"Don't judge the book by its cover"
Ungkapan itulah yang sesuai untuk gadis cantik bernama Belle itu.
Karena dibalik wajah cantiknya, tersembunyi banyak rahasia besar dan kisah masa lalu yang sangat tidak terduga.
Dan semua itu mulai terungkap, setelah kehadiran seorang pria bernama Bryan dalam hidupnya. Pria yang menghabiskan malam dengannya, yang ternyata adalah musuhnya sendiri.
Lalu, bagaimanakah akhir dari kisah mereka? Happy or sad ending? Who knows.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemarry_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Heart Stealer "22"
"Kuharap kau benar-benar melakukannya atau akan memborgol tangan kita berdua."
Bryan menatap Belle dengan senyuman nakal, dan kerlingan mata yang membuat bulu kuduknya merinding.
Bagaimana bisa, pria itu mengatakan hal gila semacam itu padanya dengan wajah yang begitu santai. Benar-benar di luar nalar.
Dengan nada menyelidik sekaligus menyindir Belle berkata, "Kurasa kau punya selera yang unik tuan Bryan. Atau jangan-jangan kau suka BDSM?"
"Waw, BDSM? Jujur saja kau adalah wanita pertamaku, dan itu artinya aku belum pernah melakukanya. Tapi lain kali kita bisa mencobanya, kalau kau mau."
Sontak saja jawaban Bryan itu, membuat wajah Belle merona dan terasa panas. Entahlah. Mungkin itu karena dia mengetahui kenyataan jika dirinya adalah wanita pertama bagi Bryan, atau karena dia tengah membayangkan adegan iya-iya yang berkaitan dengan kata BDSM itu.
"Terimakasih tawarannya. Tapi aku harus bilang tidak," balas Belle dengan senyum yang di paksakan. "Apa laki-laki ini gila? Dia menawariku bermain BDSM!?" ujar Belle dalam hati.
Dan gilanya, dia malah membayangkan adegan-adegan BDSM yang sering dia baca di novel favoritnya. Ya, dia hanya tau soal hal srmacam itu dari novel.
Melihat ekspresi Belle, membuat Bryan sangat ingin tertawa saat ini. Dia heran, bagaimana bisa wanitanya itu bisa menghubungkan borgol dengan BDSM? Pemikiran yang terlalu liar, itulah yang Bryan simpulkan dari diri Belle.
Dia tersenyum geli menanggapi Belle yang tengah manyun, karena godaannya itu. di mata Bryan, Belle terlihat sangat manis dengan bibir peachnya yang sedang manyun itu.
Singkatnya, itu terlihat sangat menggoda baginya. Bahkan ingin rasanya dia menikmati lagi, rasa yang entah sejak kapan sudah menjadi candunya itu.
"Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku Belle, aku tak akan membiarkanmu pergi dari sisiku." Bryan bertekad dalam hatinya.
Tak berapa lama, mereka semua akhirnya sampai di tempat tujuan terakhir hari ini. Dengan begitu bersemangat, mereka masuk ke room yang sudah di reservasi, dan memesan banyak sekali minuman juga snack.
Bryan mengangkat gelasnya dan berseru, "Malam ini minumlah sepuasnya, aku yang akan traktir."
"Cheers!" Mereka pun mulai menenggak minuman itu sedikit demi sedikit.
Mereka tampam bergembira bersama, melepaskan beban pekerjaan, beban hidup, dan juga kesedihan mereka, mengganti semua itu dengan canda tawa bahagia yang terasa hangat.
Hingga tanpa terasa, sudah cukup banyak botol kosong di ruangan itu. Namun tak ada satupun dari mereka yang berencana berhenti minum, sebelum mabuk.
"Stella, kau tidak minum?" tanya Leo sambilmenyodorkan sebotol minuman pada Stella.
Stella mengangguk sambil tersenyum, "Terimakasih, aku juga sangat haus."
Gadis yang belum mengerti apa-apa tentang dunia malam itu pun, langsung menyambar botol yang di sodorkan oleh Leo.
Namun hal yang mengejutkan, adalah dia menenggak langsung minuman itu dari botolnya tanpa menuangkannya ke dalam gelas lebih dulu.
"S-Stella, kenapa cara minummu seperti itu?" Tentu saja Leo gelapan, melihat cara minum Stella yang menurutnya sangat gila itu.
Namun setelah itu Stella nampak menjulurkan lidahnya dengan ekspresi aneh, "Kenapa rasanya sangat tidak enak?"
Anehnya Stella baru bertanya, setelah dia menenggak habis minuman keras di dalam botol itu, karena dia pikir itu hanya minuman biasa.
Itulah kenapa dia langsung meminum habis minuman itu, karena dia memang merasa sangat haus setelah sedari tadi dia hanya menikmati snack.
"Rasanya memang seperti itu," jawab Leo yang masih bingung dengan Stella.
"Kenapa kepalaku sedikit pusing? Tapi aku juga ingin minum lagi." Stella pun mulai merasakan efek dari minuman itu, namun dia kembali menyambar sebotol minuman lagi dan menghabiskannya dalam beberapa kali tenggak.
Glekk!
Leo yang melihatnya sontak langsung membulatkan mata, seolah kedua bola mata itu ingin meloncat keluar dari singgasananya.
"Stella, Jangan bilang kau tidak bisa minum? Lalu kenapa tadi kau bilang, kau bisa minum?" Leo bertanya pada Stella yang sudah setengah mabuk itu.
Denga entengnya Stella menjawab pertanyaan Leo, "Tentu saja aku bisa minum, jika tidak bisa minum bukankah aku akan mati kehausan?"
Jawaban polos Stella itu, seketika membuat Leo sadar dan tepok jidat di buatnya.
"Astaga Leo, kenapa kau bodoh sekali? Stella itu polos, dan kau benar-benar percaya kalau dia bisa minum? Oh ya Tuhan..." Dalam hati, Leo merutuki kecerobohannya sendiri.
Cara Stella minum membuat area sekitar bibir, leher hingga dadanya menjadi basah dan membuat bajunya jadi transparan.
Dan tentu saja hal itu membuat Leo membelalakkan matanya, menatap tubuh Stella. Namun dia yang juga sedari tadi sudah terlalu banyak minum, pun justru tergoda saat dia melihat Stella.
"Leo," panggil Stella yang kini menghadap padanya, dengan mata sipit yang sepertinya terasa sangat berat untuk terjaga dan dengan senyuman manis di bibirnya menatap dalam pada Leo.
Pluk!
Stella manangkup kedua pipi Leo, lalu mendekatkan wajah mereka dan membisikkan sesuatu di telinga Leo.
Sontak saja Leo terkejut, "Stella, apa yang kau lakukan?"
"Terimakasih kau sudah menolongku. Terimakasih kau mau menerimaku. Aku sangat berterimakasih padamu untuk itu, Leo."
Hembusan napas Stella yang hangat mengenai telinga dan leher Leo. Karena posisi wajah Stella yang berada di ceruk lehernya.
Stella pun memeluk Leo dengan sangat erat, karena dia merasa nyaman dan aman jika berada di pelukan Leo. Dia merasa memiliki orang yang perduli padanya, orang yang mau menerimanya dengan senang hati.
Leo merasakan kedua bukit Stella menempel di dada bidangnya, karena Stella yang memeluknya dengan sangat erat.
Namun juga ada rasa dingin, akibat baju Stella yang basah terkena minuman. Tapi anehnya, hawa didalam diri Leo justru semakin membara, semakin lama terasa semakin panas.
"Leo, aku pusing. Jadi aku akan terus berada di dekatmu, menempel padamu seperti yang kau mau."
Leo mengusap kasar wajahnya, "Astaga, Stella. K membuatku gila!"
Leo melirik ke arah Lucas, yang sepertinya tengah mencuri pandang pada Stella. Dia segera melepas kemeja yang di pakainya, hingga kini dia bertelanjang dada, dan memakaikan kemejanya itu pada Stella lalu menggendongnya keluar.
"Leo, kau mau kemana?" panggil Belle yang juga nampak sudah mulai mabuk.
Dia menjawab tanpa menolehkan kepalanya, "Aku akan membawanya ke kamar, dia sudah mabuk."
Leo bergegas pergi meninggalkan teman-temannya, dan memesan kamar khusus disana, untuk membawa Stella istirahat.
Stella yang merasakan kulitnya bersentuhan dengan dada bidang Leo, dengan polosnya malah meraba-raba dan bahkab memainkan jari-jarinya di sana seolah dia sedang menggambar.
"Ini sangat bagus," ucap Stella yang mulai menciumi dada Leo, mengusap-usapkan wajahnya disana seolah dia sedang memeluk sebuah boneka beruang besar yang membuatnya nyaman.
"Oh, shitt!"