Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah yang Mirip
Pertemuan pertama dengan Bagas Wirawan Pradana berlangsung di kantor firma hukum netral, dipilih sebagai tempat aman bagi kedua belah pihak untuk membahas klaim yang diajukan. Alya duduk di samping Raka, memperhatikan pria muda yang baru saja memasuki ruangan itu dengan seksama.
Bagas berusia sekitar akhir dua puluhan, mengenakan setelan jas rapi meski tidak semewah yang biasa dikenakan Raka. Wajahnya memang memiliki kemiripan yang tidak bisa disangkal dengan mendiang ayah Raka bentuk rahang, alis tebal, bahkan cara dia tersenyum tipis penuh percaya diri saat memasuki ruangan.
"Terima kasih sudah bersedia bertemu," kata Bagas, suaranya ramah, jauh dari kesan licik yang mungkin dibayangkan Alya sebelumnya. "Aku tahu ini pasti mengejutkan bagi kalian semua. Sejujurnya, ini juga mengejutkan bagiku."
"Ceritakan yang sebenarnya," kata Raka langsung, nadanya tegas namun tidak kasar, mencoba menjaga profesionalitas meski jelas ada ketegangan tersembunyi. "Bagaimana kau bisa sampai pada klaim ini?"
Bagas menghela napas, duduk di kursi seberang mereka. "Ibuku meninggal dua tahun lalu karena kanker. Sebelum meninggal, dia menceritakan padaku bahwa ayah kandungku sebenarnya adalah pengusaha terkenal bernama Wirawan Pratama ayahmu. Dia bekerja sebagai sekretaris pribadinya selama beberapa tahun di awal karier ayahmu, sebelum akhirnya... hubungan mereka menjadi lebih dari sekadar atasan dan bawahan."
Alya memperhatikan reaksi ibu Raka yang duduk agak menjauh, wajahnya tegang namun berusaha tetap tenang mendengar cerita itu.
"Ibuku memilih untuk tidak pernah menghubungi keluarga kalian," lanjut Bagas, "karena dia tidak ingin merusak rumah tangga ayahmu, dan dia cukup mandiri secara finansial untuk membesarkanku sendirian. Aku hanya mengetahui identitas ayah kandungku setelah dia meninggal, lewat surat wasiat dan beberapa dokumen pribadi yang dia simpan."
"Kenapa baru sekarang kau mengajukan klaim, bukan segera setelah ibumu meninggal dua tahun lalu?" tanya kepala tim hukum Wirawan yang duduk mendampingi Raka, matanya menyipit penuh kecurigaan profesional.
Bagas tersenyum tipis, seolah sudah mengantisipasi pertanyaan itu. "Jujur saja, awalnya aku tidak berniat mengklaim apa pun. Aku hanya ingin tahu identitas ayahku, tanpa maksud mengganggu kehidupan kalian. Tapi setelah melihat skandal yang menimpa keluarga ini beberapa waktu lalu, aku merasa mungkin sudah saatnya aku juga dikenal sebagai bagian dari keluarga ini bukan untuk merebut apa pun, tapi sekadar diakui keberadaanku."
"Tapi kau mengajukan gugatan hak waris, bukan sekadar permintaan pengakuan," potong Raka tajam. "Itu dua hal yang sangat berbeda."
Bagas mengangguk, tidak terlihat gugup sedikit pun mendengar tuduhan tersirat itu. "Pengacara yang aku sewa menyarankan pendekatan hukum formal, katanya lebih efektif untuk memastikan klaim ini ditanggapi serius, bukan diabaikan begitu saja. Aku akui caranya mungkin terkesan agresif, tapi niatku sebenarnya sederhana — aku hanya ingin diakui sebagai bagian dari keluarga ini."
Alya memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Bagas, mencoba membaca ketulusan di baliknya. Ada sesuatu yang terasa terlalu mulus, terlalu rapi dalam penjelasannya, meski dia tidak bisa menunjuk dengan pasti apa yang membuatnya waspada.
"Kami akan melakukan tes DNA independen untuk memverifikasi klaimmu," kata Raka akhirnya, suaranya tegas namun adil. "Jika memang benar kau adalah saudara kandungku, aku tidak akan menutup pintu untuk mengenalmu sebagai keluarga. Tapi soal hak waris, itu perlu dibicarakan terpisah, dan sepenuhnya tergantung pada apa yang secara hukum memang menjadi hakmu."
Bagas mengangguk setuju, tersenyum tipis. "Itu yang aku harapkan, sejujurnya. Aku tidak ingin memaksa apa pun. Aku hanya ingin kesempatan mengenal keluarga ayahku."
Setelah pertemuan itu selesai dan Bagas pamit meninggalkan ruangan, ibu Raka duduk terdiam lama, matanya menerawang jauh. "Wajahnya... persis seperti suamiku dulu, di usia yang sama," gumamnya pelan.
"Ibu percaya ceritanya?" tanya Raka hati-hati.
Ibu Raka menghela napas panjang. "Aku tidak tahu harus percaya apa lagi setelah semua yang terjadi belakangan ini. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam caranya bicara yang membuatku merasa tidak sepenuhnya nyaman, meski aku tidak bisa menjelaskan alasannya."
Alya mengangguk pelan, merasakan kegelisahan yang sama. "Aku juga merasakan hal serupa, Bu. Semuanya terdengar meyakinkan, tapi entah kenapa terlalu... rapi."
Malam itu, setelah kembali ke rumah, Alya duduk di ruang kerjanya, mencoba mencari informasi lebih lanjut tentang Bagas melalui berbagai sumber publik yang bisa dia akses. Setelah pencarian panjang, dia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya — sebuah artikel bisnis lama yang menyebutkan nama Bagas sebagai mantan karyawan di sebuah perusahaan investasi yang beberapa tahun lalu terlibat sengketa hukum dengan grup usaha pesaing Wirawan Group.
Alya menatap layar laptopnya lama, dahinya berkerut penuh kecurigaan. Dia segera mengambil ponselnya, menghubungi Raka yang sedang berada di ruang kerjanya sendiri.
"Raka," katanya cepat begitu suaminya mengangkat telepon, "aku rasa aku menemukan sesuatu yang perlu kau lihat sekarang juga."