GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Redaksi, Klaim Bensin Honda Revo, dan Password Satelit Seharga Semangkuk Bakso
Rasa sakit yang teramat sangat di kepala Gala rasanya mirip seperti digebuk menggunakan kamus bahasa Jerman setebal seribu halaman. Perlahan-lahan, kelopak matanya terbuka. Cahaya putih menyilaukan dari lampu LED laboratorium langsung menghantam retinanya, membuat Gala mengerang kesakitan.
“Ugh… kepala gue rasanya mau copot. Ini kita lagi di akhirat, di kantor pajak, apa di studio podcast horor?” gerutu Gala dengan mata terpejam rapat.
“Diam, Gala. Suara Anda memicu getaran frekuensi tinggi di gendang telinga saya yang baru saja pulih dari gas bius,” bisik suara dingin Siska dari samping.
Gala membuka matanya lebar-lebar. Ia mendapati dirinya duduk terikat kuat di sebuah kursi kantor ergonomis merek Herman Miller berharga belasan juta rupiah—kursi paling empuk yang pernah ia duduki seumur hidupnya, namun sayangnya dilengkapi borgol baja di bagian tangan dan kaki. Di sebelah kanannya, Senja dan Siska juga terikat di kursi serupa dengan tingkat keamanan militer maksimal.
Mereka berada di tengah-tengah ruangan kendali bawah tanah yang sangat luas. Di hadapan mereka, puluhan layar monitor raksasa menampilkan grafik satelit global, peta pergerakan bawah laut, dan kode-kode biner yang mengalir deras.
Langkah kaki yang tenang dan berirama terdengar mendekat dari balik bayangan barisan server komputer.
Sosok tinggi berjas hitam dengan topeng perak bermotif rajawali melangkah pelan ke hadapan mereka. Sosok itu berhenti tepat tiga meter di depan Gala, mengangkat kedua tangannya, lalu perlahan-lahan membuka topeng perak yang menutupi wajahnya.
Gala membelalakkan matanya selebar mungkin. Rahangnya jatuh ke lantai. Senja tersentak kaget, sementara Siska menyipitkan mata tak percaya.
Pria yang berdiri di hadapan mereka bukanlah Madam Elena yang agung, bukan pula Victor sang sosiopat berambut klimis, melainkan…
Seorang pria paruh baya berambut belah tengah yang mulai botak di bagian atas, mengenakan kemeja batik lengan pendek motif parang yang sudah agak luntur, berkacamata minus tebal dengan gagang diplester selotip hitam, dan sedang memegang segelas kopi hitam sachet yang masih mengepulkan uap.
Pak Joko. Pemimpin redaksi sekaligus pemilik harian tabloid investigasi Suara Fakta—tempat Gala bekerja selama bertahun-tahun dengan gaji pas-pasan dan tunjangan makan siang yang selalu dipotong.
Suasana laboratorium mendadak hening seketika, kalah sunyi dibanding kuburan.
Gala menatap pria itu selama sepuluh detik penuh tanpa berkedip, sebelum akhirnya saraf kewarasannya benar-benar putus.
“PAAAK JOKOO?!” teriak Gala histeris, nyaris menjungkirbalikkan kursi mahalnya sendiri. “Jadi selama ini... bos redaksi yang tiap akhir bulan selalu nolak klaim uang bensin Honda Revo gue sebesar tiga puluh ribu rupiah, bos pelit yang nyuruh gue nge-print pakai kertas bekas dos mi instan... ASLINYA ADALAH GRAND MASTER DARI ORGANISASI TERORIS GLOBAL VANGUARD?!”
Pak Joko menyeruput kopi hitamnya dengan tenang, lalu meniup-niup permukaan cangkirnya pelan.
“Santai sedikit, Gala. Jangan teriak-teriak begitu. Suaramu merusak konsentrasi saya membaca rubrik horoskop,” jawab Pak Joko dengan suara serak khas perokok berat yang sangat akrab di telinga Gala. “Lagi pula, kamu pikir dari mana saya dapat dana operasional buat nyetak koran investigasi Suara Fakta yang tirasnya cuma laku lima ratus eksemplar seminggu kalau bukan dari pencucian uang internasional?”
Senja menatap bos lama suaminya itu dengan tatapan tidak percaya. “Pak Joko... jadi semua berita korupsi elit politik dan sindikat mafia yang Gala tulis selama ini... itu cuma sandiwara?”
“Bukan sandiwara, Senja. Itu riset pasar,” sahut Pak Joko santai sambil menarik kursi plastik sederhana, lalu duduk bersilang kaki di hadapan mereka bertiga. “Kalau saya nggak nyuruh Gala ngejar-ngejar berita mafia, bagaimana cara saya memantau pergerakan agen-agen liar seperti Siska dan mendiang ayahmu, Sersan Broto?”
Siska merenggut borgol bajanya dengan sekuat tenaga hingga urat-urat di lehernya menonjol, namun baja itu tidak bergeming sedikit pun. “Jadi Madam Elena... ibuku... adalah bagian dari rencanamu?”
“Elena itu mantan anak buah saya di divisi logistik era Perang Dingin, Siska,” ujar Pak Joko sambil tersenyum tipis, menampilkan geligi kuning khas penikmat kopi tubruk. “Dia nggak mati di Berlin. Dia cuma pensiun dini buat jadi influencer kripto, tapi belakangan hobi ikut campur urusan keluarga kalian.”
Gala meronta-ronta di kursinya, matanya melotot menuntut keadilan hakiki. “Bentar, Pak! Otak encer jurnalis saya butuh penjelasan yang logis! Kalau bapak pemilik satelit pemusnah global Othelo, kalau bapak pemilik kekayaan triliunan rupiah dari Vanguard... Kenapa waktu handphone kantor rusak tiga tahun lalu, bapak nyuruh saya benerin sendiri pakai karet gelang sama lem alteco?!”
“Itu namanya manajemen keuangan yang disiplin, Gala,” jawab Pak Joko tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kekayaan besar tidak dibangun dengan cara foya-foya membelikan staf handphone baru setiap kali jatuh ke comberan.”
Pak Joko berdiri, berjalan mendekati konsol terminal pusat. Di layar besar di hadapan mereka, kode merah terang berkedip-kedip, memperlihatkan hitung mundur baru: 01:00:00...
“Cukup basa-basinya,” kata Pak Joko, ekspresinya mendadak berubah serius, memancarkan aura dingin seorang diktator militer yang tersembunyi di balik kedok bos media gembel. “Proyek Omega sudah masuk tahap akhir. Kombinasi sampel biometrik dari darah Senja dan kode genetik turunan Siska adalah satu-satunya kunci untuk membuka brankas utama satelit Othelo.”
Pak Joko menekan sebuah tombol di konsol. Dari langit-langit, lengan robotik otomatis turun membawa sebuah jarum suntik laser besar yang mengarah perlahan ke lengan Senja.
“Jangan coba-coba sentuh dia!” jerit Siska dengan suara menggelegar, matanya menyala penuh ancaman pembunuhan.
“Tenang, Siska. Tidak ada yang akan mati hari ini... kecuali kalau kalian menolak kerja sama,” kata Pak Joko dingin. Ia mengetik beberapa baris kode di keyboard terminal. “Sebenarnya, alasan saya butuh kalian berdua sangat sederhana.”
Gala menghentikan rontaannya, menatap tajam sang bos redaksi. “Apaan? Mau bikin koran cetak edisi khusus kiamat dunia?”
“Bukannya itu ide yang bagus?” Pak Joko menyeringai lebar. “Tapi alasan utamanya adalah... saya lupa password administrator utama sistem Othelo.”
Seketika, Gala, Senja, dan Siska terdiam cengo massal.
“Bapak... apa? Lupa password?!” seru Gala nyaris jantungan.
“Ya mau bagaimana lagi? Sistem pengamanannya pakai enkripsi kuantum yang otomatis mengganti kata sandi setiap sepuluh tahun sekali,” keluh Pak Joko sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dan petunjuk pemulihan kata sandinya (recovery hint) dikunci menggunakan kombinasi DNA keluarga Broto dan garis keturunan Elena. Jadi, mau tidak mau, saya harus menculik kalian ke sini.”
Senja mendengus kesal di balik ikatan borgolnya. “Dan cara bapak menculik kami harus dengan meledakkan spa mewah dan ngegas kami pakai racun saraf?!”
“Namanya juga birokrasi rahasia, Nja. Agak dramatis sedikit biar keren kalau dibikin film layar lebar,” jawab Pak Joko enteng.
Namun, di saat Pak Joko berbalik badan untuk mengambil sampel darah dari lengan robotik, Siska tidak tinggal diam. Di balik lengan bajunya yang koyak, agen elit itu secara diam-diam menggunakan kawat penjepit kertas kecil—yang sudah ia sembunyikan di lipatan jasnya sejak dari pelabuhan—untuk melonggarkan mekanisme gigi borgol bajanya.
KLIK.
Suara kecil itu lolos dari pendengaran Pak Joko karena tertutup suara dengungan mesin server.
Dengan kecepatan refleks superhuman, Siska melepaskan borgol tangan kanannya dalam satu sentakan keras, melompat keluar dari kursi, dan menerjang punggung Pak Joko sebelum pria tua itu sempat menarik pelatuk pistol daruratnya!
BUGH!
Pak Joko terpelanting menabrak konsol terminal. Secangkir kopi hitamnya tumpah berhamburan membasahi keyboard utama.
“Siska! Jangan biarkan dia menekan tombol override!” teriak Senja.
Senja dan Gala tidak tinggal diam. Dengan sisa tenaga dan kelenturan tubuhnya sebagai mantan stuntwoman, Senja menggoyang-goyangkan kursinya ke samping hingga roboh ke lantai, lalu menggunakan sudut meja tajam untuk menggesek borgol plastiknya hingga putus. Dalam tiga detik, Senja sudah berdiri bebas, berlari menyambar pipa besi dari reruntuhan dinding dan melemparkannya ke arah konsol utama.
Gala, yang masih terikat di kursi Herman Miller-nya karena tidak punya keahlian bela diri militer, memilih bergeser dengan cara melompat-lompat seperti pinguin menggunakan kursi beroda tersebut, lalu menendang tempat sampah besi ke arah kaki Pak Joko yang hendak merangkak bangkit.
PRANG!
Pak Joko tersandung tempat sampah, jatuh tersungkur di atas tumpukan kabel server yang berkedip-kedip.
Siska menindih punggung Pak Joko, menodongkan pecahan kaca tajam tepat ke leher sang Pemimpin Redaksi. “Permainan sudah berakhir, Pak Joko. Matikan sistem Othelo sekarang, atau saya pastikan koran Suara Fakta terbit edisi obituari Anda besok pagi.”
Pak Joko, meskipun sedang ditindih oleh agen pembunuh paling mematikan di Asia Tenggara, tidak terlihat panik sama sekali. Ia malah tersenyum menyeringai sambil meludah kecil.
“Kalian pikir... saya bekerja sendirian?” bisik Pak Joko misterius.
Tiba-tiba, seluruh layar monitor raksasa di laboratorium berubah menjadi warna hitam legam. Logo berbentuk mata rajawali raksasa muncul di setiap layar, diikuti oleh suara tawa elektronik yang menggema keras ke seluruh penjuru ruangan.
“Kerja bagus, Pak Joko,” suara asing yang terdistorsi terdengar menggema dari sistem audio utama. “Pancingan yang sempurna untuk membawa seluruh aset terakhir Vanguard ke dalam satu titik pusat.”
Siska membelalakkan matanya. “Suara itu... itu bukan suara Pak Joko!”
Sebelum Siska sempat bereaksi, lantai di bawah kaki mereka mendadak bergetar hebat. Pintu-pintu baja kedap udara di sekeliling laboratorium terbuka otomatis, dan puluhan pasukan drone tempur bersenjata lengkap melayang masuk mengepung mereka dari segala penjuru!
Dan dari balik barisan drone tersebut, sesosok wanita berambut perak terurai dengan setelan jas putih bersih melangkah masuk dengan anggun, memegang segelas martini di tangan kanannya.
Madam Elena.