Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Protes, Seragam Putih-Abu, dan Rencana Angkatan

Minggu-minggu Ujian Akhir Sekolah masih terus berjalan melingkupi keseharian murid kelas 12. Di sela-sela heningnya ruang ujian, desakan soal-soal digital, dan gesekan ujung tali lanyard yang masih membekas di ingatan Alee, ada satu topik hangat lain yang mendadak meledak di kalangan murid Acara Perpisahan Angkatan.

Di lorong sekolah seusai sesi ujian kedua hari itu, kerumunan murid kelas 12 MIPA 1 hingga IPS 4 tampak menyatu dalam kegelisahan yang sama. Sebuah pengumuman resmi dari pihak sekolah baru saja disampaikan oleh pihak kesiswaan, dan isinya sukses memicu gelombang kekecewaan yang luar biasa.

Pihak sekolah secara tegas melarang adanya acara prom night atau perpisahan mewah di luar lingkungan sekolah, seperti menyewa ballroom hotel atau gedung pertemuan. Sebagai gantinya, sekolah hanya mengizinkan acara pelepasan sederhana di lapangan sekolah—dan yang paling membuat dada para murid sesak, mereka wajib mengenakan seragam putih-abu-abu biasa, bukan kebaya atau jas seperti impian mereka selama tiga tahun ini.

"Mana bisa begitu, sih?!" seru Hanafi bersedekah dada di tengah kerumunan di depan kelas. "Tiga tahun kita sekolah, berdarah-darah lewat masa pandemi sama ujian menumpuk, masa pas perpisahan cuma disuruh baris pakai seragam harian di lapangan?!"

"Iya! Nggak adil banget!" timpal anak kelas IPS dari seberang lorong. "Masa nggak boleh pakai kebaya sama jas? Kan ini momen sekali seumur hidup!"

Gelombang pemberontakan kecil mulai berkobar. Seluruh murid angkatan menolak keras keputusan tersebut. Suasana koridor yang biasanya diisi pembahasan kunci jawaban ujian mendadak berubah menjadi wadah aspirasi yang memanas.

Sebagai Ketua Kelas sekaligus ketua perwakilan angkatan dalam panitia internal, Rama berdiri di tengah-tengah kerumunan itu. Wajahnya tampak tenang meski pundaknya memikul beban berat untuk menyampaikan protes teman-temannya ke ruang kepala sekolah.

Alee, yang baru saja keluar dari ruang ujian bersama Nara, memperhatikan sosok Rama yang sedang dikerumuni murid-murid. Gaya petantang-petenteng Alee menyembul kembali saat melihat situasi yang makin tidak kondusif.

"Gue dukung mogok perpisahan kalau acaranya cuma syukuran biasa pakai baju sekolah!" celetuk Alee nyaring sambil bersedekah tangan, ikut memanasi suasana. "Mending uang kumpulannya kita pakai jalan-jalan sendiri!"

Rama yang mendengar suara Alee refleks menoleh. Pandangan mata mereka bersitatap sejenak. Ada senyum tipis di bibir Rama melihat keberanian Alee yang ceplas-ceplos seperti biasa, meski situasi sedang tegang.

"Teman-teman, tenang dulu," ujar Rama dengan nada suara yang mantap dan tegas, sanggup menenangkan keriuhan di lorong tersebut. "Saya paham kekecewaan kalian. Saya, Alee, dan perwakilan perwira kelas lain bakal menghadap pihak kesiswaan sore ini buat nego ulang."

---

Diskusi di ruang kesiswaan berlangsung cukup alot. Pihak sekolah bertahan pada aturan atas alasan keamanan dan efisiensi biaya agar tidak membebani para orang tua. Namun, melarang sama sekali kenangan manis di akhir masa SMA juga terasa terlampau kaku.

Setelah negosiasi panjang yang diwakili oleh Rama dan beberapa pengurus angkatan, sebuah jalan tengah akhirnya disepakati.

Pihak sekolah tetap pada pendiriannya: acara formal penyerahan ijazah dan pelepasan resmi di sekolah harus tetap menggunakan seragam putih-abu-abu demi keseragaman. Namun sebagai gantinya, **sekolah memberi izin resmi bagi seluruh angkatan kelas 12 untuk mengadakan kegiatan *study tour* atau jalan-jalan angkatan ke luar kota.**

Saat Rama membawa keluar berita hasil keputusan itu ke koridor tempat murid-murid menanti, sorak-sorai langsung pecah di sepanjang lorong lantai dua.

"Bisa jalan-jalan angkatan?!" teriak Hanafi girang.

"Fix! Ini mah malah lebih seru dibanding cuma duduk manis di gedung pakai jas!" sahut anak-anak yang lain.

Di tengah riuh kegembiraan itu, Alee berdiri menyender di pintu kelas. Rasa kecewa soal seragam putih-abu perlahan meluruh, berganti dengan antusiasme membayangkan perjalanan jauh bersama teman-temannya sebelum mereka benar-benar berpisah menuju perguruan tinggi masing-masing.

Rama berjalan mendekati posisi Alee yang sedang tersenyum lebar menatap kerumunan.

"Gimana, Lee? Keputusannya cukup fair, kan?" tanya Rama pelan, berdiri di samping Alee dengan gaya santainya.

Alee menoleh, menatap Rama dengan binar mata yang hangat. Perhatian kecil di ruang ujian tadi pagi dan keberhasilan Rama memperjuangkan keinginan angkatan sore ini perlahan-lahan meretakkan sisa-sisa benteng di dada Alee.

"Lumayan lah, Pak Ketua," jawab Alee renyah, terkekeh pelan. "Setidaknya kita bisa bikin rusuh di kota orang nanti. Makasih ya udah mau frontal nego sama kesiswaan."

Rama tersenyum lega, menatap Alee dengan tatapan teduh yang selalu dirindukan gadis itu. "Sama-sama. Apapun buat bikin perpisahan kita... jadi kenangan yang nggak bakal dilupakan."

Alee menyunggingkan senyum tipisnya. Di antara tumpukan berkas ujian yang hampir selesai dan rencana jalan-jalan angkatan yang membentang di depan mata, Alee merasa petunjuk takdir yang ia minta malam itu perlahan-lahan mulai menampakkan hilalnya.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!