Albidzar Zevandra Dewantara, pria dingin yang penuh dengan kesempurnaan. Hidupnya sudah cukup tenang dan aman selama 28 tahun ini. Namun kehadiran seorang gadis menyebalkan membuat kehidupannya berubah rumit.
Kota Lombok, menjadi saksi bagaimana kerusuhan yang terjadi di antara mereka. Disaat Zevandra ingin membangun resort, namun seorang gadis malah membuat rencananya menjadi kacau.
Konflik dan pertentangan terjadi di antara mereka. Akankah Zevandra akan terbebas dari gadis itu? Atau malah semakin terikat dengan pesona yang tanpa sengaja sudah membuat hatinya tidak tenang?
Yuk, baca kisah mereka.
Sekuel dari cerita Hanya Istri Figuran dan Menyerah diantara Cinta yang terabaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mulyani Syahfitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Baik Hati
Hari ini Zeze dan Zev sudah berada di depan panti asuhan milik Bu Ratna. Mereka akan membicarakan tentang lahan panti yang sudah Zev serahkan untuk Zeze. Namun, sejak beberapa menit mereka belum juga turun dari mobil.
Zev terlihat enggan, namun Zeze terus memaksa.
"Ayolah, tuan. Tuan harus bisa akrab dengan anak anak panti, setidaknya berbicara dengan Bu Ratna jika panti ini memang sudah tuan lepaskan." Ujar Zeze, sudah untuk yang kesekian kali dia merayu pria batu ini.
"Semua sudah aku serahkan pada orang orang ku, semua selesai, bahkan surat suratnya juga sudah akan selesai siang nanti. Lalu apa lagi?" Tanya Zev, dia terlihat kesal. Karena bagaimanapun Zev sangat tidak ingin masuk kedalam panti dan melihat anak anak itu. Dia masih kesal dengan kejadian beberapa waktu lalu.
"Tuan," panggil Zeze. Wajahnya benar benar memelas, dan entah kenapa ingin sekali Zev remas wajah menyebalkannya itu.
"Aku tidak mau." Tegas Zev.
Zeze mengerucutkan bibirnya sekilas, helaan nafasnya cukup panjang. Pria batu ini memang keras kepala.
"Tuan bilang, lusa tuan sudah akan pulang. Tidak bisakah menikmati waktu selama dua hari ini. Setidaknya membuat kenang kenangan yang akan berkesan nanti. Kita tidak tahu apa kita bisa bertemu lagi atau tidak," ungkap Zeze
"Kenapa tidak, aku masih akan terus kemari untuk memantau pembangunan resort, dan kau, bukankah kau juga akan kemari untuk memperbaiki panti itu?" Tanya Zev pula.
Zeze menghela nafas lesu,
"Ini bahkan menjadi liburan terakhirku, mana mungkin aku bisa datang ke tempat ini lagi." Jawab Zeze sangat tidak bersemangat.
"Kenapa?" Tanya Zev, ah kenapa dia jadi ingin tahu?
"Aku sudah harus bekerja di perusahaan, atau aku mungkin akan menikah," jawab Zeze.
Zev tertegun,
"Kau, mau menikah?" Tanyanya dengan pelan.
Zeze kembali mengangguk lesu.
"Ya, jika aku tidak mau bekerja, aku diminta untuk menikah." Jawab Zeze.
"Apa apaan itu." Gumam Zev tak habis pikir.
"Maka dari itu, dua hari ini ayolah kita habiskan waktu untuk menikmati waktu. Setidaknya sebelum kita berpisah harus ada kenang kenangan yang indah. Bukankah kita sudah berteman sekarang," rayu Zeze kembali. Dan kali ini wajah lesunya sudah berubah menjadi berbinar merayu Zev lagi.
Dan sialnya, entah kenapa Zev malah tidak tega untuk menolak. Padahal semua sudah selesai, dan dia juga sudah bisa pergi jauh dari Zeze.
"Ayolah, tuan. Mereka anak anak yang baik. Aku janji aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh tubuh berharga tuan itu." Kata Zeze lagi.
Zev nampak ragu, namun dia terkesiap saat Zeze turun dari mobil dan malah berlari ke dekat pintunya.
"Mari tuan, silahkan turun!" Ucap Zeze dengan gaya seperti seorang pelayan yang anggun. Membuat Zev langsung mendengus senyum tipis melihat kelakuan gadis ini.
"Kau sudah sembuh sepenuhnya. Sifat gila mu itu sudah kembali ternyata." Sahut Zev.
Zeze tertawa kecil mendengar itu, Zev tidak tahu saja jika dia kan hanya bercanda. Dan karena panti ini sudah jatuh ke tangannya maka semua sudah selesai, bukan?
"Aku sembuh karena aku senang, tuan begitu baik mau memberikan panti ini untukku." Jawab Zeze.
Zev hanya mengendikkan bahunya dan turun dari mobil. Entah kenapa kakinya ini malah melangkah keluar. Seperti ikut mengkhianati akal yang sejak tadi dia tahan untuk tidak turun.
"Aku tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi." Ucap Zev.
"Tidak akan, ayo." Zeze menarik tangan Zev tanpa ragu. Membuat Zev memandang gadis ini dengan heran. Dan lebih herannya lagi, malah dia mau saja di tarik seperti ini. Astaga, jika Issa melihat ini dia pasti akan menggoda Zev sepanjang waktu.
Mereka langsung di sambut oleh Ibu Ratna dan beberapa anak panti. Daffa dan Daffi sudah duluan tiba dan bercengkrama dengan anak anak itu. Mereka membagikan makanan dan minuman yang tadi sempat mereka beli.
"Tuan, nona Zeze. Mari masuk." Ujar Bu Ratna dengan begitu ramah.
"Disini saja," sahut Zev dengan cepat.
Zeze tersenyum getir memandang Zev dan Bu Ratna bergantian.
"Bu, maaf ya. Kita bicara disini saja." Ucap Zeze
"Oh, iya nak, gak apa apa. Tunggu, ibu sediakan kursinya dulu." Bu Ratna langsung berlari kedalam untuk mengambil kursi plastik. Sedangkan Zeze berjalan mendekati anak anak panti yang masih asik disana.
"Kakak Zeze!!" Seru mereka semua, bahkan tanpa canggung memeluk Zeze dengan senang hati.
"Hai, kalian suka sama makanannya?" Tanya Zeze.
"Suka dong, kak. Ini enak enak, Indah dan adik adik suka banget. Terimakasih kakak Zeze yang cantik dan baik hati." Ucap Indah dan anak anak yang lain.
Zeze tertawa lucu mendengar itu. Bahkan dia benar benar tertawa lepas tanpa beban saat bercengkrama dengan anak anak panti. Membiarkan Zev yang berdiri mematung memandangnya dengan pandangan yang penuh arti. Dan entah kenapa tanpa sadar dia juga tersenyum tipis melihat tawa Zeze. Kenapa dia bisa selalu ceria seperti itu?
"Oh iya, om Zev punya sesuatu juga loh buat kalian." Tiba tiba ucapan Zeze membuat senyum Zev memudar. Dia mengernyit, memandang Zeze yang malah berjalan kearahnya.
"Gak mau kak, kami takut sama om jahat." Anak anak panti itu nampak ragu, apalagi ketika melihat wajah Zev yang berubah dingin kembali.
"Nggak kok, om Zev gak jahat. Dia baik, dia cuma kesal karena kalian pernah nakal. Tapi sekarang nggak lagi. Bahkan dia bawain kalian alat alat tulis untuk kalian belajar." Ungkap Zeze.
"Beneran?" Tanya anak anak itu.
Zeze mengangguk cepat, dia langsung menoleh kearah Zev yang masih bingung. Bukankah peralatan itu Zeze yang membeli? Kenapa sekarang malah dilimpahkan ke dia, ya meskipun memakai uangnya.
"Om Zev, ayo kita ambil barang barang tadi." Ajak Zeze.
Zev ingin menggeleng, namun Zeze segera menarik tangannya.
"Ayolah, jangan kaku begitu. Nikmati waktu dan rasakan kebahagiaan mereka. Tuan pasti juga ikut bahagia nantinya." Ujar Zeze. Dia membawa Zev menuju mobil dimana para pengawal Zev dengan sigap membuka bagasi mobil dimana barang barang itu berada.
"Tuan tolong bantu bagikan ini ke anak anak ya." Ujar Zeze.
"Aku?" Tanya Zev tak habis pikir. Bagaimana mungkin Zeze menyuruhnya, namun belum lagi hilang rasa herannya, Zeze sudah meletakkan barang barang itu di tangan Zev.
"Hei, anak anak. Kemari! Siapa yang mau ini!!" Zeze berseru sembari mengangkat tinggi tinggi beberapa alat tulis dan buku ditangannya. Membuat anak anak itu langsung berlari kearah mereka. Awalnya mereka ragu dengan kehadiran Zev yang berwajah dingin itu, namun setelah Zev juga ikut membagikan pada mereka, semua menjadi mulai terbiasa.
"Terimakasih om baik hati." Ucap anak anak itu, Zeze langsung tersenyum memandang Zev yang kaku dan terlihat canggung.
Namun, dari situ dia mulai mencair dan sedikit hangat, bahkan dia sudah mau berbicara pada anak anak itu. Zeze juga bisa melihat jika wajah dingin itu mulai berubah dengan sedikit senyum tipis. Ya, walaupun tipis namun sudah begitu membuat Zeze dan semua orang yang ada disana nampak senang.
"Lihatlah, tuan Zev si pria batu itu mulai mencair dengan pesona kak Zeze." Bisik Daffi
"Benar, kita lihat siapa yang jatuh cinta duluan di antara mereka." Sahut Daffa pula.
saran saya,kalo bisa plagiat lh Thor,kasian yg punya novel asli🙏