Satu malam penuh gairah dengan pria asing bak dewa Yunani mengubah hidup Lara selamanya. Gadis yatim piatu yang polos itu terbangun keesokan paginya—ditinggalkan, dengan setumpuk uang dan sebuah nota. Yang tak ia sadari: dari malam itu, ia mengandung benih seorang penguasa dunia bawah tanah.
Nikolai Pushkin, Don Bratva paling ditakuti di Rusia, tak pernah bisa melupakan "malaikat"-nya. Tiga tahun ia dihantui aroma dan bayang perempuan yang merenggut kendali dirinya—sampai takdir mempertemukan mereka kembali, dan Nikolai menemukan kenyataan yang mengguncang: ia punya seorang putra. Pewaris yang tak pernah ia duga.
Namun mencintai seorang raja mafia berarti masuk ke sarang serigala. Tunangan yang terobsesi, aliansi politik yang mematikan, dan musuh dari masa lalu yang paling kelam siap menghancurkan segalanya. Nikolai bersumpah akan melawan langit dan bumi demi keluarganya—bahkan jika itu berarti melepaskan takhtanya.
Sanggupkah cinta yang lahir dari satu malam bertahan di dunia yang dibangun di atas darah, kuasa, dan pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessilane Santos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
POV Nikolai
Setelah adegan tadi, Papa langsung jatuh hati pada anakku. Orang tuaku pamit, dan makan malam disajikan. Kulihat anak buahku mendekat, tapi sudah terlambat—pintu depan terbuka dan kulihat Hadassa. Ia masuk sambil tersenyum menatapku, tapi begitu ia mendekat dan melihat perempuanku serta anakku, senyumnya lenyap.
"Apa-apaan ini?" ucap Hadassa.
Aku bangkit dan mencengkeram lengannya, lalu menatap Lara yang tampak bingung.
"Malaikatku, aku segera kembali, cuma mau bicara dengan mantan tunanganku."
"Sebaiknya aku naik saja," kata Lara.
"Malaikat? Kau memanggil perempuan itu malaikatku?" sergah Hadassa.
"Aku segera kembali, Sayang, aku janji."
Kutarik Hadassa ke ruang kerjaku dan kututup pintu.
"Apa yang kaupikir sedang kaulakukan di sini?"
"Aku datang menemui tunanganku! Siapa perempuan itu, Nikolai?"
"Sudah kubilang aku tak mau kau datang ke rumahku! Kesepakatan kita sudah berakhir."
"Apa maksudmu? Berakhir?"
"Kau ingat kesepakatan yang kautandatangani?"
"Ingat."
"Di sana tertulis bahwa aku bisa membatalkan pertunangan ini kapan pun aku mau."
Aku berkata sambil tertawa, dan ia mendengus.
"Aku tak akan menerima ini, Nikolai. Kita akan menikah."
"Kau lihat perempuan yang tadi di meja makan?"
"Jalang itu simpananmu, dan anak haram itu anakmu?"
Aku mencengkeram lehernya, mengeluarkan pistolku, dan mengarahkannya ke kepalanya.
"Sebut mereka begitu sekali lagi, Hadassa, sebelum kau selesai mengucap huruf kedua, kujamin peluruku sudah bersarang di tempurung kepalamu."
Aku menggeram.
"Kau milikku, Nikolai!"
Kulepaskan ia hingga terjatuh ke lantai.
"Begini saja: kau tetap bersama mereka, dan kita tetap menikah. Aku bisa berbagi."
Aku menatapnya dan terbahak.
"Perempuanku tak suka berbagi, bahkan makanannya sekalipun. Kaupikir ia mau berbagi pria?"
"Kau milikku, Nikolai, dan kujamin akan kubuat kau menikahiku," ucapnya tegas, dan aku tertawa.
"Suruh orang tuamu menyiapkan pemakaman."
Ia pergi dengan langkah menghentak. Aku menatap anak buahku.
"Siapa pun yang membiarkan perempuan itu masuk lagi ke rumah atau propertiku akan menanggung akibatnya."
Aku berbalik menuju ruang makan, tapi kosong. Kutatap kepala rumah tanggaku yang bermata sedih.
"Di mana dia?"
"Si kecil menangis begitu Tuan pergi, dan Nyonya membawanya ke atas," jawab Safira.
"Terima kasih."
Aku menaiki tangga dan mendengar tangisan anakku. Aku berlari ke kamarnya dan menemukan Lara sedang menenangkan si kecil.
"Maafkan aku, Sayang, ini salah Mama," ucap Lara.
Kulihat ia menangis, dan itu menimbulkan rasa sakit yang nyata di dadaku.
"Papa di sini, Sayang."
Aku mendekati mereka, dan Gael menatapku dengan wajah mungil yang memerah karena menangis.
"Papa."
Ia melompat ke pelukanku dan kudekap. Kurasakan jantungku berpacu—ini pertama kalinya ia memanggilku Papa. Aku membantunya mandi lalu menidurkannya di boks. Lara sedang mandi. Aku ke kamarku, mandi cepat, mengenakan celana santai, lalu ke kamar mereka. Kubuka pintu dan kulihat Lara di balkon menatap langit. Aku mendekat dengan langkah pelan sampai berdiri di sisinya. Ia berbalik menatapku.
"Datang kemari adalah ide yang buruk. Menyeret anakku ke dalam kekacauan ini adalah kesalahan besar," ucapnya.
"Aku akan menyelesaikan ini. Ia takkan lagi mendekati kalian, aku janji."
"Kau tak bisa memberiku kepastian apa pun."
"Kau salah besar, malaikatku, aku bisa memberimu kepastian! Kepastian bahwa kalian adalah yang paling penting dalam hidupku, bahwa kau adalah perempuan hidupku, dan bahwa aku mencintaimu... aku mencintai kalian melebihi apa pun di dunia ini."
"Tinggalkan aku sendiri, kumohon."
"Kenapa kau ingin aku menjauh? Kau membenciku, tak menyukaiku, begitu?"