Indonesia
NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ADA APA DENGAN ALETA

Sedan hitam milik Aleta melaju membelah jalanan kota. Langit yang semula cerah perlahan berubah mendung. Lalu lintas siang itu cukup padat karena bertepatan dengan jam pulang sekolah.

Aleta menggenggam kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali memijat pelipis.

"Sshhh..."

Pandangan di depannya mulai sedikit kabur. Mungkin karena semalam ia tidak tidur. Ditambah tubuhnya yang terus dipaksa bekerja tanpa henti sejak pagi. Ia menarik napas panjang, berusaha memusatkan fokus. Namun rasa pusing itu justru semakin menjadi.

Di saat yang sama...

Sebuah motor Kawasaki Ninja H2 berwarna hitam milik Adrian melaju dari arah berlawanan. Sepulang sekolah, ia memilih mengambil jalan utama untuk kembali ke markas Black Demon.

Saat lampu lalu lintas berubah merah, deretan kendaraan mulai berhenti satu per satu. Tatapan Adrian tanpa sengaja jatuh pada sebuah sedan hitam yang berhenti beberapa meter di depannya.

"Sedan itu..." Matanya sedikit menyipit untuk melihat plat mobilnya.

"Mobil yang Zion bilang."

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Sedan tersebut perlahan bergerak tidak beraturan. Mesinnya masih menyala, tetapi lajunya mulai menyimpang dari jalur. Adrian langsung menyadari ada yang tidak beres.

"Awas!"

Beberapa pengendara spontan membunyikan klakson.

Tin! Tin!

Sedan itu akhirnya berhenti setelah menyentuh pembatas jalan dengan benturan ringan. Adrian segera memarkir motornya di tepi jalan dan berlari menghampiri. Ketika pintu pengemudi dibuka...

"Aleta...?"

Gadis itu terkulai di balik kemudi. Wajahnya pucat dan kesadarannya telah hilang. Pakaian dan wajah cantik nya kotor oleh darah.

"Aleta!"

Tak ada jawaban. Adrian segera memeriksa denyut nadinya.

"Alhamdulillah..."

Masih stabil. Beberapa warga mulai mendekat karena khawatir.

"Mas, kenapa itu?"

"Teman saya, kayaknya cuma pingsan deh," jawab Adrian, berusaha tenang.

"Apa perlu dipanggil ambulans?"

Adrian menggeleng pelan.

"Saya bisa bawa ke rumah sakit terdekat."

Tanpa membuang waktu, ia langsung memindahkan Aleta ke kursi penumpang dengan hati-hati.

Setelah memastikan posisi Aleta aman dan sabuk pengamannya terpasang, Adrian duduk di balik kemudi sedan tersebut.

Seorang warga berkata, "Motornya gimana, Mas?"

Adrian mengeluarkan ponselnya dan menelepon Zion.

"Ada apa?" suara Zion terdengar dari seberang.

"Jalan Merdeka sekarang."

"Kenapa?"

"Ambil motorku."

"Hah?"

Tut... tut... tut...

Panggilan terputus.

Adrian segera menyalakan mesin sedan dan melaju menuju rumah sakit terdekat, sementara suara sirene kendaraan lain dan klakson bersahutan di belakangnya.

Di kursi penumpang, Aleta tetap terbaring tanpa sadar. Dan untuk pertama kalinya... Raut wajah Adrian dipenuhi kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan.

Beberapa menit kemudian...

Suara ban berdecit pelan saat mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat.

Belum sempat mesin dimatikan, Adrian sudah lebih dulu keluar. Dengan wajah pucat karena khawatir dan napas yang sedikit memburu, ia membuka pintu penumpang dan mengangkat tubuh Aleta ke dalam gendongannya.

"Dokter! Ada pasien!" teriak salah seorang perawat yang melihat mereka datang.

Beberapa petugas medis segera berlari membawa brankar.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya seorang dokter sambil memeriksa kondisi Aleta.

"Pingsan," jawab Adrian singkat.

Tanpa membuang waktu, para petugas segera memindahkan Aleta ke atas brankar dan mendorongnya menuju ruang penanganan darurat.

Pintu ruang tindakan pun tertutup. Adrian hanya berdiri diam di depan pintu itu. Tatapannya tak pernah lepas dari lampu indikator di atas ruangan.

Untuk pertama kalinya, Adrian merasa waktu berjalan begitu lambat. Di balik pintu ruang tindakan, nasib gadis yang terus memenuhi pikirannya kini sepenuhnya berada di tangan para dokter.

'Apa yang terjadi padanya? Kenapa pakaian dan wajahnya penuh cipratan darah?'

'Apa dia terluka parah?'

Kepala Adrian di penuhi oleh banyak pertanyaan. Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan akhirnya terbuka. Seorang dokter keluar sambil melepas masker medisnya. Adrian yang sejak tadi duduk di kursi ruang tunggu langsung berdiri.

"Dokter, bagaimana kondisinya? Bisakah saya masuk sekarang?" tanya Adrian tidak sabar.

Dokter melihat lembar hasil pemeriksaan di tangannya sejenak sebelum menjawab.

"Kondisinya memang stabil dan tidak ada luka sama sekali. Namun, kami tetap menyarankan pasien menjalani rawat inap setidaknya satu malam untuk observasi dan pemulihan. Tubuh pasien dipaksa bekerja di luar batas kemampuannya. Meski hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada cedera, kondisinya sangat kelelahan. Kami khawatir jika dipaksakan pulang sekarang, kondisinya justru akan memburuk."

Adrian mengangguk singkat.

"Siapkan ruang VVIP-01."

Dokter menoleh sejenak ke arah Adrian, lalu menganggukkan kepala. Ia kemudian menginstruksikan salah seorang perawat.

Tak lama kemudian, dua orang perawat masuk ke ruang observasi sambil mendorong sebuah brankar. Dengan hati-hati, mereka memindahkan tubuh Aleta yang ke atas brankar sebelum membawanya keluar dari ruang observasi menuju lantai paling atas rumah sakit.

Beberapa menit kemudian...

Aleta tiba di Ruang VVIP-01. Ruangan itu jauh lebih tenang dibanding area IGD. Hanya terdengar dengungan halus pendingin ruangan dan sesekali bunyi monitor yang mengawasi kondisi pasien.

Setelah memastikan seluruh alat medis terpasang dengan baik, para perawat berpamitan meninggalkan ruangan.

Kini, hanya Adrian yang masih berdiri di sisi ranjang, menatap Aleta yang belum juga membuka matanya. Aleta terbaring dengan infus terpasang di tangan kirinya. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding saat Adrian menemukannya tadi.

Adrian menarik sebuah kursi, lalu duduk di samping ranjang. Tatapannya tertuju pada wajah gadis itu.

"What happened to you, Honey..?" Gumamannya menghilang di tengah sunyi ruangan.

Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, sementara pandangannya tak pernah lepas dari Aleta yang masih tertidur lelap.

Adrian mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menekan salah satu kontak.

"Vin, ke RSJ sekarang."

"Rumah sakit jiwa? Siapa yang gila, Dri?" tanya Gavin dari seberang sana, heboh.

"Ck! Rumah sakit Jaya!" jawab Adrian ketus.

Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Adrian langsung menutup sambungan telepon. Ia menyimpan kembali ponselnya.

Tanpa sadar, Adrian mengulurkan tangan. Jari-jarinya menyentuh pelan punggung tangan Aleta yang terasa sedikit dingin, lalu menggenggamnya dengan hati-hati, seolah khawatir akan mengganggu waktu istirahatnya.

"Aku bahkan belum benar-benar mengenalmu..." gumamnya lirih. "Tapi kenapa... aku jadi mengkhawatirkanmu seperti ini?"

Tak ada jawaban.

Hanya suara pelan monitor detak jantung yang sesekali memecah keheningan, sementara Adrian tetap duduk di sana, enggan melepaskan genggamannya hingga Aleta membuka mata.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar ruangan.

Ceklek.

Pintu ruang rawat terbuka. Zion masuk lebih dulu, disusul Ezra, Gavin, dan Ariana.

"Dri!" pekik Gavin.

"Are you okay?" tanya Ariana panik. Adrian mengangguk pelan.

"Gapapa. Tapi dia..."

Keempatnya serempak menoleh ke arah ranjang. Aleta masih tertidur lelap.

"Dokter bilang tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya," ujar Adrian. "Tapi seluruh pakaiannya dipenuhi darah."

Mendengar itu, ekspresi Zion berubah serius. Tatapan Adrian kembali tertuju pada Aleta.

Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke ponsel Aleta yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjang.

"Aku harus menghubungi temannya." Adrian mengambil ponsel tersebut.

Layar masih terkunci. Ia menatap Aleta sejenak, lalu dengan hati-hati mengangkat tangan kanan gadis itu dan menempelkan ibu jarinya pada sensor sidik jari.

Klik.

Layar ponsel langsung terbuka. Adrian tidak membuka pesan, galeri, maupun aplikasi lain. Ia hanya masuk ke daftar kontak, mencari nama yang kemungkinan paling dekat dengan Aleta.

Tak butuh waktu lama. Ia menemukan dua nama yang terasa familiar dan tersimpan berurutan.

Aura.

Viana.

Tanpa ragu, Adrian menekan tombol panggil pada kontak Aura. Ponsel mulai berdering. Sementara itu, Zion dan yang lainnya hanya memperhatikan Adrian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Zra, Vin, kalian urus administrasi nya gih," ucap Ariana sambil memberikan black card pada Ezra.

"Sekalian beli makanan," ucap Zion sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.

"Siap, Bu Bos! Siap, Pak!" seru Ezra dan Gavin kompak, sebelum keluar.

"Halo Let? Akhirnya nelpon juga! Aku sama Aura nungguin kabar kamu dari tadi pagi. Kenapa baru nelpon sekarang? Oh iya, kalau kamu herman kenapa aku yang jawab teleponnya, Aura lagi mandi makanya aku yang angkat teleponnya hehe..." Viana terus berceloteh di seberang telepon.

"Ekhm... Ini Adrian," ucap Adrian dingin, membuat Viana memekik kaget.

"Kok kamu? Aletanya mana? Jangan-jangan beneran kamu yang culik Aleta ya? Trus pura-pura nanya keberadaan Aleta tadi pagi cuma biar ga ketahuan. Iya kan? Ngaku gak?!" cerocos Viana.

"Aleta sedang dirawat," ucap Adrian singkat sebelum mematikan telepon, membuat Viana mengumpat kesal.

...****************...

"WOII!!! ADRIAN!" teriak Viana kesal.

"Ada apa, Na?!" teriak Aura panik.

Bukannya menjawab, Viana malah menganga melihat Aura yang mendadak menerobos keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih dipenuhi busa sampo, bahkan ada yang nyaris menutupi sebelah matanya. Gadis itu jelas belum selesai mandi, tetapi teriakan Viana yang menggema di seluruh apartemen membuatnya panik keluar begitu saja.

"ADA APA, NA?!!" ulang Aura sambil menyeka busa yang hampir masuk ke matanya.

Viana menelan ludahnya paksa. Beberapa detik kemudian, bibirnya bergetar menahan tawa yang akhirnya pecah begitu saja.

"Bwaaahaha... hahaha!"

Ia bahkan sampai berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya.

Aura yang melihat tingkah sahabatnya hanya bisa mengembuskan napas panjang. Dengan ekspresi datar, ia memutar badan dan kembali masuk ke kamar mandi.

"Sepertinya aku benar-benar harus pulang. Kalau terus tinggal bersamanya, lama-lama aku yang stres," gerutu Aura sebelum menutup pintu kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, Aura akhirnya selesai mandi. Begitu membuka pintu kamar mandi...

Deg!

"Bangsatt!" umpatnya.

Viana sudah berdiri tegak di depannya dengan mengenakan jaket dan kacamata hitam. Di kedua tangannya tergenggam berbagai perlengkapan milik Aura.

"Kita ke rumah sakit sekarang, Au!"

"Why?" tanya Aura, mengernyit bingung.

"Aleta."

Satu nama itu saja sudah cukup membuat mata Aura membelalak. Tanpa bertanya lagi, ia segera bergegas mengenakan pakaiannya di sana tanpa berpikir untuk kembali ke kamar.

Sementara itu, Viana dengan cekatan mengoleskan sunscreen ke wajah Aura, lalu meriasnya dengan make-up tipis. Keduanya bekerja begitu cepat, tetapi hasil akhirnya tetap tampak rapi dan maksimal.

"Perfect," gumam Aura sambil menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang ia pegang.

"Let's go, Aura!" seru Viana. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu sudah lebih dulu berlari keluar apartemen.

Begitu keluar dari apartemen, Aura langsung disambut Viana yang sudah duduk di atas motornya. Tanpa banyak bicara, gadis itu melemparkan sebuah helm ke arah Aura.

"Naik, Princess."

Aura menangkap helm itu refleks sebelum mengernyit.

"Satu motor?" tanyanya memastikan.

"Yeah." Viana menyeringai lebar. "Kau tahu, kan, seberapa cepat aku mengemudi?"

Aura menelan ludahnya kasar. Tentu saja ia tahu. Viana memang piawai mengendalikan motor. Refleksnya luar biasa dan nyaris tak pernah kehilangan keseimbangan. Masalahnya, gadis itu terlalu berani. Sedikit saja jalanan terlihat lengang, gas langsung diputar habis-habisan seolah sedang mengikuti balapan.

"Kau yakin kita bakal sampai di rumah sakit... bukan di akhirat dulu?" gumam Aura pelan.

"Tenang saja. Aku belum pernah menjatuhkan penumpang."

"Kalimat itu sama sekali tidak membuatku tenang."

Meski wajahnya masih dipenuhi keraguan, Aura tetap mengenakan helm lalu naik ke jok belakang. Ia bahkan refleks memeluk pinggang Viana lebih erat daripada biasanya.

"Pegangan yang kencang."

Belum sempat Aura menjawab, suara mesin motor meraung. Dalam hitungan detik, motor itu melesat meninggalkan area apartemen.

"VIANAA!!!!"

1
Chika
Udah mulai buat strategi, gak lama lagi perang, pasti seru banget!
Chika
angkat aku jadi anak mu Flo, nanti ku kasih cucu 🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
tunggu apalagi Aleta? kalau masa depan udah terjamin, carilah jodoh 🤣
Nona
lagi di fase ini 🤧
Nona
peluk jauh let 🫂 kita senasib
Kim
sering² Double up ya thor 🤭💞🫶🏻
Kim
Thanks Emma atas nasihatmu, saya sudah 30 tahun belum nikah² gara² kepikiran soal itu terus 😌
Kim
jauhkanlah hamba dari musibah ini ya Allah 😭
𝓟𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪
🤣🤣
𝓟𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪
suami takut istri 🤣🤣
𝓟𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪
takut ihh mommynya garang
Nona: samaa kaa 😭
total 1 replies
𝓟𝓮𝓶𝓫𝓪𝓬𝓪 𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪
😵‍💫 aku ketinggalan
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Kim: wkwk kita ketinggalan informasi 😭
total 1 replies
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Kim: aku juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!