kisah perjalanan Andia dalam menemukan cinta sejatinya...
Ikuti kisah Andia,dalam novel ini yaa...
jangan lupa,dukung author yaa,dukungan kalian sangat berharga untuk author...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
RUMAH BIMA
"Ini rumah kamu, Bima?" tanya Andia.
Keduanya sudah sampai di depan rumah Bima.
Rumah yang bagi Andia cukup besar, dan juga sangat bagus, berbeda dengan rumah sederhana milik keluarganya di desa.
"Ayo." Ajak Bima, ia juga mengambil salah satu tangan Andia untuk di genggamnya.
Andia melepaskan tangannya yang di genggam oleh Bima, ia juga berjalan mundur, Bima yang melihat hal tersebut merasa heran dengan sikap Andia.
"Kenapa, Sayang? Ayo," ajak Bima lagi.
"Aku takut, Bim," lirih Andia.
"Kenapa takut? Kan ada aku, kita sama-sama masuk ke dalam, kamu gak perlu takut, orang tua aku gak makan orang kok."
"Bima, aku serius!" Andia memberikan tatapan tajam kepada Bima.
"Apa yang kamu takutkan? Kita bahkan belum masuk ke dalam, kamu pun belum tau situasi di dalam kaya gimana, kan?"
"Rasa takut itu cuma ada dalam bayang-bayang kamu aja."
"Ayo." Kali ini Bima menggenggam erat tangan Andia, ia bahkan setengah menarik paksa Andia untuk ikut melangkah bersamanya.
Andia terus berdoa di dalam hatinya, semoga saja kedua orang tua Bima bisa menerima dirinya yang hanyalah seorang gadis dari keluarga biasa saja.
Bima memencet bel rumahnya, setelah menunggu beberapa saat pintu rumah pun terbuka.
Bima langsung di sambut hangat oleh salah satu asisten rumah tangganya.
"Mamah sama papah ada di dalam, Bi?" tanya Bima.
"Ada, Den, lagi di ruang televisi."
Bima kembali menarik tangan Andia untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam rumah, Andia tersenyum canggung saat melewati asisten rumah tangga Bima.
"Bim ...," panggil Andia, lirih.
"jangan khawatir ya, kita akan melewati apapun itu bersama-sama mulai sekarang." Bima menghentikan langkahnya sejenak, membelai lembut wajah Andia.
"Pah, Mah," sapa Bima.
Kedua orang tua Bima bersama-sama menengok ke belakang.
"Bim ... kamu bawa siapa?" tanya Mamah Bima, dirinya berdiri menghampiri Bima dan juga Andia.
"Kenalin Mah, Andia, dia pacar aku, calon istri aku," jawab Bima dengan mantap.
Mamah Bima memandangi Andia dari ujung rambut hingga ujung kakinya, membuat Andia merasa gugup karena di tatap sedemikian rupa oleh orang tua kekasihnya.
"Cantik." Celetuk Mamah Bima, sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mendengar dirinya di puji, Andia merasa sedikit lega, ia langsung mencium tangan orang tua Bima sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.
"Ayo duduk, kenapa berdiri saja," tegur Papah Bima.
Bima berjalan ke arah sofa dengan tangannya yang terus saja menggenggam Andia.
"Andia ini ngampus di kampus yang sama dengan Bima ya?" tanya Papah Bima.
"Iya om, hanya jurusan kita beda dan aku juniornya Bima."
"Pantas tante gak lihat kamu pas acara wisuda, tapi sebagai pacar harusnya kamu datang kan waktu itu," timpal Mamah Bima.
"Mamah ... waktu itu Andia ada halangan, makannya gak bisa hadir," sela Bima.
"Terus kamu tinggalnya dimana Andia? Orang tua kamu kerja apa?" tanya Mamah Bima lagi.
Deg!
Andia terdiam, ia ragu untuk menjawab pertanyaan orang tua kekasihnya tersebut.
"Mah ... kenapa nanya itu sih?!" Protes Bima.
"Iya dong, Bima, kan kamu ngenalin dia sebagai calon istri, jelas kami harus tau segala hal tentang calon menantu kami," timpal Papah Bima.
"Saya tinggalnya di kos, Tante ... Kedua orang tua saya ada di desa," jawab Andia.
"Di desa?" tanya Mamah Bima sekali lagi, untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar tidaklah keliru.
"Iya, Tante, saya tinggal di desa Ogoamas."
"Bukannya itu desa yang dekat pantai Ogoamas itu,ya?"
"Iya, Tante, benar."
"Terus, orang tua kamu nelayan?" tanya Mamah Bima lagi.
Melihat sang Ibu banyak memberikan pertanyaan terhadap Andia, Bima menjadi gelisah, ingin sekali rasanya ia langsung mengajak Andia pergi dari hadapan orang tuanya saat itu juga.
Bima yakin, jika Andia merasa tidak nyaman dengan rentetan pertanyaan dari orang tuanya, Bima bisa melihat hal itu dari gestur tubuh kekasihnya tersebut.
"Kakek saya nelayan, kalo ayah saya bekerja di pelelangan ikan," jawab Andia.
"Bim ... ikut Papah sebentar." Sela Papah Bima, sembari berdiri dari duduknya.
Ia melangkah lebih dulu meninggalkan ruang televisi.
Dengan dada yang berdebar-debar, Bima berdiri dan menyusul sang Papah.
Sementara Mamah Bima, kembali memperhatikan penampilan Andia, membuat Andia semakin merasa tidak nyaman.
"Kenapa sih, Pah?"
"Papah gak bisa ngomongnya nanti aja, di depan kan lagi ada cewe Bima, Pah," sungut Bima.
"Kamu gak bisa cari perempuan yang berbobot sedikit, Bima?!" Nada suara Papah Bima mulai meninggi.
"Maksud Papah, apa? Memangnya kenapa dengan Andia?"
"Dia gadis yang baik, dari keluarga baik- baik juga."
"Dia juga Cantik, Pah, kalian gak akan malu punya menantu seperti Andia."
"Iya, tapi dia dari keluarga biasa, mereka gak setara dengan kita, Bima!"
"Kamu mau bikin Papah malu, ha?!"
"Apa kata orang nanti, seorang Bambang Pramana punya menantu berasal dari desa."
"Papah gak bisa membanggakan Andia di depan kolega-kolega Papah."
"Sebaiknya kamu lupakan impian menjadikan dia sebagai istri kamu, dia gak cocok dengan keluarga kita!" Ucap tegas Papah Bima.
"Gak! Papah gak bisa begini ke aku, aku bukan lagi anak kecil, Pah,"
"Aku berhak menentukan hidupku, aku juga berhak memilih pendamping hidupku, karena aku yang akan menjalaninya bukan kalian," ucap Bima tak kalah sengit.
"Kamu memang bukan anak kecil lagi, Bima, tapi kamu bisa apa tanpa kami!"
"Bawa pacar kamu keluar dari rumah ini,Papah gak mau lihat lagi kamu berhubungan sama dia,"
Bima menahan amarahnya, ia langsung pergi begitu saja dari hadapan sang Papah.
Papah Bima menghela napasnya setelah Bima pergi dari hadapannya.
"Sayang, ayo kita pergi," Bima menarik paksa tangan Andia untuk berdiri.
"Loh kita mau kemana? Aku belum pamitan sama Papah kamu, Bim."
"Gak perlu!." Bima menarik paksa Andia untuk segera keluar dari dalam rumahnya.
"Lepasin aku!"
"Kamu kenapa sih? Tangan aku sakit Bima." Andia menghempaskan tangan Bima dengan kasar.
"Kita pergi dari sini, Andia, tolong jangan dulu tanya aku alasannya," jawab Bima.
Andia yang melihat raut wajah Bima pun paham, ia tidak lagi banyak bertanya.
Bima dan juga Andia akhirnya pergi begitu saja meninggalkan rumah kedua orang tua Bima.
Sesekali Andia melirik ke arah Bima, ia yakin jika terjadi sesuatu terhadap Bima.
Ingin sekali rasanya bertanya kepada Bima, tapi melihat raut wajah Bima, membuat Andia mengurungkan niatnya, apalagi Bima memintanya untuk tidak banyak bertanya.
Akhirnya yang ia takutkan terjadi, kedua orang tua Bima pasti menentang hubungan putranya dengan gadis desa seperti dirinya.
Melihat rumah Bima saja, Andia sudah yakin, jika kedua orang tuanya pasti akan memilih menantu yang juga berasal dari keluarga kaya raya, sementara Andia hanyalah gadis biasa.
Mamany dev kelamaan nngebatin sih jadi papanya dev ngga sempat cerita