Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan konyol
Malam itu ketika selesai makan malam, dengan langkah tertatih Fatimah menaiki anak tangga satu persatu. Baru menginjakkan kakinya di lantai dua, ia bertemu dengan Jessica yang akan menuruni tangga.
"Kenapa kakimu ?" tanya Jessi ketus.
"Oh ini pasti karma, karena kamu sudah menjadi simpanan Papa." ucapnya lagi dengan mimik meledek.
"Jaga ucapanmu Jes, bagaimanapun juga aku adalah istri Papamu, jadi kamu patut menghormatiku."
"Istri, istri yang tak di anggap maksudnya." ledek Jessica lagi.
"Apa maksudmu ?"
"Memang ada istri yang di sembunyikan dari orang-orang bahkan keluarga besar kami pun tidak ada yang tahu dan kalian juga tidurnya terpisahkan, oh mungkin Papa ku hanya membutuhkan kamu di saat dia kepingin. Ya daripada main bersama ****** di luar lebih berisiko, jadi lebih baik pelihara ****** di dalam rumah." ucap Jessica dengan nada menghina kemudian ia berlalu menuruni anak tangga.
Fatimah yang mendengar perkataan Jessica nampak tersentak, ia hanya bisa beristighfar dalam hatinya. Ia sedikitpun tidak menyanggah perkataan Jessica karena itu memang kenyataan, dia istri yang tak di anggap meski di hatinya terasa nyeri ketika mendengarnya.
Kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi menaiki anak tangga menuju kamarnya, karena terlalu banyak gerak kini kakinya mengeluarkan cairan kemerahan yang menembus kain kasa yang membalutnya.
Karena merasa begitu sakit ia terduduk di sofa depan kamarnya, ia meringis kesakitan dan itu tidak luput dari perhatian tuan Candra yang baru pulang.
"Kamu kenapa Fatimah ?" tanya laki-laki paruh baya itu yang kini sudah menghampirinya.
"Nggak apa-apa Pak."
"Tadi di kantor, Glenn bilang ada seseorang yang menginjak kakimu ya."
"Itu tidak sengaja Pak, saya juga salah karena berjalan terburu-buru."
"Astaga, kenapa kakimu berdarah lagi. Tunggu sebentar aku akan mengambil kotak p3k dulu." ujar Tuan Candra khawatir ketika melihat kaki Fatimah, kemudian ia berlalu pergi ke dalam kamarnya.
Selang beberapa saat beliau datang dengan membawa sebuah kotak besar di tangannya.
"Saya bisa sendiri Pak." Fatimah menahan tangan tuan Candra ketika beliau duduk berjongkok dan akan memegang kakinya.
"Sudah diamlah." perintah tuan Candra.
"Baik." sahut Fatimah pasrah.
"Apa kamu tadi naik turun tangga hingga lukamu basah lagi ?" tanya tuan Candra sembari membuka kain kasa yang membalut kaki Fatimah.
"Iya."
"Mulai besok biar ART yang akan membawa makananmu kesini dan aku juga mengijinkanmu untuk libur beberapa hari sampai sembuh."
"Terima kasih Pak."
Tuan Candra terlihat sangat telaten membalut kaki Fatimah dengan kain kasa yang baru, Fatimah yang melihat itu merasa begitu terharu, seperti mendapat perhatian dari ayahnya.
"Kenapa anda kadang begitu baik, tapi kadang juga begitu dingin. Sebenarnya siapa anda tuan ?" Fatimah bertanya-tanya dalam hatinya.
Tak berapa lama Glenn yang baru pulang, ia melihat Ayahnya duduk berjongkok karena sedang membalut kaki Fatimah. Melihat itu entah kenapa ia merasa sangat geram, kemudian tanpa menyapa terlebih dahulu ia langsung ke kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.
Tuan Candra dan Fatimah sedikit berjingkat ketika mendengarnya, "Jangan di ambil hati, mungkin dia sedang ada masalah." ucapnya ketika melihat Fatimah yang masih memperhatikan pintu Glenn yang sudah tertutup rapat.
"I-iya." sahut Fatimah.
"Baiklah sudah selesai, sekarang istirahatlah. Jangan lupa minum obatnya !!"
"Baik Pak, terima kasih." setelah melihat tuan Candra pergi, Fatimah segera berlalu ke kamarnya.
Sedangkan Glenn, yang baru selesai membersihkan dirinya kini hanya memakai celana boxer dan kaos rumahan. Ia mengambil botol whiskey di dalam lemarinya dan segera menuangkannya ke dalam gelas, tak perlu menunggu lama ia sudah menghabiskan segelas bir tersebut.
Sepertinya ia sedang dalam keadaan moody, karena ia tidak akan menyentuh minuman itu kalau sedang tidak ada masalah. Bahkan merokokpun sangat jarang sekali.
Keesokan harinya
"Kamu tidak ke kantor Glenn ?" tanya tuan Candra ketika mereka sedang sarapan pagi.
"Glenn lagi nggak enak badan Pa."
"Benarkah, sepertinya kamu baik-baik saja."
"Glenn tiba-tiba sakit kepala Pa." sahut Glenn dengan alasan konyolnya, bukannya kalau hanya sakit kepala bisa saja ke kantor.
"Apa ada masalah ?" tuan Candra mengingat kejadian semalam ketika anak sulungnya itu membanting pintu di depannya.
"Nggak ada Pa."
"Bersikaplah profesional jangan karena masalah pribadi, kamu jadi mengabaikannya pekerjaan kantor."
"Iya Pa, Glenn hanya ijin sehari."
"Besok weekend." ucap tuan Candra penuh sindiran, beliau yang notabene nya workholic tidak pernah menyia-nyiakan waktu barang sedikitpun.
"Sekali-sekali Pa, Glenn libur panjang." ucap Glenn enteng dan itu membuat Ayahnya sedikit mengerutkan dahinya, karena tak biasanya anaknya itu terlalu santai.
"Baiklah, terserah kamu saja." ucap tuan Candra lalu beranjak dari tempat duduknya.
Glenn yang melihat Ayahnya dan kedua adiknya sudah pergi, ia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri ART yang ada di dapur.
"Bik, Fatimah sudah sarapan ?" tanya Glenn.
"Belum den, ini baru bibik siapin."
"Ya sudah biar Glenn yang mengantarnya ke atas."
"Ya den." ART itu menyerahkan nampan berisi makanan dan jus.
Glenn segera membawa nampan itu ke atas, ya inilah alasan dia kenapa tidak masuk kerja. Seharian ini ia ingin merawat Fatimah, entah kenapa ia begitu tidak tega jika melihat gadis itu sakit seperti ini. Kalaupun dia memaksakan masuk kantor pasti tidak akan fokus, lagipula ia bisa bekerja dari rumah.
"Bik, tumben pak Glenn perhatian sama mbak Fatimah. Biasanya beliau kan nggak perduli sama siapapun bahkan sama kedua adiknya." tanya salah satu ART itu dengan berbisik.
Bibik tersebut hanya mengedikkan bahunya dan tidak mau menanggapinya lebih jauh, karena jika salah ngomong takut di dengar oleh pak Mugi kepala pelayan di rumah itu.
Sesampainya di atas Glenn segera menaruh nampan tersebut di atas meja di ruang santai, kemudian ia bergegas mengetuk kamar Fatimah.
"Direktur." ucap Fatimah ketika membuka pintu, ia terkejut ketika melihat laki-laki di depannya itu hanya memakai pakaian rumahan.
"Ini di rumah bukan di kantor jadi tidak perlu memanggilku seperti itu."
"A-ada apa ?"
"Aku membawakan sarapan untukmu."
"Terima kasih, saya akan membawanya ke kamar." Fatimah melangkahkan kakinya untuk mengambil makanan tersebut.
"Tidak, jangan bawa makanan ini ke kamar."
"Kenapa, ini makanan buat saya kan ?" tanya Fatimah memastikan.
"Ten-tentu saja, tapi makan di kamar akan membuat kamarmu bau." ucap Glenn beralasan.
"Ya baiklah, saya akan memakannya disini." Fatimah segera duduk di sofa dan mengambil piring di atas nampan tersebut.
"Kenapa bicaramu formal sekali, ini di rumah bukan di kantor." protes Glenn.
"Bagaimanapun anda atasan saya." sahut Fatimah sembari makan.
"Aku lebih suka kalau kamu bicara padaku seperti seorang teman, ya teman."
"Bukannya kamu anak tiriku ?" ucap Fatimah ketus.
"Ya itu lebih baik." sahut Glenn tersenyum, paling tidak gadis itu tidak merasa canggung lagi padanya.
"Aneh." gumam Fatimah ketika melihat Glenn senyum-senyum sendiri.
awal yang menarik semoga ceritanya bagus hingga akhir