SPIN OFF NOVEL "ISTRI PENGGANTI CEO"
Kecelakaan mempersatukan Alvaro Samudera dengan Marsha Anindya Putri. Hingga mengharuskan Alvaro bertanggung jawab pada Marsha dan masa depannya dengan cara menikah sirih.
"Maafkan aku, semua demi kebaikan kita bersama. Aku telah menolongmu dan kamu juga harus menolongku. Jadi kita impas"
Layaknya seorang playboy yang begitu mahir. Alvaro mampu meluluhkan hati Marsha hingga kehilangan kendali lewat kehangatan yang lelaki itu berikan. Mereka bersatu tanpa adanya cinta. Keterpaksaanlah yang mendasari ikatan di antara keduanya hingga mustahil untuk bersatu di karenakan Alvaro yang terlibat perjodohan dengan anak dari sahabat kedua orang tuanya, Viona.
Akankah ada cinta yang tumbuh di hati keduanya? Atau malah saling menyakiti pada fakta tersembunyi di balik ke putusan Alvaro memenuhi tanggung jawabnya terhadap Marsha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwiezy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Alvaro Samudera turun dari dalam mobil setelah memastikan Range Rover Sport HSE yang di kendarai sendiri olehnya terparkir rapi di pelataran kediaman orang tuanya. Barisan mobil sedan dan sport mewah sudah terparkir rapi, milik sepupu dan adiknya. Kecuali si bungsu Berlin yang memang tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Lebih tepatnya sang Papa Elvano yang tak ingin menginjinkan anak perempuannya untuk tinggal mandiri di luaran rumah lagi, kecuali Clara adik kedua dari Alvaro itu di izinkan sang Papa untuk tinggal mandiri meskipun Papa Elvano awalnya menolak, akhirnya beliau pun mengizinkannya. Ya, karena profesi Clara sebagai seorang dokter dan kebetulan Clara harus di tugaskan di luar kota B. Mau tak mau Clara pun akhirnya harus tinggal jauh dari keluarganya.
Alvaro sejenak menghela nafas dan mempersiapkan diri dari berbagai pertanyaan dari dua orang yang berpengaruh di kehidupannya, Alvaro pun masuk ke dalam rumah dengan di sambut asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman orang tuanya.
"Sayang? Terlambat lagi!" Kanaya ikut menyambut Putra sulungnya dengan langsung berkomentar.
"Maaf Bunda, Alvaro tadi ada urusan." Alvaro memberikan alasan, tubuh gagahnya langsung memeluk Bunda tercintanya dan menghadiakan kecupan sayang di dahi perempuan yang masih tampak sangat cantik di usia senjanya.
"Bunda jadi lemah, kalau Kak Alvaro sudah bersikap lembut seperti ini." Kanaya menggoda putra sulungnya dengan tatapan yang memincing. " Kenapa tidak bareng dengan Viona? Viona sudah datang bersama dengan Saga," sambung Kanaya memberitahu.
"Ada acara apa sampai mengundang Viona, Bun?" tanya Alvaro heran.
"Di karenakan hari ini Saga dan Bastian senggang, jadi Papa dan Mama sudah membuat rencana untuk membuat makan makan malam bersama secara mendadak." Kanaya memberikan alasan di balik rencananya yang terbilang sangat mendadak itu.
"Tumben kau ada waktu untuk keluarga? Biasanya kau yang terlihat paling sibuk di antara kami semua," ucap Alvaro yang masih tak menyangka bisa memiliki waktu bertemu dengan adik nomor tiganya itu yang sangat Alvaro sayangi juga.
"Jangan seperti itu, putra sulung Bunda juga sama sibuknya sehingga sudah jarang untuk menghubungi Bunda." Kanaya memprotes sikap dingin Alvaro belakangan ini kepadanya.
"Bunda!" Bastian menginterupsi dengan tiba - tiba. " Jadi putra Bunda hanya Kak Alvaro seorang," sambung Bastian dengan melayangkan nada protes kepada Bundaya.
"Biarkan Kak. Bunda kan hanya sedang mencoba berbaik hati kepada Kakak pertama kita," Berlin mengikuti langkah Bastian yang juga ikut berkomentar.
"Kalian jangan iri seperti itu!" Kanaya membelakakkan kedua mata mengirimkan sinyal marah kepada kedua anak kembarnya itu.
Keduanya langsung mengulas senyuman manis, karena tidak mau beradu argument dengan mama tercinta mereka. Lebih tepatnya karena tak mau terkena hempasan omelan panjang dari Kanaya yang akan membuat telinganya kebas.
"Oh iya. Kak Alvaro sudah di tunggu Papa di ruang kerja sejak tadi. Hati - hati loh, Kak. Perasaan Berlin enggak enak sejak tadi. Kikikiki" ucap Berlin yang memberitahu keberadaan sang Papa dengan berakhir menjahili Alvaro.
"Dasar!" Ucap Alvaro kesal pada adik bungsunya.
...****...
Alvaro membuka daun pintu ruangan kerja Elvano yang tertutup rapat. Kedua matanya membelalak ketika mendapati Saga tengah berhadapan dengan Elvano di sudut ruangan santai.
"Pa?" Alvaro menyapa Elvano dengan nada datar.
"Kemarilah!" Perintah Elvano, Alvaro pun segera mendekatinya. "Duduk!" Kembali Elvano memerintah agar Alvaro duduk di hadapannya.
Alvaro yang masih bingung dengan raut wajah datar Elvano memilih untuk diam. Sekilas lirikan matanya mengarah kepada Saga lalu kembali tertunduk, tak berani menatatap Elvano yang menatapnya tajam.
"Jelaskan!" Elvano melemparkan selembar foto perempuan ke atas meja.
Alvaro kembali membelalakkan kedua matanya ketika melihat hasil foto seorang perempuan yang tadi baru ia cumbui di rumah miliknya, yaitu Marsha. Sontak Alvaro langsung menatap Saga yang masih saja menutup rapat mulutnya dengan tatapan yang tak terbalas.
"Jangan menyalahkan Sepupumu!" Ucap Elvano yang bisa membaca pergerakkan dari Alvaro. "Papa sudah mengetahui semuanya hingga berakhir memanggil kalian berdua kesini!" Sambung Elvano memberitahu.
"Lalu, Bunda....."
"Bunda belum tahu. Tetapi suatu saat nanti pasti akan mengetahuinya. Rencana makan malam ini hanya memanipulasi Bunda agar tidak curiga," sela Elvano cepat hingga Alvaro tidak bisa berkata - kata.
"Jadi, coba jelaskan pada Papa sekarang sebelum Bundamu memanggil kita untuk makan malam," lanjut Elvano dengan mendesak putra sulungnya untuk bersuara.
"Alvaro hanya memenuhi tanggung jawab kepada perempuan itu. Alvaro juga tidak tahu kalau perempuan itu bekerja di kantor pusat dari bank milik kita. Dan Alvaro hanya membantunya keluar dari masalah." Alvaro berucap tenang dan datarnya. Seakan pasrah pada kemarahan Elvano pada akhirnya.
"Dengan cara seperti ini?" tanya Elvano dengan menyelidik.
"Alvaro hanya....."
"Papa mengerti dan sangat memahami keputusanmu, Nak. Tetapi bagaimana dengan Bundamu? Papa tidak akan membujuk Bundamu jika angin ributnya datang menerjang. Dan kau Saga! Kau dan juga Viona akan terkena angin ribut dari Tantemu juga," Elvano kembali menyela ucapan Alvaro dengan memberikan gambaran akan keputusan yang telah putranya pilih.
"Apa kalian sudah bertemu dengan Om kalian?" tanya Elvano mengalihkan pembicaraan.
"Belum!" Jawab Alvaro dan Saga serempak.
"Tapi Alvaro sudah menghubunginya kemarin. Sepertinya Om Bara masih sangat sibuk dari perjalanan bisnisnya." Alvaro memberikan keterangan yang lebih lanjut.
"Temui Om kalian jika mempunyai waktu senggang. Sebagai keponakan kalian tidak boleh sombong dengan Om kalian yang kaya raya itu." ucap Elvano mengingatkan Alvaro dan Saga.
****
Acara makan malam pun berjalan biasa saja dan tak penuh tekanan. Kehangatan, canda tawa mengisi makan malam keluarga dari keluarga hangat dengan anak - anaknya yang memiliki berbagai profesi yang di tekuni.
Gambaran jauh berbeda yang sempat Alvaro, Saga dan Viona bayangkan. Tak ada pembicaraan mengenai pertunangan Alvaro dan juga Viona yang sudah hampir terikat selama satu tahun itu. Sehingga kedua insan itu kini bisa bernafas dengan lega dan tak perlu merangkai alasan untuk menjawab pertanyaan dari Kanaya yang bersemangat dalam perjodohan mereka.
"Tidak menginap di sini saja?" tanya Kanaya pada Viona.
"Terima kasih, Tante. Besok pagi Viona ada meeting dengan klien. Dan lokasinya pun tak jauh dari apartemen." Viona menolak tawaran halus dari Kanaya yang penuh harap.
"Sepertinya Bunda lebih peduli dengan anak orang lain ketimbang anak kandungannya sendiri," ucap Bastian mengomentari sikap hangat Kanaya pada Viona.
"Kalian jika Bunda suruh menginap pun pasti tidak ada yang mau. Hal yang sia - sia Bunda tawarkan kepada kalian," Kanaya langsung membalas ucapan putranya dengan kata - kata yang menyindir sesuai fakta.
"Lebih baik kalian cepat pulang sebelum kita harus menahan kuping mendengar ceramah dari Bunda kalian." Elvano menjadi penengah dengan melepaskan dua putranya serta Saga dan Viona dari omelan panjang istri tercintanya. Di peluklah langsung Kanaya yang sudah memincing tajam, tak senang dengan sikap Elvano yang menghentikkan kemarahannya.
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
Jangan lupa untuk like, komen, vote dan hadiahnya.
sampai berjamuran nih nunggu up nya.
jgn lama2 nanti dilupain deh sama penggemar novel ini🤭🥰💪🏻💪🏻🙏🏻
ditunggu lg seru nih 👍
lg seru nih ...👍💪🏻🙏🏽
ditunggu nih 🤗