Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggrek Beracun dari Selatan
Matahari pagi baru saja menembus kabut tipis yang menyelimuti pekarangan Istana Interior ketika sebuah rombongan pelayan berpakaian sutra ungu dari Pavilion Barat melangkah melintasi jalan setapak berbatu pualam. Di barisan paling depan, dua orang pelayan senior membawa sebuah pot porselen putih berukir perak murni yang sangat megah. Di dalam pot tersebut, tumbuh sebatang tanaman anggrek yang amat eksotis—batangnya berwarna hijau pekat melengkung anggun, menopang beberapa kelopak bunga berwarna ungu kehitaman yang memancarkan pendar misterius di bawah terik matahari.
Marta, yang sedang memeriksa kerapian taman depan Pavilion Timur, langsung menghentikan langkahnya saat melihat rombongan tersebut mendekat. Raut wajah pelayan muda itu serta-merta berubah waspada.
"Salam untuk Pavilion Timur," ujar kepala pelayan utusan Genevieve dengan senyuman formal yang kaku. "Kami datang membawa bingkisan pribadi dari Lady Genevieve untuk Lady Aurelia. Ini adalah ungkapan selamat atas keberhasilan beliau mengelola Pavilion Selatan yang baru."
Marta menyambut rombongan itu dengan bungkukan formal, menahan napasnya saat aroma manis yang luar biasa lembut merebak dari kelopak anggrek tersebut. Tanpa menunda waktu, ia segera mengarahkan rombongan untuk meletakkan pot mewah itu di meja kayu utama ruang tengah, lalu dengan cepat mengantar para utusan Genevieve keluar dari kawasan Pavilion Timur.
Di dalam ruangan, Aurelia yang sedang duduk santai menikmati teh pagi segera meletakkan cangkirnya. Ia bangkit berdiri dan melangkah mendekati pot porselen tersebut. Anggrek ungu kehitaman itu berdiri megah, memancarkan pesona langka yang mampu memikat siapa saja yang melihatnya.
"Nona Muda," bisik Marta tegang seraya mendekat dengan raut cemas yang tak sanggup disembunyikan. "Ini adalah kiriman langsung dari Lady Genevieve. Hamba merasa ada yang sangat tidak beres. Wanita itu baru saja kehilangan tempat duduk kehormatannya di sebelah Raja, tidak mungkin dia memberikan hadiah setulus ini tanpa ada niat terselubung di belakangnya."
Aurelia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan kecerdasan dan keterampilannya membaca intrik musuh. Tangannya yang halus terulur mendekati kelopak bunga yang indah itu, namun jemari lentiknya berhenti tepat setengah inci di udara, tak membiarkan kulitnya menyentuh permukaan daun sedikit pun.
"Anggrek Hitam dari Perbatasan Selatan," gumam Aurelia dengan suara merdu yang amat tenang. "Tanaman ini hanya tumbuh di tebing berbatu yang sulit dijangkau dan harganya bernilai ratusan keping emas. Sungguh hadiah yang sangat bermurah hati dari seorang Permaisuri Tanpa Mahkota."
"Nona, apakah bunga ini mengandung racun yang mematikan?" tanya Marta panik, refleks mengambil satu langkah mundur. "Apakah kelopaknya disiram cairan berbahaya?"
Aurelia tertawa pelan, sebuah tawa halus tanpa humor. "Genevieve adalah pemain lama yang sangat cerdas, Marta. Dia tidak akan pernah menggunakan racun kasar yang bisa langsung dideteksi oleh tabib kerajaan atau membuat seseorang kejang secara mendadak. Bunga ini sama sekali tidak beracun jika disentuh atau ditiup angin."
Aurelia melangkah mengitari pot porselen itu, matanya yang jernih namun pekat meneliti serbuk sari keemasan yang menempel halus di tengah kelopak ungu gelap tersebut.
"Anggrek Hitam Selatan ini memiliki keunikan yang sangat spesifik," jelas Aurelia tenang. "Suhu ruangan yang hangat akan membuat serbuk sarinya lepas ke udara secara bertahap. Serbuk halus ini tidak berbau menyengat, tetapi jika dihirup secara terus-menerus selama berhari-hari, zat didalamnya akan menyerang sistem saraf secara perlahan. Korban akan mengalami gangguan tidur, kepalanya berdenyut tanpa sebab, kecemasan berlebih, dan daya tahan tubuhnya meluruh sedikit demi sedikit. Dalam hitungan bulan, korban akan tampak meninggal secara alami akibat kelelahan kronis atau depresi berat."
Marta menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya memucat pasi mendengar kekejaman terselubung yang begitu rapi tersebut. "Wanita itu sungguh iblis! Hamba akan segera mengambil pembakar racun dan memusnahkan bunga sialan ini sekarang juga!"
"Jangan!" cegah Aurelia cepat, suaranya mengandung wibawa mutlak yang membuat Marta serta-merta menghentikan gerakannya. "Jika kita membuangnya atau membakarnya sekarang, Genevieve akan langsung tahu bahwa kita menyadari taktiknya. Dia hanya akan menarik diri sebentar dan menyusun metode lain yang jauh lebih sulit untuk dilacak."
Aurelia berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci rahasia, lalu mengeluarkan sepasang pinset perak kecil dan sebuah botol kaca kedap udara. Dengan gerakan tangan yang sangat stabil dan terlatih, ia mendekati tanaman itu kembali, menyapu sebagian serbuk sari keemasan dari tengah kelopak bunga, lalu memasukkannya ke dalam botol kaca sebelum menyegelnya rapat-rapat.
"Pindahkan pot anggrek ini ke ruang tamu luar yang memiliki ventilasi udara lebar dan aliran angin yang kencang," instruksikan Aurelia seraya menyimpan botol kaca tersebut. "Di ruang terbuka seperti itu, serbuk sarinya akan terbawa angin keluar dan tidak akan membahayakan siapa pun di dalam pavilion ini."
Marta mengangguk paham, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran. "Lalu, apa reaksi yang harus kita tunjukkan kepada Pavilion Barat?"
Aurelia menyunggingkan senyuman paling memikat dan penuh arti. "Kirimkan surat ucapan terima kasih yang paling manis dan elegan kepada Lady Genevieve atas namaku. Tuliskan bahwa aku sangat tersanjung oleh perhatiannya, sangat menyukai aroma bunga pemberiannya, dan telah meletakkan hadiah berharga itu di tempat yang paling terhormat di Pavilion Timur."
Marta menatap junjungannya dengan rasa takjub yang luar biasa. "Anda benar-benar memanfaatkan serangannya sendiri untuk menidurkan kewaspadaannya."
"Tentu saja," sahut Aurelia dengan tatapan mata berkilat dingin. "Biarkan Genevieve menyangka bahwa rencana racun halusnya sedang bekerja membunuhku secara perlahan. Setiap serangan yang dia luncurkan adalah bukti fisik yang berharga.
Bunga ini bukan sekadar ancaman, Marta... ini adalah jebakan beracun yang dikirimkan langsung oleh tangan Genevieve sendiri, dan kelak bunga inilah yang akan menjadi bukti utama untuk memancung lehernya di hadapan Dewan Kerajaan."
Malam telah larut sepenuhnya, menyelimuti kompleks Istana Interior dalam kegelapan yang anggun. Di dalam ruang pribadi Pavilion Timur, Aurelia baru saja selesai merapikan gaun tidur sutra berwarna krem berhias renda tipis. Rambut cokelat kemerahannya dibiarkan terurai bebas di atas bahunya, memancarkan pesona alami yang sangat menawan namun penuh ketenangan.
Tiba-tiba, suara ketukan teratur di pintu depan memecah keheningan. Marta bergegas membuka pintu, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan raut wajah terkejut dan sedikit panik.
"Nona Muda," bisik Marta tegang. "Kasim Kepala utusan pribadi Yang Mulia Raja Julian ada di depan. Beliau membawa titah langsung."
Aurelia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun. Dengan langkah anggun dan tenang, ia berjalan menuju ruang depan. Di sana, seorang kasim tua berseragam sutra emas berhias bordir naga membungkuk dalam-dalam dengan penuh rasa hormat.
"Salam hangat dan penuh penghormatan untuk Lady Aurelia dari Montclair," panggil kasim itu dengan suara lantang namun sopan. "Hamba datang membawa titah dan keinginan pribadi dari Yang Mulia Raja Julian. Beliau mengundang Anda untuk menyertai beliau dalam santap malam pribadi di kediaman Istana Utama, dan menghabiskan malam bersama di dalam peraduan Raja."
Marta yang berdiri di belakang Aurelia menahan napasnya rapat-rapat. Undangan untuk menghabiskan malam di kamar peraduan Raja adalah sebuah kehormatan tertinggi yang selalu diperebutkan oleh seluruh selir di Istana Interior dengan cara apa pun. Kebanyakan wanita di istana ini akan menangis bahagia, sujud bersyukur, dan langsung terburu-buru merias diri jika menerima titah seagung itu dari sang penguasa tertinggi.
Namun, Aurelia tetap berdiri tegap. Wajahnya yang memikat bagaikan pahatan pualam terbaik sama sekali tidak menyiratkan kejutan, kegirangan, ataupun rasa gugup.
~ To Be Continue