H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Hari yang dinanti-nantikan itu akhirnya tiba. Mentari pagi bersinar terik, menyinari kawasan perumahan padat tempat tinggal keluarga Pak Bambang. Suasana di sekitar rumah tampak sibuk, namun ada yang terasa sangat janggal dan kontras dengan kemewahan pernikahan yang selama ini dibualkan oleh Reno dan Gisella.
Sejak pagi buta, prosesi ijab kabul telah dilaksanakan secara sederhana di ruang tamu rumah. Dengan suara mantap meski diwarnai keringat dingin Reno Alamsyah berhasil mengucapkan satu tarikan napas di depan penghulu, sah memperistri Gisella Aurora.
Namun, petaka pertama yang sesungguhnya meledak tepat tiga hari lalu (H-3) masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan dan rasa malu yang luar biasa bagi keluarga besar.
Saat itu, keluarga berniat melunasi sisa administrasi dan melakukan pengecekan akhir di gedung resepsi mewah yang telah dipesan jauh-jauh hari. Alangkah terkejutnya mereka ketika pihak pengelola gedung menyatakan bahwa pembatalan sepihak telah dilakukan karena pelunasan dana tidak pernah diselesaikan oleh Mahika yang memegang kendali penuh administrasi keuangan acara sejak awal.
Keluarga Pak Bambang panik bukan kepalang. Uang tabungan mereka menipis, sementara undangan baru atas nama Gisella kadung disebar ke ratusan relasi dan teman kantor. Akibat tidak sanggup membayar sewa gedung megah mendadak di detik-detik akhir, pilihan terpaksanya jatuh pada cara paling hemat mendirikan tenda resepsi sederhana di atas sebidang tanah kosong di samping rumah mereka.
Pemandangan itu menciptakan ironi yang luar biasa. Tenda terpal biru berdiri di atas tanah berlumpur dan berdebu, diapit oleh dinding rumah tetangga yang berhimpitan.
Bagi Gisella, situasi ini terasa bagaikan lemparan bumerang dari masa lalu yang menghantam wajahnya mentah-mentah.
Ingatannya melayang kembali ke beberapa bulan lalu, saat Mahika pertama kali menunjukkan draf anggaran dan memesan gedung resepsi impian. Saat itu, Gisel dengan sinis mencibir habis-habisan rencana adiknya. "Halah! Untuk apa buang-buang duit sewa gedung mewah? Menghabiskan anggaran saja! Buang-buang energi." begitu kata Gisel kala itu.
Kini, ucapan meremehkan itu berbalik menghantamnya telak. Tanpa disadari, kepergian Mahika seolah meninggalkan kado perpisahan yang manis memaksa Gisella merasakan sendiri bagaimana rasanya merayakan hari pernikahan impian di atas tanah kosong di samping rumah, persis seperti apa yang dulu ia rendahkan.
Pukul sebelas siang, para tamu undangan mulai berdatangan memadati tenda sempit tersebut. Suara musik organ tunggal berdentum keras, bersahutan dengan gosip panas yang berbisik dari mulut ke mulut di antara para tetangga dan kerabat yang hadir.
"Eh, kamu tahu nggak? Katanya pengantin wanitanya ini dulunya kakaknya sendiri lho!" bisik seorang ibu tetangga kepada ibu-ibu di sebelah kursi plastik sambil mengipas-ngipas sate. "Yang asli kan adiknya, si Mahika. Katanya si Mahika kabur gara-gara stres mau nikah."
"Ah, masa sih?" timpal tetangga sebelahnya dengan nada sangsi. "Mahika itu anak yang paling santun, pendiam dan jarang kelihatan karena kerja banting tulang di kota. Mana mungkin dia tiba-tiba kabur tanpa sebab? Pasti ada asap kalau tidak ada api. Bisa jadi si Kakaknya ini yang emang merebut calon suami adiknya."
"Iya juga ya... Coba lihat tuh pengantin wanitanya," tunjuk ibu pertama ke arah pelaminan mini di ujung tenda.
Di atas panggung pelaminan sederhana yang dihias kain kain tirai seadanya, Gisella tampak berdiri mengenakan gaun pengantin putih yang mengekor, bersanding mesra dengan Reno. Gisel sama sekali tidak menunjukkan rasa risih atau malu. Wanita itu justru tampak sangat lengket, terus-nempel, dan dengan bangga menggenggam erat tangan Reno di hadapan para tamu, seolah ingin menegaskan pada seluruh dunia bahwa ia telah memenangkannya.
Reno sendiri berusaha memasang senyum ramah menyambut para tamu kantor yang datang berbondong-bondong. Rekan-rekan kerja dari Aura Fashion termasuk Andri dan beberapa staf divisi operasional tampak hadir mengisi kursi undangan.
"Wah, selamat ya, Ren!" seru Andri saat bersalaman di atas pelaminan, tersenyum kikuk melihat tenda sederhana tersebut. "Kirain kemarin nikahnya di gedung mewah bintang lima, ternyata konsep outdoor minimalis di samping rumah ya? Kreatif juga."
Reno tersenyum kaku, berusaha menutupi rasa malunya. "Iya, Pak... Biar lebih intim sama keluarga, konsepnya memang intimate wedding."
Gisella yang berdiri di samping Reno langsung menyambung dengan senyum lebar penuh kemenangan. "Iya, Mas Andri! Biar beda dari yang lain. Yang penting sah dan lelakinya di samping saya, kan?" kata Gisel manja, mengeratkan gelayutannya di lengan Reno.
Andri hanya tertawa kecil, meski dalam hati ia merasa ada yang janggal dengan atmosfer pernikahan tersebut. Terlebih lagi, tidak terlihat satu pun kerabat dari pihak Mahika yang membela atau mendampingi keluarga ini selain orang tua kandung mereka sendiri.
Di tengah keramaian tamu yang lalu-lalang, suasana di dalam rumah Pak Bambang tampak berbeda. Bu Maya sibuk mondar-mandir di dapur darurat, melayani beberapa kerabat jauh yang datang. Meskipun mulutnya terus tersenyum menyambut tamu, di dalam hatinya terselip rasa gelisah yang tidak bisa dibohongi.
Mata Bu Maya sesekali melirik ke arah jalanan di depan gang rumah. Entah mengapa, ada rasa cemas yang mencengkeram dadanya saat mengingat kembali tatapan terakhir Mahika hari itu. Namun, ia buru-buru menepis pikiran buruknya, meyakinkan diri bahwa acara sudah berjalan lancar dan sebentar lagi semuanya akan selesai.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul satu siang, ketika antrean tamu mulai sedikit lengang dan para kerabat sibuk menikmati hidangan prasmanan di pojok tenda, sebuah kejadian kecil di atas panggung pelaminan membuat perhatian seisi tenda mendadak beralih.
Ponsel di dalam saku jas Reno bergetar hebat.
Reno mengerutkan kening, meminta izin sebentar kepada Gisella untuk mengangkat telepon penting dari salah satu relasi bisnis pabrik. Ia melangkah turun sedikit ke pinggir panggung, menggeser layar ponselnya.
"Halo? Ya, dengan Reno di sini," sapa Reno formal.
Namun, suara di ujung telepon bukanlah suara relasi bisnis, melainkan suara panik dari salah seorang staf HRD pusat Aura Fashion yang bertugas di kantor hari sabtu ini.
"Pak Reno! Cepat buka Instagram atau media sosial sekarang! Cek akun Mahika Atelier atau akun pribadi Bu Aura!" teriak suara di ujung telepon dengan nada gemetar hebat.
Jantung Reno mendadak berdegup kencang. "Hah? Apa maksud kamu? Saya lagi sibuk resepsi."
"Buka sekarang, Pak! Semua staf kantor pusat lagi gempar. Kebenaran soal pernikahan bapak terbongkar habis-habisan lewat konfirmasi langsung dari Mahika."
Dunia seolah runtuh seketika di bawah kaki Reno. Wajah pria itu yang tadinya berbinar bahagia mendadak pucat pasi bagai mayat hidup. Ponsel di genggamannya bergetar hebat hingga hampir terlepas dari telapak tangannya yang mendadak basah oleh keringat dingin.
Di atas pelaminan, Gisella yang melihat suaminya mendadak mematung dengan wajah pucat mengerutkan kening bingung.
"Ren? Kamu kenapa? Kok pucat gitu?" tanya Gisel heran, melepaskan pegangan tangannya dan melangkah mendekati suaminya di tepi panggung.
Sebelum Reno sempat membuka mulut untuk menjawab, beberapa tamu undangan di kursi depan mendadak gaduh. Suara notifikasi ponsel berdering serentak dari puluhan genggaman tangan para tamu dan rekan kantor yang hadir di bawah tenda.
"Eh... ya ampun! Kalian sudah baca postingan ini belum?!" teriak salah seorang staf wanita kantor Aura Fashion dengan suara nyaring, matanya terbelalak menatap layar ponsel pintarnya.
Suasana resepsi yang tadinya diwarnai musik organ tunggal mendadak senyap seketika. Seluruh mata di bawah tenda teralihkan pada layar ponsel masing-masing.
Di atas panggung yang sederhana itu, Reno Alamsyah berdiri gemetar, sementara Gisella menatap sekeliling dengan kening berkerut penuh rasa tidak enak. Mereka belum tahu badai apa yang baru saja menghantam lembar akhir sandiwara busuk mereka.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂