Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Sang Mafia dan Janji yang Teringkari

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Berbaikan / Single Mom / Tamat
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: marilu@123

Rebecca membesarkan si kembar seorang diri sejak kakaknya tiada—dengan satu janji yang ia ucapkan di ranjang kematian sang kakak: jangan pernah mencari ayah mereka.

Selama bertahun-tahun ia menepatinya. Sampai seorang penguntit muncul dari kegelapan, mengirim bunga yang berubah jadi ancaman, lalu foto anak-anaknya di depan gerbang sekolah. Polisi angkat tangan. Waktu Rebecca habis.

Kini hanya ada satu nama yang mungkin sanggup melindungi mereka—nama yang telah ia sumpahi untuk tak pernah diucapkan. Dante. Pengusaha berpengaruh, dingin, tak tersentuh… dan bos sebuah kerajaan mafia yang bahkan tak tahu bahwa ia punya anak.

Untuk menyelamatkan kedua bocah yang ia cintai melebihi nyawanya sendiri, Rebecca harus melanggar janji terpenting dalam hidupnya dan melangkah masuk ke dunia paling berbahaya yang pernah ada—dunia milik pria yang seharusnya tak pernah ia temui.

Tapi Dante bukan sekadar bahaya. Ia posesif. Ia sabar. Dan begitu ia memutuskan sesuatu—atau seseorang—adalah miliknya, ia tak akan pernah melepaskannya.

Di antara ancaman yang mengintai, rahasia masa lalu, dan gairah yang mustahil ditolak, satu janji yang teringkari bisa jadi awal dari segalanya… atau akhir dari semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marilu@123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Harga Diri dan Nalar

Sudut Pandang Rebecca

Suasana terasa berat. Berat sekali.

Aku dan Dante saling menatap seolah tak seorang pun dari kami berniat mundur. Dan memang begitu adanya. Aku tahu itu. Dia juga.

Persis karena itulah Jason turun tangan.

"Cukup."

Suaranya keluar tegas. Namun tidak galak. Terkendali. Dia menoleh ke arahku.

"Masuklah, Rebecca."

Sederhana. Lugas. Tanpa tekanan. Tapi dengan bobot yang membuat semuanya berhenti sedetik.

Aku berdiri di sana. Diam. Menarik napas dalam-dalam, dadaku naik-turun cepat. Kepalaku berteriak agar aku bertahan. Agar aku tak mengalah. Agar aku pergi dari situ.

Tapi… ada suara lain. Lebih pelan. Lebih rasional. Suara yang mengingatkanku pada segalanya. Pada pria itu. Pada ancaman-ancaman itu. Pada foto-foto itu. Pada keponakan-keponakanku.

Aku menelan ludah. Kupejamkan mata sesaat. Lalu aku berbalik. Masuk. Tanpa menoleh ke belakang.

Tapi dengan amarah yang membakar di dalam diriku. Marah pada dirinya. Marah pada keadaan. Marah pada diriku sendiri. Karena aku sudah mendatanginya. Karena aku sudah melanggar janji.

Dan yang lebih buruk… karena aku tahu, jauh di dalam hati… aku membutuhkannya.

Aku naik langsung ke kamar. Menutup pintu. Kulempar tasku ke ranjang. Kuusap wajahku dengan kedua tangan. Menarik napas panjang. Tapi percuma. Perasaan itu tak mau pergi. Rasa terperangkap. Rasa tak punya pilihan. Rasa bergantung pada orang yang nyaris tak kukenal.

Aku duduk di ranjang. Diam di sana. Berjam-jam. Berpikir. Memutar ulang segalanya. Mempertanyakan segalanya. Sampai lelah. Sampai tak ada lagi tenaga untuk merasakan apa pun.

Saat aku turun, hari sudah lebih larut. Rumah itu sunyi. Kosong. Terlalu besar.

Aku ke dapur. Tanpa banyak berpikir. Aku hanya… perlu melakukan sesuatu. Apa saja.

Dan di situlah aku menemukannya. Si juru masak. Seorang perempuan yang lebih tua, dengan tatapan lembut.

"Selamat sore," katanya sambil tersenyum kecil.

Aku mengangguk. "Halo."

Aku agak canggung. Tapi ia tampak tenang.

"Mau makan sesuatu?" tanyanya. "Biar aku yang buatkan."

Aku menggeleng. "Tidak usah… aku bisa bantu."

Ia tertawa pelan. "Kalau begitu, ke sini."

Dan begitulah, aku ikut. Memotong. Mengaduk. Membantu. Mengobrol. Hal-hal sederhana. Tapi entah bagaimana, itu menenangkanku.

Untuk beberapa menit, aku bukan perempuan yang sedang dikuntit. Bukan pula bibi yang putus asa. Bukan orang yang terkurung di rumah ini. Aku hanya… aku. Dan itu terasa melegakan.

"Masakanmu enak."

Suara Jason terdengar di belakangku, membuatku menoleh.

"Lagi belajar," jawabku.

Ia bersandar ke meja dapur. Mengamati. Selalu mengamati.

"Kau tak perlu coba pergi tadi," ujarnya. Tenang. Tanpa menghakimi.

Aku mengembuskan napas. "Aku memang perlu."

Ia mengangguk, seakan mengerti. "Aku tahu."

Kami terdiam sejenak.

"Tapi kau juga tahu—" lanjutnya, "—dia tak melakukan itu tanpa alasan."

Aku melipat tangan. "Dia melakukannya karena ingin mengendalikan segalanya."

Jason menggeleng pelan. "Dia melakukannya karena ingin melindungi."

Aku memutar bola mata. "Dengan caranya sendiri."

"Dengan caranya sendiri," ia menyambung.

Dan itu… membuatku berhenti. Karena itu benar. Meski aku tak mau mengakuinya.

"Kau yang mendatanginya," Jason melanjutkan. "Bukan sebaliknya."

Kalimat itu menghantam. Keras.

"Aku tahu," kataku. Pelan.

Ia menatapku. Lebih serius sekarang. "Dan dia bukan orang yang mudah. Tidak pernah. Tapi begitu dia memutuskan melindungi seseorang… tak ada yang boleh menyentuhnya."

Aku diam. Berpikir. Mencerna. Mungkin… hanya mungkin… dia tak sepenuhnya salah.

"Aku cuma…" aku mendesah, "…tidak suka merasa terkurung."

Jason mengangguk. "Tak ada yang suka."

Hening sebentar. Lalu—

"Tapi kau masih hidup," katanya. Sederhana. "Dan keponakan-keponakanmu juga."

Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya… aku tak membantah. Karena ia benar. Dan itu… lebih mengganggu ketimbang apa pun. Tapi sekaligus… menenangkanku. Sedikit.

Obrolan berubah. Lebih ringan. Lebih santai. Kami membicarakan hal-hal lain. Acak. Tanpa beban. Tanpa ketegangan. Dan aku bahkan tersenyum. Sungguhan. Sesuatu yang langka belakangan ini.

Tapi kemudian… dia muncul. Dante. Di ambang pintu dapur. Tatapannya lurus. Mengamati. Diam.

Dan semuanya kembali. Ketegangan. Amarah. Harga diri.

Senyumku lenyap seketika. Aku menjauh dari meja dapur. Tanpa berkata apa pun. Tanpa menatapnya lagi. Aku melewatinya. Lalu keluar. Menaiki tangga. Kembali ke kamarku.

Melarikan diri. Atau mungkin… menghindar. Karena saat itu, aku belum siap menghadapinya lagi. Dan sejujurnya… aku bahkan tak tahu kapan aku akan siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!