang berterbangan di depan wajahnya.
Bayangan buram dan tidak utuh itu kembali berputar mengusik benak Mo Xie.
Hamparan rumput hijau yang hangat, tawa renyah seorang gadis berambut keemasan yang menenangkan jiwanya, hingga hari-hari tenang sebelum langit mendadak terbelah menjadi merah darah.
"Dia..." Mo Xie menjeda kalimatnya, suaranya parau. "Entahlah... aku merasa ingatan tentangnya baru terjadi beberapa hari lalu, tapi..."
Mo Xie menghentikan ucapannya di sana. Ia tidak sanggup melanjutkan kilas balik buram tentang bagaimana tangan gadis itu memudar menjadi serpihan cahaya di depan matanya sendiri—bagaimana ia hanya bisa menggapai kekosongan tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih kebingungan dengan apa yang menimpa dirinya dan dunia ini.
Kepalan tangan kanan Mo Xie yang terbalut kain hitam semakin mengencang, sampai-sampai sisa Qi Kegelapan di lengannya berdenyut samar akibat gejolak emosi di batinnya.
"...yang pasti, dia adalah penyesalanku saat ini," lanjut Mo Xie dengan suara yang sangat rendah, dingin, dan sarat akan kepedihan mendalam.
Xue Qingyue melirik Mo Xie dari sudut matanya. Praktisi wanita itu bisa merasakan perubahan drastis pada hawa keberadaan Mo Xie—sebuah rasa kehilangan yang dalam dari ingatan yang belum utuh.
Sebagai seseorang yang telah hidup lama di tanah yang runtuh ini, Xue Qingyue memahami kepedihan itu tanpa perlu memaksa pemuda di sampingnya menjelaskan lebih jauh.
"Runtuhnya benua ini meninggalkan banyak kepedihan, Mo Xie," ucap Xue Qingyue dengan nada yang sedikit melembut.
Ia menghentikan langkahnya sejenak, menoleh menatap mata hitam Mo Xie.
"Namun penyesalan hanya akan menjadi iblis hati yang menghambat kemajuanmu di ranah Mortal. Jika kau ingin mencari jawaban atas ingatanmu yang terputus—atau mencari keberadaan gadis itu—kau harus melampaui batas kekuatanmu saat ini."
Kata-kata Xue Qingyue bergema di telinga Mo Xie, memicu percikan tekad baru di tengah badai salju yang kian mengamuk.
Mo Xie menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan poni rambut hitamnya menutupi ekspresi wajahnya yang sempat goyah oleh bayang-bayang masa lalu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat, hanya diiringi deru badai di sekeliling mereka.
Hingga akhirnya, Mo Xie menarik napas panjang, menghirup udara dingin pekat bercampur sisa-sisa abu belerang, lalu menegakkan kembali tubuhnya dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Mata kirinya bersinar biru gletser dingin, sementara mata kanannya kembali mengunci pandangan ke depan dengan tekad yang kokoh.
"Kau benar, Xue Qingyue," ucap Mo Xie, suaranya kini terdengar mantap. "Bila aku tetap berada di ranahku yang sekarang... aku tidak akan pernah menemukan jawaban apa pun."
Ia mengepalkan tangan kanannya yang terbalut kain hitam.
Rasa dingin dari Inti Es Abadi di dadanya seolah mengalir bersinergi dengan tekadnya, memberikan dorongan yang menenangkan gejolak korosi dari Pedang Kehampaan di lengannya.
"Ranah Mortal tidak akan pernah cukup," lanjut Mo Xie dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Aku harus melampaui batas ini. Aku harus naik ke ranah Awakened, Sovereign, atau bahkan lebih tinggi lagi jika itu diperlukan untuk menyingkap kebenaran tentang Yurou... dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ini."
Xue Qingyue yang berjalan di sampingnya mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat.
"Bagus. Pertahankan api itu di dalam dadamu, Mo Xie. Perjalananmu masih sangat panjang," sahut Xue Qingyue tegas.
Setelah menyusuri badai es selama sehari semalam, langkah mereka akhirnya terhenti. Di depan mereka, sepasang pilar es raksasa berdiri megah bagai raksasa penjaga.
Di balik pilar-pilar tersebut, Kawah Refleksi Es membentang luas, memantulkan cahaya merah samar dari langit malam yang bergejolak. Di tengah kawah tersebut, siluet megah Benteng Es Abadi—singgasana Ketua Agung Han Wuyan—berdiri kokoh menantang badai.
Langkah mereka berdua kini semakin dekat dengan gerbang utama sekte, di mana babak baru dari takdir Mo Xie akan dimulai.
"Ingat, jaga ucapanmu mulai sekarang..." bisik Xue Qingyue, menghentikan langkahnya sejenak tepat di bawah bayang-bayang pilar es raksasa yang menandai batas wilayah suci sekte.
Angin badai di sini mendadak berangsur reda, digantikan oleh hawa beku yang begitu sunyi, murni, dan pekat.
"Kemarin mungkin Ketua Agung masih bisa memaklumi kelancanganmu karena kau baru saja terselamatkan. Tapi sekarang, kau sudah tahu siapa beliau, dan kau tahu siapa dirimu."
Mo Xie menatap gerbang es di hadapannya yang memancarkan tekanan aura spiritual begitu masif, hingga membuat atmosfer di sekeliling mereka terasa berat untuk dihirup. Udara dingin di tempat ini seakan mampu membekukan sirkulasi darah seorang praktisi Mortal hanya dalam sekejap jika tidak memiliki tekad yang kuat.
"Aku tahu," jawab Mo Xie dengan nada datar namun realistis.
Ia merapikan kain hitam yang mengikat pergelangan tangannya, memastikan keberadaan tanda Pedang Kehampaan tertutup rapat.
Mo Xie sadar betul akan posisinya. Di hadapan Han Wuyan—sang legenda hidup di ranah Ascendant—ia hanyalah sebutir debu di ranah Mortal. Kesenjangan kekuatan di antara mereka bagaikan jurang terdalam yang tak mungkin diseberangi dengan sekadar keberanian kosong. Jika ia ingin melangkah lebih jauh dan menguak misteri ingatan di dalam dirinya, ia harus menunjukkan sikap yang tepat kepada sosok yang mampu melindunginya dari faksi luar.
Xue Qingyue mengangguk pelan, merasa puas dengan kedewasaan sikap yang ditunjukkan Mo Xie. Ia kemudian mengulurkan tangannya ke depan gerbang es.
Wuuush...
Pintu gerbang kristal es setinggi puluhan meter itu perlahan bergeser terbuka tanpa suara, memancarkan kabut putih dingin yang pekat ke arah mereka. Konsentrasi Qi di dalam lingkup sekte terasa sepuluh kali lebih pekat daripada di luar.
Setelah melangkah masuk, mereka menyusuri lorong batu yang membeku menuju Aula Agung. Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan pintu aula utama.
Pintu gerbang es itu perlahan terbuka lebar.
Dari dalam kegelapan Aula Agung yang megah, sebuah aura keberadaan yang teramat sangat kuat, kuno, dan agung perlahan-lahan menyelimuti kesadaran mereka. Han Wuyan tengah menunggu di dalam.
"Ayo," ajak Xue Qingyue seraya melangkah masuk terlebih dahulu dengan gerakan anggunnya.
Dengan dada yang berdegup kencang namun dipenuhi tekad mutlak, Mo Xie melangkah di belakang Xue Qingyue, bersiap menghadapi sang Ketua Agung Sekte Es Abadi.