Indonesia
NovelToon NovelToon
Noda Dibalik Rupa

Noda Dibalik Rupa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Model / Tamat
Popularitas:70.2k
Nilai: 5
Nama Author: Windersone

Situasi dan kondisi membuat Tiara mengambil jalan yang beresiko besar dalam hidupnya. Kehormatan terpaksa dihargai dengan uang untuk biaya pengobatan sang ibu. Ia memberikan kehormatan itu kepada Dante, seorang pria malang yang tidak bisa menyentuh istrinya karena penyakit menular.

Tiara kembali bertemu Dante setelah dua tahun lama tidak berjumpa, tetapi dengan wajah baru yang tidak bisa dikenali. Tiara mengalami kecelakaan hebat yang merusak hampir seluruh wajahnya. Itu sebabnya, ia melakukan operasi plastik di luar negeri. Menyelam sambil minum air, wajah baru itu juga digunakannya untuk menutupi identitas sebagai wanita malam singkat di masa lalu.

Bisakah Dante mengenali Tiara?

Dukung cerita ini dengan beri 👍 dan komen juga boleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Windersone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisakah Semuanya Kembali?

🥀🥀🥀

Sepanjang jalan Tiara diam dalam ketidaknyamanan, hatinya gelisah, masih memikirkan perkataan Tian tadi. Pandangannya mengarah ke depan, menatap jalan dengan tatapan kosong.

Dante menepikan mobil, mematikan mesin dan menatap dalam istri yang duduk di sampingnya itu dengan mata menyipit, menyorot raut wajah Tiara.

"Sejak tadi kamu diam. Apa terjadi sesuatu?" tanya Dante.

"Tidak. Hanya saja ... kamu dan Tiara. Jika dia masih hidup, apa kamu akan tetap bersamaku atau bersamanya?" tanya Tiara, penasaran dengan jawaban Dante.

"Mengapa dia tiba-tiba bertanya begini?" Dante berkata dalam hati.

"Sebenarnya ... Tiara masih hidup," ucap Tiara, berkata seolah bukanlah dirinya yang disebutnya.

"Bukankah dia orang yang disebutnya? Mengapa dia mengatakan itu?" Dante bertanya-tanya dalam hati dengan dahi sedikit mengerut, mengarahkan pandangan jauh keluar jendela mobil di samping Tiara.

"Dia masih hidup bersama anaknya. Saat ini anak itu sudah berusia lima tahun, menjadi anak yang manis pastinya." Tiara berbicara dengan bibir tersenyum ringan dan mata mengarah ke bawah. "Mereka hidup bahagia," lanjut Tiara dan menoleh ke samping, menatap Dante yang menatap kedua bola matanya.

"Dia di mana?" Dante menganggap serius perkataan Tiara.

"Kami jawab dulu pertanyaanku. Kamu memilihnya atau diriku? Kamu akan tahu kebenarannya setelah menjawabnya," ucap Tiara dengan wajah serius.

"Apa dia benar bukan Tiara?" tanya Dante, berpikir bertolak belakang dari dugaannya sebelumnya.

Dante tidak bisa menjawab. Ia diam dan mengarahkan pandangan ke depan, tampak berpikir.

"Beritahu dulu dia di mana?" tanya Dante, lagi, menatap Tiara dengan sorot mata dalam.

"Kamu pilih dia atau aku?" tanya Tiara, lagi.

"Tidak mungkin dia masih hidup. Jelas-jelas dia sudah meninggal. Jadi, aku akan memilihmu,” jawab Dante dan kembali menyalakan mobil. 

“Dia benar masih hidup,” ucap Tiara dengan nada dingin, membuat Dante yakin dengan perkataannya. 

Dante menginjak rem secara mendadak, membuat tubuh mereka tertarik ke depan. Pria itu menoleh kaku dengan mata membesar pada Tiara. 

“Katakan jika begitu. Dia dia mana?” 

“Buat keputusan. Jika kamu ingin tau dan bertemu dengannya, kamu harus melepaskan ku,” ucap Tiara, tersenyum licik. 

Dante membetulkan posisi duduk menghadap ke depan, tampak berpikir keras. Pernyataan yang diberikan Tiara membius Dante, membuat pria itu keluar dari rasa yakin sebelumnya. Tetapi, Tiara salah paham dan mengira pria itu masih bersandiwara.

“Tiga, dua, … sa ….” Tiara menggantungkan perkataannya, membuat Dante mengerti dengan permainan hitungan wanita itu. 

“He.” Dante mendengkus. “Untuk apa wanita murahan sepertinya? Mendingan bersama dirimu, seorang model yang cantik secara luar dan dalam.” Dante menggoda Tiara, memainkan jari telunjuk dengan lembut di pipi kanan wanita itu. 

Tiara tersenyum bodoh, menahan air mata meneteskan dengan menundukkan pandangan. Ia berusaha tersenyum, menyembunyikan rasa sakit di hati mendengar perkataan pria itu. 

Kedua tangan Tiara bergerak melepaskan atasan, menyisakan dalaman atas yang panjangnya hingga bawah dada. Ia mengambil tangan kiri Dante, menaruhnya ke bekas operasi di bawah pusatnya.

“Benar. Ini bekas operasi caesar. Mengapa? Bukankah itu semua karenamu? Kamu menyuruhku mengandung benihmu di perut ini. Rasanya sakit, tetapi hatiku lebih sakit. Untuk apa terus bersandiwara? Kamu sudah tau kalau aku adalah wanita yang kamu tiduri lima tahun lalu, kan? Kamu sengaja menikahiku untuk menghinaku, kan?” 

Tiara mengungkapkan kebenaran setelah tidak bisa menahan kemarahannya. 

“Bukan begitu.”

“Kenapa kamu masih ingin menikah denganku setelah tau kalau aku adalah dia, wanita yang tidak pantas dihargai itu?” Tiara meneteskan air mata dalam kemarahannya. “Betapa sulitnya aku menjalani hidup setelah kejadian itu. Dan, mengapa aku masih bertemu denganmu,” umpat Tiara dengan tangan memukul dada Dante dan menangis tersedu-sedu. 

Tiara menghapus air mata. Ia mengambil dompet dari tas, mengeluarkan kartu hitam milik pria itu dan kartu kreditnya. 

“Bisakah semua ini mengembalikan segalanya? Bisakah Semuanya kembali? Ini,” Tiara seperti orang gila, tersenyum bodoh sambil memberikan dua kartu kredit itu ke tangan Dante. “Bisakah aku menjadi Tiara di masa lalu yang bisa dihargai?” tanya Tiara sambil memegang tangan kiri Dante yang diam memperhatikan kesedihan di wajahnya yang membuat pria itu merasa prihatin dan merasa bersalah. 

Dante memeluknya erat. Tiara memukul kembali dada bidang suaminya itu dalam isak tangisnya. 

“Kenapa kamu kembali hadir dalam hidupku?” tanya Tiara dan tidak sadarkan diri. 

Dante melepaskan pelukannya, menatap wajah menyedihkan yang tergambar di wajah wanita itu yang membuat hatinya juga sakit. 

***

“Dia hanya kelelahan. Sebentar lagi dia akan sadar,” ucap dokter pria, sebaya dengan Dante setelah memeriksa kondisi Tiara di salah satu kamar di rumah sakit Gentara. 

“Terima kasih, Dok,” ucap Dante. 

Dokter pria itu meninggalkan kamar itu, berlanjut dengan Lola masuk dalam kecemasan, menghampiri ranjang yang ditiduri Tiara dan menepis bahu wanita itu, berusaha menyadarkannya dengan pelan-pelan. 

“Dia hanya kelelahan. Lola, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bisa kita bicara?” tanya Dante, tidak ingin memaksa wanita itu.

Lola menerima ajakan Dante, mereka meninggalkan kamar itu dan berbicara di bangku tunggu di depan kamar tersebut. Dante mempertanyakan kejadian lima tahun lalu pada wanita itu, membuat Lola diam, bingung. 

“Aku sudah mengetahuinya. Kamu tidak perlu takut,” ucap Dante.

Lola menghela napas panjang dan angkat bicara, mengungkapkan semua yang terjadi, mulai dari awal dirinya bertemu Tiara sampai wanita itu mendapatkan sumbangan cangkokan wajah dari seorang wanita bernama Rossa Olivia yang rela menukarkan wajahnya dengan Tiara. Di setiap mulut wanita itu bergerak, memorinya ikut bermain, berputar mengingat semua peristiwa itu begitu jelas. 

“Meskipun telah mendapatkan sumbangan wajah dari seseorang yang namanya cukup besar dan terkenal, hidupnya juga tidak sebahagia yang terlihat. Banyak luka yang disembunyikannya, bahkan dariku,” lanjut Lola, bercerita setelah mereka diam sekitar satu menit, dengan Lola bersama ingatannya, sedangkan Dante membayangkan kesulitan wanita itu. “Datang ke sini, butuh waktu dua minggu untuknya berpikir keras karena takut bertemu denganmu, Pak. Dia tidak ingin berada dalam masa lalu yang rusak itu,” jelas Lola. 

“Lalu, anak yang dikandung olehnya?” Dante penasaran dengan keberadaan anak itu. 

“Anak itu lahir melalui operasi caesar, tetapi tidak bisa diselamatkan. Itu yang membayanginya hingga saat ini. Mbak Tiara sempat berkonsultasi bersama psikiater selama enam bulan sampai semua kembali membaik. Kecelakaan itu, kehilangan Ibunya, dan kehilangan anaknya, membuatnya terpukul berat.” 

Mereka kembali diam, tenggelam dalam pikiran sendiri dengan perasaan sedih.

“Aku tau kalau Bapak orang baik. Bapak tidak sepenuhnya salah. Mbak Tiara sempat menyadarinya saat pikirannya terbuka. Tapi, dia juga berulang kali menepis pemikiran itu dan menganggap Bapak orang paling kejam. Biasanya itu muncul ketika dirinya berada dalam lingkup kemarahan dan emosinya.”

Cerita Lola mampu membuat Dante meneteskan air mata. Lola sampai kaget dan mengeluarkan pendapat dalam hatinya kalau dugaannya mengenai pria yang duduk di sampingnya ini benar, pria itu tidak sepenuhnya buruk. 

Untuk menyembunyikan air mata, Dante memalingkan wajah dari Lola, berpura-pura ingin menghubungi seseorang melalui ponsel yang dikeluarkan dari saku celana. 

“Saya menelpon dulu,” bohong Dante sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Lola. 

Pria itu ke toilet, menenggelamkan diri dalam kesendirian dan rasa sedihnya. Dante berdiri di depan cermin toilet dengan memejamkan mata dan kedua telinga diiangi oleh cerita Lola. 

Ponsel yang ditaruh di samping wastafel berdering, Lola menghubunginya. Ia mendengarkan perkataan wanita itu, membuatnya bereaksi kaget dan bergegas meninggalkan tempat itu. 

1
Jeni Safitri
Pasti dna lia dan ghani sdh di permainkan maksudnya mungkin rambut ghani yg di pakai utk tes bukan milik ghani tapi milik lia sendiri
Jeni Safitri
Pasti tes DNA sdh di permainkan oleh sera agar dante membenci istrinya
Jeni Safitri
Pasti anaknya sebenarnya lia
Nila Kumala Patriani
sekedar saran, Thor, penulisan yang benar Bu Tiara, bukan buk Tiara.
Muna Junaidi
Menyala bossqu🔥🔥🔥🔥
Nofarahin Mohd Kamel
mantap jalan ceritanya... bagus sungguh cerita nya...
Izaz Tismaini
bagus
Ucieq Ningsih
lanjut 🙏
Izaz Tismaini
bagus ceritanya
Izaz Tismaini
bagus
Ummi
bagus dan makin penasaran
Ummi
lanjut thor keten dan makin penasaran
Silvi Anna Berliana Putri
ko bisa ya ghani positif anak tiara negatif anak dante?
Susi Supriati
semakin penasaran
Serenarara: Ubur-ubur minum selasih
Coba baca novel berjudul Poppen ya, terimakasih.
total 1 replies
alfadila
tiara bodoh klo masih mau luluh ama dante,, mendingan juga pergi😡
Rasain lu Dante!!! kegeprek kan jadinya
mendingan ga usah balikan deh kayanya dante cm butuh rekan kasur doang. kalau aku di posisi Tiara, ga tega anak sendiri diketusin milih break aja. meski hidup susah
belum bisa menerima tapi kebutuhan biologis menuntut. berasa kaya butuh senggama doang
Windersone Author
Terima kasih.
Ikuti terus kelanjutannya kakak :)
Dewillya Potryeii Wie
bgus bget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!