Indonesia
NovelToon NovelToon
Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Sekertaris Gendut Istri Rahasia CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Kenyamanan Istri

Malam kian larut usai kepulangan Bu Ratih dari rumah mereka. Di dalam kamar utama yang tenang, Adrian mengunci pintu, lalu berjalan mendekati Nayla yang duduk terdiam di tepi ranjang dengan raut wajah sayu.

Adrian berjongkok di hadapan istrinya, meraih kedua tangan Nayla yang terasa sangat dingin, lalu menatap lurus ke dalam netra hitam wanita itu dengan pandangan yang amat hangat dan sarat akan perhatian.

"Sayang... sebenarnya ada apa?" tanya Adrian lembut, mengusap punggung tangan istrinya. "Jangan sembunyikan apa pun lagi dariku. Sudah aku katakan, berbagilah apa pun itu padaku... Jangan kamu simpan sendiri beban pikiran yang mengganggumu."

Nayla menatap wajah suaminya. Tatapan mata Adrian yang jujur, penuh kehangatan, dan siap memikul bebannya membuat pertahanan batin Nayla yang tersisa runtuh total. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya mendadak pecah melintasi pipinya.

"M-Mas..." tutur Nayla dengan suara bergetar dan terisak. "Sebenarnya... Bu Dewi Ambarwati itu... dia adalah ibu kandungku..."

Deg!

Pandangan mata Adrian seketika membelalak tipis.

"Ibu yang sudah meninggalkanku dan Bapak sejak aku berusia tiga belas tahun..." lanjut Nayla, dadanya naik turun menahan gumpalan rasa sakit yang teramat sangat. "Dan hari ini... aku baru tahu alasan sebenarnya kenapa Ibu pergi tanpa kabar dan tega melayangkan surat cerai pada Bapak dulu..."

Mendengar pengakuan yang begitu mengejutkan itu, Adrian buru-buru memajukan tubuhnya, merengkuh tubuh Nayla ke dalam pelukan hangat yang amat protektif.

Nayla menyandarkan wajahnya yang basah oleh air mata di dada bidang Adrian, meluapkan seluruh jeritan hatinya yang selama belasan tahun ini terpendam.

"Mas... aku tahu aku sudah dewasa..." isak Nayla seraya meremas kain kemeja suaminya erat-erat. "Tapi... salahkah aku jika aku menuntut kasih sayang ibuku? Apa aku seburuk itu sampai ibuku lebih memilih menyayangi putri orang lain dan malu mempunyai anak seperti aku?!"

Air mata Nayla kian mengalir deras membasahi kemeja Adrian, menyuarakan rasa terbuang yang selama ini membayangi jiwanya.

"Dan Ibu... Ibu bahkan tidak bersedih sedikit pun saat mendengar Bapak sudah meninggal, Mas..." bisik Nayla dengan napas terputus-putus. "Dia justru masih sempat-sempatnya menjelekkan dan menghina Bapak..."

Setiap kata, setiap isakan, dan setiap tetes air mata yang keluar dari bibir Nayla merayapi dada Adrian bagaikan sembilu. Amarah yang sangat besar membakar hebat di dalam benak Adrian. Pria itu mengepalkan jemarinya erat-erat, menahan geram membayangkan ada seorang ibu yang begitu tega menghancurkan dan menginjak-injak perasaan wanita selembut Nayla.

Namun di hadapan istrinya, Adrian mengendalikan dirinya sekuat tenaga. Ia mempererat dekapan tangannya, membelai lembut helai rambut panjang Nayla untuk menyalurkan kekuatan.

"Dengarkan aku, Sayang..." bisik Adrian penuh penekanan di dekat telinga Nayla, suaranya terdengar begitu dalam dan tulus. "Kamu adalah anak yang membanggakan... seperti yang selalu dikatakan oleh Almarhum Bapakmu. Jadi, jangan pernah dengarkan perkataan buruk orang lain. Dan kamu... kamu sama sekali tidak buruk, Nayla. Kamu sangat indah di mataku. Sudah ya, tenang..."

Adrian mengecup puncak kepala Nayla berulang kali, menyapu air mata yang mengalir di pipi mulus istrinya dengan ibu jari hangatnya hingga isakan wanita itu perlahan mereda.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Adrian bersumpah tegas. Meski kini ia tahu bahwa Bu Dewi adalah ibu mertuanya sendiri, pria itu tidak akan pernah membiarkan wanita jahat itu lolos begitu saja setelah membuat istrinya tertatih-tatih dalam kesedihan yang mendalam.

...

Beberapa saat kemudian, suasana kamar kembali hening. Nayla telah terlelap dalam tidur nyenyaknya akibat kelelahan usai meluapkan emosi.

Adrian melangkah keluar kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan istrinya. Pria itu berdiri di koridor sepi, merogoh ponsel di sakunya, lalu menekan tombol panggilan cepat.

"Halo, Pak Adrian?" sahut suara Rio dari seberang telepon.

"Rio," panggil Adrian dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk. "Batalkan pembelian lahan milik Baskoro."

Di seberang sana, Rio tersentak kaget. "Apa, Pak?! Tapi... bukankah tadi siang sudah ada kesepakatan dan Anda sendiri sudah lama mengincar lahan strategis itu untuk proyek lapangan golf?"

"Lakukan saja tugasmu, Rio," potong Adrian tanpa menerima bantahan.

Rio yang paham betul dengan perubahan nada suara bosnya langsung patuh. "Baik, Pak. Saya akan membatalkan proses pengiriman dananya sekarang juga."

...

Pagi kembali menyapa...

Di kediaman keluarga Baskoro yang megah, suasana ruang makan terasa cukup hangat. Tuan Baskoro sedang menikmati sarapan pagi bersama istrinya, Dewi Ambarwati, serta putrinya, Anita.

Bu Dewi menyandarkan punggungnya di kursi dengan ulasan senyum puas. "Aduh, rasanya lega sekali ya, Pa... Hari ini kita akhirnya bisa mendapatkan suntikan dana segar dari penjualan lahan kemarin untuk kembali mengembangkan perusahaan yang sedang kesulitan."

Tuan Baskoro mengangguk pelan, menyerap kopi hangatnya. "Iya, Ma... Semoga saja dengan dana miliaran dari Dewangga Group ini, Papa bisa membangkitkan perusahaan lagi dan membuatnya makin berkembang pesat. Soal tanah tidak apa-apa dilepas, toh nanti kita bisa beli lagi kalau keuangan sudah stabil."

Bu Dewi melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka sembilan pagi. "Pa... ini kan sudah jam sembilan. Coba Papa cek rekening perusahaan, mungkin dananya sudah masuk dari pihak Dewangga Group."

"Sebentar, Ma... Papa telepon sekretaris kantor dulu biar dipastikan," sahut Tuan Baskoro seraya mendial nomor sekretarisnya.

Panggilan terhubung. "Halo? Apa dana transferan dari Dewangga Group sudah masuk ke rekening utama perusahaan?"

"Maaf, Pak Baskoro..." sahut suara sekretarisnya dari seberang telepon. "Saya sudah berulangkali mengecek sistem mutasi sejak pagi, tapi sampai detik ini belum ada pemasukan dana dari pihak manapun."

Dahi Tuan Baskoro berkerut dalam. "Belum ada?"

Bu Dewi yang mendengarnya ikut cemas dan menyela, "Lho, kok belum ada? Coba Papa telepon langsung saja Pak Adrian! Tanyakan kenapa perusahaannya belum mentransfer uangnya!"

Sementara itu, di lantai eksekutif gedung Dewangga Group...

Adrian sudah berada di balik meja kerjanya. Di depannya, Nayla yang tampil anggun sedang sibuk menata tumpukan dokumen dan berkas penting untuk persiapan rapat siang nanti.

Tiba-tiba, ponsel Adrian di atas meja berdering nyaring. Nama 'Baskoro' tertera di layarnya.

Adrian mengangkatnya, sengaja menyalakan mode speaker dengan wajah datar tanpa beban.

"Halo, Pak Baskoro," sapa Adrian dingin.

"Halo, Pak Adrian... Maaf mengganggu waktunya," tutur suara Tuan Baskoro di seberang sana yang terdengar menahan cemas. "Ini... saya mau menanyakan soal dana pembelian lahan kemarin. Kenapa sampai jam sekian belum masuk ke rekening perusahaan saya, ya?"

Adrian menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah istrinya yang berdiri di depan meja.

"Saya tidak jadi membeli lahan milik Anda, Pak Baskoro," jawab Adrian santai.

Deg!

"APA?!" jerit Tuan Baskoro dari seberang telepon, suaranya melengking kaget setengah mati. "K-Kenapa, Pak Adrian?! Bukankah Anda sendiri yang sangat menginginkan lahan itu sejak lama dan memberikan penawaran tinggi?!"

"Itu dulu," sahut Adrian dengan nada tenang namun penuh keangkuhan yang memikat. "Tapi sekarang, semuanya tergantung pada pendapat istri saya. Istri saya tidak menyukai tempat itu... dan keutamaan saya sekarang adalah kenyamanan serta kesenangan hati istri saya."

Klik.

Adrian mematikan sambungan telepon begitu saja tanpa menunggu balasan lagi.

Nayla yang berdiri di dekat meja dan mendengar seluruh percakapan tersebut seketika terpaku kaku. Matanya membelalak kaget. Ia sama sekali belum tahu soal pembatalan transaksi bernilai fantastis ini.

Namun, rasa kaget itu dengan cepat berganti menjadi luapan kehangatan yang luar biasa di dalam dadanya. Sudut bibirnya terangkat, matanya berkaca-kaca menatap Adrian. Hatinya merasa begitu melayang dan bahagia karena diprioritaskan dan dijaga sedemikian rupa oleh suaminya.

Kembali ke ruang makan kediaman Baskoro...

Tuan Baskoro terduduk lemas di kursinya, ponsel di tangannya hampir saja terlepas akibat rasa frustrasi yang luar biasa.

Bu Dewi yang melihat suaminya pucat pasi langsung panik. "Kenapa, Pa?! Apa katanya?!"

"P-Pak Adrian... membatalkan pembelian lahannya... Karena istrinya tidak menyukai tanah milik kita itu." gumam Tuan Baskoro terbata-bata dengan raut wajah putus asa.

"Apa?! Kok bisa?!" seru Bu Dewi tak percaya. "Aduh... kalau begitu kita harus cari pembeli lain secepatnya, Pa! Ini aneh sekali... Padahal kemarin jelas-jelas Pak Adrian itu sangat berniat dan bahkan menawarkan harga tinggi!"

Anita yang duduk di samping ibunya diam membisu seribu bahasa. Namun, di dalam hati kecilnya, rasa penasaran tingkat dewa mendadak bergejolak hebat.

'Istri Pak Adrian...?' batin Anita bertanya-tanya seraya meremas jemarinya. 'Sebenarnya... siapa sih istri Pak Adrian itu? Aku jadi penasaran setengah mati... Seperti apa sosok wanita yang sanggup membuat seorang Adrian Dewangga menuruti perkataannya sampai rela membatalkan proyek miliaran rupiah begitu saja?!'

1
Ariany Sudjana
eh ada pelacur murahan yang ga tahu diri, sudah ditolong bukannya terima kasih, sama seperti ibu kamu, sama-sama pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ciye pa bos cemburu nih... kenapa ga sekalian informasikan kalau Nayla itu istri bapak?
Yunie Silvia Putri
😄😄😄 orang bucin mah memang gitu Rio, cemburunya kadang suka kelewatan.....😄😄😄😍😍
Yunie Silvia Putri
🖒🖒🖒🖒.....
best suka ama ceritanya
❤❤
Yunie Silvia Putri
waaahhhh parah nih emak nya, malu dia punya anak bertubuh gendut....
Yunie Silvia Putri
wah bakalan ada yg bucin nih sama istri gemoy nya 😄😄😄
Yunie Silvia Putri
waahhh makin seru nihh, lanjut thor...
Yunie Silvia Putri
halo kk author baru mampir baca nih, suka ceritanya, tapi episode ini bacanya nangis terus...😢😢
Yunie Silvia Putri: kk author boleh tanya, kapan up bab selanjutnya uda gak sabar nunggu cerita selanjutnya, jangan lama2 ya up nya 😄😄😄
total 2 replies
Ariany Sudjana
yang pasti istri Adrian itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, bukan seperti kamu yang pelacur murahan 🤣🤣😂😂 maklum yah, mama kamu kan pelacur murahan, yang tega meninggalkan suami dan anaknya demi jadi istri konglomerat
Lisa
Sabar y Nayla..yg kuat y..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Lisa
Aku mampir Kak
sunshine wings
Good story i like..
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ariany Sudjana
ciye yang mau dinner romantis 🤣🤣😂😂
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!