Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahan Pelampiasan, yang Berakhir Sesal
Aku semakin tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, malam ini Alya terlihat sangat cantik di mataku. Bibirnya yang ranum, guratan pipinya yang putih dan bersih, hangatnya sentuhan telapak tangannya mampu menegangkan syaraf yang selam ini ku tahan.
Segelas wiski mampu mengendalikan tubuhku, aku tidak bisa menahannya lagi. Tanganku sudah mencengkeram erat lengan Alya, mendekapnya. Menatap lekat wajahnya, iris hitam pekat yang bercahaya itu tampak ketakutan kala menatap wajahku.
Sial, tubuh ini terasa semakin sangat panas.
Dalam gerakan yang singkat, aku menyesap bibir ranumnya. Membuat Alya meronta, namun tenaganya tentu saja kalah. Sentuhan yang lembut, hangat semakin membuat tubuh ini tidak bisa dikendalikan, antara sandar atau tidak aku merasa pikiranku ini melayang. Kepala pening serasa ingin meledak.
Alya terus meronta dalam dekapanku, ia hampir kehabisan nafas.
"Kak...kamu dalam pengaruh alkohol, tolong jangan..."
Aku kembali menyesap bibir mungilnya, suaranya bagai angin lalu. Malah terdengar sangat lembut dan halus pada telinga ini.
Aku tidak bisa menahannya lagi, terasa sangat sesak. Aku butuh pelampiasan malam ini. Wanita halalku, sangat cantik malam ini. Alya menjadi godaan terbesar ku.
Aku semakin merengkuh tubuh Alya, ada getaran kecil yang terasa.
Aku menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, membaliknya, membuka dress yang masih melekat pada tubuhnya.
Sangat indah.
Alya menangis tertahan, tangannya mencengkram erat kain seprei.
"Kak..tolong jangan..."
Sudah tidak bisa dikendalikan lagi Alya. Aku mulai mencoba untuk memimpin milikku menuju daerah mahkota miliknya, sangat sulit untuk menembusnya.
"Aakkk kak jangan.."
Percobaan ke lima, berhasil menembus mahkota miliknya. Terdengar Isak tangis yang tertahan dari bibirnya, Alya yang membenamkan wajahnya pada kasur, sementara tangannya aku pegang erat, aku mengukungnya mengalahkan tenaga Alya yang tidak seberapa bagiku.
Tubuhku semakin tidak bisa dikendalikan, semakin memacu sampai terdengar suara lenguhan kecil yang membuatku semakin tinggi.
Sampai pada akhirnya, kami sama-sama tersungkur, dengan energi yang terkuras habis. Rasanya seperti masalahku hilang begitu saja, beban di pundakku mulai terasa ringan.
Aku melirik sekilas pada Alya, wanita itu terlihat begitu lelah, aku menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Alya mulai memejamkan matanya, sisa air mata masih membasahi pipinya.
Maafkan aku Alya.
Aku mengusap keningnya, membetulkan anak rambut yang menempel oleh keringat pada keningnya.
Aku tidak mengerti dengan diriku malam ini, segelas wiski mampu membuatku begitu bergairah saat melihat Alya. Aku pria normal, naluriku berjalan dengan baik saat melihat Alya dengan balutan dress merah muda yang terlihat sangat cantik.
Hanya caranya saja yang salah, kata maafku mungkin tidak akan bisa menghapus luka di hati Alya.
Tidak tahu kapan aku tertidur, yang aku ingat semalam kepalaku terasa sangat pening setelah membenahi posisi tidur Alya. Yang akhirnya kau ambruk dan tidur dalam keadaan tengkurap.
Sampai pada pagi harinya, aku melihat Alya yang masih berbaring sambil menatap kosong atap kamar. Perlahan air matanya mengalir. Alya kembali menangis, ah hatiku sangat perih.
"Maaf.." ucapku dengan suara serak, khas bangun tidur.
"Kamu memang hak atas tubuhku kak. Tapi caranya yang salah, berapa banyak minuman haram itu kamu minum. Sampai membuatmu buta akan ego mu sendiri."
Ya Tuhan, aku benar benar membuatnya sakit hati.
"Alya..maaf. Semalam aku sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri ku."
"Lantas menjadikan aku bahan pelampiasan. Kamu memang suamiku kak, tapi kejadian tadi malam. Seolah kamu sedang mel3c3hkan aku. Hatiku sakit kak, mungkin aku butuh waktu untuk memaafkanmu."
Aku meraih tangan Alya yang masih berada di balik selimut tebal, menggenggamnya erat. Namun, dengan cepat Alya menepisnya.
"Kamu meminum minuman haram saja sudah salah kak, jika kamu menginginkanku kamu bisa memintanya dengan baik. Bukan seperti itu caranya.."
Isak tangis Alya memenuhi ruang kamar. Aku benar-benar menyesal, setan apa yang sudah menggodaku untuk meminum minuman haram itu. Bertahun-tahun aku sudah tidak menyentuh minuman itu, tapi malam tadi begitu dengan mudahnya aku meneguk wiski dalam sekali tegukan.
"Oh..aku tahu kak. Jika tidak dengan minuman haram itu kamu tidak akan bisa menyentuhku, karena aku bukanlah wanita yang kamu inginkan. Malam tadi, aku hanya dijadikan bahan pelampiasan, bukan sebagai istri sungguhan."
Alya bangkit membalut tubuh polosnya dengan selimut tebal. Melangkah menuju kamar mandi, kemudian terdengar air yang mengucur dari keran shower. Serta Isak tangis yang terdengar lirih.
Ya Tuhan, apa yang dikatakan Alya benar. Aku benar-benar menyesal, telah memberinya sayatan luka yang lebih dalam.
Aku tidak bisa menghargai Alya dengan baik.
Pernikahan aku dan kak Revan itu sudah di takdirkan bude. Harinya, tanggalnya bahkan jamnya. Semuanya sudah di atur sebaik mungkin.
Perkataan Alya waktu itu masih terngiang jelas dalam otakku.
Ya Tuhan jika memang Alya takdirku, tapi mengapa hati ini begitu menolak untuk menerimanya dalam kehidupanku. Ya Tuhan, aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Tolong ampuni aku.
Aku menyandarkan tubuh pada kepala ranjang, memandangi foto Aira yang menjadi wallpaper layar ponselku.
Bukan Alya saja yang sakit hati, tapi juga Aira. Aku telah mengabaikan pesan darinya, aku telah mengingkari janjiku padanya, aku telah menyentuh Alya.
Aku melirik Alya yang tengah bersujud lebih lama dalam shalatnya, Entah mengapa. Bola mata ini terasa perih, kemudian di ikuti dengan embun yang mulai memenuhi pelupuk mata.
Teduhnya wajah Alya sayang sedang beribadah, mampu menggetarkan hati ini. Dosaku sangat banyak sekali, bahkan aku sering mengabaikannya.
Tidak pantas aku duduk berdiam diri sambil meratapi penyesalan, akhirnya aku memasuki kamar mandi. Membersihkan diri, kemudian menggelarkan sajadah hitam yang tergantung di samping sajadah merah muda milik Alya.
Selesai beribadah aku hanya bisa melihat pemandangan pagi hari di balik jendela. Hari yang semakin terang, embun pagi yang masih bergelantung manja pada dedaunan. Udara pagi yang sangat terasa sejuk, mampu menyegarkan pikiranku.
Aku melirik Alya sekilas, pagi ini aku kehilangan senyum manis dan lesung pipi yang selalu Alya berikan padaku, menyambut ku dari kesadaran. Senyum yang selalu menjadi pemandangan pertamaku saat membuka mata. Senyum dengan lesung pipi yang sudah menemani pagiku selama satu bulan lebih.
Tapi pagi ini aku kehilangan senyuman itu.
Bersambung.
Aduh bang Revan mulai bimbang nih..makanya dengerin kata Bu Rahayu, jangan terlalu dibutakan oleh cinta.