Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di tengah kamar mandi itu ada sebuah bathtub besar berwarna putih yang sudah dipenuhi oleh busa sabun beraroma stroberi.
"Wah! Ada banyak busa awan di dalam bak mandinya!" seru Luna berlari mendekati bathtub itu.
"Ini namanya busa sabun sayang, baunya sangat wangi kan?" Nabila berjongkok dan membantu Luna melepaskan gaun birunya perlahan.
Nabila sangat berhati-hati saat melepaskan baju putrinya agar tidak menyentuh bekas luka cambukan dan sundutan rokok di kulit anak itu.
Meski lukanya sudah diobati oleh dokter terbaik, bekas merahnya masih terlihat sangat jelas dan menyayat hati Nabila.
"Mama jangan menangis lagi, luka Luna sudah tidak sakit kok," ucap Luna mengusap pipi ibunya saat melihat mata Nabila memerah.
"Iya sayang, Mama tidak menangis. Mama cuma kelilipan debu," bohong Nabila tersenyum mengusap air matanya sendiri.
Nabila menuntun Luna masuk ke dalam air hangat di bathtub tersebut.
Byur.
Suara air memercik saat tubuh mungil Luna masuk ke dalam tumpukan busa beraroma stroberi yang manis.
"Airnya hangat sekali, Mama! Luna tidak pernah mandi pakai air hangat!" celoteh Luna memainkan busa sabun itu.
"Biasanya Luna mandi pakai air sumur yang dingin sekali di belakang gubuk Ibu Siska," kenang gadis kecil itu tanpa beban.
Nabila mengambil spons mandi yang lembut dan mulai menggosok punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Sekarang kamu bisa mandi pakai air sehangat apa pun yang kamu mau setiap hari," ucap Nabila membersihkan kotoran di leher Luna.
"Luna suka tinggal di sini, Mama dan Papa sangat baik pada Luna," gumam Luna menyandarkan kepalanya ke lengan ibunya.
"Kami menyayangimu lebih dari apa pun di dunia ini, anakku," bisik Nabila mengecup puncak kepala Luna yang penuh busa.
Sementara ibu dan anak itu sedang menikmati momen mandi yang mengharukan, Leon sedang duduk di sofa kamar Luna.
Dia membuka ponselnya dan membaca pesan singkat dari Asisten Budi.
Pesan itu berisi laporan bahwa pemblokiran semua kontrak tambang milik Rosalina sudah berjalan seratus persen tanpa hambatan.
"Bagus, wanita tua itu pasti sedang pusing tujuh keliling mencari tahu siapa yang menyerangnya," batin Leon menyeringai licik.
Tok tok tok.
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Leon.
"Masuk," perintah Leon dengan suara beratnya.
Kepala pelayan pria masuk ke dalam kamar dan membungkuk hormat pada bos besarnya.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Leon," ucap kepala pelayan itu dengan wajah sedikit tegang.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?" tanya Leon meletakkan ponselnya di atas meja.
"Nyonya Rosalina Wegan baru saja tiba di depan gerbang utama dan memaksa masuk untuk bertemu dengan Anda, Tuan," lapor kepala pelayan itu menunduk.
Alis tebal Leon langsung bertaut mendengar nama tantenya disebut.
"Dia berani datang kemari setelah apa yang dia lakukan?" desis Leon dengan aura membunuh yang langsung menguar dari tubuhnya.
"Dia bilang dia membawakan banyak hadiah mainan untuk Nona Bianca dan ingin makan siang bersama keluarga Tuan," tambah kepala pelayan itu.
Mendengar nama Bianca disebut sebagai alasan kunjungan tantenya, Leon langsung tertawa pelan.
Tawanya terdengar sangat kering, dingin, dan sama sekali tidak mengandung unsur humor sedikit pun.
"Hahaha, jadi tikus tua itu mulai merasa panik dan ingin mengecek kondisi anak palsu itu di rumahku," tebak Leon dengan sangat akurat.
Tante Rosalina pasti datang untuk memastikan apakah kedok penukaran bayinya sudah terbongkar atau belum.
Kalau dia melihat Bianca masih hidup enak di sini, dia pasti akan merasa aman dan pulang dengan tenang.
"Tuan Besar, apakah kami harus mengusirnya dari gerbang depan?" tanya kepala pelayan itu meminta instruksi.
"Tidak usah. Biarkan dia masuk dan arahkan dia ke ruang tamu utama," jawab Leon berdiri dari sofanya.
"Aku sendiri yang akan menyambut kedatangan bibiku yang sangat tersayang itu," lanjut Leon merapikan kerah jasnya.
Leon berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
"Nabila, Tante Rosalina datang berkunjung," ucap Leon dari luar pintu.
Suara gemericik air di dalam kamar mandi langsung berhenti seketika.
"Apa kau bilang? Wanita iblis itu berani menginjakkan kakinya di rumahku?!" suara Nabila terdengar sangat marah dari dalam kamar mandi.
"Tenanglah sayang, selesaikan saja acara mandi Luna. Biar aku yang menghadapi wanita tua bangka itu di bawah," bujuk Leon dengan nada menenangkan.
"Jangan biarkan dia lolos begitu saja Leon! Tampar wajahnya untukku!" perintah Nabila tidak bisa menyembunyikan dendamnya.
"Tentu saja istriku, aku akan memberinya pertunjukan yang sangat menarik hari ini," janji Leon dengan senyum mengerikan.
Leon berbalik dan melangkah keluar dari kamar putrinya menuju lantai bawah.
Langkah kaki sang CEO terdengar sangat mantap dan penuh dengan otoritas mutlak saat menuruni tangga marmer.
Di ruang tamu utama yang sangat luas dan mewah itu, Rosalina sudah duduk di sofa berlapis kulit asli.
Di atas meja kaca di depannya terdapat banyak kotak hadiah berbalut pita merah yang sangat mahal.
Rosalina tersenyum angkuh menatap para pelayan yang menyajikan teh hangat untuknya.
Tapi di balik senyum angkuh itu, matanya terus melirik ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan anak perempuan bernama Bianca.
"Di mana keponakanku yang tampan itu? Dan di mana Bianca kecilku yang manis?" tanya Rosalina pada pelayan yang menuangkan teh.
"Tuan Leon sedang turun dari lantai atas, Nyonya," jawab pelayan itu menunduk sopan tanpa menyebutkan Bianca.
Rosalina mengerutkan keningnya karena pelayan itu tidak menjawab pertanyaannya tentang Bianca.
"Hei pelayan, panggilkan Bianca kemari. Aku bawa banyak mainan untuknya," perintah Rosalina dengan nada memerintah.
"Maaf Nyonya Rosalina, saya tidak berhak menjawab pertanyaan itu," jawab pelayan itu langsung mundur dengan cepat.
Kecurigaan di hati Rosalina semakin membesar melihat tingkah aneh pelayan rumah ini.
Biasanya kalau dia datang, Bianca pasti langsung berlari menyambutnya untuk meminta mainan.
Tapi hari ini rumah ini terasa sangat sepi dari suara jeritan cempreng anak nakal tersebut.
"Selamat siang, Tante Rosalina," sapa sebuah suara bariton yang sangat dingin dari arah tangga.
Rosalina menoleh dan melihat Leon berjalan menghampirinya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Oh, Leon keponakanku sayang! Selamat siang!" balas Rosalina berdiri dan merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluk.
Tapi Leon berhenti dalam jarak dua meter dan sama sekali tidak berniat membalas pelukan palsu itu.
Rosalina menurunkan tangannya dengan canggung dan kembali duduk di sofa.
"Kamu kelihatan sangat tampan hari ini, Leon. Bisnismu pasti sedang sangat lancar ya?" puji Rosalina mencoba berbasa-basi menutupi kepanikannya.
"Bisnisku selalu lancar, Tante. Justru aku dengar bisnis tambang Tante yang sedang bermasalah besar pagi ini," sindir Leon langsung ke inti permasalahan.
Wajah Rosalina sedikit memucat mendengar ucapan mematikan dari keponakannya itu.
"Ah, itu cuma masalah kecil dengan mandor tambang. Aku bisa mengatasinya besok," elak Rosalina tertawa hambar.
"Baguslah kalau Tante bisa mengatasinya, karena aku yakin masalah itu akan jadi jauh lebih besar besok pagi," ancam Leon tersenyum sinis.
Rosalina menelan ludahnya yang terasa pahit. Dia yakin seratus persen sekarang bahwa Leon lah yang menyerang bisnisnya.
"Leon, di mana anak perempuanmu? Tante kangen sekali sama Bianca," Rosalina cepat-cepat mengalihkan pembicaraan ke tujuan utamanya.
"Tante bawa boneka dari luar negeri kesukaannya, panggil dia kemari biar Tante bisa mencium pipinya," lanjut wanita tua itu.
Leon duduk di sofa seberang Rosalina dan menatap tajam mata wanita yang sudah menghancurkan hidup keluarganya selama enam tahun itu.
"Bianca tidak ada di sini, Tante. Dia sedang sibuk," jawab Leon dengan nada suara yang sangat tenang.
"Sibuk? Anak umur enam tahun sibuk apa di jam segini? Apa dia sedang les balet?" tanya Rosalina memaksakan senyumnya.
Leon memajukan tubuhnya ke depan dan bertumpu pada kedua lututnya.
"Dia sedang sibuk mencari uang dua ribu perak di pinggir jalan untuk beli sebungkus roti murahan," jawab Leon tersenyum sangat lebar namun matanya penuh niat membunuh.
Prang!
Cangkir teh yang sedang dipegang oleh Rosalina langsung jatuh terlepas dari tangannya dan pecah di atas karpet mahal.
Wajah Rosalina berubah menjadi seputih mayat melihat senyuman mengerikan di wajah Leon Wegan.
Ucapan Leon barusan adalah vonis mati yang menandakan bahwa kedok penukaran bayi itu sudah terbongkar sepenuhnya.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget