Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Setelah beberapa hari mempertimbangkan, Anyara akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang lebih serius. Ia menghubungi Hans, meminta bantuan untuk mencarikan kontak pengacara yang bisa diajak berkonsultasi soal posisinya secara hukum, tanpa harus langsung mengambil keputusan besar seperti perceraian.
"Saya cuma mau tau dulu, Pak, hak-hak saya sebenarnya apa aja kalau nanti bener-bener sampe ke tahap itu," ucap Anyara lewat telepon, suaranya terdengar lebih tenang dibanding beberapa minggu lalu.
"Tenang, Mbak. Saya punya kenalan pengacara keluarga, namanya Pak Bram, orangnya profesional dan bisa dipercaya. Saya udah kontak dia, katanya bisa atur waktu buat konsultasi awal, gratis kok, nggak usah khawatir soal biaya," jawab Hans.
"Terima kasih banyak, Pak. Saya nggak tau harus gimana kalau nggak ada Bapak yang bantu."
"Sama-sama, Mbak. Saya cuma pengen mastiin Mbak nggak sendirian ngadepin semua ini."
Pertemuan dengan Pak Bram dijadwalkan pada hari Sabtu, saat Juned biasanya pergi bermain futsal dengan teman-temannya, dan Ratih sedang mengikuti pengajian rutin. Anyara memanfaatkan waktu kosong itu untuk pergi ke kantor Pak Bram yang terletak di sebuah gedung perkantoran sederhana namun rapi.
Pak Bram, seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan kacamata dan penampilan rapi, menyambut Anyara dengan ramah di ruang kerjanya.
"Selamat siang, Bu Anyara. Hans udah cerita sedikit soal situasi Ibu. Mari, silakan duduk," ucapnya, mempersilakan Anyara duduk di kursi seberang mejanya.
"Terima kasih, Pak," jawab Anyara, duduk dengan sedikit gugup, ini pertama kalinya ia berurusan dengan hal seserius ini.
"Baik, sebelum kita mulai, saya mau tegaskan dulu, apa pun yang Ibu ceritakan di sini bersifat rahasia. Ibu bisa cerita dengan bebas, dan saya akan bantu jelasin posisi hukum Ibu secara objektif."
Anyara menghela napas, lalu mulai menceritakan kronologi lengkap—mulai dari penemuan struk hotel, pesan "Sayang", pengakuan Juned soal Dinda, hingga temuan terbarunya soal Melia dan pola transfer mencurigakan ke rekening yang tidak ia kenal.
Pak Bram mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat poin-poin penting di buku catatannya. "Baik, Bu Anyara, dari yang saya dengar, ini situasi yang cukup kompleks. Kalau boleh saya tanya, tujuan Ibu sebenarnya apa? Apakah memang sudah mengarah ke perceraian, atau masih ingin mempertahankan pernikahan dengan syarat tertentu?"
Anyara terdiam sesaat, mempertimbangkan pertanyaan itu dengan hati-hati. "Jujur, Pak, saya sendiri masih belum yakin seratus persen. Tapi kalau saya jujur sama perasaan saya sendiri, saya rasa saya udah nggak punya keinginan buat lanjutin pernikahan ini."
"Baik, kalau begitu, mari saya jelaskan beberapa hal penting yang perlu Ibu ketahui. Pertama, soal harta gono-gini. Selama pernikahan, apakah ada aset yang dibeli bersama, seperti rumah, kendaraan, atau tabungan atas nama berdua?"
"Rumah yang kami tinggalin itu rumah milik mertua saya, Pak, bukan milik kami sendiri. Tapi ada tabungan bersama di satu rekening, meski isinya nggak terlalu banyak."
"Baik, itu nanti bisa kita bahas lebih detail kalau memang sampai ke proses hukum. Kedua, soal bukti perselingkuhan yang Ibu miliki—struk hotel, tangkapan layar pesan, dan temuan soal rekening serta media sosial itu—itu semua bisa jadi bukti pendukung yang kuat kalau nanti Ibu memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai dengan alasan perselingkuhan."
"Kalau soal proses hukumnya sendiri, kira-kira berapa lama, Pak?"
"Tergantung kompleksitas kasusnya, Bu. Kalau pihak suami kooperatif dan tidak melawan, bisa relatif cepat, sekitar beberapa bulan. Tapi kalau ada perlawanan atau sengketa harta yang rumit, bisa lebih lama."
Anyara mengangguk, mencerna semua informasi itu dengan saksama, merasa sedikit lebih tenang karena kini ia memiliki gambaran yang lebih jelas soal langkah-langkah yang bisa ia ambil ke depannya.
"Pak Bram, kalau boleh saya tanya hal lain," ucap Anyara, ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan, "selama ini saya berhenti kerja atas permintaan suami saya. Saya khawatir, kalau nanti benar-benar berpisah, saya nggak punya penghasilan sendiri buat hidup."
Pak Bram tersenyum menenangkan. "Itu pertanyaan yang wajar, Bu. Justru itu, sebelum mengambil keputusan besar, penting buat Ibu mulai memikirkan langkah-langkah untuk kemandirian finansial. Entah itu mencari pekerjaan baru, atau memulai usaha kecil-kecilan. Saya juga bisa bantu jelasin soal hak nafkah pasca-perceraian kalau memang gugatan diajukan dengan alasan perselingkuhan pihak suami."
"Terima kasih banyak, Pak. Ini bener-bener bantu saya buat mikir lebih jernih."
"Sama-sama, Bu Anyara. Kapan pun Ibu siap untuk langkah selanjutnya, jangan ragu untuk hubungi saya lagi. Saya juga sarankan, sebelum mengambil keputusan final, coba dulu kumpulin semua bukti yang ada dalam bentuk fisik atau digital yang rapi, biar nanti kalau memang diperlukan di persidangan, semuanya udah siap."
Sepulang dari kantor Pak Bram, Anyara merasa sedikit lebih ringan, meski beban di hatinya belum sepenuhnya hilang. Ia menghubungi Hans untuk memberi kabar.
"Pak Hans, makasih banyak udah kenalin saya sama Pak Bram. Banyak banget yang saya jadi lebih paham sekarang."
"Alhamdulillah kalau bermanfaat, Mbak. Gimana perasaannya sekarang, lebih tenang?"
"Lumayan, Pak. Setidaknya sekarang saya lebih ngerti langkah-langkah apa aja yang bisa saya ambil, nggak cuma bingung sendirian kayak kemarin-kemarin."
"Itu bagus, Mbak. Satu langkah kecil menuju kejelasan itu udah kemajuan besar."
Anyara tersenyum membaca pesan itu, merasa bersyukur memiliki seseorang yang terus mendukungnya tanpa menuntut apa pun sebagai balasan, meski ia tahu betul, di balik dukungan itu, ada perasaan lain yang perlahan tumbuh dari pihak Hans—perasaan yang belum sepenuhnya ia balas, tapi juga tidak sepenuhnya ia tolak.
Malam itu, sesampainya di rumah, Ratih yang baru pulang dari pengajian menyambutnya dengan pertanyaan basa-basi. "Dari mana aja, Anyara? Kok pulang agak sore?"
"Tadi ada urusan sebentar, Bu," jawab Anyara, tidak ingin menjelaskan detail pertemuannya dengan pengacara, khawatir Ratih belum siap mendengar bahwa menantunya sudah mulai mempersiapkan langkah hukum.
"Urusan apa? Ibu jadi penasaran."
"Nanti saya cerita kalau udah waktunya, Bu. Sekarang saya masih pengen mastiin dulu semuanya," jawab Anyara, berusaha bersikap tenang meski hatinya masih bergejolak.
Ratih menatapnya sesaat, seperti mencoba membaca sesuatu dari raut wajah menantunya, tapi akhirnya hanya mengangguk pelan, memilih untuk tidak memaksa lebih jauh. "Ya udah, kalau kamu butuh apa-apa, bilang aja ke Ibu ya, Nak. Ibu bakal dukung apa pun itu."
Anyara mengangguk, merasa haru dengan dukungan tulus yang kini datang dari sosok yang dulu selalu menjadi sumber tekanan terbesar dalam hidupnya. Malam itu, sebelum tidur, ia menatap deretan bukti yang sudah rapi tersimpan di ponselnya, merasakan campuran antara kesedihan atas berakhirnya sesuatu yang pernah ia perjuangkan, dan sebuah harapan baru yang perlahan mulai tumbuh di tengah reruntuhan pernikahannya yang penuh kebohongan.