Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Yang Hilang

Senja Yang Hilang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: NeraLexa

Dia gadis yang baik, pintar dan energik. Sejauh ini semuanya berjalan sesuai rencananya. Menyelesaikan kuliah tepat waktu, memiliki pekerjaan impian dan mendapatkan jodoh terbaik. Namun bagaimana jika sebuah kenyataan pahit menghantam hidupnya dengan tiba tiba membuat rencana indah yang pernah terukir dalam hatinya hancur begitu saja. Bagaimana ia bisa bangkit menjadi pribadi seperti sebelumnya saat dokter dengan tegas mengatakan kalau dia mengidap penyakit langka tepat sebelum pernikahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeraLexa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Gabriel masih di tempatnya, berkutat dengan pekerjaannya di depan komputer. Hanya tinggal sedikit lagi semuanya akan beres. Jari jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sesekali dia melirik ponselnya di sudut meja  yang hanya menampilkan layar hitam.

Dia bernapas lega saat pekerjaan sudah hampir selesai. Hanya tinggal mengeprint beberapa file untuk diserahkan kepada pimpinannya. 

Di tengah kesibukannya menyelesaikan pekerjaannya, wajah Clarisa terus muncul di otaknya. Sejak tadi pikirannya terus membawanya pada gadis itu membuatnya harus membagi konsentrasi antara pekerjaannya dan gadisnya.

Sambil menunggu hasil printnya keluar, dia mengambil ponselnya. Menghidupkan layarnya berharap ada pesan masuk yang dia lewatkan tadi. Namun kosong. Tidak ada notifikasi apapun. Bahkan pesan spam yang biasanya memenuhi kotak masuknya pun saat ini seperti enggan untuk mampir.  Hanya wajah cantik calon istrinya yang dia lihat di layar. Wajah penuh senyum yang  sedang menatapnya dengan binar kebahagiaan. Dia ingat betul kapan foto itu diambil. Di hari pertunangan keduanya, hari yang penuh bahagia, hari sebelum kabut ketakutan membayangi langkah mereka.

Padahal tadi sudah telepon tapi aku masih merindukanya.

Apakah dia masih tidur?

Apakah dia baik baik saja?

Gabriel menggumam sambil  mengusap wajah di layar itu. Tak bisa dia pungkiri selalu tersimpan kekhawatiran dalam hatinya setiap memikirkan gadis itu.

Tok tok tok.

Suara ketukan di pintu ruangannya mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.

"Masuk Evan." Ucapnya saat melihat seseorang di pintu.

Lelaki yang dia panggil Evan itu melangkah masuk dengan sopan dan berdiri di depannya.

"Maaf pak, Bapak memanggil anda."

"Baiklah. Saya akan segera ke sana"

"Terima kasih pak."

"Sama -sama Evan."

Gabriel mengambil hasil print'nya, memeriksanya sebentar dan menjepitnya satu kali. Lalu keluar dari ruangannya menuju ruangan pak Camat.

Dia mengetuk pintu dan masuk ke dalam setelah dipersilahkan. Di dalam ruangan ada pak Camat yang selalu dipanggil Bapak oleh seluruh staf. Pria yang sudah hampir dua tahun ini menjadi pimpinannya itu menyambutnya dengan senyum hangat.

"Masuklah. Dan silahkan duduk"

"Terima kasih, pak."

"Oh ya pak Biel, mereka ini pegawai baru lulusan testing cpns kemarin. Mulai hari ini mereka akan bergabung bersama kita di sini. Semuanya, kenalkan ini pak Gabriel, sekcam kita yang tampan dan masih sangat muda."

"Iya pak, saya sudah terima suratnya kemarin." Gabriel menjawab dengan hormat. "Hai semuanya, selamat datang dan selamat bergabung bersama kami." Gabriel beralih pada orang- orang di depannya. Dua orang pria dan seorang wanita. Wanita itu selalu menunduk sejak tadi, sepertinya lantai di bawahnya lebih menarik ketimbang keempat pria di ruangan ini. Gabriel berdiri menyambut uluran tangan dari ketiga pegawai baru itu dan mulai menyalami mereka satu persatu.

"Ziko"

"Ernest"

Kedua pria itu menyebut nama mereka saat bersalaman. Hanya tinggal sebuah tangan putih mulus yang menunggu sambutan hangat Gabriel.

Halus dan lembut.

Itulah yang Gabriel rasakan saat telapak tangannya bersentuhan dengan tangan mulus itu.

Gabriel mengangkat wajahnya demi menatap wajah pemilik tangan halus itu. Matanya kemudian terpaku pada sosok berambut cokelat yang berdiri tepat di depannya kini.

Dia?

Kening Gabriel berkerut.  Matanya menatap lekat gadis di depannya, memastikan bahwa dia adalah gadis yang sama dengan yang pernah dikenalnya. Gadis itupun balik menatapnya dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya yang berwarna nude, hasil polesan lipstick anti airnya pagi ini.

Gabriel segera menarik tangannya dengan canggung, namun tersentak kemudian saat gadis itu malah mengeratkan genggamannya.

"Yolanda" ujar gadis itu dengan suara yang merdu dan senyum yang tidak pernah pudar. Gadis bernama Yolanda itu menyadari kecanggungan Gabriel dan  melepaskan tangannya. Namun, tidak seperti tangannya yang sudah terlepas, matanya masih menatap Gabriel dengan lekat seolah mau mengatakan I got you.

"Baiklah, cukup sekian dari saya. Untuk kalian bertiga, setelah ini kalian silahkan ikuti pak Gabriel, dia yang akan bertanghung jawab untuk  masa orientasi kalian selama dua pekan ke depan." ujar pak Camat setelah berbicara cukup lama dengan ketiga pegawai barunya tadi.

"Terima kasih pak."

Gabriel duduk di kursinya setelah ketiga pegawai barunya duduk di seberang mejanya di ruangannya. Dia membagikan jadwal orientasi kepada ketiganya.

Dia menjelaskan dengan detail beberapa hal terkait pekerjaan, peraturan internal kantor dan lingkungan tempat mereka kerja. Dan selama menjelaskan semua hal tersebut dia selalu menghindari sepasang mata yang terus mengawasinya sejak tadi.

"Dan saya harap kalian bisa berbaur dengan teman-teman di sini. Kami menantikan semangat dan inovasi inovasi kalian untuk pembangunan kecamatan yang baru ini. Sekali lagi selamat bergabung" ujarnya mengakhiri pengarahan singkatnya.

"Terima kasih pak. Mohon bimbingannya ke depannya." Ernest berbicara mewakili yang lainnya.

"Ya, saya juga masih butuh banyak bimbingan. Mari kita sama-sama belajar." Gabriel tersenyum kikuk. "Baiklah, jika tidak ada yang mau ditanyakan silahkan ke bagian umum. Untuk hari ini kalian di sana dulu. Jadwal orientasinya di mulai besok. Selamat bekerja,,"

"Ada yang ingin saya tanyakan!" Satu tangan Yolanda terangkat, membuat gerakan yang lainnya terhenti. Gabriel dan kedua lelaki di depannya baru saja hendak berdiri namun tertahan oleh suara merdu Yolanda.

"Silahkan" Gabriel meletakkan kembali bokongnya di kursi demi mendengarkan Yolanda bertanya.

"Bagaimana kabarmu?" Yolanda bertanya sambil menatap dalam mata Gabriel. Dia tertawa kecil melihat Gabriel yang terlihat terkejut dan wajah memerah entah karena malu atau hal lain. "Kamu sudah me,,,,"

"Jika tidak ada yang ingin kamu tanyakan tentang pekerjaan, silahkan keluar sekarang." Ujar Gabriel dengan tegas membuat senyum di wajah Yolanda meredup.

"Yolanda, Ayo!" Ziko menarik paksa tangan gadis itu saat dia tidak kunjung berdiri.

"Kamu gila ya? Kenapa bertanya begitu di saat dia serius membahas pekerjaan?" Gabriel masih mendengar suara mereka di luar ruangan.

"Apanya yang salah dengan itu? Aku hanya ingin mengetahui kabarnya? Aku juga ingin menanyakan hal yang lain tentang dia" kata Yolanda.

"Kamu gila ya? Kamu tidak mendengar rumor tentang dia? Dia itu pria yang dingin saat sedang bekerja." Kata Ernest. "Dan kamu tahu kenapa dia bisa menjadi Sekretaris Camat di usia muda.?" Yolanda menggeleng.

"Karena dia pintar, berkarisma, dan berwawasan luas. Pak Camat sendiri yang merekomendasinya, tidak! lebih tepatnya memaksanya. Dia selalu dapat diandalkan. Dia itu bayangannya pak Camat." Ernest menjelaskan dengan berapi api apa yang dia tahu tentang Gabriel.

"Dan kamu sudah membuat kesan buruk di hari pertamamu kerja?" tanya Ziko.

"Sudahlah, santai saja. Aku yakin dia tidak marah hanya karena aku menanyakan kabarnya." Yolanda memjawab santai.

"Memangnya kalian saling kenal sebelumnya?"

"Mungkin" jawab Yolanda sambil berlalu.

Gabriel hanya menggelengkan kepala mendengar pembicaraan ketiganya. Bisa-bisanya mereka berbicara tentang dirinya tepat di depan ruangannya dan dengan suara yang keras pula. Apakah mereka sengaja? Ck!

Gabriel kembali melanjutkan  pekerjaannya. Hanya memeriksa kembali beberapa laporan hasi perjalanan dinas yang dikerjakan tadi, memastikan agar tidak ada kesalahan. Setelah merasa yakin dia mengirimkannya kepada Bendahara Pengeluaran melalui email.

Dia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Tak terasa waktu makan siang hampir habis. Dia membuka kembali ponselnya. Helaan napas beratnya menandakan kalau belum ada kabar dari Clarisa. Pesan yang dikirimnya beberapa saat lalu bahkan belum terbaca oleh gadis itu. WhatsApp miliknya terakhir aktif pukul tujuhan tadi pagi. Itu artinya saat dia video call dengannya tadi.

Mumpung masih waktu istirahat dia mencoba menghubungi gadis itu.

Kemana sih ini anak?  Gerutunya kesal saat deringan panggilan pertama berakhir begitu saja.

Bisa bisanya dia pergi tanpa membawa ponsel?

Kamu kemana sih, Sayang?  Kesalnya berubah jadi khawatir saat  panggilan kedua belum juga ada jawaban. 

Ica, aku mohon angkat teleponnya.

Harap harap cemas dia menunggu panggilannya terhubung. Rasa takut mulai menghantuinya.  Entah di deringannya yang ke berapa barulah panggilannya tersambung.

"Sayang, kamu kemana saja sih? Aku,,,"

"Gabriel?"

Gabriel terdiam. Suara itu bukan suara gadisnya. Dia tahu betul itu.  Entah siapa dan kenapa orang lain yang menerima panggilannya. Satu perasaan aneh merasukinya.

"Halo Biel, ini Winda."

"Winda?. Oh.  Ica mana, Win? Kok kamu yang angkat teleponnya?" Gabriel bertanya dengan takut. Perasaannya makin tidak enak.

"Biel,,"

"Iya Win? Ada apa?"

"Biel, Ica...."

1
Yeti Anggraini
sdh 7 bln anakku mengidap penyakit ini
Magdalena Maria: Turut bersedih bunda😭, semoga bunda dan anaknya tetap diberi kekuatan. kisah ini juga ttg seseorang yg sy kenal.
total 2 replies
Wawan
Hadir ... ✍️
Khabib Firman Syah Roni
Finalnya epic banget! Bahkan akhirnya aku tak bisa tidur!
Magdalena Maria: Terima kasih kak, mohon dukungannya.
total 1 replies
Enoch
Luar biasa thor, semangat terus membuat cerita 👍
Magdalena Maria: Terima kasih kak, mohon sarannya bila ada yang kurang 🙏
total 1 replies
tasha angin
karya ini layak dijadikan film, semoga sukses terus thor ❤️
Magdalena Maria: Terima kasih 🙏
total 1 replies
🔍conan
Wah, gila sukses bikin aku ketagihan bacanya! (👍)
Magdalena Maria: Terima kasih terima kasih dan terima kasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!