Indonesia
NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Belanja

"Kayak Agung, tapi Agung adek bayinya udah keluar." Bocah itu mulai bercerita pada Maya.

"Oh, begitu." Wanita itu mengangguk mengiyakan.

"Ini kapan adek bayinya keluar?" tanya bocah itu dengan polosnya membuat Maya tertawa geli.

"Nanti ya, Dek. Kalau perutnya sudah besar," timpal Raka lagi.

"O iya. Besar ya, Pa?"

"Iya."

Ardha mengangguk. Tak lama, bocah itu bosan dan berdiri. Ia bersandar pada sandaran kursi dan melihat ke belakang. Kemudian ia bergerak ke arah Maya.

Saat itu dengan sigap pria itu menariknya. "Eh, gak boleh begitu, nanti adeknya ketindih badan kamu gimana?" Bocah itu dipangkunya. "Sudah duduk sama Papa aja, sini!" Ia mengunci pinggang bocah itu hingga bocah itu tak bisa berdiri lagi. Mau tak mau Ardha duduk tenang dipangku ayahnya. Raka juga menunjuk ke arah luar jendela agar bocah itu nyaman dipangku olehnya. Sesekali ia melepas bocah itu dan mengajaknya bicara, tapi ia tidak melepas bocah itu untuk mendekati Maya.

Wanita itu hanya memperhatikan keduanya. Ia teringat lagi pada sang mantan suami. Andai saja pria itu yang ada di sebelahnya kini, betapa bahagianya. Ia tak harus membuat orang lain bertanggung jawab atas anak yang dikandungnya.

Maya salut dengan Raka atas komitmen yang pria itu tunjukkan, tapi ia juga merasa bersalah. Seandainya saja dulu ia tidak bodoh dan bertanya dengan jelas tentang rahimnya, pasti ia tidak terjebak dengan orang lain yang harus bertanggung jawab atas kehamilannya. Ia sungguh merasa bersalah, lelaki itu harus menikah dengannya hanya karena omongan bodoh sang istri.

Padahal ia melihat Raka adalah pria yang cukup bertanggung jawab, terlepas dari sifat galak dan kerasnya pada Alika. Alika sungguh beruntung, tapi kenapa ia tak bisa mensyukurinya?

Mobil pun berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar. Ketiganya turun dan kemudian melangkah masuk, mencari tempat untuk makan siang yang sudah terlambat dari waktunya. Raka memilih sebuah restoran Indonesia yang cukup mewah.

Setelah memesan makanan, mereka menunggu, tapi ternyata ada yang sudah tidak sabar hingga perutnya berbunyi. Raka menoleh pada Maya yang wajahnya terlihat merah padam. Ia tertawa.

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Aku tahu orang hamil pasti mudah lapar."

"Tapi aku akan tetap diet kok Mas, biar gak kelihatan gendut."

"Tidak apa-apa. Seimbangkan saja kebutuhan gizinya. Mungkin kamu bisa kurangi nasi tapi bisa tambah makan yang lain."

"Itu yang susah," keluh Maya.

Pria itu tersenyum geli. "Ini masalah kebiasaan. Kamu bisa ganti dengan mengemil makanan sehat semisal buah-buahan."

"Oh, begitu." Namun Maya masih tetap merengut.

"Bisa juga sayur sayuran, seperti gado-gado tanpa nasi atau lontong, atau salad."

Tanpa keduanya sadari, kekakuan di antara keduanya mulai mencair. Apalagi ditambah Ardha yang makin meramaikan suasana.

Maya memang belum pernah pergi berdua saja dengan Raka. Di kantor, selalu saja ada Ilona sebagai orang ketiga. Itu karena ia sendiri belum cukup kompeten untuk jadi seorang sekretaris.

Makanan pun datang. Seperti biasa Maya mengambil lauk untuk Ardha yang dicampur ke makanannya. Raka yang mengetahui itu langsung melarangnya. "Maya, bedakan piringmu dengan piringnya. Itu gak baik buat Ardha. Nanti, dia semakin besar harus makan di kursi dengan piring sendiri."

"Eh, iya, Mas." Wanita itu terpaksa menurut.

Sang pria juga mengajarkan cara memilih makanan yang cocok untuk orang hamil. Dengan Ardha duduk di kursi dan makan di suapi Maya, Raka merasa hidupnya komplit. Entah sudah berapa lama ia tak merasakan suasana rileks seperti itu.

Biasanya kalau ia membawa Alika dan Ardha, ia juga harus membawa pembantu untuk menyuapi Ardha. Namun kali ini tak perlu. Maya sanggup melakukan semuanya hingga ia merasa privasinya tak terganggu, hanya karena ada orang lain yang ikut bersama mereka. Pelan-pelan, ia bersyukur telah menikahi wanita ini.

"Ayo, kita jalan-jalan sebentar ya?"

Ardha begitu bersemangat mendengar ajakan ayahnya hingga ia berlari-lari di depan koridor yang lebar itu. Padahal di dalam mal tengah ramai.

"Ardha ...," panggil Raka.

Bocah itu kembali berlari-lari kembali ke arah ayahnya. Maya memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Ia sendiri tak menyangka bisa sebahagia ini pergi makan siang dengan pria yang baru menjadi suaminya itu. Akankah ini pertanda baik untuk hidupnya kelak?

"Oh, itu ada toko sepatu." Raka berdiri menghadap sebuah toko sepatu perempuan. Ia menggandeng anaknya ke sana. "Ayo, Maya. Kau harus mengganti sepatumu!"

"Hah?" Wanita itu pun mengekor masuk ke dalam. Ia memang saat itu memakai sepatu hak tinggi walaupun tidak terlalu tinggi.

Pria itu sibuk mencari sambil masih menggandeng tangan sang anak. "Ini saja, bagaimana?" Sebuah sepatu dengan hiasan pita bersol karet berwarna beige, sama dengan warna kulit Maya.

"Oh, iya, tapi ini tidak bisa dipakai ke kantor 'kan? Buat apa dibeli?"

"Justru kamu harus ke kantor pakai ini sekarang."

"Mmh?" Maya mengerut dahi.

"Memangnya kalau ke kantor harus pakai hak tinggi saja? Kalau ibu hamil tidak boleh. Ini solnya sedikit tebal biar bisa mengimbangi berat badanmu."

Maya seperti ragu.

"Kamu tidak lihat di bagian keuangan juga ada yang hamil. Dia pakai sepatu seperti ini sekarang. Sudah, percaya saja padaku, ini merek bagus. Soalnya ibu hamil rawan jatuh, dan kaki cedera kalau tidak punya sepatu yang bagus. Ayo coba, berapa ukuranmu?"

Wanita itu mau tak mau mencoba sepatu yang dipilih suaminya. Raka pun tak asal beli, ia menanyakan warna kesukaan Maya. Wanita itu cukup bingung dengan perhatian sang pria. Apa Raka melakukannya karena mereka berteman seperti janjinya waktu itu, atau karena ia telah menjadi istrinya sekarang? Namun keduanya sama saja, karena tidak ada cinta di dalamnya.

Setelah berbelanja sepatu, kembali mereka berhenti di sebuah toko pakaian. Pria itu kembali masuk ke dalam. Kembali Maya mengikutinya.

"Beli saja pakaian yang kamu suka. Kamu tidak punya baju hamil 'kan?"

'Apa dia juga memperhatikan kalau beberapa pakaianku juga mulai sempit? Hah, memalukan ....' Maya menatap nanar sang suami.

Raka menyodorkan kartu hitam miliknya. "Ini, kamu belanja sendiri ya? Jangan lupa beli baju kantor juga ya?"

Maya menyambut kartu itu perlahan.

"Tidak usah buru-buru. Aku akan ke sebelah, beli mainan buat Ardha."

Bocah itu meloncat-loncat kegirangan karena akan dibelikan mainan. "Mainan, mainan! Ardha mau, Pa!"

"Tapi ...."

"Apa kamu mau pakai baju sempit ke kantor? Pakai baju yang khusus orang hamil dan pasti cocok untuk ukuranmu. Belilah."

Wanita itu terharu. Ia berusaha menunduk agar pria itu tak melihat bagaimana matanya mulai berkaca-kaca. "Iya, Mas."

Sambil menatap punggung Raka yang pergi bersama anaknya, ia begitu bersyukur. Walau tak ada cinta, sang suami memperlakukannya dengan baik. Bahkan dengan sangat baik, hingga ia begitu takut ini hanya sandiwara saja. Ia berusaha membuat dirinya sadar akan posisinya.

+++

Maya mengeluarkan semua barang-barang yang telah dibelinya. Ada baju kantor, baju rumah, rok dan celana panjang. Suaminya benar, baju untuk ibu hamil ternyata berbeda ukurannya dengan baju ukuran besar karena bentuk tubuhnya. Kini ia punya pakaian yang cocok untuk bekerja. Juga sepatu dan susu hamil. Mereka sempat ke supermarket tadi sebelum pulang.

Bersambung ...

1
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!