"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Rasa yang sudah hilang
Fitri terkekeh pelan, sebuah tawa sinis yang mengiris sisa harga diri Adam hingga hancur berkeping-keping.
"Hak?" tanya Fitri tajam. "Setelah semua yang Anda lakukan dulu? Anda membentak saya, merendahkan almarhum ibu Anda sendiri, dan mengusir saya demi wanita pilihan Anda. Sekarang, saat saya sudah berdiri di atas kaki sendiri dan membesarkan anak ini tanpa bantuan satu rupiah pun dari Anda, Anda datang dan bicara soal hak?"
Kata-kata Fitri meluncur lurus, menghantam tepat di ulu hati Adam sampai pria itu tak sanggup menyusun kata pembelaan.
"Dengarkan saya baik-baik, Pak Adam," lanjut Fitri dengan intonasi rendah yang sarat ketegasan seorang ibu berpendirian baja. "Aiden tumbuh besar dengan kasih sayang yang utuh tanpa bayang-bayang sosok ayah yang tidak bertanggung jawab. Tolong hargai batas ini. Jangan pernah muncul di depan anak saya lagi, atau saya tidak akan ragu membawa hal ini ke jalur hukum atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan."
Tanpa menunggu balasan lagi, Fitri berbalik, melangkah masuk ke dalam ruang praktiknya, lalu menutup pintu kayu tebal itu dengan rapat.
Klik!
Suara kunci diputar dari dalam terdengar nyaring.
Adam membeku di tengah koridor yang sepi. Tubuhnya lemas, lututnya serasa tak sanggup menopang berat badan sendiri. Ia terduduk di bangku tunggu dengan telapak tangan menutupi wajahnya yang basah oleh air mata penyesalan. Kenyataan bahwa ia memiliki seorang putra mungil yang tampan kini justru menjadi sembilu paling tajam dalam hidupnya.. sebuah anugerah indah yang tak lagi berhak ia sentuh akibat kebodohannya di masa lalu.
Malam membungkus kota Bandung dengan udara dingin yang menusuk tulang, tetapi kepala Adam terasa panas membara. Di kamar sempit mess tempatnya menumpang, pria itu duduk di tepi ranjang dengan mata memerah. Di atas meja lipat kayu, berserakan beberapa lembar foto yang sempat ia ambil secara sembunyi-sembunyi saat memperhatikan Fitri dan Aiden dari kejauhan beberapa hari terakhir.
Setiap kali jemarinya mengusap permukaan foto balita mungil itu, dadanya berdesir hebat. Garis mata, bentuk dagu, hingga lekuk bibir Aiden saat tersenyum adalah cermin sempurna dari foto masa kecil Adam yang dulu pernah disimpan almarhumah ibunya.
"Dia anakku... aku yakin seratus persen dia anakku," bisik Adam lirih, suaranya parau menahan sesak.
Pernyataan dingin Fitri di koridor rumah sakit tempo hari terus bergema di kepalanya bagai dentang lonceng kematian. Fitri secara tegas menolak mengakui keberadaannya dan melarangnya mendekati Aiden. Namun, rasa bersalah dan penyesalan yang membakar batin Adam kini bertransformasi menjadi sebuah keberanian nekat. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa putra kandungnya tumbuh tanpa mengenalnya sebagai seorang ayah.
Adam bangkit berdiri, menyambar jaket hitam dan kunci mobil tuanya. Pria itu menyusuri jalanan kota yang mulai lengang menuju area perumahan asri di kawasan Dago tempat Fitri dan Aiden tinggal. Ia sudah melacak alamat rumah tersebut secara diam-diam melalui bantuan seorang kawan lama yang bekerja di dinas kependudukan.
"Aku sangat sekali yakin malam itu membuahkan hasil yang tidak terduga.. pokoknya aku harus tauu yang sebenarnya" gumam Adam bertekad.
Mobil Adam berhenti di seberang jalan, terlindung di bawah bayang-bayang pohon mahoni yang rimbun. Dari balik kaca mobil, ia menatap rumah dua lantai bergaya modern tropis yang tampak hangat. Lampu taman menyala temaram, memperlihatkan sepeda roda tiga milik Aiden yang terparkir rapi di teras.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Fitri melangkah keluar mengenakan piyama panjang bernuansa lembut, menuntun Aiden yang sudah mengenakan pakaian tidur bergambar kartun. Tawa renyah balita itu terdengar samar-samar membelah kesunyian malam saat Fitri membantunya menaiki sepeda roda tiga di halaman berumput.
Melihat pemandangan teduh itu, air mata Adam menetes tanpa bisa ditahan. Dulu, rumah tangga yang ia bangun bersama Fitri seharusnya bisa seindah ini jika saja ia tidak membiarkan kesombongan dan sosok Rosa merusak jalannya. Kini, ia hanya bisa menjadi penonton dari balik kegelapan malam, terpisah oleh jarak dan kesalahan masa lalu yang amat besar.
Saat Fitri berbalik masuk ke dalam untuk mengambil minuman, Aiden mengayuh sepedanya pelan mendekati pagar depan yang agak terbuka. Sebuah bola kecil terlepas dari genggamannya dan menggelinding keluar melintasi trotoar, berhenti tepat beberapa meter dari mobil Adam.
Melihat kesempatan emas di depan mata, jantung Adam berdetak kencang bagai ditabuh drum. Pria itu membuka pintu mobil perlahan, melangkah keluar tanpa suara, lalu berlutut memungut bola plastik tersebut.
Aiden menghentikan sepedanya di balik pagar, menatap pria asing di hadapannya dengan mata bulat yang polos tanpa prasangka.
"Paman... itu bola Aiden," cicit balita itu dengan suara pelat yang sangat lucu.
Adam membeku di tempatnya berdiri. Jarak mereka kini hanya terpisah oleh jeruji pagar besi. Saat menatap manik mata mungil yang jernih itu dari dekat, seluruh pertahanan batin Adam runtuh seketika. Jemarinya yang gemetar mengulurkan bola tersebut, sambil menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Ini bolanya, Nak..." ucap Adam pelan, matanya menatap lekat-lekat setiap inci paras balita itu. "Aiden... anak pintar."
Sebelum tangan kecil Aiden sempat menyentuh bola tersebut, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari dalam halaman. Fitri keluar dengan raut wajah yang berubah pucat pasi begitu melihat sosok pria yang berdiri di luar pagarnya.
"Aiden! Masuk ke dalam sekarang!" seru Fitri dengan intonasi tinggi yang sarat kecemasan.
Fitri menyambar tubuh kecil Aiden ke dalam pelukannya, menarik anaknya menjauh dari pagar, lalu menatap Adam dengan pendar amarah yang amat menyengat.
"Sudah saya peringatkan, Pak Adam! Jangan pernah mendekati anak saya lagi!" pangkas Fitri tajam, matanya menyipit penuh ancaman. "Kalau Anda tidak segera pergi dari sini, saya akan panggil keamanan kompleks sekarang juga!"
Adam melangkah maju selangkah, memegang besi pagar dengan pandangan memohon. "Fitri, tolong... aku cuma ingin melihatnya dari dekat. Tolong jujur padaku, dia darah dagingku, kan?"
Fitri tak membalas pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia hanya memberikan tatapan penuh rasa jijik dan kekecewaan mendalam, sebelum berbalik cepat membawa Aiden masuk dan membanting pintu depan dengan keras.
Brak!
Suara kunci diputar dari dalam memutus harapan Adam malam itu. Pria itu terduduk lemas di atas trotoar dingin di bawah rinai gerimis yang mulai turun. Namun, di balik rasa sakit dan pengusiran itu, keyakinan di dada Adam justru makin meluap. Ia bersumpah akan melakukan apa pun termasuk mendapatkan bukti tes DNA secara resmi demi memeluk putra kandungnya dan menebus seluruh dosanya di masa lalu.
"Pokoknya aku harus dapatkan itu" ucap Adam.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.