SINOPSIS
Agung Aksara Gumilar, akuntan manajer di Sanjaya Group, perusahaan bonafid milik Alwin Sanjaya, ayah dari Bramasta Sanjaya, CEO B Group yang juga suami dari Adisti, adiknya.
Dikenal di publik setelah menjadi korban yang tertembak tak sengaja pada saat peristiwa perebutan kekuasaan dunia hitam antara Tuan Thakur dan Rita Gunaldi di The Ritz.
Saat dirinya koma, kedua orangtua Adinda yang sudah meninggal menitipkan anaknya untuk selalu dijaga dan dilindungi olehnya. Perjanjian di alam antah berantah terkait gadis remaja belia yang mampu menjungkirbalikkan dunianya.
Adinda, remaja yang selalu tengah berada dalam kesulitan saat bertemu dengannya dan dirinya selalu menjadi penyelamatnya. Hingga Adinda menjulukinya Power Ranger Hijau.
Agung dan Gank Kuping Merah harus menghadapi kenakalan remaja yang di luar batas, kebangkitan musuh lamanya dan keculasan musuh dalam menjegal software akuntansi karyanya.
Mampukah Adinda bertahan?
Seberapa kuat Power Ranger Hijau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 – ON THE WAY
Agung mengajak Adinda duduk di bangku beton tempat beberapa hari yang lalu ia tertidur di sana.
“Ada apa, Om?”
“Ma’af. Ma’afkan saya karena pernah membuat kamu terluka dan sakit hati,” Agung menunduk.
Adinda menatap Agung dengan heran.
“Om kenapa sih? Dari semalam kok bawaannya aneh. Meminta ma’af terus ke saya. Padahal sudah saya ma’afkan.”
Agung meluruskan kakinya.
“Saya hanya ingin minta ma’af lagi karena tersadar apa yang sudah saya lakukan kepada kamu sangat tidak adil bagi kamu,” Agung menoleh, menatap manik mata Adinda yang cokelat terang.
“Om kenapa?” Adinda memegang lengan atas Agung, “Om gak akan meninggalkan saya kan?”
Agung mengerjap kaget.
“Kok kamu berkesimpulan seperti itu?” Agung menatap mata Adinda lagi.
Matanya berkabut. Adinda beberapa kali mengerjapkan matanya untuk mencegah air matanya tumpah. Akhirnya dia memilih menatap ranting-ranting bougenville di atasnya.
“Dinda...” Agung memutar duduknya agar bisa berhadapan dengan Adinda, “Saya tidak akan kemana-mana. Saya tetap ada di samping kamu.”
“Kenapa atuh Om Agung meminta ma’af terus pada saya? Biasanya kan orang meminta ma’af karena akan pergi, berpamitan,” sebutir air mata meluncur jatuh ke pipi Adinda.
“Hey...” Agung berbisik, “Kamu kenapa menangis? Saya bisa disidang oleh Adek dan para Abang kamu kalau membuat kamu menangis...”
Jemari Agung reflek menghapus air mata di pipi Adinda.
“Jangan pergi, Om. Jangan tinggalin Dinda sendiri,” tangannya meraih lengan Agung lalu menyurukkan wajahnya di sana.
“Ssssh saya gak akan kemana-mana. Saya hanya meminta ma’af untuk kejadian yang tempo hari. Semua itu salah saya. Udah, jangan menangis.”
“Beneran?”
Agung mengangguk.
Adinda melepas lengan Agung. Bernafas lega sambil mengamati langit biru tanpa awan pagi itu.
“Semalam saya kangen sekali ke kamu. Ingin mengobrol dengan kamu tapi kamunya sudah tidur.”
“Kejadian kemarin menguras energi saya, Om.”
Agung mengangguk mengerti.
“Kamu sudah tidak apa-apakan?”
Adinda mengangguk.
“Saya sayang banget ke kamu. Jadi jangan menolak dan jangan menertawakan saat saya memanggil kamu dengan sebutan Sayang.”
Adinda menoleh. Menatap Agung yang berbicara sambil menatap rumpun bunga berwarna jingga di hadapannya.
“Harus ya, Om?”
“Kenapa? Kamu gak mau dipanggil sayang oleh saya? Kamu gengsi karena perbedaan umur kita?” mata Agung terpicing saat berbicara, masih menatap rumpun bunga jingga.
“Kok Om berpikiran seperti itu sih?”
“Jadi, mau kan? Gak keberatan kan kamu? Gak bakal menertawakan saya lagi?”
“Ma’af karena pernah menertawakan Om Agung saat memanggil saya dengan sebutan Sayang.”
Agung tersenyum lalu mengelus kepala Adinda.
“Din.”
“Hmm?”
“Kenapa kamu begitu mudah mema’afkan saya?”
“Karena saya hanya punya Om Agung,” Adinda jeda sejenak, “Walau ada Ayah, Bunda, dan para orangtua lainnya juga para Abang dan kakak perempuan, tapi bagi saya, saya hanya punya Om Agung.”
Agung melirik Adinda yang tengah memandangi rumpun bunga jingga di hadapannya.
“Dinda Sayang, I love you,” pipi Agung bersemu saat mengucapkannya.
Adinda menoleh cepat. Lalu tersenyum hingga muncul dekik kecil di bawah matanya.
“Om Agung gemesin banget sih wajahnya?” tangannya terjulur ke arah wajah Agung, jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk jari love, “Love you too, Om.”
Agung tertawa.
“Masuk yuk. Kita pergi sekarang.”
Adinda mengangguk. Keduanya tersenyum saat berjalan bersisian dan berjarak.
Iseng, Agung melirik jendela ruang perawat yang terbuka menghadap taman. Ada suster yang semalam menyanyi Tum Hi Ho memandang ke arah mereka berdua.
Tersenyum lebar pada Agung sambil kedua jemari kanan dan kiri membentuk lengkungan hati. Agung tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
Kepala Agung muncul dari balik pintu.
“Ready to go? Let’s go! Sambil kita jalan-jalan...”
“Sudah berbicara dari hati ke hatinya?” tanya Hana.
Agung hanya tersenyum lebar. Adinda memunculkan wajahnya di bawah wajah Agung.
“Setelah dari mie ayam, kita hunting cilok yuk,” Adinda tersenyum.
“Iyyeesssh!” Hans berseru girang.
“Wait a moment, please!” Anton mengangkat tangannya pada Agung dan Adinda, “Hold on_Tahan_!”
Anton mengambil gawainya lalu mengarahkan kamera gawainya kepada Agung dan Adinda.
“Ya ampun, kirain ada apa...” Indra menggeleng.
“Pose mereka aneh...” Anton melihat hasil bidikannya, “Tapi saat difoto jadi terlihat lucu. Imut.”
Anton menunjukkan hasil bidikannya. Semuanya setuju dengan pendapat Anton. Agung dan Adinda yang penasaran akhirnya masuk lagi ke ruangan untuk melihat foto mereka.
Agung menyarankan untuk tidak memakai banyak kendaraan, selain karena lahan parkir yang terbatas juga supaya lebih rame saat pergi.
Bramasta dan Adisti memisahkan diri dari mereka karena mengenakan motor. Pantas saja keduanya kompak mengenakan jaket denim pagi itu.
Agar lebih lega, mereka menggunakan innova yang dipakai Adinda. Hans memegang kemudi. Raditya di depan. Bangku tengah Hana, Adinda dan Indra. Bangku belakang Anton dan Agung.
Suasana riuh begitu mereka mulai memasuki mobil.
“Sorry, Gung,” kata Indra, “Gue tahu Lu ingin duduk dekat Dinda. Tapi ma’af ya, berhubung body gue tinggi besar, pastinya gue bakal kelipat-lipat duduk di bangku belakang.”
“Iya..iya... Gue ngerti. Anak Bapak dan Ibu Kusumawardhani benar-benar mewarisi gen kedua orangtuanya. Tinggi besar dalam arti harfiah,” Agung memasuki mobil diikuti Anton yang cekikikan.
Semuanya tertawa.
“Woiyy, bos Lu itu, Bro!” Anton mengingatkan sambil tertawa.
“Biarin. Orangnya gak ada ini..”
“Gue anaknya loh!” Indra menengok ke belakang sambil menyengir.
“Gue rekan sejawatnya loh!” Hans melambai dari balik kemudi sambil menatap spion dalam.
“Nah loh! Senin Lu dapat SP, Gung!” Raditya tertawa keras dari arah depan.
“Gue bolos lagi ah...” Agung tertawa.
“Gue denger!” Hans menyengir.
“Sejak kapan Om Agung dan Bang Raditya berLu-Gue?” Adinda mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Raditya.
“Bang... ingat yang tadi gue omongin, Bang...,” Agung tampak gugup di bangku belakang.
Indra dan Anton sedari tadi menahan tawanya. Berpura-pura melihat pemandangan di jendela samping mereka.
“Ng... Itu, sejak... sejak tadi!” Raditya menggaruk kepalanya sambil melirik Agung dari spion dalam yang mengacungkan jempol kepadanya.
Indra dan Anton sontak tertawa. Hans dan Hana yang tidak tahu kejadian tadi hanya menatap heran mereka.
“Ada apa sih?” tanya Hans sambil menatap Raditya.
“Tanya aja ke Agung sendiri...,” Raditya tertawa.
“Ya Allah... pipi gue pegel banget,” Anton memijati pipinya.
“Perasaan dari tadi air mata gue keluar mulu deh...,” Indra menyusut ekor matanya dengan tisu.
“Kalian kenapa sih?” tanya Hana sambil memegangi botol susu Baby Andra.
“Gak kenapa-napa. Cuma rada mleyot dikit dengar cerita Bang Raditya...,” Indra mengusap matanya lagi lalu mulai terkekeh.
Kekehannya menular pada Raditya, lalu Anton dan terakhir Agung.
“Ya ampun... kalian mencurigakan sekali!” Hana menatap suaminya yang tersenyum lebar sambil mengangkat kedua bahunya.
Pengawal Bramasta yang berada di mobil Fortuner hitam sudah lebih dahulu sampai. Bramasta menyuruh mereka makan terlebih dahulu sambil mencari tempat.
Tidak banyak meja yang tersedia.
Di luar hanya ada satu meja panjang, sedangkan di dalam ruko terdapat dua meja yang menempel di dinding.
Semua kursi penuh terisi. Para pengawal yang berjumlah 4 orang langsung memesan sekaligus mengecek tempat.
Seorang pengawal menghampiri.
“Tuan, sebaiknya nanti makan di meja tenda saja. Lebih besar dan muat banyak.”
Bramasta mengangguk.
“Di dalam ruko pasti gerah, Bang. Disti sama Kakak biasanya sih makan yang di tenda. Itu memang meja jadulnya, sejak Kakak mulai jadi langganan mereka.”
Mobil Innova yang dikemudikan Hans datang. Suasana riuh di dalam mobil terdengar hingga keluar.
Raditya dan Indra turun bersamaan. Hans membukakan pintu untuk istrinya.
“Ramai banget kalian, sampai kedengaran dari tempat kami berdiri,” Adisti masih duduk di atas jok motor.
“Woyyyadooong!” Indra tertawa, “Kita kan tim rame.”
Hana yang sudah keluar ikut tertawa mendengar ucapan Indra.
“Kalian dari jauh seperti model yang keluar dari majalah,” Anton berjalan ke arah Bramasta dan Adisti.
“Hold on, please!” Anton mengeluarkan gawainya.
“Seksi dokumentasi kita...,” Indra bersidekap melihat kelakuan si Bungsu.
“Nice! Background-nya toko beras. Nanti beri judul, belanja beras,” Agung yang baru keluar dari tenda menghampiri mereka.
“Ngapain Kak, ke dalam?”
“Ngecek meja aja. Ternyata sudah diamankan oleh pengawalnya Bang Bram.”
Raditya menepuk punggung Agung. Agung menoleh. Raditya mengajak bicara di dekat mobil, menjauh dari mereka.
“Ada apa, Bang?” Agung heran dengan raut wajah Raditya yang serius.
“Tentang pembicaraan kita semalam...”
“Ya?”
“Bersedia tidak, sebelum kembali ke rumah sakit, kita mampir dulu ke tempat Ayumi, ya?”
Agung menatap tidak mengerti.
“Temani saya untuk berziarah ke makam Ayumi.”
Agung mengangguk.
“Saya ajak Dinda, boleh?”
“Ajak saja,” Raditya mengangguk dan tersenyum.
.
*bersambung*
🌺
Jadi ingin ikutan di dalam mobil innova. Masih ada satu seat kosong kan di belakang?
😁😁🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update.
Yang belum ❤➕ ataupun ⭐5, 🙏🏼🙏🏼🙏🏼😁😁🌷
🌺
Utamakan baca Qur’an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
Trus hasil operasi plastik om Michael di Korea nya, ada novelnya yg lain??
Saya tunggu novel2 berikutnya.
Semangat🫰🫰🫰