Namanya Ares. Bos mafia Amerika yang paling ditakuti—dingin, kejam, dan tak percaya pada cinta. Mereka menjulukinya "Don Tanpa Hati", dan dia bangga akan gelar itu.
Demi memenuhi janji terakhir pada mendiang ayahnya, Ares memutuskan menikah. Bukan karena cinta—dia bahkan tak percaya kata itu—melainkan untuk mendapatkan seorang pewaris. Pilihannya jatuh pada Ingrid: gadis desa berusia sembilan belas tahun, polos, ceria, tumbuh di peternakan di antara hewan-hewan yang ia beri nama satu per satu. Ares merenggutnya dari keluarganya dengan ancaman, membawanya masuk ke dunia berdarah penuh senjata, pengawal, dan wanita-wanita simpanan yang haus akan takhta di sisinya.
Ingrid seharusnya hanya menjadi "istri di atas kertas". Tapi gadis yang tampak lugu ini menyimpan hati sekeras baja dan akal sehalus sutra. Alih-alih hancur, ia memilih bertahan—dan bertarung. Dengan senyum manis, lidah tajam, dan strategi yang membuat para saingannya bertekuk lutut, Ingrid perlahan menembus tembok es yang selama ini melindungi sang Don.
Namun mencintai seorang bos mafia berarti hidup di antara bayang-bayang: pengkhianatan, dendam, dan musuh yang mengincar titik terlemahnya—Ingrid sendiri. Mampukah cinta seorang gadis desa yang tulus benar-benar mencairkan hati pria yang bersumpah tak akan pernah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlaucia Campos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Justine Tiba di Mansion
Justine
Kami tiba di mansion, dan sungguh mansion yang luar biasa!!! Seperti kata Ingrid, wah!!! Benar-benar indah.
Don Ares punya selera yang bagus. Meski aku yakin Ingrid pasti akan menambahkan sentuhannya sendiri.
Aku tahu aku harus membantunya membangun pernikahan yang sesungguhnya, sebuah keluarga. Kalau Tuhan mengizinkan ini terjadi, berarti mereka ditakdirkan menemukan cinta, aku yakin itu. Aku hanya berharap diberi kebijaksanaan untuk bisa menasihatinya sebaik mungkin.
Ingrid
Mama datang, dan astaga!!! Aku memeluknya lama sekali, aku sangat merindukannya, kami tak pernah berjauhan sebelumnya.
Aku segera memperkenalkan Edyth pada Mama. Aku tahu mereka pasti akan langsung akrab. Apalagi Edi begitu menyayangiku.
"Bagaimana kabarmu, sayangku? Dan bagaimana Don Ares memperlakukanmu?" tanya Justine.
"Aku baik-baik saja! Ares sedang bepergian, kurasa akan lama, dan menurutku itu bagus sekali! Mama!!! Aku harus cerita, aku sudah berteman dengan semua orang yang bekerja di sini, dan jumlahnya banyak! Ada Pak Antonio yang kusayangi, dia seperti kakek," kata Ingrid antusias.
"Ingrid memang manis sekali, selalu bersemangat, membantu segala hal yang bisa dia bantu, padahal tak perlu, sebab dia ini nyonya rumah, istri Don Ares. Dia bisa saja menghabiskan seharian hanya membaca, menonton, bermain..... tapi tidak, dia bersikeras ikut membantu. Semua orang menyukainya, padahal dia baru sebentar tinggal di sini. Antonio itu tukang kebun, seorang pria tua yang sudah bekerja bertahun-tahun, dulu melayani Don John dan sekarang Don Ares. Ingrid dan Antonio menanam banyak sekali tanaman, termasuk banyak bunga! Kalau nanti mulai bermekaran, pasti jadi pemandangan yang menakjubkan, dan kuharap Ares menyukainya," kata Edyth.
"Ingrid memang begitu, selalu bersemangat, cinta tanaman, memasak, membantu.... dia bukan tipe yang bisa duduk diam menonton televisi atau bermain, sama sekali bukan. Sejak kecil dia selalu terlalu aktif, selalu mencari-cari kegiatan, dan kadang membuat aku serta ayahnya berada dalam situasi canggung," kata Justine sambil tersenyum.
"Aku percaya, dia benar-benar menawan. Dia membuat kue yang luar biasa, itu yang kedua. Yang pertama, hampir saja membakar rumah ini, dia tidak tahu cara kerja oven dan malah berkreasi sendirian, ya sudah bisa dibayangkan," kata Edyth sambil tertawa.
"Persis dia, selalu bikin ulah, tapi hatinya sangat baik. Tahun lalu adiknya menjalani operasi jantung, dan kami sama sekali tidak meminta Ingrid menunda kuliahnya, tapi dia tetap menundanya untuk membantu kami mengurus adiknya. Dia selalu membantuku mengerjakan pesanan-pesanan, padahal itu bukan tanggung jawabnya. Dia juga membantu Leopold mengurus bank, tagihan, dan urusan administratif lainnya, dia memang pandai di bidang itu," kata Justine.
"Aku mau cerita sesuatu pada kalian berdua."
Saat Ingrid hendak bicara, masuklah Jolie. Ingrid memang sudah mengundangnya untuk berkenalan dengan ibunya.
"Halo!!! Aku juga mau tahu," kata Jolie sambil tersenyum.
Ingrid
Aku dan Edyth menyambut Jolie, lalu kuperkenalkan dia pada Mama. Aku lihat mereka langsung cocok.
"Nah, sekarang lanjutkan, apa yang mau kauceritakan tadi?" tanya Jolie.
"Aku mau bilang bahwa aku sudah menentukan pilihan jurusan kuliahku. Manajemen Bisnis! Aku selalu suka membantu Papa di bidang itu, aku menyukainya, dan karena tak ada jurusan kedokteran secara daring, aku memilih Manajemen Bisnis," kata Ingrid.
"Mama yakin kau akan berhasil dan juga cocok dengan jurusan itu," kata Justine sambil tersenyum.
"Itu jurusan yang bagus, besok juga aku akan mengurusnya untukmu," kata Jolie.
"Aku sayang padamu, Joli," kata Ingrid sambil memeluknya dan tersenyum.
"Kau memang manis, dan sudah kubilang, aku ini temanmu!" ujar Jolie sambil tersenyum.
"Bagus, Ingrid. Ares punya perusahaan yang besar sekali, selain mafia. Kelak kau bisa membantunya," kata Edyth.
"Tepat sekali," sahut Jolie.
"Hmm, kurasa tidak. Aku bekerja bersama si bos besar yang licik dan menyebalkan itu? Sepertinya tak akan berjalan mulus," celetuk Ingrid.
Mereka tertawa melihat caranya bicara, tapi....
"Jangan berkata begitu tentang suamimu, Ingrid. Kata-kata punya kekuatan dan pengaruh yang besar. Bukan begitu Mama mengajarimu," kata Justine.
"Ah! Maafkan aku, Ma, tapi dia menculikku, memaksaku menikah dengannya, dan sekarang malah ingin kupanggil malaikat?.... Tak bisa begitu, Ma," kata Ingrid.
"Mama tidak minta kau memanggilnya malaikat, Ingrid. Mama hanya ingin kau menghindari kata-kata buruk, sebab segala yang buruk akan mengundang hal buruk! Bagaimana kau akan membuatnya berubah??? Bertransformasi? Karena kau ini istri seorang Don, dan kau tahu betul bahwa berpisah itu tidak mungkin. Kalau sampai itu terjadi, artinya salah satu dari kalian sudah meninggal. Maaf Mama bicara sekasar ini, tapi ini kenyataannya, Nak. Kalau di antara sekian banyak perempuan dia memilihmu, tanpa mengenalmu sama sekali, dan kau yang tadinya hampir pergi kuliah di luar rumah, di tempat bibimu, ternyata tidak jadi, berarti memang begitu yang seharusnya terjadi. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Siapa tahu takdir memang menghendaki kalian bersatu. Setidaknya cobalah! Membangun keluarga dengan cinta dan kasih sayang..... manfaatkan kesempatan ini dan taklukkan Don Ares, tunjukkan padanya bahwa cinta bisa menyembuhkan. Dia pria yang sangat tampan dan kau gadis yang cantik. Kalian berdua bisa menumbuhkan cinta, tapi itu lebih bergantung padamu," kata Justine.
"Itu tidak adil! Bagaimana bisa lebih bergantung padaku? Dia juga harus mau, percuma kalau cuma aku yang mau...." kata Ingrid.
"Mama mengerti, putriku, dan Mama setuju! Tapi mari kita pikirkan dari sisinya. Dengar, Mama tidak sedang membelanya, Mama hanya memikirkan dan menganalisis fakta-fakta yang Mama tahu. Para Don dibesarkan untuk menjadi tegas, cerdas, dan kebanyakan untuk menjadi jahat, kejam, pemberani, kuat, tanpa belas kasihan.... Tidak boleh kehilangan fokus dan tidak boleh dikendalikan oleh perasaan. Kalau berpikir begitu, lebih baik tidak punya perasaan istimewa pada siapa pun, karena itu lebih mudah. Fokusnya akan sepenuhnya pada kehidupan mafia. Don Ares kehilangan ibunya saat masih bayi. Mama mengenal ibunya, juga Don John. Mereka saling mencintai! Sangat mencintai. Kalau itu tidak benar, Mama minta Edyth mengoreksi Mama, sebab dia sudah bekerja bertahun-tahun di sini, pasti dia tahu," kata Justine.
"Benar, Ingrid, ibumu benar, dan aku sendiri sudah pernah bilang padamu bahwa mereka saling mencintai. Don John sangat menderita saat kehilangan istrinya, sampai-sampai dia tak pernah menikah lagi, meski banyak yang mendesaknya," kata Edyth.
"Tepat sekali! Ke sanalah Mama ingin mengarahkan pembicaraan ini. Don Ares menyaksikan ayahnya menderita karena kehilangan ibunya, dan bagi seorang anak, itu sangat membekas. Bisa jadi dia mengaitkan cinta dengan rasa sakit, sebab Mama ingat betul Don John tak pernah menikah lagi, dia lebih memilih mati daripada harus menikah lagi. Belum lagi betapa dalam penderitaannya! Dan dia tak menyembunyikan betapa dia merindukan istrinya. Karena ditakuti, semua orang menerima keputusannya untuk tetap sendiri. Mungkin Ares menganggap bahwa ditakuti itu baik, cara yang benar untuk hidup tanpa penderitaan. Bisa jadi dia lari dari perasaan, mengabaikannya, atau bahkan takut membiarkan dirinya terlibat. Menghadapi perasaan itu sulit, apalagi ketika kita menerima pukulan sewaktu masih anak-anak atau punya contoh seperti itu di dalam rumah kita sendiri. Perhatikan, kalau kau sedang membaca buku dan ada sesuatu yang sangat mengganggumu, lebih dari biasanya, membuatmu jengkel, mungkin ada perasaan tersembunyi di balik semua itu. Mungkin tanpa sadar kau merasa dirimu mirip dengan tokoh itu dan tak ingin dia berbuat seperti yang pernah kau lakukan, atau mungkin kau pernah mengalami sesuatu yang serupa, menyaksikan sesuatu tanpa bisa berbuat apa-apa..... Intinya, buku itu menyentuh luka lama. Atau kau berandai-andai bisa berbuat lain atau menjadi berbeda. Menghakimi siapa pun itu mudah, biasa, orang selalu melakukannya, tapi menempatkan diri di posisi orang itu dan menjalani apa yang dia jalani, itu cerita lain. Don Ares dibesarkan dengan menyaksikan ayahnya menderita karena kehilangan cintanya! Ayahnya membesarkannya dengan fokus penuh pada kehidupan profesional, dan seiring dia tumbuh serta meraih kemenangan, menjadi kuat, dia menyadari bahwa hal itu bisa dia manfaatkan untuk keuntungannya sendiri.
Ada sebuah pepatah lama....
Konon suami adalah kepala keluarga, dan istri adalah lehernya.
Renungannya Mama serahkan pada kalian, tapi kepala tanpa leher tak akan bisa berdiri tegak...."
Edyth
Aku terpukau oleh kebijaksanaan Justine, begitu pula Jolie, yang bahkan sampai ternganga.
"Kurasa Mama benar, tapi aku tak tahu bagaimana caranya membuat Ares berubah, dan aku juga tak yakin apakah aku bisa mencintainya, apalagi dia punya 'teman-teman perempuan' itu. Ya Tuhan!!! Sekarang aku jadi tahu kenapa pintu itu sebesar itu, pasti dia sengaja memasangnya untuk penghormatan padaku kelak," kata Ingrid.
"Maksudnya???" tanya mereka bertiga bingung.
"Ampun! Lihat saja ukuran pintunya, aku juga baru sadar. Tadinya kukira itu pintu untuk dilewati raksasa, tapi sekarang aku paham semuanya. Itu untuk menampung sekian banyak tanduk, atau apalah kalian menyebutnya, yang akan Ares pasang di kepalaku, supaya aku masih bisa masuk rumah," kata Ingrid.
Mereka bertiga terbahak-bahak.
"Bukan! Bukan begitu," kata Edyth.
"Dengar, aku benci 'teman-teman perempuan' dia itu," kata Jolie.
"Aku tak mau jadi istri yang diselingkuhi, tapi sepertinya aku tak punya pilihan," kata Ingrid sedih.
"Kau punya pilihan! Ayo kita pelajari soal ini, dan mulai sekarang juga. Kalian mau membantuku?" tanya Justine.
"Tentu saja," jawab Edyth.
"Aku ikut seratus persen," kata Jolie.