Second lead? Apa yang didapatkan tokoh second lead?.
Sebuah kisah cinta segitiga, mencintai dan merelakan? Sepertinya itu tak cocok untuk Rhea salsabila.
Gadis maniak genre romance itu, sepertinya tak bodoh untuk merelakan kisah cinta berakhir tragis.
Membaca novel online sambil bergadang itu hobinya, ngemil sambil rebahan malas itu juga hobinya, dengan semua hobinya bagaimana bisa dia memiliki cita-cita menjadi kaya? Lawak!
Gadis itu sangat tergila-gila dengan sebuah novel online yang bergenre cinta sma, masa sma, dan romance. Berjudul'my love peterpan'menceritakan kisah romantis klasik, dan kenapa dirinya harus mati lalu berpindah jiwa di tubuh salah tokoh ahh bukan dirinya harus menjadi figuran yang berakhir tragis dalam kematian cinta tak terbalaskan.
Jadi bagaimana bisa Rhea menjalani kehidupan sebagai figuran ini?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marisa Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
T: FTY'22
Jam sekolah telah usai dari 5 menit lalu, saat para murid keluar kelas dan menunggu jemputan, hanya beberapa siswa ataupun siswi yang pulang terlambat karena jam tambahan atau ekstrak kulikuler.
Rhea dan Sagara membelah jalanan ibukota dengan mengunakan sepeda motor. Sagara sebagai pengemudi dan Rhea membonceng di belakangnya.
"Kita mau kemana dulu, Gar?" Rhea mencondongkan badannya ke depan, hingga wajah gadis itu sejajar dengan wajah Sagara.
"Kamu mau kemana?" Pemuda itu sedikit menolehkan wajahnya kesamping, tepat pada wajah sang gadisnya.
"Entah, kamu gak ada acara sama temen-temen? Ke markas atau latihan Band gitu?"
"Hari ini cukup buat kamu." Rhea yang mendengar itu berdecak, lalu tersenyum memandang wajah Sagara lewat kaca spion.
"Gombal masnya, belajar dari mana sih?" Dengan senyum dan terkekeh Rhea memukul pelan punggung pemuda tersebut, hingga Sagara terkekeh dengan tingkah Rhea.
"Kamu mau kemana? Mau makan dulu, mau ke mall atau ke Timezone?" Ketika berada di lampu merah, begitu berhenti Sagara memutar badannya, sedikit menghadap samping dan memandang wajah Rhea yang berada di belakangnya.
"Emm, makan dulu aja deh. Tapi aku mau pecak ayam yang di lesehan depan minimarket itu, yah?" Dengan anggukan Sagara, laju motor itu kembali membelah jalan.
Pemandangan sore hari ini masih sama seperti biasanya, sedikit macet dan beberapa pejalan kaki di trotoar
Gedung-gedung tinggi itu seakan ingin mencapai langit, menantang awan yang berada di atasnya, mengatakan bahwasanya dirinyalah yang lebih tinggi dari keberadaan pengumpul air hujan.
Rhea, memandang jalanan dengan angin semilir melewati wajahnya, walau tidak se-sejuk saat di puncak atau se-segar saat di kampung halamannya yang dulu. Dirinya tersenyum menikmati kesempatan kedua ini.
Memandang para pengguna jalan seperti dirinya, motor, mobil dan beberapa bus atau taksi melewatinya.
Ketika menangkap kuda besi sewarna merah melintas di sampingnya, mata Rhea tidak bisa berpaling. Penguna motor itu sangat Rhea kenali, bahkan sangat-sangat kenal.
"Gar? Itu Arle?" Rhea bertanya pada Sagara yang sama-sama menangkap keberadaan Arleiano dengan seorang gadis di boncengannya. Rhea yakin itu bukan Kaisha.
"Iya." Pemuda itu menjawab singkat, dirinya amat sangat tau siapa gadis itu.
Rhea ingin kembali menjawab, tapi ketika motor Sagara berbelok dan berhenti, Rhea urungkan. Kini sebuah warung lesehan sudah berada di depan matanya.
"Ayo turun, kita makan dulu." Sagara menerima uluran tangan Rhea, memegangi gadis itu ketika hendak turun dari motor.
"Aku tau apa yang ingin kamu tanyakan, tapi nanti yah? Kita makan dulu, isi perut oke?" Rhea hanya bisa mengangguk.
.
.
.
"Jadi selama sebulan ini, kalian nyembunyiin rahasia ini sama Kaisha? Bang Afzal juga?" Rhea bertanya dengan nada emosi.
Mereka telah selesai makan, dan kini berbagai obrolan random menemani, hingga obrolan mengenai Arleiano dengan gadis yang di bonceng itu terbahas.
"Kamu diem aja gitu teman kamu kaya gini? Ini mah udah ranah menyakiti tau gak sih Gar!"
"Iya, tenang dulu Rhe, aku kan belum selesai ngomong." Sagara berusaha menenangkan Rhea yang terlihat emosi.
"Gar, Kaisha itu satu-satunya temen yang paling deket sama aku selain Uri dan Zora, Kaisha juga masih sepupu aku! Gimana aku bisa diam kalo kalian kaya gini?!" Tangan gadis itu sudah terkepal, menunjukan buku-buku jarinya yang memutih. Di atas meja itu tangan Rhea menuliskan betapa marahnya dia.
"Maka dari itu, aku sama Afzal berusaha buat nyembunyiin ini, atau biar Kaisha enggak tau sama sekali." Sagara menggenggam tangan Rhea, mengelusnya secara lembut.
Wajah Rhea menunduk, dan memandang Sagara yang tersenyum menyakinkan.
"Bagaimana pun, aku perempuan dan aku mempunyai seseorang yang aku kira bisa menjadi rumah bagi aku, tapi nyatanya rumah itu malah sibuk di luar dan mengurus orang lain, bagaimana pun yang Kaisha punya hanya aku, keluarga ku dan Arleiano di sini, bahkan aku yakin Kaisha merasa asing di keluarga ku, sama seperti aku. Gimana jika Kaisha tau yang sebenarnya dan dari mulut orang lain, aku gak menyalahkan Arle atau siapapun itu, seenggaknya kalo gak mau nyakitin justru harus jujur. Arle memang enggak selingkuh, tapi tindakan menomer duakan pacarnya itu salah, kalo Kaisha bukan prioritasnya lagi lebih baik lepaskan." Ucapnya, Rhea menghela napas sebentar, gadis itu memandang Sagara, kekasihnya dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Kalo aku ada di posisi Kaisha aku bakal kecewa banget sama kamu, bahkan aku kira bahwa orang-orang terdekat aku tidak memperhatikan aku di sekitarnya, karena berjuang untuk orang yang tidak memperjuangkan kita kembali itu akhirnya akan sia-sia. Aku harap diantara kalian tidak ada Arleiano kedua." Lalu wajah Rhea memandang sekitar tempat makan itu. Hingga pandanganya berhenti pada dua orang yang tengah duduk di depan minimarket.
"Sekalipun itu amanah, seharusnya dia bisa membedakan mana prioritas menjaga perasaan Kaisha dan, mana amanah untuk menjaga temanya, dia harusnya hanya menjaga di sekitar sekolah bukan 24 jam setiap hari, atau bahkan berniat untuk selamanya? Kalo begitu kenapa enggak tinggalin Kaisha aja? Iyakan Gar?" Pemuda itu hanya menggeleng, tidak tau harus menjawab apa.
"Kita gak tau apa yang ada di kepala Arle, Rhe." Rhea hanya mengangguk mengerti.
"Mungkin dia bosan menjalin hubungan 3 tahun sama Kaisha? Siapa yang tau perasaan lelaki, hanya semasa lelaki yang tau, kan?" Sagara hanya bisa menelan ludahnya sendiri, memandang Rhea yang tersenyum miring kepadanya.ai pengemudi dan Rhea membonceng di belakangnya.
"Kita mau kemana dulu, Gar?" Rhea mencondongkan badannya ke depan, hingga wajah gadis itu sejajar dengan wajah Sagara.
"Kamu mau kemana?" Pemuda itu sedikit menolehkan wajahnya kesamping, tepat pada wajah sang gadisnya.
"Entah, kamu gak ada acara sama temen-temen? Ke markas atau latihan Band gitu?"
"Hari ini cukup buat kamu." Rhea yang mendengar itu berdecak, lalu tersenyum memandang wajah Sagara lewat kaca spion.
"Gombal masnya, belajar dari mana sih?" Dengan senyum dan terkekeh Rhea memukul pelan punggung pemuda tersebut, hingga Sagara terkekeh dengan tingkah Rhea.
"Kamu mau kemana? Mau makan dulu, mau ke mall atau ke Timezone?" Ketika berada di lampu merah, begitu berhenti Sagara memutar badannya, sedikit menghadap samping dan memandang wajah Rhea yang berada di belakangnya.
"Emm, makan dulu aja deh. Tapi aku mau pecak ayam yang di lesehan depan minimarket itu, yah?" Dengan anggukan Sagara, laju motor itu kembali membelah jalan.
Pemandangan sore hari ini masih sama seperti biasanya, sedikit macet dan beberapa pejalan kaki di trotoar
Gedung-gedung tinggi itu seakan ingin mencapai langit, menantang awan yang berada di atasnya, mengatakan bahwasanya dirinyalah yang lebih tinggi dari keberadaan pengumpul air hujan.
Rhea, memandang jalanan dengan angin semilir melewati wajahnya, walau tidak se-sejuk saat di puncak atau se-segar saat di kampung halamannya yang dulu. Dirinya tersenyum menikmati kesempatan kedua ini.
Memandang para pengguna jalan seperti dirinya, motor, mobil dan beberapa bus atau taksi melewatinya.
Ketika menangkap kuda besi sewarna merah melintas di sampingnya, mata Rhea tidak bisa berpaling. Penguna motor itu sangat Rhea kenali, bahkan sangat-sangat kenal.
"Gar? Itu Arle?" Rhea bertanya pada Sagara yang sama-sama menangkap keberadaan Arleiano dengan seorang gadis di boncengannya. Rhea yakin itu bukan Kaisha.
"Iya." Pemuda itu menjawab singkat, dirinya amat sangat tau siapa gadis itu.
Rhea ingin kembali menjawab, tapi ketika motor Sagara berbelok dan berhenti, Rhea urungkan. Kini sebuah warung lesehan sudah berada di depan matanya.
"Ayo turun, kita makan dulu." Sagara menerima uluran tangan Rhea, memegangi gadis itu ketika hendak turun dari motor.
"Aku tau apa yang ingin kamu tanyakan, tapi nanti yah? Kita makan dulu, isi perut oke?" Rhea hanya bisa mengangguk.
.
.
.
"Jadi selama sebulan ini, kalian nyembunyiin rahasia ini sama Kaisha? Bang Afzal juga?" Rhea bertanya dengan nada emosi.
Mereka telah selesai makan, dan kini berbagai obrolan random menemani, hingga obrolan mengenai Arleiano dengan gadis yang di bonceng itu terbahas.
"Kamu diem aja gitu teman kamu kaya gini? Ini mah udah ranah menyakiti tau gak sih Gar!"
"Iya, tenang dulu Rhe, aku kan belum selesai ngomong." Sagara berusaha menenangkan Rhea yang terlihat emosi.
"Gar, Kaisha itu satu-satunya temen yang paling deket sama aku selain Uri dan Zora, Kaisha juga masih sepupu aku! Gimana aku bisa diam kalo kalian kaya gini?!" Tangan gadis itu sudah terkepal, menunjukan buku-buku jarinya yang memutih. Di atas meja itu tangan Rhea menuliskan betapa marahnya dia.
"Maka dari itu, aku sama Afzal berusaha buat nyembunyiin ini, atau biar Kaisha enggak tau sama sekali." Sagara menggenggam tangan Rhea, mengelusnya secara lembut.
Wajah Rhea menunduk, dan memandang Sagara yang tersenyum menyakinkan.
"Bagaimana pun, aku perempuan dan aku mempunyai seseorang yang aku kira bisa menjadi rumah bagi aku, tapi nyatanya rumah itu malah sibuk di luar dan mengurus orang lain, bagaimana pun yang Kaisha punya hanya aku, keluarga ku dan Arleiano di sini, bahkan aku yakin Kaisha merasa asing di keluarga ku, sama seperti aku. Gimana jika Kaisha tau yang sebenarnya dan dari mulut orang lain, aku gak menyalahkan Arle atau siapapun itu, seenggaknya kalo gak mau nyakitin justru harus jujur. Arle memang enggak selingkuh, tapi tindakan menomer duakan pacarnya itu salah, kalo Kaisha bukan prioritasnya lagi lebih baik lepaskan." Ucapnya, Rhea menghela napas sebentar, gadis itu memandang Sagara, kekasihnya dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Kalo aku ada di posisi Kaisha aku bakal kecewa banget sama kamu, bahkan aku kira bahwa orang-orang terdekat aku tidak memperhatikan aku di sekitarnya, karena berjuang untuk orang yang tidak memperjuangkan kita kembali itu akhirnya akan sia-sia. Aku harap diantara kalian tidak ada Arleiano kedua." Lalu wajah Rhea memandang sekitar tempat makan itu. Hingga pandanganya berhenti pada dua orang yang tengah duduk di depan minimarket.
"Sekalipun itu amanah, seharusnya dia bisa membedakan mana prioritas menjaga perasaan Kaisha dan, mana amanah untuk menjaga temanya, dia harusnya hanya menjaga di sekitar sekolah bukan 24 jam setiap hari, atau bahkan berniat untuk selamanya? Kalo begitu kenapa enggak tinggalin Kaisha aja? Iyakan Gar?" Pemuda itu hanya menggeleng, tidak tau harus menjawab apa.
"Kita gak tau apa yang ada di kepala Arle, Rhe." Rhea hanya mengangguk mengerti.
"Mungkin dia bosan menjalin hubungan 3 tahun sama Kaisha? Siapa yang tau perasaan lelaki, hanya semasa lelaki yang tau, kan?" Sagara hanya bisa menelan ludahnya sendiri, memandang Rhea yang tersenyum miring kepadanya.