Gina merasa pernah mengalami kejadian yang berulang. Sehingga ia menyadari bahwa itu bukanlah sekedar mimpi ataupun ilusi tetapi gambaran masa depannya.
Berusaha menjauh dari orang-orang yang akan membunuhnya tetapi malah orang-orang itu semakin menempel padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelet
Bian dan Asen berada di lapangan olahraga, di mana Asen terlihat kurang semangat saat bermain basket.
Bian, yang penasaran, melemparkan bola basket ke arah Asen, yang dengan malas menangkapnya.
Setelah memasukkan bola basket ke dalam ring, Asen mengajak Bian untuk duduk di bawah pohon dekat lapangan.
"Gina lomba hari ini," jawab Asen dengan wajah masam.
Bian tertawa, "Ya ampun. Palingan besok juga sekolah lagi tuh bocah," tawa Bian.
Namun, ekspresi cemberut Asen menunjukkan bahwa ia merindukan kehadiran Gina.
"Beneran suka sama Gina?" tanya Bian, ingin memastikan.
"Iya lah," jawab Asen cepat.
Bian terus menyelidiki, "Lo bakalan rusak Gina kayak lo rusak cewek sebelum dia?"
Pertanyaan tersebut membuat Asen terdiam sejenak.
Awalnya, Asen memang berniat memanfaatkan Gina, terlebih karena Gina terlihat manis di matanya.
Namun, seiring waktu, Asen menyadari bahwa Gina adalah sosok yang baik.
"Gue enggak akan rusak dia. Gue bakalan jagain dia," ucap Asen dengan tekad.
Bian hanya tertawa, "Tobat lo jadi buaya?"
Tapi, Asen menegaskan, "Gue serius. Bahkan gue enggak akan lepasin dia."
Bian, melihat mata Asen yang jelas penuh dengan obsesi, merasa miris dalam hati.
"Gue enggak tahu Gina bakalan tahan apa enggak sama lo. Apalagi dengan mata lo yang kelihatan jelas penuh obsesi," batin Bian dengan keprihatinan.
"Oh iya, gue baru inget. Gimana hubungan lo sama kakak lo?" tanya Bian tiba-tiba.
Asen manyun, "Bisa enggak, enggak usah bahas makhluk yang satu itu." Kesal Asen.
Lagi dan lagi, Bian hanya tertawa. "Habisnya lo dan keluarga lo aneh sih. Kenapa enggak bersatu aja sih? Kenapa harus perang sesama saudara untuk dapetin posisi di masa depan?" heran Bian.
"Gue sih enggak mau ya. Tapi keadaan yang buat gue kayak gitu," jelas Asen sambil menggeleng.
"Tapi masalah lo sama kakak lo enggak jauh beda sama Gino dan Gina. Tapi, mereka lebih menekankan enggak pakai otot kalau berantem," ucap Bian sambil tertawa.
"Gue enggak tahu apa yang dipikirin sama Gino. Bisa-bisanya dia benci sama Gina. Padahal kan dia cuma dilatih untuk jadi bayangan dia, bukan gantiin posisi dia," heran Asen sambil menggaruk kepala.
"Jelas lah Gino benci Gina. Ingat, bayangan bisa menggantikan yang asli ketika bayangan lebih dominan," jelas Bian dengan santai.
Bel istirahat berbunyi, dan Asen serta Bian masih nyaman duduk di bawah pohon sambil bercengkerama, hingga Morgan datang menghampiri keduanya.
"Ayok kantin. Udah di tunggu yang lain," ajak Morgan.
"Ok," jawab Asen dan Bian bersamaan
Ketika mereka tiba di kantin, di tempat biasa mereka duduk, sudah ada Regan dan Gino yang hanya diam sambil menatap makanan mereka.
Bian melirik sekitar, "Zeta sama Jihan mana?" tanya Bian.
Wajah Regan menggelap, "Enggak usah tanya-tanya tentang dia. Bikin mood buruk aja," dingin Regan.
Bian meneguk ludahnya kasar, merasa bingung dengan hubungan antara Regan dan Zeta yang sudah lama dekat, tetapi tak memiliki kejelasan.
Keempat teman itu duduk dengan atmosfer yang tegang, membuat suasana kantin terasa berbeda dari biasanya.
Di seberang, Zeta dan Jihan duduk bergabung dengan Reza, Digo, dan Sintia.
"Kok tumben enggak bareng mereka?" tanya Sintia penasaran.
Zeta terlihat murung, dan Jihan, yang sudah mendengar cerita dari Zeta, paham bagaimana perasaan Zeta yang sedang kacau karena Regan hanya main-main dengan perasaannya.
"Enggak papa," jawab Zeta murung.
Reza, yang sedari awal memang memiliki perasaan pada Zeta, menyadari bahwa ada sesuatu antara Zeta dan Regan.
"Mungkin mereka lagi berantem," batin Reza.
Suasana di meja mereka pun terasa canggung, dipenuhi dengan keheningan yang terputus oleh suara gemuruh dari meja sebelah.
"Hahahaa," tawa Marisa memenuhi kantin, membuatnya langsung menjadi bahan tatapan orang-orang.
"Katanya mau jadiin Gina kakak ipar, tapi kok Gina pacaran sama Asen," ejek Marisa pada Tiara yang sedang menahan amarah.
Meja mereka berdua bersebelahan, dan hal ini membuat mereka lebih banyak cekcok.
"Gue kan udah bilang si Gina itu sukanya sama Asen, bukan kakak lo," tawa Marisa semakin terdengar nyaring.
"Bisa diem enggak sih tuh mulut!" ucap Tiara dengan tatapan tajam.
"Uh, takut," ledek Marisa.
"Nih orang," Tiara bangkit sambil mengenggam erat garpu di tangannya.
"Tenang, Tiara," ucap kedua teman Tiara.
"Gimana bisa tenang kalau ada mak lampir yang bikin emosi," ketus Tiara mencoba melepaskan genggaman kedua temannya.
"Mak lampir?" heboh Marisa, "Kalau gue mak lampir, lo nenek sihir," ejek Marisa.
Ejek-ejekan terus saja terjadi, membuat suasana kantin menjadi gaduh.
Bian yang melihat pertengkaran itu terkikik geli, "Sen, lo lihat noh. Mereka berantem gara-gara lo pacaran sama Gina," tawa Bian.
"Bukan urusan gue..." cuek Asen.
"Gino, lo enggak mau ngomong sesuatu gitu? Lo diem terus berasa jadi Morgan kedua," canda Bian.
Tetapi candaannya dianggap serius oleh Gino dan Morgan, yang langsung menatap Bian dengan tatapan tajam, seolah meminta Bian untuk tutup mulut.
Obrolan santai di kantin terus berlanjut, meskipun terdapat gosip-gosip yang menghangatkan suasana.
"Apa sih? Perasaan gue salah mulu," batin Bian. Akhirnya, Bian memilih untuk diam
"Mereka kok bahas Gina terus sih. Heran gue," ucap Sintia tak suka.
"Iya, gue aja sampe bosen dengernya," jujur Jihan.
"Kak Tiara ngapain juga ngotot mau buat Gina jadi kakak iparnya," heran Digo.
Walaupun terlihat tak perduli, tetapi tetap saja ia mendengar dan melihat perdebatan orang-orang mengenai Gina.
"Gue juga heran. Padahal, Gina kelihatan banget muka dua," komentar Reza.
"Dia masih deketin Jino? Apa masih sok akrab lagi sama lo?" tanya Jihan sambil menyipitkan matanya.
"Udah enggak. Karena dia sibuk sama bimbingan, terlebih lagi ada Asen yang selalu nemenin Gina. Jadi dia enggak ada waktu untuk deketin gue," jelas Reza.
Gino menaikkan sebelah alisnya, "Kok kedengerannya lo kecewa ya?" curiga Gino.
Reza menempeleng kepala Digo karena kesal. "Enggak usah nyebar gosip," kesalnya.
"Kalian ngerasa aneh enggak sih?" tanya Zeta tiba-tiba.
Mereka melihat Zeta dan menunggu apa yang ingin disampaikan oleh Zeta. "Gina kan pacaran sama Asen. Biasanya kan Asen kalau pacaran tetep aja punya selir. Tapi, kali ini gue lihat Asen cuma deket sama Gina dan kayak enggak mau lepas gitu," ucap Zeta, menciptakan kebingungan di antara teman-temannya.
Santai, obrolan di kantin terus berlanjut, menciptakan suasana yang penuh dengan spekulasi.
"Bisa jadi karena Gina adiknya Gino, makanya Asen enggak punya seliri lagi," ucap Sintia sambil menyelipkan gurauan.
Zeta hanya menggeleng, menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak detail di balik hubungan mereka yang belum terungkap.
"Gino enggak terlalu ambil pusing tentang Gina yang pacaran sama Asen. Kalau pun iya, pastinya dia larang Gina buat pacaran sama Asen. Tapi apa? Gino malah biasa aja," kata Zeta dengan nada santai.
Jihan terdiam, melirik Zeta dengan rasa ingin tahu yang tumbuh. Meski merasa asing dengan perubahan sikap Zeta.
"Jadi maksudnya apa?" tanya Digo yang agak bingung.
"Bisa jadi si Gina itu pakai pelet, karena enggak mungkin seorang Asen bertobat," ucap Zeta dengan serius.
"Bisa jadi sih. Apalagi si Gina kan cantik tuh. Bisa aja dia pakai susuk," tambah Jihan dengan senyum lebar.
Mereka semua asik beropini tanpa menyadari bahwa kebenaran yang sebenarnya mungkin jauh dari spekulasi mereka.
smngt lanjut
kasian jino kasian juga asen
smngt thor lnjutt
Lanjut,, tetep smangat
smngt thor lnjtt