Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Arya menghela napas panjang sambil memegang gagang pintu kamar sempit itu.
"Sudahlah, Pak, kembali saja ke kamar Anda sebelum membuat keributan di sini," ucap Arya berusaha sabar.
Pria mabuk berbadan gempal itu mendengus kasar dengan bau alkohol yang sangat menyengat hidung.
"Jangan banyak ceramah, anak muda! Suruh wanita di belakangmu itu keluar sekarang juga!" bentak pria itu menunjuk-nunjuk.
Di dalam kamar, Vanya mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya bergemeretak.
"Manusia menjijikkan ini benar-benar tidak sabar ingin mati di tanganku," batin Vanya dingin.
Vanya langsung melangkah melewati Arya dengan tatapan mata merah yang menyala tajam.
"Tunggu, jangan bunuh dia, nanti kita malah diusir dari penginapan ini," cegah Arya memegang lengan Vanya.
"Lepaskan tanganmu, Arya, biarkan aku merobek mulut kotornya detik ini juga!" geram Vanya penuh amarah.
Pria mabuk itu terbelalak kaget saat melihat wanita berparas cantik namun berhawa membunuh muncul dari balik pintu.
"Wah... ternyata aslinya lebih manis dari bayanganku, ayo ikut aku minum di bawah, Nona!" cengir pria itu tanpa sadar bahaya.
Vanya menyeringai dingin, aura hitam pekat langsung melingkupi telapak tangannya.
"Baiklah, aku akan memberimu minuman paling spesial di neraka," desis Vanya berbahaya.
Sebelum Vanya sempat melayangkan serangan mautnya, Arya dengan cepat menepuk pundak pria mabuk itu.
Brak...
Arya menggunakan titik saraf kejut pada bahu pria tersebut.
Pria mabuk itu mendadak melotot lebar, tubuhnya melemas seketika tanpa tenaga.
"Ugh... ada apa dengan... kakiku..." rintih pria itu terbata-bata.
[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi gangguan keamanan di penginapan.]
[Mendapatkan koin sistem: +10 koin emas kecil karena berhasil meredam konflik tanpa pembunuhan.]
Suara dengungan khas sistem itu berputar kilat di dalam kepala Arya.
"Makanya kalau mabuk itu jangan cari masalah di tempat orang," sindir Arya santai.
Pria mabuk itu jatuh terduduk di lantai lorong penginapan dengan napas tersengal-sengal.
Ia menatap Vanya dan Arya dengan ketakutan luar biasa yang mendadak melenyapkan efek alkoholnya.
"M-Monster... kalian bukan manusia biasa!" teriak pria itu histeris ketakutan.
Ia langsung merangkak mundur terbirit-birit meninggalkan lorong lantai dua dengan wajah pucat pasi.
Vanya mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa tidak biarkan aku membunuhnya saja supaya dunia ini berkurang satu sampah?" protes Vanya sebal.
"Kalau kamu bunuh dia, besok pagi pemilik penginapan bakal lapor penjaga kota dan kita jadi buronan lagi," jelas Arya logis.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tangga kayu bawah.
Kriet... kriet...
Suara anak tangga berderit nyaring dinaiki seseorang.
Penjaga penginapan paruh baya muncul dengan wajah marah besar di ujung lorong.
"Ada apa ribut-ribut di lantai dua?! Sudah kubilang jangan bikin onar di sini!" bentak penjaga itu galak.
Arya langsung memasang senyum paling ramah yang ia miliki untuk meredam kemarahan sang penjaga.
"Maaf, Pak Pengawas, tadi ada orang mabuk salah kamar dan bikin keributan kecil," alibi Arya tenang.
Penjaga itu melotot melihat lantai lorong yang kosong dan pintu kamar mereka yang terbuka.
"Cepat masuk dan kunci pintu kalian, kalau ada keributan lagi kalian saya usir tanpa pengembalian uang!" ancam penjaga itu ketus.
"Iya, Pak, kami mengerti, maaf atas ketidaknyamanannya," balas Arya cepat.
Penjaga itu mendengus kasar lalu berbalik turun ke lantai bawah.
Arya menutup pintu kamar rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam dengan bunyi
klik.
Ia menghempaskan tubuhnya ke kasur busa tipis sambil mengelus dadanya yang berdegup kencang.
"Hampir saja malam kita berantakan gara-gara tamu mabuk kurang ajar tadi," keluh Arya lemas.
Vanya duduk kembali di tepi kasur sambil melirik Arya dengan tatapan penuh selidik.
"Kamu tadi cukup cekatan menangani manusia bodoh itu," puji Vanya setengah gengsi.
Arya menoleh kaget mendengar pujian langka keluar dari mulut sang Ratu Iblis.
"Wah, tumben banget ratu galak muji aku, kesambet apa nih malam-malam?" goda Arya tersenyum lebar.
Wajah Vanya langsung memerah padam, ia buru-buru memalingkan muka ke arah jendela kecil.
"Jangan kegeeran! Aku cuma menyatakan fakta bahwa kamu memang pandai menghadapi sampah," sangkal Vanya sewot.
"Iya deh iya yang gengsi mau ngaku kagum sama keahlian tukang pijit," balas Arya terkekeh geli.
Suasana di dalam kamar sempit itu perlahan-lahan kembali tenang.
Malam semakin larut, menyisakan keheningan di luar jendela penginapan murah kota seberang.