Gimana sih rasanya, tiba - tiba nikah?
em... pasti campur aduk rasanya. Begitupun dengan yang di rasakan Rindi.
Ia seorang siswa yang masih duduk di kelas 2 SMA harus nikah dadakan dengan orang yang tiba - tiba ia kenal tanpa sengaja.
Apalagi orang tersebut sangat membuatnya emosi. Di satukan dalam sebuah ikatan pastinya akan membuat mereka sulit untuk akur.
Apalagi menikah dengan cara dadakan seperti ini.
Yuk, yang penasaran langsung baca aja ya. ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alrumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Bikin Was - Was
Yeni kemudian melihat ke sekeliling tempat ia dan Rindi berada saat ini. Di lihatlah dari arah depan, kiri, kanan dan belakang tubuhnya sebanyak tiga kali berulang - ulang.
Dan di saat yang ke tiga kali, Yeni mulai kembali mengeluarkan suaranya.
"Rindi ini beneran kita udah ada di sini." Kata Yeni pada Rindi.
"Menurut kamu gimana?" Kata Rindi bukannya menjawab ucapan Yeni, ia malah bertanya balik pada Yeni.
"Kalau menurut aku sih, udah. Soalnya banyak motor dan mobil yang lagi parkir di sini." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Ya udah kalau gitu ucapan kamu agaplah benar. Yuk langsung naik." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Ko gitu sih Rindi. Kamu kenapa gak mau..." Kata Yeni yang belum menyelesaikan ucapannya malah di potong oleh Rindi.
"Kelamaan kalau aku harus jawab, apalagi nih ya waktu terus berjalan. Ayah aku bisa - bisa udah sampai rumah duluan. Kamu tau kan resiko nya apa, kalau aku telat. Aku tuh gak mau kalau sampai beneran terjadi. Argh... ayo naik." Kata Rindi yang memotong ucapan Yeni.
"Hem... iya deh iya aku naik. Kamu nih kalau udah panik selalu aja gini." Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan menggerutu.
Walau dalam keadaan menggerutu Yeni tetap setuju dengan ucapan Rindi dan mulai menaiki motor miliknya itu.
Setelah Yeni duduk di motor. Rindi pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Udah duduk nya." Kata Rindi pada Yeni.
"Udah" kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan satu kata.
"Hem... ya udah kalau gitu aku langsung lajuin motornya ya." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Tunggu, tunggu..." Kata Yeni meminta Rindi untuk menunggu terlebih dahulu sebelum melajukan motornya.
"Ada apa lagi Yeni, kenapa harus tunggu dulu?" Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Liat dong Rindi, aku tuh belum pake help. Kamu tau kan mengenai kata utamakan keselamatan. Nah, dalam berkendara itu kita di anjurkan untuk menggunakan helm buat keselamatan kita. Maka dari itu aku mau menggunakan helm dulu. Jadi tunggu sebentar. Oke." Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan memberikan penjelasan.
"Panjang bener penjelasan nya, padahal tinggal bilang mau pake helm juga kan udah beres. Eh... malah di buat panjang." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Hehehe... biar jelas aja. Udah yuk langsung jalan aja." Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan tersenyum.
"Udah pake helmnya." Kata Rindi bertanya pada Yeni terlebih dahulu.
"Udah, nih liat aja. Cantik kan." Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan memuji dirinya sendiri.
"Hem... terserah kamu aja." Kata Rindi membalas ucapan Yeni dengan malas sampai memutar kan bola matanya di ujung kalimat yang ia ucapkan.
"Ya udah kalau terserah aku. Itu artinya kamu setuju kalau aku tuh memang cantik." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
Tanpa menjawab ucapan Yeni lagi. Rindi mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi dan hampir membuat Yeni terjatuh karena belum ada persiapan saat Rindi menjalankan motor dengan kecepatan tinggi.
"Argh... Rindi argh... kamu ya. Kenapa gak bilang kalau mau di jalankan motornya. Jadi kaget kan aku. Mana mau jatuh lagi. Huh... Huh... Huh..." Kata Yeni yang langsung memeluk tubuh Rindi karena keterkejutannya itu yang secara tiba - tiba Rindi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Bahkan deru napas nya pun berdetak sangat kencang seperti seseorang yang habis lari di kejar - kejar sesuatu yang membuatnya ketakutan.
Dan begitu sangat - sangat kencang membuat Yeni kini mulai mencoba menormalkan kembali napasnya.
"Huh... Huh... Huh..." Inilah suara tarikan napas yang dilakukan oleh Yeni.
"Maaf, sekarang kamu gak papa kan Yeni." Kata Rindi membalas ucapan Yeni dengan khawatir mengenai kondisi Yeni.
"Sudah lebih baik, lain kali jangan kaya gini lagi. Aku gak tau kalau nanti kamu lakuin yang sama seperti ini, aku bisa cepet menormalkan kembali napas aku atau malah sebaliknya." kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Iya Yeni aku gak akan ulangi lagi. Ini karena aku tadi panik takut ayah udah pulang duluan. Sekali lagi aku minta maaf ya, kamu mau maafin aku kan. Please maafin aku ya." Kata Rindi yang merasa bersalah pada Yeni.
"Aku pikirin dulu, mau main kamu atau gak." Kata Yeni membalas ucapan Rindi tanpa kepastian membuat Rindi kembali mengeluarkan suaranya.
"Jangan gitu lah Yeni, maafin aku ya. Aku jadi gak tenang nih bawa motornya kalau kamu belum maafin aku." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Kamu nih si paling bisa deh buat orang langsung maafin kamu. Ada aja alasannya, buat orang langsung luluh. Ia deh iya aku maafin." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Hehehe... kamu bisa aja Yeni. Em... makasih ya udah mau maafin aku walau dengan keterpaksaan maafin aku nya. Tapi setidaknya udah buat aku bisa tenang. Sekarang peluk aja tubuh aku nya. Jangan dilepas karena aku mau lajuin motor nya dengan kecepatan tinggi." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Mau di lajuin kaya gimana lagi Rindi. Ini tuh udah kenceng banget. Jangan di tambah lagi. Ntar aku takut." Kata Yeni menunjukkan ketakutannya pada Rindi.
"Biasanya juga suka ikut kebut - kebutan sama aku. Jadi gak usah takut. Ini tuh gak seberapa." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Jangan ih... Jangan di tambah lagi kecepatannya. Udah segini aja. Segini juga udah bikin was - was." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Hem... iya deh iya, tapi Yeni kalau segini takutnya ntar gak akan keburu. Aku tambahin dikit ya kecepatan nya." Kata Rindi membalas ucapan Yeni dan meminta Yeni untuk menyetujui permintaannya.
"Hem... tapi sedikit aja." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Iya sedikit ko." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Oke, kalau gitu aku tambahin ya kecepatannya." Kata Rindi pada Yeni.
"Iya" kata Yeni hanya membalas ucapan Rindi dengan satu kata saja.
Kecepatan pun mulai di tambah oleh Rindi. Sehingga laju motor mulai bertambah kencang.
"Segini gak papa kan Yeni." Kata Rindi bertanya pada Yeni.
"Hem... iya segini aja." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
"Oke" kata Rindi yang kini langsung fokus melajukan motornya.
Yeni yang berada di belakang tubuhnya begitu memeluk erat tubuhnya itu.
"Yeni tubuh aku nya jangan di peluk kencang - kencang dong. Gak bisa bernapas dengan baik nih. Longgarkan dikit napa." Kata Rindi pada Yeni meminta agar Yeni melonggarkan pelukannya.
"Hehehe... maaf, aku longgarkan deh." Kata Yeni membalas ucapan Rindi dengan tersenyum dan langsung melonggarkan pelukannya itu.
"Makasih, sekarang udah jauh lebih baik napas nya aku." Kata Rindi pada Yeni.
"Iya Rindi, maaf ya aku malah peluk kamu erat." Kata Yeni meminta maaf pada Rindi.
"Hem... iya santai aja Yeni." Kata Rindi membalas ucapan Yeni.
"Sekarang kamu fokus jalanin motor nya aja ya Rindi. Aku mau tidur dulu di belakang tubuh kamu. Oke, nanti bangunin aku kalau udah sampai." Kata Yeni membalas ucapan Rindi.
Bersambung...
udah ku kasih bunga tadi 💐