Sehari sebelum pernikahan, Selena Anderson ditinggalkan tunangannya. Ethan Carter pergi ke luar negeri tanpa berpamitan hanya meninggalkan pesan bahwa ia belum siap menikah.
Ketika kepergian Ethan mengancam nama baik dua keluarga besar, Jason Carter, kakak Ethan datang dengan sebuah tawaran yang tak pernah Selena bayangkan. Ia bersedia menggantikan Ethan di altar.
Selena akhirnya menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Namun kehidupan bersama Jason perlahan mengubah segalanya. Di balik sikap dinginnya, Selena menemukan perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari Ethan.
Sampai Ethan kembali. Dan ingin mendapatkan Selena kembali. Sayangnya, perempuan yang dulu ia tinggalkan kini telah menjadi istri kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Jason masih menatap layar tabletnya ketika Selena meninggalkan dapur. Beberapa detik kemudian, Ethan ikut bergerak, tetapi tidak mengejar wanita itu. Ia hanya berdiri sendirian dengan wajah tegang.
Jason mematikan rekaman CCTV, lalu meletakkan tablet di atas meja. Rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka Ethan akan bertindak sejauh itu, apalagi setelah Selena dengan jelas menolak dirinya.
"Jadi, ini caramu memperjuangkan wanita yang kau cintai?" gumam Jason.
Ketukan di pintu membuatnya mengalihkan perhatian.
"Masuk."
Asistennya muncul sambil membawa beberapa dokumen. "Tuan Jason, berkas kerja sama dengan perusahaan Liardi sudah saya siapkan. Apakah Anda akan menghadiri rapat pukul sepuluh?"
"Jadwalkan ulang. Aku ada urusan yang harus diselesaikan."
"Baik, Pak."
Setelah asistennya pergi, Jason mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di rumah.
"Selena sekarang di mana?"
"Maaf, Tuan. Nyonya baru saja kembali ke kamarnya."
"Dia baik-baik saja?"
Pelayan itu terdiam sesaat sebelum menjawab, "Sepertinya begitu, Tuan. Nyonya tidak mengatakan apa-apa kepada kami."
Jason mengusap pelipisnya. Ia ingin segera pulang, tetapi ia juga tahu Selena mungkin tidak ingin membicarakan kejadian tadi. Memaksanya bercerita justru akan membuat wanita itu semakin tidak nyaman.
"Baik. Jangan ganggu dia kalau tidak diperlukan."
"Baik, Tuan."
Jason mengakhiri panggilan, kemudian kembali memandang tablet di hadapannya. Ada satu hal yang masih mengganggunya, Ethan tahu Selena adalah istrinya, tetapi tetap berani melewati batas.
Jason tidak berniat berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi.
Ia membuka kontak Ethan dan mengirimkan pesan singkat.
Jason: Datang ke kantorku sore ini. Ada yang perlu kita bicarakan.
Tak lama kemudian, balasan masuk.
Ethan: Tentang apa?
Jason mengetik jawabannya tanpa ragu.
Jason: Kau akan tahu saat sampai di sini.
Setelah mengirim pesan, Jason meletakkan ponselnya dan kembali membuka dokumen kerja. Ia berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya, meskipun pikirannya sesekali kembali pada Selena.
Jason meraih ponselnya lagi dan mencari nama Selena. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Selena. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menyandarkan punggung ke kursi.
Meskipun mereka sudah menikah, Jason tidak ingin menggunakan statusnya sebagai suami untuk mencampuri setiap urusan Selena. Ia tahu wanita itu masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan pernikahan mereka. Karena itu, selama Selena tidak meminta bantuan, ia memilih memberinya ruang.
Namun, sikapnya yang menghargai privasi Selena bukan berarti ia akan mengabaikan apa yang baru saja dilihatnya.
Jason kembali menatap tablet di atas meja. Rekaman Ethan yang berusaha mencium Selena masih terbayang jelas di benaknya.
Ia mengembuskan napas, lalu menutup tablet tersebut.
"Ethan, Kau telah melewati batasanmu," gumamnya.
Jason kemudian kembali mengerjakan dokumen yang tertunda. Ia tidak berniat mengonfrontasi Selena atau menuntut penjelasan darinya. Jika ada yang perlu dibicarakan, orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu adalah Ethan, bukan Selena.
Sore harinya, Ethan tiba di kantor Jason. Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin masuk, ia mendapati kakaknya duduk di balik meja kerja dengan jas lengkap. Beberapa dokumen tersusun rapi di hadapannya.
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Ethan sambil menarik kursi di depan meja.
Jason menutup dokumen yang sedang dibacanya. "Kau tahu kenapa aku memanggilmu?"
Ethan mengernyit. "Tidak. Memangnya ada masalah?"
Jason mengambil tablet dari sisi meja, lalu memutar rekaman CCTV yang memperlihatkan kejadian di dapur pagi tadi. Ia menggeser tablet itu ke hadapan Ethan tanpa mengatakan apa-apa.
Wajah Ethan seketika berubah saat menyadari apa yang sedang ditampilkan.
"Kau memasang CCTV di rumah?" tanyanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku bertanya tentang sesuatu yang kau lakukan, bukan tentang CCTV." Jason menatapnya tenang. "Kenapa kau memaksa Selena setelah dia jelas-jelas menolakmu?"
Ethan terdiam. Ia tidak menyangka Jason mengetahui kejadian itu.
"Itu urusan antara aku dan Selena."
"Selena memang berhak menentukan urusannya sendiri. Justru karena itu, kau seharusnya menghormati penolakannya."
"Aku mencintainya, Jason."
"Dan dia istriku." Jason berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar, "Tapi aku tidak akan menggunakan pernikahan ini untuk mengatur perasaannya. Kau juga seharusnya begitu."
Ethan mengepalkan tangannya di atas lutut. "Jadi, sekarang kau ingin melarangku mendekatinya?"
"Aku tidak sedang membicarakan siapa yang boleh kau temui." Jason menatap adiknya lekat-lekat. "Aku sedang membicarakan batas yang tidak boleh kau langgar, sekalipun terhadap wanita yang kau cintai."
Ethan tidak segera menjawab. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, ia kehilangan kata-kata.
Jason kembali mengambil dokumennya, tetapi sebelum Ethan berdiri, ia menambahkan satu kalimat.
"Jangan membuatku harus membicarakan hal yang sama untuk kedua kalinya."
"Kau jelas tahu, Jason... kalau selena itu wanitaku sebelum kau menikahinya." kata Ethan dingin.
Jason menatap Ethan dengan tenang, lalu meletakkan penanya di atas meja.
"Aku tahu kalian punya masa lalu. Tapi itu tidak memberimu hak untuk memaksakan kehendakmu kepada Selena."
Ethan tertawa hambar. "Mudah bagimu bicara begitu. Kau menikahi wanita yang kucintai, lalu memintaku menerima semuanya begitu saja."
"Aku tidak pernah memintamu berhenti mencintainya." Jason menyandarkan punggungnya ke kursi. "Tapi Selena sudah menolakmu. Seharusnya kau menghormati keputusannya."
Rahang Ethan mengeras. "Kalau kau berada di posisiku, apa kau bisa tinggal diam melihat wanita yang kau cintai bersama pria lain?"
"Itu tidak mengubah apa pun." Jason menatapnya lekat-lekat. "Perasaanmu bukan alasan untuk mengabaikan keinginannya."
Ethan terdiam. Ia tidak menyukai jawaban itu, terlebih karena Jason mengatakannya tanpa sedikit pun keraguan.
"Kalau memang kau tidak mencintainya, kenapa kau menikahinya?" desaknya.
Jason tidak langsung menjawab. Ia merapikan dokumen di hadapannya sebelum kembali menatap sang adik.
"Itu urusanku dengan Selena. Bukan sesuatu yang harus kujelaskan kepadamu."
Ethan mengepalkan tangan, tetapi akhirnya berdiri dari kursinya.
Jason membiarkannya berjalan menuju pintu. Namun, sebelum Ethan sempat keluar, suaranya kembali terdengar.
"Jangan ulangi kejadian di dapur tadi."
Ethan berhenti sejenak, lalu menoleh dengan wajah tegang.
"Aku tidak akan menjanjikan apa pun."
Jason menatapnya dingin. "Kalau begitu, pastikan kau siap menanggung akibatnya."
Tanpa menjawab, Ethan membuka pintu dan meninggalkan ruangan itu. Jason kembali duduk di kursinya, tetapi dokumen di hadapannya tak lagi menarik perhatian. Kini, ia tahu masalah antara Ethan dan Selena tidak akan selesai hanya dengan satu percakapan.